Pesona The Twins

Pesona The Twins
40 Dokter Gede


__ADS_3

Dokter Gede menatap Hilman dengan tatapan tak suka, ia pernah direndahkan hanya karena ia bukan orang berada. Ia juga bahkan harus melawan rasa rendah dirinya ketika ia mulai beranjak dewasa namun di akte kelahiran tak ada nama ayah. Hal itu juga yang membuat ia sempat di remehkan oleh orang tua Mayang. Ia bahkan tak menyangka jika calon istri yang merupakan pacarnya selama 3 tahun pergi meninggalkannya dengan alasan mencintai laki-laki lain. Satu malam sebelum acara pernikahannya calon istrinya bahkan menelpon dirinya mengatakan jika malam itu ia tak bisa tidur karena merasa Bahagia. Orang tua yang tak merestui hubungan mereka memberikan restunya.


Namun siang hari ia harus menerima kabar pahit dengan datangnya utusan keluarga calon istri yang mengatakan bahwa Mayang oergi dari rumah. Cukup lama Dokter Gede mengurung diri di kamar sampai akhirnya ia keluar dari kamar karena mendengar kabar dari ibunya bahwa Nenek atau Niang biasa Dokter Gede memanggilnya, dirawat dirumah sakit.


Sejak saat itu ia mulai menerima kenyataan karean Niang adalah sosok yang hadir dalam kehidupan Dokter Gede


sebagai pelindung. Kisah hidup yang pahit akan di lalui Dokter Gede andai Niang tak merawat ibunya Ketika hamil dirinya tanpa ayah. Suami yang menceraikan dirinya tanpa ia tahu jika ia hamil, membuat Ibu Dokter Gede diusir dari desa karena dikira hamil diluar nikah.


Berbekal alamat dari teman suaminya. Ia ke Bali mencari Ayah Dokter Gede, namun nyatanya ia tak menemukan mantan suaminya. Ia bahkan menjadi gelandangan selama hamil Dokter Gede, berutung Ketika sedang memungut bekas sampah, ia pingsan di depan rumah Niang Ayu. Maka sejak saat itu ibunya tinggal Bersama Niang Ayu yang tak memiliki anak, ia pun lahir dan dibesarkan oleh Niang Ayu. Uniknya Niang Ayu tak memaksa Ibu Dokter Gede berpindah keyakinan hanya karena telah di tolong. Bahkan Ketika Dokter Gede lahir, ia marah pada petugas yang membuat akte kelahiran Ketika Agama Dokter Gede tidak dibuat Islam. Maka wajar jika Dokter Gede terkesan seperti non muslim. Ia bahkan mempelajari Agamanya lebih dalam Ketika kegagalan menikah dengan Mayang. Itupun karena nasihat Niang Ayu.


“Kamu tahu De, Setiap agama memiliki keyakinan masing-masing. Dan cara menyembah tuhan kita masing-masing. Niang lihat, kamu kurang berinteraksi dengan Tuhan mu. Niang tak meminta kamu pindah keyakinan, tapi kelemahan manusia yang paling mendasar dalam hal keyakinan adalah terkadang percaya akan sesuatu namun lemah dalam meyakini apa yang kita percaya itu. Kamu mengatakan yakin agama mu Islam tapi Niang lihat kamu tak menjalankan ibadah seperti anjuran agama mu.” Ucap Niang Ayu kala Dokter Gede masih mengurung diri dikamar.


Sejak saaat itu ia pun mulai berubah lebih baik dan mulai ceria lagi. Ia pun mulai menjalani ibadah wajib bagi orang muslim.


Saat beberapa orang tampak masuk ke toilet, dokter Gede melepaskan Hilman. Ia biasa di didik oleh ibu dan dan Niang Ayu untuk bersabar dengan orang-orang yang menyakitinya. Tetapi karena malu di pukul di hadapan perempuan, dan terus di provokasi oleh Hilman, dokter Gede pun hilang kendali.


“Dengar, aku harap anda bisa menghargai dokter Qiya. Harusnya jika anda betul-betul meyukai dia, anda harus berpikir bagaiamana membuat dia respek dengan anda bukan memaksakan kehendak anda. Karena sika panda itu justru mematikan rasa yang ada buat perempuan mana pun. Tak ada satu perempuan pun yang ingin dipaksa. Maafkan aku.” Ucap dokter Gede sambil mengulur tangannya.

__ADS_1


Hilman menerima uluran tangan itu. Ia tetapi masih penasaran. Ia yang sering memperhatikan calon istrinya itu hapal bahwa plester di sudut bibir Dokter Gede adalah plester milik Qiya.


“Apa hubungan mu dengan Qiya?” Tanya Hilman masih menatap dokter Gede jengkel. Perutnya terasa sakit karena di pukul dokter yang terlihat lemah itu namun ternyata pukulannya sangat kuat dan menyebabkan sakit.


“Aku dokter Pembimbingnya.” Ucap dokter Gede sambil mengenakan Kembali jas putihnya.


“Jangan berbohong. Qiya tak pernah sedekat itu berinteraksi dengan lelaki. Ia bahkan menggandeng anda tadi. Kalian punya hubungan special?” Tanya Hilman lagi, Ia tak percaya karena sikap Qiya yang menarik dokter Gede tadi membuat Hilman melongo tak percaya.


Padahal putri Ayra tak ingin dokter pembimbingnya nanti memberikan dia nilai yang menyebabkan Surat Izin Praktiknya tak keluar karena masalah yang Hilman timbulkan.


Ia pun keluar dari toilet itu. Namun saaat memasuki restoran. Ia yang telah mengambil menu makan siangnya di meja yang telah disiapkan untuk hamper serratus dokter yang mengikuti seminar disana, dokter Gede berjalan dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tak menemui satupun bangku kosong. Saat diujung restoran ia melihat Qiya Bersama dua orang dokter lainnya sedang makan. Ia pun berjalan kea rah Qiya.


“Ya Tuhan…. Apakah aku betul-betul berjodoh dengan dokter ini. Sehingga Kembali harus dipertemukan di situasi apapun bersama dia.” Batin dokter Gede.


“Permisi, boleh saya duduk disini?” Tanya Dokter Gede pada dokter yang duduk di hadapan Qiya.


Dokter itu pun mempersilahkan. Qiya mengangguk ke arah dokter Gede. Dokter Gede hanya melemparkan senyum manisnya. Entah sadar atau tidak sudah lama ia tak tersenyum dan hatinya terasa bahagia Ketika melihat perempuan.

__ADS_1


“Aku harus tes kejujuran sepertinya….” Ucap dokter Gede dalam hatinya karena jantungnya kembali berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia bahkan selama makan curi curi pandang. Namun di sudut berbeda, seorang lelaki justru mengepalkan tinjunya.


“Br3ngsek, jadi dia menyukai Qiya. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus Kembali meraih hati Qiya. Jika tidak bisa meraih hati Qiya, setidaknya aku akan membuat dokter itu tidak berani menyatakan cintanya. Qiya tak akan mungkin menyatakan cintanya. Aku lebih mengenal Qiya daripada dokter itu.”Ucap Hilman dalam hatinya.


Saaat selesai makan siang, para dokter pun ada yang bersiap Kembali keruangan, ada juga yang ke mushola dan melakukan shalat dzuhur. Dokter Gede yang melihat ke dalam mushola terdapat beberapa perempuan. Rasa trauma karena pernah diminta menjadi imam atau memimpin shalat berjmaah. Beberapa bulan lalu ka pernah berhenti di salah satu musholla untuk shalat Maghri, Ia diminta menjadi imam. Padahal ia baru mempelajari menjadi muslim yang taat, ia pun menngurungkan diri untuk shalat di mushola. Ia lebih memilih di kamar hotelnya.


Padahal didalam sana ada Qiya yang sedang menikmati bedzikir setiap selesai shalatnya. Saat selesai, para dokter itupun ada yang langsung pergi ke ruangan ada yang Kembali dulu ke kamar. Qiya pun kembali ke kamar terlebih dahulu. Ia melihat dokter Gede sedang keluar dari kamarnya dan akan menuju ruangan seminar.


“Qiy… darimana?” Tanya dokter Dokter Gede.


“Owh… dari bawah…” Jawab Qiya sambil menganggukan kepalanya.


Dokter Gede memberi jalan pada Qiya yang hendak ke kamarnya. Dokter Gede pun berlalu, aroma wangi dokter Gede masuk ke rongga hidung Qiya, saat sosok dokter lelaki itu hilang di balik lift, Qiya tertegun memandangi pintu lift yang tertutup.


“Kenapa parfumnya mirip milik kak Ammar… bukannya dia Non Muslim.” Batin Qiya.


Dokter Gede yang tak memiliki Guru dalam belajar agama. Ia hanya mempelajari agamanya melalui media streaming dan buku-buku. Ia yang pernah membaca bahwa ketika shalat memakai wewangian adalah salah satu kesunnahan. Ia pun mengenakan wewangian yang ia beli di toko parfum yang biasa menjual kurma, salah satu cemilan favorit Dokter Gede.

__ADS_1


__ADS_2