
Arumi yang terpaku menatap cermin di kamarnya. Ia menatap wajahnya. Ia menelisik apakah dirinya kurang cantik? Namun lamunannya terhenti kala sebuah tanda pesan masuk ke ponselnya.
Ia membuka laci meja riasnya. Terdapat pesan masuk dari Mr. Ammar. Ragu-ragu ia membuka pesan tersebut. Namun karena penasaran, ia pun membuka pesan tersebut. Dan kedua bola mata yang dihiasi bulu mata lentik milik Arumi berbinar. Hatinya terasa hangat seketika, rasa ingin dipuji lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya baru ia dapatkan setelah sang lelaki telah pergi.
"Sesulit itukah kamu untuk mengucapkannya pada ku? Dihadapan ku? Tak bolehkah calon suami memuji calon istrinya? Apa harus menunggu akad dulu baru boleh memandang? apa harus tunggu akad dulu baru boleh memuji." Ucap Arumi mengusap layar ponselnya. Ia membintangi pesan itu dan langsung mencadangkan pesan yang masuk itu.
Di kediaman Ammar saat kembar merasa bahagia, satu merasa plong karena sudah satu langkah ia akan menjadi seorang suami dari Arumi Mayang Dahayu. Sedangkan si kembar satunya Shidqia Nafisah masih merasa dag Dig dug. Apakah ia akan bisa di kamar dan merasakan getaran bahagia seperti yang dirasakan Arumi. Qiya sempat menahan tawa kala ia melihat ekspresi kalanya yang berusaha tak memandang Arumi.
Malam itu Arumi memang terlihat seperti ratu yang akan segera menduduki takhta untuk menemani sang raja. Namun sayangnya getaran kembar tentang orang yang mereka cintai, tak dimiliki Ibrahim. Malam itu Ibrahim seperti biasa. Ia pulang dan duduk diatas sajadah. Ia menikmati lembar demi lembar kalam-kalam indah Qur'an. Ia masih lupa ingatan. Maha Besar Allah, semua Kalam nya masih diingat jelas oleh Ibrahim.
Lelaki yang duduk membuka mushaf itu memejamkan matanya. Anehnya bibirnya bisa lancar membaca sama persis seperti yang tertulis pada lembar demi lembar yang ada di mushaf itu. Maka hal itu menjadi satu kegiatan favorit bagi Ibrahim. Ia bahkan belum menyentuh dan memberikan sentuhan kehangatan dari seorang suami untuk istrinya. Nur menatap lelaki yang terlihat menundukkan kepalanya dan air mata lelaki itu mengalir deras sambil bibirnya terus membaca apa yang ia sebenarnya hapal.
"Setidaknya kamu menemukan satu cinta yang memang harus kamu cintai mas. Semoga suatu saat kamu pun menemukan cinta mu untuk ku di hati mu. Aku akan sabar menunggu itu Mas...." Nur meringkuk di balik selimut.
Matanya masih menatap suaminya yang beberapa malam ini begitu asyik dengan Mushafnya. Bahkan interaksi mereka sebagai suami istri terlihat ada komunikasi kala Nur membaca Qur'an atau menderas hapalannya kembali. Ibrahim cepat mengoreksi jika salah tajwidnya.
Malam itu masih menjadi malam-malam sebelumnya. Nur hanya ditemani kehangatan selimut dan memeluk guling untuk menjadi pengganti dada suaminya yang sebenarnya begitu ia rindukan. Aroma wangi yang juga begitu ia rindukan. Tak ada protes dari Nur. Baginya, sang suami kembali ke sisinya dengan selamat dan sehat sudah menjadi kebahagiaan dan rasa syukur. Ia tak menuntut lebih. Ia akan sabar hingga suaminya mengingat kembali seberapa besar ia dicintai. Seberapa besar ia di manjakan oleh sang suami. Walau hari begitu merindu Ibrahim. Tetapi cintanya untuk tetap sabar menanti tanpa menuntut lebih besar dari bisikan yang menyerukan dirinya untuk marah, untuk pergi dari kediaman Bramantyo itu.
~~
__ADS_1
Dua hari yang begitu menyibukkan bagi Ayra. Jika kemarin ia sibuk membuat persiapan untuk melamar. Hari ini ia harus menyiapkan menu untuk makan malam. Bram ingin dua orang yang melamar Qiya datang sore hari dan makan malam bersama.
Ayra pagi itu sibuk dengan dasi suaminya. Aroma parfum Bram memang selalu membuat Ayra akan memeluk lama tubuh suaminya setelah selesai memasang dasi di kerah baju suaminya.
"Mas, kenapa harus dua-duanya. Tidakkah kamu meminta mereka datang bergantian?" Tanya Ayra masih menenggelamkan kepalanya di dada suaminya.
Bram membelai rambut panjang nan hitam yang selalu wangi itu. Ia pun heran, diusia yang tak lagi muda, istrinya tak nampak uban di rambut.
"Aku tidak bermaksud mempermalukan salah satu dari mereka. Kamu sudah tahu sendiri Qiya sudah melabuhkan hati pada Dokter Gede. Tapi aku belum yakin seperti apa dokter itu. Aku hanya tidak ingin kecolongan lagi. Aku tidak ingin putri ku berjuang keras seperti kamu dulu berjuang untuk cinta ku. Aku ingin anak-anak kita bahagia umumnya orang-orang suami istri. Tanpa harus melewati perang batin, tanpa harus melewati perjuangan untuk mendapatkan cinta, mendapatkan kehormatan dicintai pasangan." Ucap Bram sambil sesekali mencium ubun-ubun Ayra.
Sepasang suami istri yang selalu mesra pada tempatnya. Yang selalu saling menghormati, saling menyayangi, saling ingin membahagiakan.
"Hem... Kamu tahu wangi mu yang melekat di jas kerja ku ini selalu membuat aku tenang ketika di kantor." ucap Bram sambil melerai pelukan sang istri.
"Kamu takkan terganti Ayra dengan siapapun. Sudah, kasihan Alan. Dia sudah cukup lama menunggu di bawah." Ucap Bram.
Ayra mengikat rambutnya. Ia memakai gamisnya sehingga baju yang cukup seksi berlengan pendek itu pun kini tertutupi. Jika tadi kesan seksi begitu melekat pada Nyonya rumah itu. Kini Ayra tampil anggun dan berwibawa disisi Bram. Tiba dibawah ia mencium punggung tangan Bram.
"Lan, jangan lupa nanti pukul 5 Bapak sudah harus ada dirumah ya. Mau ada tamu." Ucap Ayra pada asisten pribadi suaminya. Alan mengangguk pelan.
__ADS_1
Bram pun berangkat ke kantor. Ammar pergi ke anak cabang MIKEL Group. Sedangkan Nur telah siap di dapur, berniat ingin membantu menyiapkan apa untuk nanti malam. Namun ibu mertuanya yang memberikan ia cinta dan kasih begitu melimpah ruah.
"Sudah duduk saja. Atau temani Ibrahim di kamar. Mama dengar malam-malam ini dia sering tidak tidur." Ucap Ayra menelisik mimik wajah Nur.
Ia memang mendengar suara Ibrahim mengaji. Dan itu tentu membuat hati Ayra gelisah. Bagaimana ia tak gelisah. Suami istri lama tak bertemu. Namun ketika bertemu justru seolah tak ada interaksi ingin selalu berdua dan bersama.
Nur pandai menyimpan rasa dihati. Ia sudah dilatih untuk hal urusan mimik wajah. Ayra pun berpikiran jika apa yang dikatakan menantunya itu betul.
"Mas Ibra kelelahan Bu." Ucap Nur bersemu.
Ayra paham maksud sang anak menantu. Karena setelah Shubuh berjamaah di mushola kecil milik mereka. Ibrahim memang tak keluar dari kamar.
"Lantas kenapa menantu Mama ini tidak kelelahan? Sana istirahat. Mama bisa ditemani Qiya. Kamu temani suami mu dan jaga kesehatan. Jangan sering-sering kelelahan." ucap Ayra sambil tersenyum.
Nur pun membalas senyum ibu mertuanya. Ia sebenarnya bosan dikamar. Karena tak ada obrolan. Tak ada interaksi. Ia hanya bisa menenggelamkan dirinya dengan hapalannya. Dan akan mendapatkan respon koreksi dari sang suami. Dan akan berakhir dengan diamnya Ibrahim kala Nur sudah kembali benar dengan hapalannya.
"Andai Mama tahu, bukan lelah yang satu itu yang ku maksud. Batin Ku yang lelah... Andai aku punya kekuatan. Ingin sekali aku pergi dari sini. Tapi cinta ku pada Mas Ibra bertambah besar karena Mama begitu besar mencintai aku." Batin Nur sambil melangkah.
"Tunggu Nur... Bawa ini bisa buat cemilan kamu." Ucap Ayra menyerahkan piring buah dan toples roti. Ia lihat semua buah di piring itu adalah semua kesukaannya.
__ADS_1
Langkah Nur terasa pelan tapi pasti. Ia sudah bisa memastikan yang terjadi. Suaminya sibuk dengan kegiatannya. Ia akan sibuk dengan hapalannya.
(Tunggu Besok ya lamarannya. Ini lagi nyiapin nyari inspirasi biar kalian makin terhura. Eh terharu 😁. Tunggu besok fajar. Insyaallah ya).