
Qiya menemui Gede yang mencarinya.
"Ada apa Mas?" Tanya Qiya yang sudah menemui sang suami di ruang keluarga.
"Mas cari hardisk eksternal mas. Kemarin dibawa kan?" Tanya Gede pada sang istri.
"Di bawa kok Mas. Mau aku ambilkan?" tanya Qiya.
Gede mengangguk. Ia berjalan lebih dulu dari sang istri. Ia menerima telpon dari pemilik rumah sakit. Ia diminta mengirimkan beberapa laporan tentang rencana untuk pembelian obat baru. Gede yang tak menemukan filenya di Drive ponselnya. Ia tak menemukan file tersebut. Gede pun fokus dengan obrolan dengan pimpinan rumah sakit tersebut.
Saat di anak tangga. Gede sudah lebih dulu tiba di atas. Qiya yang tertinggal dibelakang.Kakinya terbentur anak tangga dan membuatnya terjatuh namun tak sampai menggelinding. Ia cepat memegang anak tangga yang ada di depannya. Seketika ada rasa kecewa di hari putri Ayra itu. Ia menatap punggung suaminya yang telah menuju kamar.
Ingin Qiya memanggil Gede untuk dibantu. Tetapi ia justru terpaku di anak tangga itu dengan posisi memegang anak lutut dan satu anak tangga. Ia teringat dulu ia pernah jatuh seperti itu dalam kondisi yang sama. Saat ia belum menikah. Dan rasanya tidak sakit. Ia justru cepat berdiri. Ia juga pernah jatuh dari motor Cita. Namun tak ada yang membantu, Ia berdiri sendiri saat cita mengangkat motor yang jatuh. Ia tak sakit hati.
"Astaghfirullah.... Qiy... Hati-hati... kamu mulai pada titik dimana setan mulai menggoda hati mu untuk merasa insecure dengan suami mu." Putri Ayra itu memiliki pesona.
Ia Didik oleh ibu dan guru yang terdidik. Maka sudah selayaknya kesungguhan dirinya selama belajar, membuat ia menjadi perempuan terdidik termasuk urusan hati. Saat setan sedang bermain-main dengan hati dirinya sebagai istri di usia yang mulai masuk usia hampir setengah tahun lebih. Disana Pesona seorang Qiya mulai ia pancarkan.
Ia tahu bahwa Rasulullah pernah mengatakan jika ada yang menyakiti hati maka carilah 77 alasan untuk kita berpikir alasan yang baik. Jika tak mampu menemukan satu alasan saja. Maka salahkan diri sendiri yang tak mampu menemukan alasan untuk berbaik sangka dengan orang lain.
"Ternyata begini cara setan menggerus rasa cinta pada pasangan. Merasa sakit saat ingin dibahagiakan, diperhatikan tapi tidak mendapatkannya." Guna Qiya.
Ia berjalan ke arah kamarnya. Tapi hatinya masih terus beristighfar. Ia tahu siapapun tak akan luput dari godaan setan. Termasuk dirinya. Ia pun saat setelah menyelesaikan sebuah hardisk eksternal pada sang suami. Gede pun menyelesaikan apa yang menjadi pekerjaannya.
Qiya yang sudah menuangkan parfum ke tubuhnya dan memakai celak di kedua matanya, ia pun segera kearah suaminya. Ia merebahkan tubuh nya di sisi sang suami.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Gede yang sudah sangat paham. Istrinya itu kalau sudah bergelayut mesra ada yang ingin disampaikan.
"Maafin Qiya. Tadi sempat merasa insecure sama Mas." Ucapnya pada sang suami.
Gede meletakkan ponselnya. Ia berbaring dengan menopang kepalanya dengan satu tangan. Dipandanginya paras cantik nan putih itu. Gede menyentuh hidung mancung Istrinya dengan ujung rambut sang istri yang tergerai.
"Insecure... Kenapa? Mas salah apa?" Ucap Gede yang masih mengusap hidung sang istri dengan ujung rambut Qiya.
Qiya terkekeh-kekeh karena merasa geli.
"Geli mas..."
"Hehehe.. Cepat katakan. Kenapa istri mas ini insecure. Mas salahnya dimana?" Tanya Gede.
Aroma wangi khas parfum lelaki merebak ke indera penciuman Qiya. Ia menyukai aroma tubuh sang suami. Gede juga begitu memperhatikan hak istrinya. Ia yang merasa bahagia ketika sang istri selalu tampil cantik, wangi di saat bersama dirinya. Membuat ia pun berusaha maksimal untuk tampil tampan, wangi ketika bersama sang istri.
"Maksudnya?" Tanya Gede yang langsung memasukkan satu tangannya ke arah pinggang sang istri juga meng3cup dahi sang istri.
"Dulu waktu belum menikah. Aku Pernah jatuh dari motor, jatuh dari tangga tapi ga merasa sakit ketika tidak ada yang menolong. Tapi tadi, pas hampir jatuh dari tangga ada rasa sakit karena mas ga menolong aku. Sungguh pandai setan bermain-main di hati agar membenci suami ku ini." Ucap Qiya yang tambah mengeratkan pelukannya.
Tanpa terasa air mata menetes dari sudut mata Qiya. Ia merasa betul-betul lemah hatinya. Gede pun begitu merasa kian hari, cintanya pada Qiya kian bertambah. Ia merasa menjadi lelaki yang bahagia. Ibarat sebuah pepatah habis gelap terbit lah terang, maka itu mungkin pantas disematkan di kisah hidup Gede dengan bertemunya dia dengan Putri Ayra dan Bram itu.
Diruangan lain masih dikediaman Ayra. Buah hati Ayra itu juga mengeluarkan pesonanya. Siapa bilang dalam berumahtangga kunci mencapai sakinah mawadah warahmah itu hanya ada pada perempuan atau istri, kuncinya juga ada pada pihak lelaki atau suami. Sikap dan sifat lemah lembut Ammar sebagai seorang suami membuat rumah tangganya yang berawal dengan air mata penantian cinta. Kini berubah menjadi kisah rumah tangga yang begitu romantis.
Sang istri yang awalnya akan marah atau merasa tersinggung jika diingatkan perihal shalat, malam itu justru sedang menatap buku catatan shalat, Sebuah buku kecil yang dihadiahkan sang ibu mertua selalu menemani hari-hari Arumi. Ia menatap buku catatan itu. Ia conteng satu kolom setiap ia selesai melakukan qodho shalatnya. Ammar menghapus air mata dari pipi sang istri kala istrinya masih terpaku menatap buku catatan hariannya.
__ADS_1
Bukan catatan hati seorang istri yang merasa tersakiti oleh suami. Tapi catatan dimana berisi jam, hari tanggal ia mendapatkan haid, dan kapan ia berkahir haid. Juga kolom-kolom yang ia buat sendiri untuk memberi semangat diri bahwa ia masih harus menyelesaikan kewajibannya dalam shalat lima waktu yang sangat banyak harus ia qodho karena ia dulu tak mengerjakannya. Andai bisa di ganti uang mungkin Arumi tak begitu sedih. Tetapi ini, harus dibayar dengan shalat juga dan kekhawatiran akan tentang ajal yang tak tahu kapan datang membuat istri Ammar itu sedikit khawatir.
"Kenapa lagi?" Tanya Ammar yang mengambil buku catatan istrinya dan menyimpannya dia atas meja.
"Masih banyak sekali.... Semoga masih diberi umur panjang... Aku khawatir mas... Ajal datang menjemput ku saat shalat ku dulu belum ku qodho atau bayar." Ucap Arumi lirih.
Arumi tahu bahwa ia dulu tak pernah mengerjakan shalat. Ia bahkan dengan sengaja meninggalkan shalat. Ia tak tahu jika shalat kewajiban yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir kelak. Setelah menikah dengan Ammar, ia awalnya terpaksa melakukan shalat hanya karena malu dengan mertua, terpaksa karena sudah berhijab tetapi tak shalat. Dan kini seolah bukan lagi terpaksa tapi ia begitu menikmati shalatnya. Ia merasa ia membutuhkan shalat. Itulah nikmat sesungguhnya kala hidayah menghampiri dan diri masih bisa memperbaiki kualitas ibadah dan kualitas diri.
Ammar mendekatkan dirinya pada sang istri.
"Cup." Satu kecupan di dahi Arumi kembali mendarat.
"Jadi sekarang kalau mau cepat shalat qobliya dan dan ba'diahnya nanti saja dulu. Kejar Qodho nya dulu ya... Yang penting berusaha, Kamu tahu Ar. Menikah itu hakikatnya ibadah. Seorang istri hanya tersenyum saja buat suaminya ibadah. Sekarang senyumnya mana?" Tanya Ammar.
Arumi pun seketika tersenyum pada sang suami. Istri Ammar itu merentangkan tangannya dan Ammar memeluknya.
"Kamu tahu mas, takdir terindah yang Allah berikan adalah menjadi istrimu." Ucap Arumi sambil kepalanya ia sandarkan di pundak sang suami.
"Nama mu selalu ada di setiap doa ku Ar, agar kita selalu terikat dalam cinta dan Mas bahagia karena pernikahan kita ini bisa menjadikan sarana untuk kita bertambah giat beribadah, Wo Ai Ni Arumi."
"Salanghaeyo Mas Ammar..." Bisik Arumi.
Kelembutan hati pasangan akan mampu melembutkan hati pasangan kita, tapi bukan Ammar yang melembutkan hati Arumi. Melainkan Allah yang berperan. Ammar hanya berusaha dan berdoa untuk melembutkan hati sang istri tapi Allah yang Membolak-balikkan hati manusia termasuk Arumi.
{Readers mohon votenya di hari Senin untuk the twins ya. Maaf kemarin cuma bisa satu bab. My Son lagi tidak sehat kemarin. mohon doanya agar diberi kemudahan dan kesehatan untuk menyelesaikan semua novel yang lain}🙏🙏🙏🙏
__ADS_1