
Suasana di depan ruang operasi tampak sunyi. Karena operasi dilakukan di waktu Pagi hari. Namun keheningan itu di pecahkan oleh amarah Pak Subroto. Mertua Ammar itu segera menghentikan saat ia mendapatkan kabar dari ajudan yang selalu menjaga dirinya dari kejauhan.
Flashback On.
"Maaf Pak, saya mau melaporkan sesuatu." Ucap ajudan Pak Subroto.
Lelaki itu setengah membungkukkan tubuhnya dihadapan Pak Subroto dan Bu Melisa. Ayah Arumi itu pun menyingkir dari Melisa yang menunggu Arumi di ruang VVIP.
Ketika berada di loby rumah sakit. Ia menerima foto-foto yang di berikan sang ajudan.
"Sepertinya ada yang mengincar Ammar. Saya belum mengambil tindakan. Saya menunggu perintah anda." Ucap lelaki itu dengan posisi tubuh berdiri tegap.
"Kamu sudah tahu siapa yang menyuruh tikus-tikus itu?" Tanya Pak Subroto yang menatap foto-foto tersebut dengan tatapan elangnya.
"Ya. Kami sudah tahu. Namun motif nya kami belum tahu." Ucap lelaki itu.
"Siapa yang berani memata-matai menantu ku. Berani betul dia. Apa dia tidak tahu siapa yang sedang mereka ganggu. Atau dia bukan orang Indonesia?" Tanya Pak Subroto meremas foto-foto tersebut dan menyerahkan kepada ajudannya.
Satu foto di ponsel ajudan Pak Subroto di tunjukkan ke pada bosnya. Geraham lelaki paruh baya itu mengeras menatap foto di ponsel tersebut.
"Cari tahu motifnya! Br3ngsek! Sudah saatnya si busuk itu menuai apa yang ia tanam. Aku sudah tak mau lagi diam." Ucap Pak Subroto seraya meninggalkan ajudannya.
Hari berlalu tiba di pagi hari saat Ammar akan menjalani operasi. Pak Subroto yang tertidur di sofa menemani Bu Melisa menunggu Arumi yang masih koma. Namun suara dering ponselnya membuat ia terjaga. Ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Bagaimana?" Tanya Pak Subroto karena ia yakin jawaban atas pertanyaan nya sudah ditemukan. Ia tahu sang ajudan tak pernah berani menelpon di waktu ia istirahat.
"Sudah Pak. Ternyata Pak Rendra meminta orang-orang itu memata-matai siapa pendonor sumsum tulang belakang untuk putranya. Dan suami Non Arumi sepertinya menjadi pendonornya." Ucap Lelaki di seberang telepon Pak Subroto.
"Tidak. Kamu tidak boleh mendonorkan sumsum tulang belakang mu Nak. Lelaki itu tidak pantas menerima kebaikan mu. Lelaki itu sudah banyak menyakiti keluarga mu!" Ucap Pak Rendra.
__ADS_1
Ia bergegas menelpon Bram dan Ayra. Namun tak berhasil. Ia juga menghubungi Pak Rendra namun tak berhasil.
Flashback off.
"Tidak. Operasi ini tidak boleh dilanjutkan. Saya tidak setuju!" Ucap Pak Subroto yang membuat brankar dorong yang terdapat Ammar berbaring di atas sana.
Ammar menoleh ke arah Pak Subroto. Hal senada dilakukan oleh Bram dan Ayra. Mereka tampak kaget suara Pak Subroto dan mimik wajah besan mereka tampak menahan amarah.
"Papa.... Ada apa pa? kemarin bukannya Papa setuju? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Arumi?" Tanya Ammar menatap Pak Subroto.
"Iya. Apakah sesuatu terjadi pada Arumi?" Tanya Ayra khawatir.
"Hari ini. Papa tidak merestui, Jika kamu masih menganggap Aku orang tua mu. Jangan lakukan operasi transplantasi ini!" Ucap Pak Subroto.
Ammar dan kedua orang tuanya semakin bingung. Bram mendekati Pak Subroto. Ia merangkul sang besan.
"Duduk dulu Pak. Kita bicarakan baik-baik dulu. Silahkan bawa Ammar ke ruangan dok. Bi-"
"Pak Bram. Semenjak Ammar menikah dengan Arumi. Maka dia anak saya. Anda dan Bu Ayra adalah keluarga saya. Menyakiti anda juga menyakiti saya." Ucap Pak Subroto lagi.
Ayra dan Bram semakin bingung. Ammar bangkit dari tempat tidurnya. Ia menoleh ke arah Ayra. Ia bisa melihat lirikan mata ibunya bahwa sang ibu mengharapkan putranya untuk menunda operasi itu. Karena ada kemarahan di wajah orang tua istrinya. Karena bagi Ayra mertua bukan orang lain. Ketika ijab qobul telah dilakukan. Maka Pak Subroto adalah orang tua juga bagi Ammar.
Ammar sedikit menganggukkan kepala tanda paham lirikan mata ibunya. Ia mendekati Pak Subroto.
"Ada apa Pa?" Tanya Ammar.
Pak Subroto memeluk Ammar. Ia usap punggung tegap sang menantu. Masih dengan wajah tegang dan marah. Ia memeluk sang menantu.
"Apakah kamu masih akan mendonorkan sumsum tulang belakang mu jika kamu tahu bahwa ayah dari pasien adalah orang yang dulu pernah mencelakai ibu mu bahkan berkali-kali?" Tanya Pak Subroto.
__ADS_1
Bram membulatkan kedua netranya. Air wajah Bram sudah berubah merah. Ayra cepat berjalan mendekati Bram. Sedangkan Ammar menautkan kedua alisnya.
"Maksudnya Pak Subroto?" Tanya Bram penasaran.
"Maksud Papa?" Tanya Ammar.
"Apakah kamu masih mau mendonorkan sumsum tulang belakang mu saat kamu tahu jika ayah pasien dulu pernah membuat ibu kecelakaan hingga ia keguguran?" Pak Subroto menatap Ammar dalam.
Geraham sulung Ayra itu mengeras. Bram pun terlihat menahan amarahnya mendengar luka lama yang menggores kehidupan ia dan istrinya.
"Apakah kamu masih akan mendonorkan sumsum tulang belakang mu? Jika kamu tahu lelaki itu yang berencana mel3nyapkan Ibrahim karena ia memiliki banyak bukti korupsinya?" Tanya Pak Subroto lagi.
Kali ini, besan Bram itu menatap kedua orang tua Ammar.
Ayra tampak menahan air matanya. Kata 'mel3nyapkan' membuat Ayra menahan air matanya.
"Dan apakah kalian juga masih akan merestui anak kalian memberikan sumsum tulang belakang nya untuk lelaki yang membatalkan pernikahannya tepat di hari meninggalnya Pak Erlangga?" Ucap Pak Subroto.
Ibu, ayah dan anak itu bak di sengat aliran listrik. Ayra bahkan merasa lemah seketika. Ia memegang lengan Bram. Suami Ayra itu cepat memeluk sang istri. Ammar terduduk di bangku stainless yang berada di depan ruang operasi.
Kakinya tak ada tenaga. Dadanya sesak menahan emosi. Rasa sakit, benci pada lelaki bernama Hilman juga Pak Rendra kini menyeruak di hati sulung Ayra. Ia mengingat bagaimana wajah sang adik di hari-hari setelah pembatalan pernikahan yang sudah tersiar di media. Walau bibir sang adik tertutup rapat tapi kedua mata kembarannya bisa ia lihat kesedihan, kekecewaan, rasa malu.
Belum lagi berita-berita baru yang ia ketahui tentang masalalu yang terkait luka sang orang tua juga perpisahan ia dan adik bungsunya.
"Hhhhhh.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah...." Ucap Ammar menarik rambut dengan kedua tangannya.
Sedangkan Ayra ia terduduk lemah.Bram yang duduk seraya memeluk Ayra. Ia mengingat hari-hari terberat sang istri kala baru saja kehilangan calon anak ke empat mereka. Bersamaan dengan itu ia juga harus mundur dari dunia politik. Ia tak tahu jika semua itu direncanakan.
"Astaghfirullah.... " Ucap Ayra pelan dan airmatanya sudah membasahi baju sang suami.
__ADS_1
Bram memejamkan kedua matanya. Ia mengepalkan satu tangannya. Bahkan d@rah di dalam tubuhnya bergejolak.