
"Jangan Ratih. Tak baik membicarakan hal-hal yang seperti itu lewat telpon apalagi pernikahan kakaknya Qiya sudah menghitung hari." ucap Niang Ayu yang berada di belakang Bu Ratih.
"Entah kenapa Ratih cuma khawatir Niang. Kalau-kalau menjadi masalah nantinya. Hubungan Ammar dan Gede menjadi tidak baik." Ucap Ratih terdengar khawatir.
"Berdoalah, Tuhan selalu mendengarkan doa hambanya yang tulus." Ucap Niang Ayu pada Ratih.
Bu Ratih pun terdiam sesaat.
"Kalau dipikir keluarga Pak Bramantyo sangat berbeda dengan keluarga Pak Subroto. Semoga Gede sudah tuntas dengan Mayang, tak ada kisah atau rasa yang tertinggal." Munajat Bu Ratih di hadapan Niang Ayu.
"Jangan lelah berdoa untuk kebahagiaan putra mu, Ratih." Nasihat Niang Ayu pada Bu Ratih.
Akhirnya Bu Ratih hanya menanti kepulangan putranya. Gede yang tiba dan telah beristirahat, pandangannya tertuju pada undangan dari Dua orang berbeda. Namun satu nama yang sama membuat Gede cepat meraih undangan di atas meja tempat biasanya Bu Ratih meletakkan surat-surat penting yang masuk atau tagihan untuk dirinya atau Gede.
Terdapat tulisan @&@ di setiap undangan. Pupil mata Gede seketika membesar. Ia bisa membaca jelas nama Bram dan Ayra juga diikuti nama Subroto dan Melisa.
Gede cepat membuka undangan itu. Ia baca nama pengantin perempuan yang tertulis Arumi Mayang Dahayu. Di bolak balik oleh Gede undangan itu, tak puas, ia pun membuka undangan satunya. Ia bolak balik seolah mencari sesuatu.
Gede mencari foto dari pengantin itu. Ia ingin memastikan jika yang bernama Arumi Mayang Dahayu itu bukan Mayang alias Kalila Mayang Dahayu.
"Permainan apa ini. Gila! Apakah Kak Ammar ingin kamu jadikan korban juga kali ini Mayang." Ucap Gede.
Ia mencoba mengingat kisah Ammar bertemu dengan calon istrinya.
"Tapi kata Qiya mereka baru bertemu. Lantas.... kenapa namanya bisa berubah menjadi Arumi bukan Kalila. Setahu ku Mayang putri tunggal." Ucap Gede.
Ia berusaha mencari informasi di media internet namun nihil. Pertunangan yang berlangsung tertutup. Acara pernikahan yang juga akan dilangsungkan tertutup dan khusus untuk keluarga membuat Gede tak menemukan hasil apapun.
Ia tak berpikir tentang rasa sakit yang di tinggalkan Mayang, tapi ia lebih ke memikirkan perasaan Ammar. Ia khawatir jika Mayang juga akan mempermainkan perasaan Ammar. Baginya, Ammar pemuda yang baik. Ammar juga akan menjadi kakak bagi dirinya. Ia pun bingung harus bagaimana.
"Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku memberitahu kak Ammar." ucap Gede.
Ia pun dengan cepat meraih ponselnya. Ia menghubungi Ammar. Namun lelaki itu sudah terlelap di atas kasurnya karena kelelahan satu hari ini banyak pekerjaan dan kegiatan yang ia lakukan karena akan mempersiapkan acara pernikahan. Maka semua pekerjaan ia percepat agar kelak ketika cuti ia tak harus pusing dengan kondisi perusahaan.
Gede pun kembali termenung.
"Seakan dunia ini begitu sempit." suara Gede terdengar lirih.
Ia mencoba menelepon nomor yang ia hapal. Ia berharap bisa tersambung. Namun sia-sia. Nomor ponsel tersebut tak bisa tersambung.
"Siapa kamu. Jika kamu bukan Mayang. Maka kenapa di undangan nama mu tertulis sebagai Putri dari Pak Subroto." ucap Gede lagi.
__ADS_1
Malam itu, Gede nyaris tak bisa tertidur. Ia bingung harus bagaimana. Kedua hati mulai lelah memikirkan harus bagaimana. Sebuah pesan dari Qiya masuk.
[Mama sudah kirim paket, besok kemungkinan sampai. Seragam buat Mas Gede dan keluarga di acara pernikahan Kakak.]
[Dek. Mas boleh tanya sesuatu?]
[Silahkan]
[Apakah calon istri Kak Ammar itu kembar?]
[Kok Mas Gede tahu?]
Seketika ada rasa lega di hati Gede. Ia bersyukur karena gadis itu bukan Mayang. Perempuan yang ia cintai dan sukai.
[Panjang ceritanya. Besok kau ketemu pas nikahan kak Ammar. Mas cerita semua. Ga enak lewat telpon. Tapi....]
[Tapi.... ?]
[......]
[Mas?]
[......]
[Seberapa sakit dan seberapa bahagia mas di masalalu. Mas ingin di masa depan, hanya bersama dan menua bersama kamu, Dek.]
[......] Kali ini giliran Qiya yang tak tahu harus membalas apa. Hatinya berbunga-bunga. Ia yang nyaris tak pernah merasakan hubungan seperti ini bingung membalas kata-kata puitis seperti ini.
[Dek?]
[Jika sekarang surga ku adalah dibawah telapak kaki Mama. Maka ketika nanti menikah dengan Mas Gede, surga ku ada dibawa telapak kaki mu mas. Menikah itu menyempurnakan separuh agama kita. Menikah itu Mistaqoh Galizha, hal yang tak dapat dibuat main-main. Karena setiap suami istri sejak awal berkomitmen harus betul-betul siap memahami itu. Ketika memutuskan menikah berarti siap, siap sehidup semati, bukan merasa paling benar sendiri dan menang-kalah dalam setiap keadaan. Tak boleh ada keegoisan, karena perjalanan tak selama nya mulus. Begitupun mengarungi bahtera rumah tangga. Semoga Aku bisa menjadi istri yang bisa memberikan Mas Gede kenyamanan, ketenangan, Ken!km@tan dalam mengarungi biduk rumah tangga kita nanti. Mari kita niatkan perjalanan kita besok untuk beribadah bersama-sama agar menjadi umat yang membanggakan Rasulullah]
[Aamiin... Semoga mas bisa menjadi Imam yang baik untuk perempuan secerdas, Sholehah seperti kamu Dek]
Malam itu dua orang itu sedang sama-sama memantapkan hati mereka untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang tak selamanya indah. Tak selamanya manis, tak selamanya berjalan mulus.
Hari demi hari berganti. Tibalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Ammar. Putra sulung Ayra dan Bram itu pun telah siap dengan sebuah jas maroon. Pagi itu kediaman Ayra sudah dipadati oleh banyak kendaraan, karangan bunga ucapan selamat menempuh hidup baru untuk Ammar. Belum lagi seluruh keluarga baik yang dari ibukota maupun daerah turut hadir untuk mengantar putra mereka menikah.
Namun sayangnya hari itu, Gede dan keluarga tak bisa hadir. Kondisi Niang Ayu yang tiba-tiba kadar gulanya naik. Gede pun memutuskan tak hadir di pernikahan Ammar. Seolah Tuhan belum ingin mempertemukan Gede dan keluarganya dengan Keluarga Pak Subroto.
Gede dan Bu Ratih hanya menelpon Ayra dan Bram juga Ammar. Tanda permohonan maaf karena tak bisa memenuhi undangan di hari bahagia itu. Belum lagi lima hari lagi mereka juga harus siap karena acara ijab qobul Qiya dan Gede sudah di tetapkan. Ayra masih mengikuti tradisi baik dari adat budaya Jawa.
__ADS_1
"Sudah siap semuanya?" tanya Bram karena WO yang ia tunjuk untuk memanage acara hari itu telah menanyakan kesiapan pengantin dan seluruh anggota keluarga untuk segera berangkat.
Hampir seluruh keluarga berangkat. Bram dan Ayra juga Ammar, satu mobil. Sedangkan Qiya bersama Nur dan Ibrahim. Mereka satu mobil dengan Umi Laila.
Tiba di kediaman Pak Subroto, banyak awak media yang telah menanti kedatangan Bram dan keluarga. Pernikahan ini ibaratkan pernikahan dua perusahaan besar. CEO dan CEO. Banyak yang tak tahu jika Arumi bukan Mayang. Tetapi media mengira, Arumi adalah Mayang. Putri pak Subroto. M
Banyak yang mengatakan bahwa dua insan yang akan bersatu mengikat janji untuk sehidup semati di hari itu adalah lantaran perjodohan dua orang pengusaha besar.
Karena tak ada angin, tak ada hujan. Kabar tiba-tiba Ammar menikah dengan putri pengusaha besar dan juga salah satu pejabat negara yang tinggal menunggu pensiunnya.
Pak Subroto meminta untuk acara ijab Qabul hanya di hadiri dan disaksikan oleh Keluarga tanpa ada media. Saksi dari pihak Ammar adalah Furqon. Ia duduk disisi Ammar. Ammar tampak berkali-kali mengatur napasnya. Ingin sekali ia menikmati rokoknya. Karena semakin tegang ia, semakin masam rasa pada mulutnya.
Ayra melihat ketegangan yang jarang terjadi pada putranya. Ia mengusap lembut punggung Ammar.
"Istighfar Am.... Shalawat, biar tidak tegang." Ucap Ayra menenangkan buah hatinya yang telah menjadi pemuda tampan nan gagah.
Ammar pun berhasil melalui kegugupan dirinya. Ia bahkan hanya sekali saja menjawab mantap apa yang diucap oleh Pak Subroto.
"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Mayang Dahayu binti Bapak Subroto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Saksi sah?"
"Sah"
"Alhamdulilah sah"
"Alhamdulilah...." Semuanya yang menyaksikan cepat mengucapkan kalimat hamdalah. Ayra pun di peluk Bram. Istri Bramantyo itu terlihat menangis haru.
Tibalah dimana mempelai perempuan untuk dihadirkan di depan tamu dan juga saksi untuk menandatangani surat nikah. Namun berkali-kali di panggil melalui Microphone tampak tak ada tanda Arumi muncul dari lantai atas. Semua mata tertuju pada tangga yang telah dihiasi banyak bunga mawar merah. Namun pengantin yang ditunggu tak kunjung hadir.
Pak KUA pun berinisiatif memberikan hiburan agar tak terlalu tegang pada Ammar.
"Sepertinya pengantin perempuan nya masih malu. Silahkan Mas Ammar. Sudah Sah sekarang. Jemput istri anda untuk turun kemari dan menandatangani surat-surat ini. Kalau tidak mau digendong saja." Ucap Pak KUA.
Sontak para tamu dan hadirin yang ada diruangan itu tertawa. Ammar pun dengan senang hati menaiki anak tangga menuju kamar Arumi. Ia pun heran, sebegitu malu atau nervous kah Arumi hingga ia tak berani untuk turun. Bahkan MC sampai hampir sepuluh kali memanggil.
"Kamu pasti sangat cantik sekali Arumi, sampai-sampai tak berani turun." Ucap Ammar dalam hatinya ketika tiba di depan pintu dan beberapa pengiring pengantin tampak berdiri di depan pintu.
"Pintunya dikunci dari dalam. Dan dari tadi tak ada jawaban dari mbak Arumi." ucap salah satu pengiring pengantin.
Ammar menautkan alisnya. Ia mengetuk pintu kamar Arumi.
__ADS_1
"Ar.... Arumi.... Ini aku." Suara Ammar setelah ia ketuk pintu kamar yang terkunci dari dalam.
[Jangan protes ya. Kan Pesona Ammar belum muncul. Judulnya aja pesona. Lah Ayra aja dulu sebegitu keras berjuang untuk cintanya di rumahtangga nya bersama Bram. Apalagi generasi pertama Ayra ya... Harap bersabar. harap tenang. Nikmati aja ya. Ditunggu nanti malam aku up satu lagi. Klo ga lama di review editor 🙄]