
Malam pertama di rumah duka almarhum Pak Rendra. Seluruh kakak beradik telah berkumpul. Dihadapan keluarganya juga keluarga sang suami. Malam itu, Bu Ratih mengungkapkan bahwa Gede Ardhana adalah putra dari Pak Rendra.
"Hanya ini yang ingin ia lakukan di akhir hayatnya Bu... Bahkan aku menyesali. Kenapa saat itu aku tidak keluar saat berkali-kali ia mengetuk kamar ku. Berkali-kali ia memanggil ku. Aku tak menjawab panggilannya... Tapi saat tubuhnya terbujur kaku. Aku tak ingin jadi janda. Seketika cinta yang kemarin hilang. Hadir, aku merasa sedih, aku menyesal meminta cerai dari mas Rendra di hari-hari akhir dia masih ada disisi ku. Andai..." Ucap Bu Ratih yang menangis di sisi Ibu Hilman.
Istri mana yang tak menyesal. Berkali-kali minta cerai. Berkali-kali di panggil sang suami. Padahal ajal sedang ingin menjemput suaminya. Itulah suami istri. Akan selalu ada rasa kesal, rasa benci, rasa marah yang membuncah kala pasangan bersikap tak sesuai yang diharapkan. Kini sesal Bu Ratih tak ada gunanya. Pak Rendra telah dipanggil yang kuasa. Ia hanya bisa menangisi detik-detik terakhir ia sebagai istri. Detik-detik terakhir masih mengabaikan suaminya. Seburuk apapun Pak Rendra tapi ia masih berstatus suaminya.
Ibu Gede Ardhana mengerti rasa kehilangan yang dialami oleh perempuan yang harusnya tak ia hiraukan. Harusnya ibu Gede itu bahagia karena penderitaan juga airmata yang mengalir di pipi Ibu Hilman tersebut. Rambut boleh sama hitam. Tapi hati manusia tidak ada yang sama. Bu Ratih memiliki pesona hati yang membuat Ayra pun merasa terpesona.
Ia tak menyangka jika mantan besannya justru adalah istri kedua dari besannya sekarang. Ayra hanya diam mendengarkan kisah sedih dan rasa sesal Bu Ratih pada perempuan yang selama ini menderita karena suaminya.
"Mohon maafkan Mas Rendra... Aku tak bisa membayangkan jika masih ada hati yang tersakiti sampai detik ini. Malam ini, ia seorang diri disana. Hari ini ia tak lagi meminta bantuan ajudannya. Hari ini ia tak bisa membentak siapapun kala ia di pojokan atau disalahkan..." Ucap Bu Ratih.
Ayra menggenggam tangan ibu Hilman tersebut.
"Bicarakanlah kebaikan-kebaikan almarhum. Karena menceritakan keburukan beliau justru akan membuat almarhum semakin menanggung dampaknya Bu. Insyaallah doa ibu, keridhoan hati ibu. semua anak-anaknya akan melapangkan tempat Pak Rendra disana." Ucap Ayra.
Saat akan berpamitan pulang. Kembali ibu Hilman itu seperti ingin bersujud dihadapan Gede.
"Jangan Bu... Jangan lakukan hal seperti ini. " Ucap Gede.
"Izinkan saya memanggil mu Nak. Karena mungkin saja setelah ini saya hanya seorang diri ka-" Ucap Bu Ratih saat ia kembali teringat kondisi Hilman yang terbaring di rumah sakit.
"Bu. Jangan dahulukan takdir Allah. Insyaallah, saya tidak akan menganggap Hilman orang lain. Saya akan menganggap dirinya adik saya." Ucap Gede. Ia pun berpamitan karena Qiya tak bisa ikut bersamanya. Kepalanya terasa berat saat pulang dari makam siang tadi.
Ayra pun tak lupa meminta maaf karena Ammar saat itu tak jadi transplantasi sumsum tulang belakangnya.
"Saya bisa mengerti perasaan Pak Subroto dan Pak Bram. Justru saya yang malu. Di saat seperti ini. Kalian masih bisa hadir disini bahkan memberikan semangat dan menghibur saya." Ucap Ratih. Perempuan itu sangat terpesona dengan akhlak keluarga Ayra juga besannya yang tak lain masalalu suaminya.
__ADS_1
Setelah semua pulang. Bu Ratih hanya menatap punggung keluarga Ayra itu satu persatu dari tempat duduknya.
"Kenapa aku tak memiliki pesona seperti mereka. Alangkah bahagianya mereka. Sungguh orang baik akan dikelilingi orang-orang baik ternyata." Ucap Bu Ratih setelah semua keluarga besar Ayra pulang.
Di dalam mobil. Gede yang sedang mengendarai mobil sedikit kikuk saat ingin menjawab pertanyaan dari Bram.
Satu tepukan pada pundak Gede yang Bram berikan.
"Kamu tahu. Dari awal Papa bertemu kamu. Papa yakin kamu lelaki baik yang bisa membahagiakan putri Papa. Hari ini, Papa bahagia. Kamu dan Qiya betul-betul membuat Papa merasa tentram. Kalian bisa melalui masalah kalian tanpa kami tahu." Ucap Bram merasa bahagia karena putrinya bersanding dengan lelaki yang berhati besar juga lembut.
Karena hanya hati yang besar dan memiliki kelembutan, yang mampu memaafkan orang seperti Pak Rendra.
Ayra pun menggenggam tangan besannya. Ia menatap Ibu Gede.
"Ibu tahu? Saya sempat merasa malu, Umi Laila dan saya saat itu merasa paling sungkan pada Pak Toha kala Hilman tak berjodoh dengan Qiya. Namun istikharah banyak Kyai, guru-guru Qiya. Termasuk Umi Laila, ternyata sama. Putri saya betul-betul menikah dengan cucu Pak Toha. Sungguh kita manusia tidak tahu apa yang terjadi di masa akan datang sekalipun setiap jalan ada pilihan. Maka jalannya tetap Allah yang memiliki andil." Ucap Ayra pada sang besan.
"Saat saya pertama tahu bahwa anak saya menyukai putri anda. Saya kembali khawatir menelan pil pahit karena hidup anda jauh diatas saya dari semua segi. Tapi ternyata, bukan hanya Qiya yang begitu mempesona. Orang tuanya memiliki pesona sendiri. Saya bersyukur karena bisa dekat dengan anda dan menjadi bagian dari keluarga anda Bu Ayra." Ucap perempuan yang sedang membuka cabang toko rotinya di ibukota.
Di saat keluarga yang di Indonesia merasa bahagia. Kini di Australia pun ikut merasakan satu kabar bahagia. Arumi baru saja sadar. Perempuan itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bukan karena racun yang sempat menjalar ke tubuhnya. Tetapi karena ia yang biasa olahraga baru bangun dari komanya.
Ammar baru saja menemui dokter Obgyn. Hasil dari pemeriksaan janin pun dalam keadaan baik.
"Bagiamana mas?" Ucap Arumi saat melihat suaminya muncul dari balik pintu. Ia masih disuapi oleh Bu Melisa bubur.
"Habiskan dulu makannya." Ucap Ammar.
Arumi tersenyum. Dari raut wajah, lirikan mata serta alis sang suami yang bergerak keatas menandakan suasana hati lelaki itu bahagia. Ia pun melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Ma.. Jadi merepotkan Mama." Ucap Arumi pelan.
Bu Melisa mengelap sudut bibir Arumi yang tampak sedikit cairan putih, sisa suapannya pada bibir Arumi.
"Lebih baik direpotkan begini. Senang rasanya dipanggil Mama oleh Mu, Ar." Ucap Bu Melisa.
Ammar mengirimkan foto Arumi yang sedang makan bubur ke Ayra.
[Alhamdulillah, Arumi pagi tadi sadar Ma. Dokter juga sore tadi sudah memeriksakan kondisi janinnya. Bayi kami baik-baik saja.]
"Alhamdulillah...." Suara Ayra yang menatap ponselnya.
Bram yang baru masuk ke kamarnya. Ia baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama.
"Ada kabar apa Ay?" Tanya Bram yang segera mengganti lampu menjadi lampu tidur.
Ayra menunjukkan foto Arumi sedang duduk bersandar dan menikmati makanannya.
"Alhamdulillah.... semoga Allah menjadikan keluarga anak-anak kita menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah." Ucap Bram yang memeluk istrinya erat.
"Aamiin...." Ucap Ayra membalas pelukan sang suami.
"Terimakasih sudah memberikan aku anak-anak yang luar biasa mempesona Ay. Terimakasih karena telah dengan sabar mendidik menantu mu. Terimakasih telah menjadi perempuan high value dalam hidup ku." Ucap Bram seraya mengusap rambut panjang istrinya.
Bram merasakan menjadi orang yang paling beruntung. Ia sebenarnya tahu bagaimana istrinya berjuang untuk bersabar ketika tahu pernikahan Arumi dan Ammar. Namun berhari-hari Bram menanti bibir mungil istrinya untuk menceritakan apa yang terjadi pada rumah tangga Ammar. Namun Ayra masih Ayra Khairunnisa walau usia nya tak lagi muda.
Bersambung....
__ADS_1
(otw ending. Jangan lupa votenya hari Senin. masih buat twins ya. Mulai besok sampai tgl 30 the twin update 1 bab. Otw Because I'm Your Wife. Minggu ini lanjut yang tertinggal lama.)