Pesona The Twins

Pesona The Twins
107 Dinginnya Australia


__ADS_3

Australia sedang dalam musim dingin. Musim yang menghadirkan siang yang cerah namun sejuk serta malam yang dingin. Ammar ketika akan pergi ke Bandara tersenyum melihat Pakaian yang disiapkan di tas tenteng Arumi. Ada mantel hangat dan tebal. Ia tahu saat ini di Australia sedang musim dingin. Karena mereka akan berada di wilayah selatan Australia.


"Lama-lama tidak apa Am. Biar sekalian jalan-jalan. Arumi kasihan, Mama lihat tiga bulan menikah kalian tidak pernah pergi jalan-jalan kemanapun." Ucap Ayra pada putranya.


Sepasang suami istri itu saling lirik. Ammar masih bersikap lembut dan romantis dihadapan kedua orang tuanya. Arumi sebetulnya malu pada Ayra tapi ibu mertuanya meminta untuk tidak boleh memberi tahu Ammar jika dirinya sudah tahu apa yang terjadi. Maka sebenarnya Arumi banyak diam karena tak ingin menambah rasa malu di hadapan ibu mertuanya.


"Mama mau oleh-oleh Apa?" Tanya Arumi mengalihkan pembicaraan.


"Berikan oleh-oleh cucu saja." Jawab Ayra.


"Uhuuk....uhuuukk...."


"Astaghfirullahalazhim... Am..." Ucap Arumi pelan dan reflek mengambil tisu.


Jawaban Ayra justru sontak membuat Ammar yang sedang menikmati kopinya tersedak. Air hitam muncrat dari mulutnya. Arumi reflek mengambil tisu dan mengelap baju Ammar juga bibir Ammar. Jika hal itu biasa bagi Bram dan Ayra. Ammar justru dibuat terpaku. Jantungnya berdetak tak karuan. Apalagi satu tangan sang istri menempel di pahalanya. Bukan ia m3sum namun perhatian Arumi yang membuat dirinya berdebar-debar.


Berbulan-bulan dalam keadaan demam pun istrinya itu tidak menawarkan untuk tidur diatas tempat tidur. Ia masih tidur di sofa. Tapi ini hanya memuntahkan kopi dari mulutnya. Sang istri begitu khawatir. Ayra tersenyum melihat ekspresi dari Ammar. Dan ia senang karena Arumi begitu banyak berubah. Bram tak tahu kisah kasih anak sulungnya. Ayra bukan perempuan yang dari dulu akan memusingkan suaminya akan hal yang mungkin malah menambah sang suami tak fokus dengan mencari nafkah.


"Mama.... ada-ada saja." Ucap Ammar setelah berhasil menghilangkan rasa sakit pada hidungnya karena tersedak dan menenangkan hati karena Arumi memberikan perhatiannya.


"Ya sudah buruan berangkat nanti ketinggalan pesawat." Ingat Bram anak dan menantunya.


Ammar dan Arumi pun berpamitan pada kedua orang tua mereka. Ayra memeluk Arumi seolah akan pergi lama menantunya itu.


"Nikmati dan manfaatkan waktu bersama Nak." Bisik Ayra pada Arumi.


Arumi menganggukkan kepalanya. Ia pun mengikuti Ammar duduk didalam mobil. Tiba di dalam mobil ternyata ponsel suaminya telah berdering. Ammar tak berniat memanasi Arumi pagi ini. Tapi Bilqis tak tahu jika ia menghubungi Ammar disaat sang istri justru duduk di sisinya.


"Ada apa By?"


"Kak Am... aku mungkin nanti sore baru bisa ke Ausi. Mama Papa terlanjur janjian dan katanya ada tamu yang ingin bertemu aku. Mereka sepertinya tak pernah menyerah..."


"Hehehe... Ya sudah ga apa-apa. Ini Kakak juga baru otw ke bandara." Ucap Ammar.


"Nanti aku minta Ilyas yang nemuin kakak di hotel ya."


"Sip. Udah dandan yang cantik sekali-kali biar bisa dilihat cantik sama calon suami..."


"Engak ah... masih mau terbang kesana kemari, ga mau di kurung kayak emas. Tuh kayak istrinya kakak. Udah kayak burung aja ga bisa kemana-mana klo udah nikah... hehe ya udah kak. Hati-hati ya kak dan semoga selamat sampai tujuan."


Suara manja yang memang asli bukan karena dibuat-buat membuat Arumi menatap tajam ke arah depan. Ia tak tahu harus bagaimana tapi ia betul-betul tidak suka dengan perempuan yang namanya Chub By itu.

__ADS_1


Saat tiba di bandara Arumi masih dingin. Ia tak menyukai kejadian di mobil barusan. Bahkan ketika tiba di bandara beberapa anak mahasiswa yang memang satu pesawat dengan Ammar menyapa Ammar. Mereka berterimakasih karena bisa di gratiskan untuk biaya kembali ke Australia.


Ammar terlihat humble, maka hal itu tambah membuat Arumi berpikir jika begitu juga sikap suaminya pada perempuan bernama Chu By.


Dari jarak 5 meter. Ia yang duduk di kursi bisa melihat dari bibir anak-anak mahasiswa itu ada yang memuji ketampanan suaminya ada juga yang mengatainya juga ada yang mengagumi dirinya.


"Pak Ammar itu tampan betul ya.Udah gitu baik hati juga, itu Bilqis pakai cara apa ya biar tuh Pak Ammar bisa jadi donatur acara kita."


"Iya. Eh istrinya dingin banget ya."


"Bukan dingin. Lihat dari pakaiannya. Jelaslah dia ga terlalu mau berbicara dengan kita. Beruntung Pak Ammar punya istri bisa kek gitu ya."


"Itu Pak Ammar aneh ya, istrinya tertutup begitu. Eh dia sama Bilqis kayaknya akrab sekali."


Begitulah informasi yang Arumi dapatkan walau ia tak mendengar suara para mahasiswa itu. Tapi ia bisa melihat dari gerak bibir mereka. Arumi merasa jengkel karena Ammar tampak akrab dengan mereka. Lalu saat mereka memasuki pesawat pun Ammar masih sibuk menatap layar ponselnya dan tersenyum.


Arumi semakin merasa panas hatinya. Karena ia bisa melirik ponsel itu tertera nama Chu by.


"Senang Amat. Sabar besok juga ketemu sama yang namanya Chu by. Ini dipesawat." Ucap Arumi.


Ammar melirik Arumi.


",Kamu cemburu?" Tanya Ammar.


"Hhhhh... Kamu kalau cemburu ngegemesin Ar. Wajah mu itu pasti sedang merah dan jutek. Maaf ya Ar... Semoga kamu mau mengakui kalau kamu mencintai aku." Ucap Ammar.


Ammar pun telah menyimpan ponselnya. Ia memejamkan kedua matanya. Arumi tidak tahu jika ia sudah menelpon Miss Allyne semalam. Dan Miss Allyne setuju dengan ide Ammar.


Tiba di Australia. Suhunya mencapai 13 derajat celsius. Ammar menggunakan mantel tebal yang d diberikan oleh Arumi. Ia melihat Arumi kesulitan mengenakan mantelnya Ia pun memegang mantel itu. Arumi tersenyum. Apalagi ketika Ammar menggaet pinggang istrinya kala mereka berjalan menuju mobil.


Ammar senang tak ada penolakan dari istrinya itu. Itu kali pertama mereka berjalan-jalan. Ammar pun merutuki dirinya.


"Kenapa tidak dari dulu aku ajak kamu jalan-jalan." Ucap Ammar dalam hatinya.


Tiba di hotel mereka. Ammar cepat menghidupkan rokoknya. Ia begitu kedinginan. Sedangkan Arumi hanya menatap Ammar. Ia menghidupkan penghangat ruangan. Merekapun beristirahat, Ammar beristirahat di sofa. Arumi hanya melirik suaminya.


"Sepertinya sofa memang menjadi tempat favorit mu." Ucap Arumi dari balik selimutnya.


Setelah beberapa jam Ammar pun berpamitan untuk ke kamar Ilyas karena akan membicarakan untuk launching acara mereka dua hari lagi.


"Ar. Aku pergi sebentar ya. Mereka tidak mungkin ke kamar kita. Biar aku yang ke kamar mahasiswa tadi." Ucap Ammar.

__ADS_1


Arumi pun berdehem.


Sekitar tiga jam Ammar pergi,Saat ia kembali Arumi belum tidur. Ia masih menunggu Ammar.


"Kamu belum tidur Ar?"


"Belum, sekarang baru mau tidur." ucap Arumi.


Ammar membuka kemejanya mengganti dengan Sweater yang telah disiapkan Arumi. Ia baru ingin mengambil bantal dari tempat tidur namun Arumi yang merasakan Ammar mengambil bantal tersebut ia pun cepat mengucapkan sesuatu yang Ammar melongo tak percaya.


"Apakah kamu masih ingin tidur di sofa di kondisi dingin seperti ini. Tidurlah di sini.Aku tidak mau kamu demam" ucap Arumi tanpa menoleh ke arah Ammar.


"Kamu sungguh-sungguh Ar?" Ucap Ammar spontan.


"Terserah!" Ucap Arumi kesal yang memang dari tadi ia menunggu Ammar untuk tidur tapi suaminya tak kunjung kembali.


"Kalau terserah perempuan itu berarti ya." Ucap Ammar. Ia pun masuk ke balik selimut tebal itu.


Namun wanginya tubuh sang istri membuat ia justru tak bisa tidur. Ia yang kaget karena tiba-tiba Arumi menghadap ke arahnya. Matanya yang terpejam, membuat Ammar merasakan detak jantungnya begitu tak karuan. Ini kali pertama ia memandangi wajah istrinya dari jarak sangat dekat.


Arumi ketika mencoba tidur kembali teringat nasihat ibu mertuanya bahwa untuk tidak memunggungi suami ketika tidur. Ia berbalik.


"Kamu masih betah tidur dengan jilbab mu?"


"Apakah kamu meminta ku membukanya? dulu kamu yang meminta aku menutupnya." Ucap Arumi masih dengan mata yang tertutup.


"Ar.... "


"Hem."


"Apakah kamu mulai menerima ku?"


"... "


"Ar.... " Suara Ammar


Ammar pun berbalik menatap wajah cantik yang masih menutup matanya. Ammar memeluk guling yang ada diantara mereka. Satu sama lain mampu merasakan hembusan napas masing-masing. Ammar meraih satu tangan Arumi. Ia letakan di bawah pipinya. Arumi merasa jantungnya juga berdegup begitu kencang.


"Aku tidak meminta tubuhmu Ar. Aku meminta hati mu. Karena hati adalah sumber segalanya. Bisa dekat dan begini saja dengan mu, aku sudah sangat bahagia. Aku masih akan terus menunggu mu. Jangan terlalu lama. Aku khawatir hati ini rapuh." Ucap Ammar sambil memejamkan mata dengan meletakkan tangan halus Arumi di bawah pipinya.


Malam itu malam pertama sepasang suami istri yang tidur satu ranjang. Jika tiga bulan menikah mereka satu kamar tapi pisah ranjang. Maka malam itu suasana dingin menyatukan mereka, tepatnya perasaan sayang Arumi yang tak tega membiarkan suaminya tidur di atas sofa dengan cuaca yang begitu dingin walau sudah menghidupkan pemanas ruangan.

__ADS_1


"Lalu Chu by itu siapanya kamu? jika aku ada dihati kamu?!"


__ADS_2