Pesona The Twins

Pesona The Twins
41 Ammar dan Cintanya


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Marvin telah tiba di Tanah Air. Ia pun langsung menuju kediaman Ammar. Ia yang mendapatkan satu kabar dari Miss Allyne dan dia berniat memberi tahu bosnya. Ia khawatir sang Bos terlanjur jatuh hati pada perempuan yang bernama Alisha itu. Saat tiba di kediaman Ammar, Ia disambut oleh asisten rumah tangga. Ia pun diantar kesebuah ruangan dan menunggu Ammar di ruang itu.


Putra Sulung Ayra itu mendengar ada Marvin di ruangan depan, segera meminta asisten rumah tangga untuk menyuruh Marvin kedalam kamarnya. Ia tak ingin Mamanya tahu berita yang akan disampaikan Marvin. Asisten rumah tangganya memberitahu Marvin untuk langsung ke kamar putra sulung majikannya. Ammar beranggapan bahwa ada berita yang sangat penting yang ingin disampaikan asprinya itu.


“Kenapa tidak memberitahu akan kemari” Tanya ammar yang duduk diatas Sofanya. Ketika Marvin masuk, ia pun mematikan rokoknya.


Marvin membawa sebuah map yang terdapat biodata Alisha berdasarkan hasil pencarian orang-orang mereka. Namun setelah Miss Allyne mendengar cerita Alisha, ia pun mencari tahu jati diri Alisha. Berdasarkan hasil pencarian terbaru anak buah miss Alyyne, Alex terlibat kelompok ter0ris. Sehingga kemungkinan Alisha juga bagian dari komplotan orang-orang itu.


“Jadi maksud kamu, Alisha anggota salah satu dari mereka?” Komentar Ammar setelah mendengar penjelasan


Asprinya itu.


“Ya apalagi pakaian nya bercadar.”Ucap Marvin.


Ammar terkekeh mendengar komentar Marvin, wajar bagi asprinya yang berpendapat hal itu karena ia awam sekali tentang Agama dan akan latah Ketika ada berita yang beredar. Ammar memang tidak mengenyam Pendidikan di pondok pesantren tetapi perempuan yang ia panggil Mama selalu hadir sebagai pemberi Ilmu. Maka tak heran jika anak Ayra itu ketika di masyrakat atau teman-temannya selama bergaul akan sejuk, tidak menghakimi juga selalu mendahulukan akhlaqul karimah. Termasuk Ammar, ia tak ikut latah menyatakan Alisha yang bercadar sebagai bagian dari ter0ris atau r@dikal.  Walau ia tak terlalu paham ranah itu.


“Lalu bagaimana dengan suaminya yang ku hajar waktu itu. Punggungnya bahkan penuh Tato. Ku lihat tatonya permanen, Tubuhnya bahkan bau alkohol. Aku pastikan jika berdasarkan cerita mu. Ia menggunakan kostum itu untuk menutupi jati diri mereka. Banyak sekarang orang yang menggunakan busana seperti kelompok terntentu untuk kepentingan mereka. Bukan karena agama mereka.” Ungkap Ammar pada sang asisten.


Marvin menyerahkan map yang ia bawa, ia ingin Ammar melihat sendiri apa yang di dapat oleh Miss Allyne terkait Alisha. Akhirnya Marvin pun Kembali ke kantor. Ia tidak habis pikir bagaimana pemuda kaya raya, tampan dan cerdas bisa jatuh hati pada perempuan yang telah bersuami dan memiliki anak serta tak jelas asal usulnya.


Selepas kepergian Marvin, Ammar tertegun. Ia merenungi apa yang disampaikan Marvin sambil menatap map itu.


“Kalau dia lupa ingatan. Lalu dia siapa? Maka disini statusnya masih belum jelas gadis atau janda, ia juga belum tentu istri lelaki itu. Aku harus berjuang setidaknya mengetahui status dia terlebih dahulu. Aku tak mungkin melakukan apa yang sudah mama ingatkan. Tapi…. ” Ammar memejamkan kedua matanya.


Ia membayangkan kembali ketika ia menggendong tubuh Alisha palsu. Ia bisa merasakan lengan dan paha yang cukup kencang untuk seorang gadis yang terlihat lemah. Seketika pikirannya terganggu. Ia pun meeraih ponsel, rokok dan korek api miliknya. Ia menuruni anak tangga. Ia melihat jam dinding di ruang tengah. Kemudian mencari Ayra ke dapur.


“Mbok, Mama mana?” Tanya Ammar pada asisten rumah tangga.


“Di Gazebo belakang Den.” Jawab asisten rumah tangga itu sambil menunjuk sopan kea rah Gazebo yang di belakang tak jauh dari kolam renang.


“Makasih ya Mbok.” Ucap Ammar sambil berlalu meninggalkan ruang dapur.


Di Gazebo tampak seorang gadis yang memiliki rambut Panjang nan hitam dan bulu mata yang lentik. Perempuan itu sedang berbicara serius dengan Ayra. Tampaknya mereka membicarakan urusan bisnis Qiyam.

__ADS_1


“Hai Al… Apakabar? Lama tak bertemu.” Ucap Ammar yang duduk di seberang Ayra.  Ayra melihat kearah putranya dan sedikit menaikan kacamatanya yang sedikit turun.


“Baik Am. Kamu apakabar? Tumben jam segini masih di rumah?” Tanya Alma.


“Lagi belum boleh kemana-mana sama CEO Qiam Shop.” Ucap ammar memainkan korek apinya yang ia putar-putar di atas meja sambil melirik Ayra yang sedang menandatangani beberapa lembar kertas.


Alma pun tertawa ringan. Ia sebenarnya menaruh hati pada sahabat dari masa kecilnya itu. Akan tetapi sikap Ammar yang biasa saja dengan dirinya membuat ia tak berharap lebih pada sosok cool dan keren. Selepas kepergian Alma untuk meminta tanda tangan dan laporan beberapa urusan untuk cabang baru Qiam. Ayra mengangkat kacamatanya. Ia meletakkan kacamata itu diatas laptopnya.


“Kamu tidak tertarik dengan Alma? Kalian sama-sama dewasa. Kalian juga sudah cukup lama saling mengenal.” Pancing Ayra.


Ia bukan tipe orang tua yang sibuk menjodohkan anak-anaknya. Melainkan ia lebih ke sebagai sahabat juga penasihat bagi buah hatinya diusia nya yang tak lagi muda.


“Mama sedang menjodohkan aku dengan anak mantan Pacar Papa? Upss….” Ucap Ammar yang sengaja menceploskan hal itu.


“Kamu tahu darimana?” Kedua alis Ayra terangkat. Ia tak pernah menceritakan apapun pada Ketiga anaknya terkait hubungan masalalu Bram.


“Mama…. Aku memang sarjana Ekonomi tetapi jangan lupa aku lebih suka duduk di depan komputer. Untuk meretas Qiam Shop pun aku sanggup apalagi kisah masalalu Mantan Papa yang terkenal itu.” Ucap Ammar.


Seketika Ayra khawatir akan video syur yang dulu sempat menjadi konsumsi publik terkait masalalu suaminya. Bram sudah meminta ahli IT nya untuk menghapus video itu. Ia bahkan membayar banyak ahli IT untuk menghapus semua video terkait berita itu di dunia maya juga berita online.


“Ma…. Apakah busana seperti cadar identik dengan r@dikal dan ter0ris?” Tanya Ammar pada ibunya yang ia rasa Guru dalam hidupnya. Berbeda dengan kedua adiknya yang cukup lama di pondok pesantren. Ammar mempelajari Agamanya melalui Ayra dan Furqon juga buku yang disarankan Mamanya.


Ayra menggeser laptopnya. Ia menikmat air madu hangat yang sering ia nikmati ketika tubuhnya sedang kurang fit.


“Yang bercadar bukan hanya orang islam Am. Lalu Rabi Yahudi berjenggot dan berpeci, wanitanya bercadar. Di Israel, zi0nism3 justru hidup di orang yang dagunya klimis. Sekarang apa menurut mu pengertian R@dikal itu sendiri?” Tanya Ayra serius.


Beginilah metode Ayra menyalurkan pengetahuannya. Ia akan berbincang dan sharing dengan putra dan anak-anaknya yang lain juga suaminya tentang hal-hal yang berilmu walau sedang tidak dalam majelis ilmu.


“Sepemahaman Ammar, r@dikal adalah dimana adanya aktivitas yang  mengancam ideologi negara, Ma.”


“Kalau menurut Mama, maka Untuk menjadi ter0ris dan r@dikal seseorang tidak bisa di lihat hanya dari kostum mereka, tetapi lebih ke sikap mereka. Akan tetapi cara identifikasinya biasanya mereka yang terlibat ter0ris tidak bisa instan Am. Harus ada proses yang harus di lalui mereka. Ini pernah di bahas dalam beberpa pembahasan maraknya terjadi aksi ter0ris yang mengaitkan dengan agama kita dan kelompok tertentu. Bahkan ada yang beranggapan bahwa mereka yang bercadar dianggap r@dikal. Padahal tidak semua perempuan bercadar berada di kelompok tersebut. Walau memang ada beberapa kelompok yang mengenakan cadar sebagai kewajiban bagi kaum perempuan di kelompok mereka. Bahkan Ulama kita juga masih berselisih pendapat tentang hukum cadar itu sendiri.” Jelas Ayra pada putranya.


Ayra paham anaknya masih tertarik dan memikirkan perempuan yang ia temui dan selamatkan di Australia beberapa hari lalu. Ayra Kembali melanjutkan penjelasannya sesuai pemahamannya.

__ADS_1


“Ada Fase dimana yang biasa disebut identifikasi kelompok. Bagus memang untuk memiliki kelompok tertentu jika memberikan dampak positif bagi agama dan umat, yang repot Ketika mereka yang awam masuk kelompok dimana merasa bahwa ajaran yang dianut kelompoknya paling benar sendiri, dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang kelompok mereka sendiri, ini sudah masuk ke Fase SENTRISME.Nah biasanya jika kita sudah berkelompok akan ada yang Namanya loyalitas, sikap mereka yang memegang loyalitas berlebihan atas identitas kelompok mereka ini akan bahaya jika tidak segera diatasi karena akan masuk tahap INTOLERAN. Menurut kamu apakah sikap intoleran ini cocok di negara kita?”


“Tentu tidak Ma, Indonesia ini didirikan dan dulu diperjuangkan oleh banyak suku, bangsa dan agama. Maka aneh jika sekarang kita sibuk ingin hanya kelompok kita yang benar, kelompok lain salah. Apalagi memaksa orang untuk menerima paham yang kita anut dan memusuhi yang tak sepaham dengan kita.”Jawab


Ammar.


“Benar, ketika mereka sudah sampai pada tahap intoleran, maka akan menjadi konflik. Bukan hanya keluarga atau orang terdekat mereka saja, yang akan merugi tetapi juga diri mereka sendiri. Karena akan menjadi pribadi


yang antipati kepada kelompok lain. Juga cenderung mudah menghakimi terhadap segala sesuatu yang berbeda. Ketika orang atau kelompok sudah masuk ke tahap intolerean ini mereka akan sangat mudah masuk ke bagian tahap yang sering disebut R@dikal. Sikap mereka  yang kasar dalam membela apa yang diyakini kebenarannya sehingga bertentangan dengan norma dan nilai sosial yang tidak cocok di negara ini. Bahkan kata B U N U H akan sangat mudah diucapkan Ketika tak sepaham dengan mereka. Dan Sikap mereka ini jika sudah diikuti dengan tindakan main hakim sendiri kepada  warga atau kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, tanpa mereka sadari, mereka telah masuk fase yang sering disebut ter0ris. Karena bagi mereka Tindakan meyakiti atau mem B u n u h orang atau kelompok tertentu yang sepaham adalah bagian dari berjuang di jalan yang benar.” Jelas Ayra begitu gamblang.


Putra Ayra pun membuat kesimpulan dari diskusi ia dan Mamanya.


“Berarti Ma, tidak semua orang yang INTOLER@N.  bisa berubah menjadi R@DIKAL, namun semua yang masuk dalam R@DIKAL pasti melakukan INTOLER@N. Dan tidak semua orang yang R@DIKAL bisa menjadi ter0ris., namun semua yang menjadi ter0ris pasti dia seorang R@DIKAL. Dan Cadar tidak selamanya berkaitan dengan perkara r@dikalisme. Betul Ma?”


Ketika ia meletakkan cangkirnya ke atas meja. Ia Kembali melanjutkan penjelasannya.


“Ya, Tidak semua mereka yang intoleran itu r@dikal memang. Tetapi biasanya mereka yang r@dikal pasti cenderung Intoleran. Dan tidak semua  mereka yang intoleran dan r@dikal adalah ter0ris. Akan tetapi, seseorang yang terlibat ter0ris pasti ia menjadi orang yang r@dikal dan intoleran. Dan untuk pertanyaan mu Tadi, tinggal lihat apakah perempuan itu intoleran dan r@dikal? Bukan Fokus pada cadarnya.” Jelas Ayra sambil tersenyum. Ia tahu putranya masih terpaku pada perempuan yang ia minta untuk dijauhi sementara waktu ini karena menyandang status istri orang. Ia tak ingin anaknya menjadi penyebab berpisahnya suami istri. Jika memang perempuan itu akan bercerai dengan suaminya. Ia ingin tidak ada campur tangan sang anak.


“Berarti Ma, Kalauada tindakan r@dikalisme dan perilaku wanita bercadar yang tidak baik, maka jangan disalahkan cadarnya atau agamanya. Karena hakikatnya agama kita adalah agama yang cinta damai. Kedua, harusnya wanita muslimah yang bercadar bukan sekedar wajah yang ditutupi, penampilan diperbaiki, harusnya diiringi adab dan akhlak juga hati harus selalu diperbaiki. Agar bisa membantah penilaian buruk masyarakat kepada para wanita bercadar itu sendiri?”


“Ya, dan kamu. Apakah yakin akan tetap melamar perempuan bercadar itu jika ia halal kamu lamar?” Selidik Ayra.


“Bukan perempuan bercadarnya Ma. Tetapi lebih ke orangnya.” Protes Ammar.


“Tetapi dia bercadar bukan?” Goda Ayra sambil meminum minumannya sambil kedua matanya menatap anaknya.


“Aku jatuh hati bukan karean ia bercadar Ma. Tapi karena aku melihat kecantikannya. Rasulullah pun menyukai keindahan bukan?” Ucap Ammar membela diri.


“Sudah jangan bawa-bawa Rasulullah dalam nafsu mu. Cukup katakan kamu jatuh cinta pada perempuan itu dan ingin menikahinya. Nanti setelah menikah, kamu berdalih pula untuk poligami karena Sunnah Rasul.” Ucap Ayra sambil tersenyum.


Ammar mengusap tengkuknya, ia merasa malu. Ia memang sudah jatuh hati pada pandangan pertama, maka tugasnya sekarang ia menemukan status Alisha itu. Apakah ia istri orang, gadis, atau janda.


“Aku akan bersabar memendam rasa ini sampai aku bisa menentukan sikap. Melupakan kamu atau melamar kamu sampai waktu kamu halal ku lamar.Dan kelak jika takdir merestui kita, aku akan ceritakan tentang perjalananku dalam mencintaimu,” Batin Ammar sambil menunduk menatap korek api miliknya.

__ADS_1


“Semoga Anak-anak ku dijauhi dari zina dan dosa besar… “ Doa Ayra selalu untuk anaknya, bahkan doa setelah adzan yang sering ia baca selalu ia bayangkan wajah ketiga anak-anaknya walau ketiga anaknya sudah dewasa dan ia tiupkan seolah diatas kepala tiga anaknya masih terus ia lakukan, sebagai wujud tirakatnya meminta perlindungan di salah satu waktu mustajab terkabulnya doa-doa.


__ADS_2