Pesona The Twins

Pesona The Twins
61 Dokter Gede dan Qiya Merona


__ADS_3

Dinginnya malam sudah terasa, karena mereka yang terlelap mungkin sudah menarik selimut mereka. Bagi mereka yang masih terjaga mungkin akan merasakan ngilu tulang sumsum karena cuaca yang cukup dingin.


"Huaaammm... Emang kamu ga dingin Qiy. Malam-malam begini mau shalat." Ucap Cita sambil menarik selimut miliknya.


Qiya cepat mematikan kembali lampu dan menyalakan lampu tidur agar Cita tetep bisa beristirahat.


"Ibadah itu kalau sudah jadi kebutuhan maka akan nikmat rasanya Cit. Sekalipun hujan dan dingin." Ucap Qiya yang menyisir rambutnya.


"Beneran ga mau ditemenin? Ntar ada orang masuk gimana?" Tanya Qiya sambil membuka sedikit selimutnya.


"Sudah ga usah. Nanti aku tutup saja pintunya. Kalau terbuka dia akan berbunyi kan? Kamu istirahat saja." Ucap Qiya sambil berlalu meninggalkan kamar.


Dua hari ia merasa tidak tenang, bahkan hatinya selalu terasa was-was. Ia tak melupakan selalu melafadzkan dzikir dihatinya juga Shalawat. Karena bagi dirinya ada setan' yang sedang bermain-main kala hati terus was-was. Ia tak tahu jika sebenarnya rasa itu adalah kontak batin dari si kembar yang dua hari itu merasa galau. Ia yang sudah terlanjur jatuh hati, berharap agar kisah cintanya bisa bersatu.


Usai mengambil wudhu dan melaksanakan ritual yang menjadi kebiasaannya di sepertiga malam. Ia pun melanjutkan membaca kita suci beberapa lembar. Lalu ia sudahi kegiatannya. Ia melihat jam masih menunjukkan pukul setengah 5. Ia pun memilih menunggu waktu Shubuh. Selesai dengan waktu Shubuh. Ia membangunkan Cita.


"Cit, bangun. Mau jogging apa ga?" Tanya Qiya pada sahabatnya karena hari itu jadwal mereka libur.


Cita pun bangun. Pagi itu Upin dan Ipin itu memilih jogging. Biasanya mereka akan olahraga pagi dengan sepeda. Namun pagi itu mereka ingin menikmati suasana disekitar tempat tinggal mereka saja.


"Qiy. Ternyata eh ternyata. Dokter Gede itu Muslim." Ucap Cita sambil mengikuti langkah sahabatnya.


Qiya menoleh kearah Cita. Cita pun menceritakan kejadian ia mendengar sang dokter membaca doa makan dan beristighfar.


"Terus kenapa kamu bilang ke aku?" Tanya Qiya.


"Ya ampun. Ibarat kata pucuk di cinta ulam pun tiba Qiy. Hilang Hilman tumbuh Gede." Goda Cita yang kini setengah berlari di depan Qiya namun dengan posisi ia berlari mundur. Ia ingin melihat mimik wajah sahabat nya itu.


"Apa sih Cit. Dokter Gede udah nikah. Dan di agama ku tak memperbolehkan kami menganggu hubungan rumah tangga orang." Ucap Qiya sambil berusaha mengejar Cita yang kini sudah berbalik ke arah depan.


"Ya elah, itu ma setiap agama sama kali Qiy. Tapi siapa tahu dokter Gede yang menganut paham Poligami." Kembali Cita menggoda sahabatnya.


"Aku tidak mau jadi yang pertama atau kedua. Aku maunya jadi yang satu-satunya." Ucap Qiya sambil mengelap keringatnya.


Ya, bagi putri Ayra itu. Menjadi istri kedua atau Pertama dengan dalil mengikuti Sunnah Rasul, bukan yang ia dapatkan dari para guru-gurunya. Dimana ia melihat dan menyaksikan sendiri para guru-gurunya maupun guru dan sang ibu sendiri. Tidak ada yang menerapkan poligami dalam rumah tangganya. Walau memang begitu besar pahala bagi istri yang ridho di poligami. Namun bagi Qiya, bukan hal mudah bagi seorang lelaki bisa adil seperti Kanjeng Nabi pada para istrinya.


Dan akan sulit di zaman sekarang menemukan para perempuan bisa begitu bijaksana memiliki madu sehingga diniatkan untuk ibadah.


Saat pulang dari Jogging mereka sudah ditunggu Alam.

__ADS_1


"Dokter Qiya dan dokter Cita bisa minta tolong pagi ini gantikan shift dari Dokter Ifra dan dokter Zaki. Orang tua dokter Ifra meninggal dunia. Mereka pulang pagi ini. Saya harus ke kota mengirimkan berkas ini. Harus ada yang menggantikan. Teman yang lain tidak bisa." Ucap Alam.


Cita yang merasa belum juga istirahat dan hari ini adalah hari liburnya. Ia sudah memfavoritkan beberapa novel yang akan ia lahap hari ini.


"Ga bisa apa ga mau? Baru juga hari ini libur. Masa sudah disuruh masuk. Dokter juga manusia. Dokter sendiri sebagai ketua gimana?" Tanya Cita nyolot. Ia memang tak suka dengan ketuanya itu.


Dokter Alam menatap Tajam ke arah Cita.


"Cit... Udah di sumpah Lo... Ga boleh gitu. Kasihan juga dokter Ifra. Kalau tidak ada yang menggantikan. Kalau kamu di posisi dokter Ifra gimana rasanya?" Tanya Qiya.


Cita mengusap handuknya di wajah dan lehernya.


"Gini nih resiko punya temen punya hati kelewat baik. Ya udah. Ok.Ok. Cus kita mandi. Tapi besok aku maunya dia gantiin aku juga kalau aku mau pulang." Gerutu Cita.


Dokter Alam pun tersenyum pada Dokter Qiya. Dan mendengus menatap Cita sambil. berlalu dari pandangan dua gadis itu.


Didalam kamar saat akan mandi, Cita kembali sewot.


"Kamu itu ya Qiy. Jadi orang jangan kelewatan baik. Nanti dimanfaatkan orang." Ucap Cita sambil mengambil beberapa bajunya untuk di bawa ke kamar mandi.


"Udah ga usah ngomel. Sini bajunya aku setrika. Mandi gih buruan. Gantian." Ucap Qiya yang cepat mengambil kerudung dan kemejanya untuk di setrika. Cita pun tersenyum lebar. Ia yang paling malas menyetrika pakaiannya.


Saat mereka telah berangkat menggunakan motor matic dan di kendarai oleh Cita. Tiba dirumah sakit, mereka memang datang lebih pagi, karena sudah kebiasaan mereka. Saat pagi itu belum sempat sarapan. Mereka pergi ke kantin rumah sakit.


"Aku yang traktir. Kamu duduk aja. Biar aku yang pesan. Mau sarapan apa?" Ucap Cita.


"Nasi uduk aja Cit. Minumnya Teh hangat." Ucap Qiya pada Cita.


Namun gadis itu kembali menggoda Qiya.


"Siap. Aku berasa jadi anak sultan kalau lagi traktir kamu Qiy." Ucap Cita sambil tersenyum.


Qiya hanya tersenyum memandangi punggung Sahabatnya itu. Namun tiba-tiba ada seorang perempuan yang menyapanya.


"Permisi, boleh duduk disini?" Tanya ibu itu.


Qiya tersenyum.


"Silahkan Bu." Ucap Qiya sambil tersenyum.

__ADS_1


Ibu itu meletakkan makanannya. Lalu ia terlihat pergi kembali ke arah loket kantin rumah sakit itu.Ia pun kembali dengan menu yang sama. Qiya melihat ada dua menu yang ibu itu siapkan.


Dan tak lama ibu itu melambaikan tangannya pada seseorang di arah belakang Qiya.


"Ge... Disini." Ucap ibu itu.


"Ibu, kenapa ga nunggu Gede dulu sih." Ucap Dokter yang ternyata adalah dokter Gede.


Ketika dokter Gede duduk di sisi ibunya, Qiya dan dokter Gede kembali saling tatap.


"Dok-ter... Bukannya hari ini libur?" Tanya dokter Gede pada Qiya.


Qiya cepat-cepat menundukkan kepalanya.


"Saya mengantikan dokter Ifra dok. Beliau pulang karena orang tuanya meninggal dunia." Ucap Qiya masih menunduk.


Entah kenapa perasaannya tak karuan setiap bertemu apalagi bertemu pandang dengan lelaki yang merupakan dokter pembimbingnya itu.


Dokter Gede menatap Ibunya. Ia tahu sang ibu sengaja memilih tempat itu agar bisa bertemu Qiya. Pagi itu sang ibu baru tiba di kabupaten itu dan belum sempat sarapan. Ia pun mengikuti anaknya karena ingin melihat tempat kerja anaknya. Padahal ia ingin melihat dan kenalan dengan dokter Qiya.


Seakan takdir ingin membawa mereka bersatu. Pagi itu dokter Qiya bertemu langsung dengan Bu Ratih tanpa harus Ibu Gede itu mencari keberadaan perempuan yang ingin ia kenal lebih dekat. Karena melihat anaknya maju mundur. Membuat sang ibu berpikir harus ikut campur. Karena cukup lama sang anak terpuruk hanya karena rasa sakit dan kecewa pada Mayang. Dan kali ini hati sang anak kembali berbunga-bunga karena cinta. Ia ingin agar cinta sang anak bermekaran. Bila perlu ia akan melamar sang dokter Iship tersebut.


"Jadi ini namanya dokter Qiya?" Tanya Ibu Ratih.


Dokter Gede mendelik ke arah Bu Ratih. Sang Ibu cuek saja sambil tersenyum dan menatap dokter Gede.


"Ibu...." Bisik dokter Gede pada sang Ibu.


"Tuh kan Ge. Jodoh ini namanya. Ibu ga perlu kamu kenalkan. Takdir sendiri ngenalin dokter Qiya sama Kenalkan, saya ibunya Gege.Atau dokter Gede." Ucap Ibu Ratih.


Dokter Gede menundukkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya. Kulit putihnya menunjukkan wajah nya kini telah berubah merah. Begitupun Qiya, berusaha mengangkat wajahnya dan melemparkan senyum pada ibu guru pembimbingnya.


"Ibu!." Ucap Dokter Gede sambil mencubit paha ibunya.


"Aduh... Sakit Ge... kamu kenapa sih cubit-cubit ibu. Lah Ibu cuma nanya ini bukan namanya dokter Qiya yang kamu bi-" Belum selesai sang ibu berbicara.


Dokter Gede sudah menutup mulut ibunya dengan tangannya sambil menatap Qiya. Yang ditatap justru semakin malu.


"Cie. Cie.. Istrinya ya dok?" Ucap Cita yang telah datang membawa pesanan mereka.

__ADS_1


Kali ini Ibu Ratih yang melotot mendengar ucapan Cita. Ibu dan Anak itu saling pandang mendengar ucapan Cita.


__ADS_2