Pesona The Twins

Pesona The Twins
121 Bahagia Gede, Penyesalan Rendra


__ADS_3

Hati perempuan mana yang tak senang saat ia tahu bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Apalagi Qiya, putri Ayra itu tahu betul bahwa anak adalah yang menjadi satu diantara tiga perkara yang mampu mengalirkan pahala kepada seseorang walau pun seseorang tersebut telah meninggal dunia. Dengan syarat sang anak menjadi anak yang Sholeh.


Gede yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat istrinya sudah memegang sebuah kotak kecil.


"Happy milad mas. Mabruk Alfa mabruk. Semoga bertambahnya usia mas, bertambah juga keberkahan dari Allah untuk Mas dan keluarga kita." Ucap Qiya yang sudah mendaratkan satu kecupan di pipi sang suami. Gede hanya tersenyum dan membalas perlakuan istrinya.


"Kok kadonya telat?" Tanya Gede karena pagi tadi sang istri juga sudah mengucapkan hal yang sama.


"Kadang sesuatu yang telat itu akan terasa bahagia kala datang." Ucap Qiya.


Gede cepat menggendong tubuh istrinya. Ia bawa duduk di sisi tempat tidur. Ia membuka kota kecil yang diberikan sang istri. Kedua netra Gede terbuka sempurna.


Sebuah potret hasil USG terlihat di dalam kotak tersebut. Ia memegang dan melihat diatas foto tersebut ada nama istrinya.


Gede pindah ke lantai ia sedikit berjongkok. Ia usap perut sang istri dan ia kecup beberpaa kali.


"Semoga jadi anak yang Sholeh ya nak.... Semoga menjadi umat Rasulullah yang senantiasa beribadah pada Allah. Baik-baik di dalam." Ucap Gede sambil mengusap perut istrinya.


"Terimakasih Mas..."


Ucap Qiya seraya meng3cup ujung jari tangan suaminya.


"Mas yang harus berterima kasih." Ucap Gede.


"Mas sudah mau konsultasi ke dokter kandungan. Mas sudah mau mencari kesembuhan untuk trauma mas... Tidak ada kebahagiaan seorang istri jika sang suami selalu egois. Alhamdulillah aku bahagia menikah dengan Mas." Ucap Qiya yang mengungkapkan isi hatinya.


Ia betul-betul bahagia. Walau sang suami tidak lulusan pondok pesantren, walau ia juga bukan trah kyai tapi ia mampu bersikap, bertindak sesuai apa yang di ajarkan oleh agamanya.


"Kamu hari berterima kasih dengan Mama juga Niang. Serta guru Ku, Gus Imam. Tanpa beliau-beliau tersebut. Suami mu ini mungkin tak bisa memperlakukan kamu dengan baik seperti saat ini." Ucap Gede yang sudah kembali ke atas tempat tidur.


Gede pun menghubungi ibunya tentang kabar bahagia itu. Ibu Ratih yang sedang bersama Niang Ayu menerima panggilan dari putranya. Ia cukup khawatir karena waktu hampir cukup malam.


"Ada apa Ge?" Tanya Bu Ratih khawatir.

__ADS_1


"Bu... Alhamdulillah ibu akan jadi Nenek sebentar lagi... " Ucap Gede.


"Sungguh? Alhamdulillah... Mana Qiya?" Tanya Bu Ratih.


Gede mengarahkan ponselnya ke arah Qiya. Wajah istri Gede itu sudah tersipu cukup malu. Untung dia cepat menutupi bagian dadanya dengan bantal. Karena saat itu ia mengenakan gaunt tidur tanpa lengan.


"Selamat ya nak... Hati-hati. Kalau aktifitas yang berat-berat biar Gede yang ngerjain. Cari asisten rumah tangga saja. Hamil pertama harus hati-hati. Ibu kesana besok kalau kamu libur." ucap Bu Ratih penuh semangat.


"Bu... satu-satu dong. Masa' di berondong begitu." Ucap Gede yang berbicara tanpa menampakkan wajahnya.


Ia berbaring diatas perut sang istri. Ia merasa nyaman karena satu tangan istrinya mengusap rambutnya.


"Iya Bu. Insyaallah. Doakan ya Bu agar sehat, dan mudah-mudahan diberikan kemudahan selama hamil." Ucap Qiya.


Obrolan berkahir dengan Bu Ratih tetap kekeh akan ke tempat mereka. Ia ingat betul bagaimana dirinya dulu ketika hamil muda. Ia khawatir jika sang menantu mengalami hal yang sama. Setelah itu Qiya mengirimkan pesan pada Ayra.


[Assalamualaikum Ma, Mohon doanya. Alhamdulillah Qiya diberikan kesempatan untuk merasakan hamil. Doakan ya Ma...]


[Alhamdulillah... Jangan Lupa terus berdoa dan mulai ditirakati Nduk. Nduk, Mama dan Papa lagi dirumah sakit. Nur mau melahirkan. Doakan adik mu ya Nduk.]


Perlahan tapi pasti, kesabaran Gede dalam menjalani kehidupannya yang penuh akan lika liku, Ia selama masa kecilnya nyaris tak memiliki kenangan akan sosok Ayah, kini merasa bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Bahkan pagi hari pun, sang istri begitu ia manjakan. Ia menyiapkan sarapan. Bahkan saat akan berangkat kerja pun, Gede masih sedikit cerewet dengan istrinya.


"Ga usah ngapa-ngapain. Nanti mas minta Bu RT cari orang yang bisa nemenin kamu dirumah."


"Mas, aku ini hamil bukan sakit. Ga usah, orang cuma masak dan bersih-bersih kenapa juga harus cari orang lain." ucap Qiya sambil bergelayut di lengan suaminya.


"No Qiy. Kamu bisa sambil mengulang hapalan Qur'an mu. Itu lebih mas sukai daripada kamu sibuk ngurus rumah... Pokoknya mas tetep cari orang yang buat nemenin kamu dirumah dan bantu pekerjaan rumah." Ucap Gede.


Qiya pun akhirnya tak bisa membantah lagi. Selama ini ia hanya melakukan semua sendiri ditemani suaminya. Baginya yang terbiasa di pesantren yang mengerjakan semua sendiri. Bukan hal sulit menyelesaikan pekerjaan rumah yang rata-rata tinggal pencet. Dari menanak nasi, mencuci baju, membersihkan rumah. Ia tinggal pencet tombol masing-masing alat.


Namun Gere tak ingin istrinya kelelahan. Ia ingin istrinya mendapatkan istirahat yang cukup. Saat Gede justru sedang ingin bahagia. Seorang lelaki dari masalalunya yang tak pernah memberikan dirinya kebahagiaan, kini sedang mencari cara untuk meminta bantuan dirinya.


"Kenapa harus minta bantuan Ayah?" Tanya Pak Rendra pada sang istri.

__ADS_1


"Mas pikir Ratih akan memaafkan kamu? Aku saja yang tidak menjadi Ratih bisa merasakan bagaimana bisa memaafkan kamu. Tidak ada alasan untuk memaafkan kamu. Ayah cukup dekat dan akrab dengan keluarga Besan Ratih. Kita butuh perantara untuk meraih hati Bu Ratih dan anaknya. Dan keluarga Pak Bram dan Bu Ayra adalah salah satu perantara untuk menjembatani komunikasi kita dengan Bu Ratih." Ucap Istri Pak Rendra sambil tetap menatap ke arah luar jendela.


Tak lama mobil yang ditumpangi sepasang suami istri itu tiba di kediaman adik Rendra. Mereka pun bertemu kakek Hilman yang tampak sedang menikmati sebuah ceramah dari seorang ulama yang betul-betul khas dengan peci hitam dan rambut bagian depan sedikit keluar.


"Ratih, Rendra... Kenapa kalian pulang. Bukankah Hilman masih di rawat?" Tanya Pak Toha.


"Ada yang ingin kami bicarakan pada Ayah dan ingin ayah membantu kami." Ucap Ratih.


Pak Toha menautkan alisnya. Tak biasanya anak lelakinya yang selalu merasa bisa semua sendiri itu meminta bantuannya. Ia pun mempersilahkan anak dan menantunya menyampaikan isi hati mereka dan juga apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Hilman. Karena Pak Rendra membuka pembicaraan itu dengan alasan demi menolong Hilman.


Namun ternyata hal itu justru membuat Pak Toha menahan amarahnya.


"Astaghfirullah... Rendra.... Rendra... Ayah tak habis pikir. Kenapa kamu bisa sebegitu tak punya hati... Kalian sadar dengan apa yang kalian harapkan? Untuk meminta maaf saja Ayah tak punya nyali. Apalagi meminta seorang anak membantu Hilman. Dimana sedari kecil ia tak mendapatkan haknya. Tidak. Kali ini ayah tak mau membantu mu. Ayah malu jika harus menemui Nak Ayra untuk membicarakan hal ini." Ucap Pak Toha sudah dengan wajah dingin dan mata merahnya.


"Tapi Yah... Hilman bisa sehat hanya dengan jika Gede bisa mendonorkan tulang sumsum belakang nya." ucap Ratih yang sudah menangis.


"Ratih... Rendra... Sudah berkali-kali Ayah mengingatkan kalian. Sedari kalian masih muda sampai sekarang. Ayah masih punya hak untuk menasehati kalian. Apakah kalian tuhan?" ucap pak Toha penuh amarah. Ia menatap tajam anak menantunya.


"Kamu, Rendra, dan aku sendiri sudah memeriksakan diri bahwa kita ingin mendonorkan tulang sumsum belakang. Namun nyatanya Allah berkehendak lain. Tidak ada yang cocok diantara kita. Harusnya kalian menggunakan hati. Ini adalah teguran dari Allah. Bahwa kalian harusnya meluruskan niat kalian. Temui Ratih, minta maaf padanya. Bukan berniat menemui Ratih dengan niat untuk meminta anak yang tak pernah kamu akui untuk memberikan tulang sumsum belakang nya." Ucap Pak Toha.


"Tapi kemungkinan akan kecocokan nya 50 persen Yah... " Ucap Pak Rendra meyakinkan Pak Toha.


Sahabat Kyai Rohim itu menutup layar laptop yang belum ia shut down. Ia membuka kacamatanya. Ia menghapus airmata yang keluar dari sudut matanya.


"Ayah tak ingin menambah luka mereka. Belajarlah bertanggungjawab Rendra. Sedari kecil kamu selalu berlindung dibalik kasih sayang Ibumu. Sampai kamu selalu merasa ada yang membela kamu disaat kamu melakukan salah. Kini Ibumu sudah tidak ada. Ayah hanya berpesan, sebelum kamu memohon ampunan Gusti Allah, mohonlah maaf dari Ratih dan Anaknya. Karena jika masih terselip rasa sakit hati mereka untuk mu. Itu justru juga mempengaruhi maaf Gusti Allah. Allah sudah jelas Maha Pengasih, Maha Pengampun... Tapi manusia. Setiap orang punya hati yang berbeda-beda termasuk dalam memaafkan orang yang sudah menyakiti hati mereka." Ingat Pak Toha pada sepasang suami istri itu.


Ia memanggil anak perempuannya. Ia ingin istirahat. Tubuhnya merasa lemah. Kepalanya juga terasa sakit. Ia tak ingin jatuh sakit dengan menahan emosi dihadapan anaknya. Ia kasihan pada putri bungsunya jika harus sampai jatuh sakit.


"Ayah mau istirahat. Maafkan Ayah..." ucap Pak Toha.


Sedangkan adik kandung Pak Rendra juga berpesan kala sang kakak berpamitan.


"Jika tidak bisa membahagiakan Ayah, minimal jangan menjadi beban pikiran Ayah Mas.... " Ucap adik bungsu Rendra yang merawat ayahnya sedari gadis hingga kini mereka telah berumah tangga semua.

__ADS_1


 


 


__ADS_2