
"Satu....."
"Dua....."
"Ti.. Ga...." Ucap Ammar dalam hati. Namun perempuan itu tak menoleh.
"Asyelele... Betul-betul membuat aku penasaran." Batin Ammar karena sosok yang ia harap menoleh ke arah dirinya tak menoleh. Perempuan itu langsung menghilang dari balik pintu ketika berhasil membuka pintu itu.
Namun ketika pintu yang ada di hadapan Marvin terbuka. Seorang perempuan berambut panjang dan sedikit bergelombang muncul. Hiasannya sangat tebal. Aroma wangi yang berasal dari parfum nya pun membuat Ammar menutup hidungnya dengan punggung tangannya.
"Hello Mr. Ammar. Come in." Ucap Miss Allyne.
[Halo Mr. Ammar. Silahkan Masuk.]
"Ok. Thanks." ucap Marvin dengan gaya yang ia buat se dingin mungkin dan seangkuh mungkin.
Ammar yang mengekor di belakang Marvin hanya tersenyum simpul. Ia ingat betul bagaimana ketika tes wawancara yang ia lakukan saat memilih asisten pribadi untuk dirinya. Ia meminta beberapa peserta untuk bersandiwara layaknya artis. Ia hanya mengatakan jika kamu jadi CEO. Maka diantara beberapa peserta yang lolos hingga tahap interview hanya Marvin yang menurut sulung Ayra itu bisa menjadi asisten nya.
Kecerdasan, ketampanan dan juga kepiawaian Marvin dalam menguasai teori kepribadian. Ia bahkan bisa merubah ekspresi wajah nya dalam beberapa detik ketika Ammar mengujinya. Dan lihatlah pada saat itu. Di sana aura Marvin betul-betul terlihat seperti seorang CEO. Gaya berjalan, duduk dan menatap.
Saat Marvin duduk di sofa yang dimana telah banyak makanan dan minuman di atas meja tersebut. Sedangkan Ammar hanya berdiri di sisi Marvin.
"You, could you give us some time to talk alone?" Ucap Miss Allyne pada Ammar yang berdiri di sisi Marvin. Ia pun menganggukkan kepalanya. Saat ia akan keluar dari ruangan itu. Marvin tiba-tiba berkata dengan suaranya yang terdengar dingin.
"Jangan keluar. Kamu bisa di balkon sebelah sana. Aku tidak bisa berdua saja dengan Miss Allyne diruangan ini. Akan ada fitnah." Ucap Marvin tegas.
Ammar menganggukkan kepalanya. Ia pun pergi ke arah balkon dengan patuh. Sedangkan Miss Allyne terlihat kesal karena tak bisa membuat Ammar keluar dari ruangan itu.
Saat berada di balkon. Ammar yang menggunakan headset di telinganya bisa mendengar percakapan antara Marvin dan Miss Allyne. Ammar menarik pintu kaca balkon itu. Sehingga ia seperti seolah tak melihat dan mendengar apa yang di bicarakan Marvin dan Miss Allyne. Namun saat ia sedang menikmati rokoknya. Ia mendengar suara rintihan dari arah kamar yang terdapat di sebelah kamar yang dipesan Miss Allyne.
__ADS_1
Ammar melangkah ke ujung balkon yang hanya memiliki jarak satu meter setengah antara balkon yang sekarang ia tempati dengan balkon yang ada di sebelahnya.
"Ampunnn Mas... Ampun.... Maafkan aku... Aku betul-betul harus keluar karena Almira sakit. Aku tak mungkin membiarkannya sakit sedangkan kamu tak bisa aku hubungi berkali-kali. Aku khawatir terjadi apa-apa. Ponsel ku tak bisa digunakan karena kartunya terblokir. Hiks... Hiks... Sakiiiit mas.... Ampun.. Mohon maafkan aku..." Suara perempuan itu merintih kesakitan.
Ammar yang mendengar suara itu mirip sekali dengan suara perempuan yang pernah ia tolong. Ada rasa kecewa, ternyata perempuan itu sudah menikah. Namun ada rasa tak tega mendengar rintihan dan kesakitan dari perempuan itu.
Jendela kamar yang terbuka membuat suara perempuan itu dapat terdengar jelas oleh Ammar. Jari telunjuk Ammar pun tampak mengusap-usap kulit bagian atas bibirnya. Ada rasa ingin membantu perempuan itu. Tetapi itu urusan rumah tangga. Tetapi mendengar rintihan perempuan itu membuat Ammar tak tega.
Ammar pun semakin mencondongkan tubuhnya ke depan. Tepat ke arah pagar balkon. Ia memegang besi stenslis itu dengan kedua tangannya.
Suara cambukan dari bercampur suara rintihan dari perempuan diiringi suara tangis balita membuat Ammar menahan gigi gerahamnya. Ia tak dapat menahan diri lagi. Ia langsung melihat ke arah balkon yang ada di seberangnya.
Ia menaiki pagar balkon itu. Ia melihat ada satu besi diatas nya. Ia membuka sabuknya. Lalu ia membuat pegangan dari gesper nya itu. Sehingga ketika tubuhnya sudah menempel di dinding. Ia berusaha tetap fokus pada kaki yang menapak pada sedikit sekali bagian semen yang menjadi penghubung kamar Miss Allyne dengan kamar perempuan bercadar tadi.
Saat baru satu langkah. Ammar menoleh ke bawah. Ada sedikit rasa khawatir dirinya. Karena saat ini ia berada tepat di lantai 14.
"Hhhhh.... " Ammar mengembuskan napasnya. Sebelum kembali ia melangkah sambil mengucap basmalah.
Namun saat ia telah sampai di ujung balkon, Ia sedikit terkejut karena seorang perempuan di dorong dan membentur pagar balkon itu cukup kencang. Bahkan rambut hitam yang terlihat kusut pun menutupi wajah perempuan itu.
Ketika seorang lelaki baru akan menarik rambut perempuan yang tampaknya menahan sakit. Ammar cepat menubruk lelaki itu. Seorang lelaki dengan banyak tato di punggungnya.
"Ah....." suara rintihan perempuan itu.
"Kur@ng ajar....!" Ucap Ammar sambil melompat ke arah lelaki itu.
"Bruuuhgghh."
Lelaki yang mendapatkan serangan tiba-tiba saja dari Ammar pun sedikit kaget. Ia bahkan tak mampu mengelak ketika Ammar berada tepat diatas tubuh lelaki itu. Ammar m3ncek!k. Lelaki itu.
__ADS_1
"Kur@ng ajar. Berani sama perempuan. Dia istri mu dak kamu memperlakukan nya dengan sangat biadab!" Teriak Ammar sambil memukul wajah lelaki yang memiliki hidung mancung itu.
"Ayo. Mana nyali mu? Mana kekuatan mu?!"
"Buuughh.... Buuughh... !" Berkali-kali Ammar memukul lelaki yang tampaknya sedang tak dalam kondisi fit. Terdapat luka jahitan pada lengannya.
Namun setelah berhasil menghajar lelaki itu. Suara tangisan balita dari dalam kamar membuat Ammar menghentikan pukulannya. Ia pun segera mendorong lelaki itu. Ia berusaha membangunkan perempuan itu. Ammar ragu-ragu ingin menyentuh perempuan itu. Namun melihat darah segar mengalir dari arah kepala perempuan itu. Membuat Ammar cepat mendorongnya.
Ammar yang baru saja akan menolong perempuan itu tak menyangka jika dibelakang nya lelaki yang tadi dia pukul berkali-kali telah bangkit dan menikam dirinya dengan sebuah belati. Sebuah tikaman itu membuat Ammar menjerit.
"Aaaaarrrrggfhhh...."
Sambil berdiri dan satu tangannya meraba-raba bagian belakang nya. Ia mencabut belati itu. Lalu ia berbalik. Ia yang baru saja akan m3nghujam lelaki itu dengan p!sau. Ia ingat pesan Ayra jika amat penting untuk mengalahkan nafsu keinginan di balik ego pribadi dan golongan.
Dimana sebuah kisah yang pernah di kisah kan sang ibu padanya. Tentang masa
-masa perang Khandaq, umat Islam pernah ditantang duel Amr bin Abd Wad al-Amiri, Salah satu musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib maju, ia menyanggupi ajakan duel Amr bin Abd Wad. Melihat Sayyidina Ali yang masih terlalu muda, Nabi lantas mengulangi tawarannya kepada para sahabat. Hingga tiga kali, memang hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy itu. Maka ia pun maju walau awalnya ia sempat ditertawakan dan diremehkan lawannya. Namun ia pun mendominasi duel tersebut.
Namun saat Amr bin Abd Wad terpojok. Ia meludahi sayyidina Ali. Namun sayyidina Ali yang harusnya menang karena p3dang nya telah m3nghunus ke arah lawannya. Sedikit bergerak saja. Maka Lawannya akan kehilangan Ny@wa. Namun Sayidina Ali menyingkir.
Hal itu karena sepupu Rasulullah tersebut, karena ia tidak ingin m3mbu nuh lantaran amarahnya. Ia lebih menunggu amarah nya lenyap. Sungguh kisah tersebut bisa memberikan beberapa pelajaran. Perjuangan dan pembelaan Islam harus didasarkan pada ketulusan iman, bukan kebencian dan kemarahan.
Itulah yang Ayra dapatkan dari guru-gurunya dan ia ajar dan sampaikan pada buah hatinya.
Maka Ammar hanya menahan gerahamnya. Ia mengikat lelaki itu menggunakan gesper nya. Ia juga mengikat kaki lelaki itu. Dan menyumpal mulut lelaki itu dengan sarung bantal.
Setelah itu ia berdiri dan menelpon seseorang.
__ADS_1
"Cepat kemari... Aku perlu bantuan. Bawa beberapa orang..."