Pesona The Twins

Pesona The Twins
124 Penolakan Ratih


__ADS_3

"Aku mohon Ratih... Maafkanlah aku,yang bersalah adalah aku, bukan anak ku. Aku mohon bantulah anak kami." Ucap Pak Rendra sambil menatap punggung Bu Ratih.


Mantan istri Rendra itu membalik tubuhnya. Ia menatap Pak Rendra dengan tajam.


"Heh! anak kalian? Lalu bagaimana dengan anak ku?Anda baru tahu jika jadi orang tua itu sakit sekali ketika anak kita sakit, apalagi batinnya yang sakit. Tubuh sakit, itu masih ada obatnya! Aku tidak akan membiarkan putraku membantu apapun apalagi mendonorkan tulang sumsumnya, dia sedang berbahagia! Jangan berani menemui putra ku hanya karena permintaan konyol kalian. Aku tak akan pernah memaafkan kalian jika sampai kalian menemui anak ku! Biarkan dia bahagia, sekarang dia bahagia dengan hidupnya, jangan kalian buka lagi luka lamanya." Ucap Ratih menatap Pak Rendra dan istrinya dengan tatapan sinis.


"Ratih...." Panggil Niang Ayu.


Ratih menoleh ke arah Niang Ayu.


"Niang... Maafkan aku... Tidak bisakah aku bahagia dengan anak ku. Kenapa mereka datang di saat Gede sedang bahagia. Disaat aku sudah melupakan masalalu yang menyakitkan itu..." Ucap Ratih pada Niang Ayu.


"Saya mohon Bu Ratih... Saya mohon... bagaiamana jika kondisi Hilman saat ini adalah Gede. Aku rasa anda pun akan melakukan hal yang sama." Ucap Bu Ratih.


Ibu Gede itu menatap sinis Ratih.


"Sekarang saya tanya pada anda. Jika anda jadi saya. Apa yang anda rasakan. Saat hamil anda diusir dari kampung, pergi mencari lelaki untuk minta pertanggungjawaban malah tidak diakui, malah dituduh macam-macam. Dan jika anak anda jadi anak saya. Apakah anda pikir dia akan mendonorkan tulang sumsumnya? Sedangkan sedetik pun dia tidak mendapatkan haknya sebagai anak!" Kembali tangis Ibu Gede itu pecah.


Dadanya sesak sekali. Ia merasa kecewa, sedih, dan sakit hati. Saat ia betul-betul tak mengingat masalalunya. Kini masalalu itu hadir dan mengusik kebahagiaan nya dan anaknya.


"Sudahlah Ratih. Kita pulang. Tak ada gunanya." Bujuk Pak Rendra mendekati istrinya.


"Silahkan. Anda tahu pintu keluar."


"Ratih... tak baik menyimpan dendam..." Ucap Niang Ayu.


"Niang....Jika aku dendam, aku mungkin akan membalas perlakuan lelaki ini. Dan aku mungkin Bahagia dengan kabar anak mereka sakit. Tapi aku tidak dengan kedua hal itu. Aku hanya tak mampu melupakan dan kembali mengingat saat-saat menyakitkan dulu..." ucap Ibu Gede sambil duduk di sisi Niang Ayu. Ia menundukkan kepalanya di lengan Niang Ayu.


Usapan lembut Niang Ayu berikan pada kepala Ratih.


"Saya rasa, kalian bisa berbicara dilain waktu. Maafkan Ratih. Saya rasa setiap orang berhak untuk membuat keputusan. Sama seperti anda dulu Pak Rendra. Datanglah di lain waktu." Ucap Niang Ayu.


"Baiklah kami permisi. Sekali lagi Ratih... maafkan aku.." Ucap Pak Rendra.


Ibu Gede hanya diam. Ia tak menggubris ucapan mantan suaminya.


"Ayo Rat... Kita pulang dulu." Ajak Pak Rendra pada sang istri.


"Tidak.... Mas... Hilman bagaimana Mas... Hilman." Ucap Ratih sambil memukul dada suaminya pelan.

__ADS_1


Rendra merangkul istrinya. Dengan langkah pelan, ia membimbing istrinya keluar meninggalkan kediaman Niang Ayu . Setibanya di mobil, Bu Ratih menangis sejadi-jadinya.


"Semua ini gara-gara kamu mas... Andai dulu kamu mengakuinya sebagai anak. Saat ini mungkin Hilman bisa mendapatkan donor tulang sumsum belakang...." Ucap Bu Ratih.


Pak Rendra diam. Ia meminta sang sopir segera menuju hotel. Ia tak ingin berandai-andai. Nasi sudah menjadi bubur. Ia menganggap ini adalah karma baginya. Padahal dalam Islam tak ada yang namanya karma.


Sejatinya yang dialami Pak Rendra adalah tindakannya sendiri itu dan beserta seluruh konsekuensinya. Dirinya yang selalu sombong, maka selalu datang kepada nya adalah kebencian dari rekan-rekan sesama politikus. Dirinya yang sering menyakiti, maka dia akan disakiti. Dan Begitu pun Ibu Gede, dirinya penuh kesabaran, maka yang datang kepada dirinya adalah simpati dan kasih sayang.


Pak Rendra terlalu sering mengambil kebahagiaan orang, maka dirinya juga akan banyak mengambil penderitaan. Bukan Karma yang dialami oleh Pak Rendra tapi bisa dikatakan sebab akibat dari sikap dan perilakunya sendiri.


Pak Rendra pun memijat dahinya yang terasa berat. Ia bingung harus bagaimana lagi. Ia sudah menemui Ratih dan benar seperti prediksinya. Mantan istrinya tak memaafkan apalagi mengizinkan Gede mendonorkan tulang sumsum belakangnya.


Saat tiba di hotel. Suami istri itu kembali terlibat pertengkaran.


"Jika terjadi apa-apa dengan Hilman. Aku ingin kita bercerai...." Ucap Bu Ratih.


Pak Rendra melongo tak percaya.


"Ratih ..."


"Tidak! Aku selama ini bertahan di rumah tangga kita karena Hilman. Jika Hilman tidak ada maka aku tak punya alasan untuk bertahan disamping mu!" Ucap Bu Ratih yang segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk.


Saat mereka keluar dari ruangan Obgyn. Arumi merasa heran.


"Kenapa Mas tahu kalau aku hamil?" Tanya Arumi.


"Karena, kalau kita mencintai. Maka kita akan tahu semua kebiasaan yang dicinta. Dan kamu satu Minggu ini aneh. Kamu manja nya kelewatan, posesifnya kelewatan." Ucap Ammar.


Arumi tersipu malu. Mereka menuju kamar tempat dimana Nur di rawat. Saat mereka sudah ada di lift. Ammar yang melihat ada seorang perempuan ingin masuk dan pintu lift sedikit tertutup. Ammar menahan pintu itu.


"Terimakasih..." Ucap perempuan itu seraya tersenyum manis pada Ammar.


Ammar membalas senyumnya.


"Sama-sama." Ucap Ammar mengangguk sopan seraya tersenyum.


Arumi memperhatikan hal itu. Betul saja, hormon kehamilannya sedang bekerja begitu baik mengolah perasaan cinta Arumi. Ia merasa cemburu, tak senang.


Saat berjalan ke arah ruangan Nur. Ammar membuka pintu kamar. Namun suami Arumi itu belum terlalu peka.

__ADS_1


"Terimakasih... Sama-sama..." Ucap Arumi lalu masuk keruangan.


Ammar menautkan kedua alisnya. Ia belum paham jika istrinya merasa cemburu karena Ammar membalas senyum pada perempuan di lift tadi.


Arumi cepat menghampiri Nur...


"Hai Nur... Bagaimana kondisinya?" Tanya Arumi.


"Alhamdulillah nanti sore sudah boleh pulang." Ucap Nur yang baru saja selesai makan disuapi ibu mertuanya.


"Ar... lihat hidungnya mirip Ibra. Dan Bibirnya mirip Nur... Berarti besok anak kita mirip aku juga hidungnya ya." Ucap Ammar.


Ayra mengernyitkan dahinya. Arumi meraih tangan ibu mertuanya.


"Alhamdulillah, doakan Ma. Barusan kami dari Obgyn. Kata dokter sudah 3 Minggu." Ucap Arumi.


Ayra cepat memeluk menantu pertamanya.


"Alhamdulillah... Allah betul-betul memberikan rezeki begitu berlipat-lipat. Qiya juga baru mengabarkan kehamilannya.. Sekarang anak Mama yang ini juga hamil." Ucap Ayra seraya cepat menelpon Qiya vya sambungan video Call.


Saat sudah tersambung. Tampak gadis Ayra itu terlihat mengenakan daster dengan rambut di urai. Ia terlihat sedang membuat kopi sang suami.


"Libur Nak?" Tanya Ayra pada Qiya.


"Tidak Ma, tapi disini hujan deras. Biasa ma, agak siangan ke rumah sakitnya." Ucap Qiya.


Mereka pun mengobrol vy video call. Dan kabar bahagia bahwa Arumi hamil pun juga Qiya dengar. Ia turut bahagia karena kakaknya juga akan menjadi ayah. Sedangkan Arumi melihat Qiya dengan begitu santai.


"Kamu tidak mual Qiy?" Tanya Arumi.


"Sedikit tapi tak terlalu sering kak. Setiap orang berbeda-beda. Yang penting ni, calon ayahnya nih... kasih perhatian dan kudu sabar. Jangan usil terus..." Ucap Qiya yang menampakkan gigi putihnya.


"Kalau itu jangan diragukan." Ucap Ammar yang sedari tadi berada di sisi box putra Ibrahim.


Namun disaat sedang Gede sedang menikmati kopinya. Ia justru sedikit berubah mimik wajahnya saat menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.


(Bersambung)


Hai Readers seperti biasa aku mohon votenya ya hari ini. Aku ushaakan up lagi hari ini. Terimakasih masih setia di karya Sebutir Debu' dan terimakasih buat Votenya)

__ADS_1


__ADS_2