
Pagi itu, matahari tampil dengan begitu hangat. Sehangat kebahagian di keluarga Ayra. Kediaman Ayra sedang di ramaikan oleh beberapa para kru untuk memotret keluarga besar Bram. Ibrahim dan Nur yang semalam tiba di Ibukota diikuti dengan Gede juga Qiya. Mereka semua diminta berkumpul pada pagi ini. Bram ingin mengabadikan moment indah menjadi seorang kakek. Seperti ia yang masih bisa memandang wajah ayahnya saat pak Erlangga Pradipta itu tak lagi ada di sisinya. Tetapi banyak moment bersama yang diabadikan dengan kamera, membuat Bram ingin ketika nanti, cucu-cucunya masih bisa memandang wajahnya dan mengenalkan pada generasi selanjutnya tentang ia melalui sebuah foto.
Tak tanggung-tanggung,Bram mengusung empat tema langsung. Tema serba putih untuk mereka semua, lalu tema Bali, tema Jawa, dan Palembang. Maka pagi itu, Pemotretan akan dilakukan diambil untuk semua keluarga Bram dengan mengenakan pakaian serba Putih. Para lelaki di keluarga itu telah menggunakan pakaian kemeja Putih, dan celana hitam. Ammar tetaplah lelaki yang terkenal dengan slogan 'ini gue'. Ia masih menggunakan jeans hitam untuk sesi pemotretan. Bahkan Arumi yang protes pun masih tak di dengarkan.
“Mas, malu lah masa pakai Jeans.” Ucap Arumi seraya memasangkan baju koko mungil untuk putra keduanya.
“Malu kenapa, kalau ga pakai celana iya malu. Kan Foto keluarga.” Ucap Ammar seraya mencium dahi Zia berkali-kali. Bukan ia pilih kasih kepada anaknya, entah kenapa setiap memandang bayi berjenis kelamin perempuan itu, ia begitu ingin men ci um putrinya itu.
Mungkin karena tubuh Zia paling mungil diantara dua kakaknya. Bahkan tangisan Zia begitu lirih di telinga Ammar saat bayi mereka menangis. Gaffi dan Akhtar nyaris tak pernah menangis dimalam hari. Jika suara tangisan dari dua bayi laki-laki itu terdengar, maka itu dapat dipastikan bahwa mereka lapar. Dan setiap malam Zia akan tidur diantara ia dan Arumi. Bagi Ammar adil itu bukan bagi sama rata. TApi membagi sesuatu sesuai kebutuhan. Jika dua putranya bisa tidur di box dengan nyenyak dan nyaman. Maka membawa putrinya tidur Bersama di tempat tidur utama adalah keadilan karena Zia nyaris tidak rewel saat berada di pelukan ibunya.
Saat sepasang istri itu sibuk dengan memakaikan pakaian anak mereka, dibantu satu baby sitter yang berusia tidak lagi muda. Pintu kamar diketuk oleh seseorang.
Ammar membuka pintu tersebut.
“YA ada apa Mbok?” Tanya Ammar.
“Sudah siap belum Den? Khawatir Den Syam rewel kata Ibu.”Ucap Asisten tersebut pada Ammar.
“Sebentar lagi.” Ucap Ammar.
“Siapa?” Tanya Arumi.
__ADS_1
“Mbok Ijah. Mama mint akita segera turun. Khawatir Syam rewel kalau keburu siang.” UCap Ammar membenarkan jilbab mungil yang dipasangkan Arumi pada sang anak. Akhirnya setelah dengan cukup penuh drama selama memasangkan baju ke tiga anak mereka. Sepasang suami istri itu turun dan menuju taman belakang rumah.
Gede dan Qiya sudah berada disana. Putri mungil mereka juga mengenakan jilbab dengan pita pink diatas jilbabnya.
“Rayya… cantik banget… “ Ucap Arumi.
“Iya Bu De… Mbak Zia juga cantik banget.” Ucap Qiya pada Arumi.
Rayya atau Zahra memanggil Zia dan ketiga kakaknya dengan panggilan mbak, karena menurut adat keluarga mereka, Ammar adalah anak tertua. Maka anak Ammar adalah kakak bagi Syam dan Zahra. Walau mereka lebih dulu lahir daripada Gaffi, Akhtar dan Zia.
“Repot ya Kak?” Tanya Qiya. Ia melihat tubuh kakak iparnya kemarin saat sang kakak meny u sui Zia. Tubuh Arumi sedikit lebih kurus. Matanya juga tampak kurang tidur, belum lagi pipi yang saat hamil terlihat gembul kini terlihat tirus.
“Insyaallah Lelah ini jadi ibadah Qiy. Nikmat tidur saat hamil baru bisa dirasakan saat sekarang punya anak. Sebentar-sebentar harus bangun. Zia yang paling rewel. Tapi insyaallah besok jadi anak sholeh.” Ucap Arumi.
MAka peran ammar sebagai suami siaga, suami yang memberikan nafkah lahir batin pada istrinya. Arumi tak dibiarkan bangun dari tempat tidur jika Gaffi atau Akhtar menangis karena Pampers yang penuh. Terlebih yang paling merepotkan, Zia. Kulit putri Ammar itu sensitive sekali. Maka ia hanya memakai pampers disaat akan berpergian. Malam hari, bayi mungil mereka akan menggunakan celana dan popok biasa.
“Memangnya kak Ammar tak menemani kalau malam?” Tanya Qiya.
Arumi tersenyum di balik niqabnya.
“Alhamdulilah, Mama mendidik kakak mu dengan baik. Bahkan sampai sekarang, Gaffi dan Akhtar yang mengganti popoknya kalau malam itu Mas Ammar. Tapi memang lelahnya beda merawat tiga bayi Qiy. Ini rencana mau cari satu lagi baby sitter, tapi belum ada yang cocok.” Ucap Arumi pada Qiya.
__ADS_1
“Alhamdulilah kalau begitu, tubuh kak Arumi tidak seperti aku… “ Bisik Qiya.
Ya, bagian pinggul istri Gede itu terlihat lebih besar sekarang. Bahkan jika berdiri disisi Nur, Ayra dan Arumi. Ia yang akan terlihat paling besar tubuhnya.
“Yang penting suami tak protes. Toh kita berpenampilan, berpakaian untuk menyenangkan suami?” Tanya Arumi.
Qiya tersenyum. IA tak menyangka jika ARumi bisa berubah jauh saat ini. Akhirnya sesi foto pun dimulai. Bram dan Ayra duduk di sebuah kursi, ARumi dan Ammar yang tubuhnya paling tinggi di keluarga itu, mereka berdiri di belakang Ayra dan Bram. Gaffi dan Akhtar berada di pangkuan Bram dan Ayra. Sedangkan Qiya dan sang suami duduk di sisi kanan Bram. Zahra berada dipangkuan Qiya. Nur duduk diapit oleh Ibrahim dan Ayra. Syam duduk dipangkuan Nur.
Setelah sesi itu selesai, Sesi kedua diambil Bram Bersama ke lima cucunya. Bagaimana lima bayi itu berada di troli bayi. Bahkan Ammar menitikkan air mata saat mendengar suara tawa Ayra saat di goda oleh Bram, karena berkali-kali sang fotografer meminta sang ibu tertawa agar muncul gambar yang diinginkan sang fotografer.
“Ibu… Agak dibuka mulutnya…”
Bram sedikit menggelitik pinggang ibunya hingga terdengar suara tawa perempuan yang memilik sejuta pesona yang ia wariskan pada sang anak.
“Iy bagus! Sip! Ok!” Suara fotografer itu yang puas melihat kameranya, Ammar yang berdiri dibelakang sang fotografer cepat menghapus air mata yang baru saja akan jatuh.
“Sungguh kami tak akan bisa menjadi pribadi seperti ini Ma, tanpa usaha mama yang selalu menjadi perempuan Bahagia di saat mungkin banyak luka atau masalah hadir.” Ucap Ammar.
Ia nyaris tak memilik moment dimana sang ibu terlihat frustasi, bosan, atau menyalahkan dirinya karena banyak masalah dalam hidup sang ibu. Ia berpikir ibu dan ayahnya tak memilik masalah dalam rumah tangga. Namu setelah menikah, ia tahu. Setiap masalah pasti ada di setiap rumah tangga. Tetapi tinggal pelaku di hubungan halal itu, apakah pandai mengolah rasa agar yang hanya ada sebuah rasa Bahagia disaat luka yang ada.
Ayra betul-betul Bahagia, di usia nya yang tak lagi muda. Sudah saatnya ia memanen di usia tuanya. Namun jalan nya menuju sejuta pesona, tidaklah mudah.
__ADS_1
“Bu Ayra lihat kesana Bu…” Ucap kameraman yang meminta Ayra menatap langit seraya satu tangannya mendorong troli bayi yang di dalamnya ada Zia