Pesona The Twins

Pesona The Twins
130 Peran Qiya Sebagi Istri


__ADS_3

Gede baru saja tiba di kediaman Ayra. Saat Qiya menyambut suaminya. Ia begitu kaget karena melihat tangan kanan suaminya yang di perban.


"Astaghfirullahallazim.... Tangannya kenapa Mas?" Tanya Qiya khawatir.


"Oh... ini tadi kena kaca yang pecah Dek. Memungut gelas yang tak sengaja mas pecahkan di hotel." Ucap Gede berbohong. Ia tak mungkin menceritakan hal yang sebentar.


"Mas mau istirahat Dek. Capek sekali." Ucap Gede. Qiya pun mengapit lengan suaminya.


Mereka melangkah ke arah kamar mereka. Tiba di kamar saat selesia shalat isya. Gede bermaksud kembali membalut lukanya. Namun Qiya sudad duduk dihadapan Gede dengan kotak P3K.


"Sini biar aku saja." Ucap Qiya.


Gede lupa jika istrinya itu gadis yang cerdas. Ia meraih gelar dokternya karena memang cerdas. Dahi Qiya berkerut melihat luka pada tangan suaminya. Ia membersihkan dengan Alhkohol lalu mengambil kain kasa.


"Tak mau cerita yang sebenarnya? Istri mas ini dokter loh mas. Apa mas menganggap aku tak cukup pandai untuk mendapatkan surat izin praktek besok jika aku mengatakan ini luka bukan karena sayatan tapi lebih ke tusukan. Telapak tangan yang terdapat luka tusukan rasanya tak mungkin jika di tusuk melainkan mas memecahkan benda itu dengan genggaman mas." Ucap Qiya yang selesai membalut tangan Gede dengan perban.


Gede memencet hidung mancung istrinya.


"Besok ikut seleksi kalau pihak kepolisian mencari ahli forensik. Kamu lebih cocok disana." ucap Gede tersenyum.


Ia pun beranjak duduk ke arah tempat tidur.


"Sini, duduk sini." Ucap Gede sambil mematikn ponselnya.


Oiya duduk dan merebahkan tubuhnya ke arah dada Gede.


"Dek, tadi Ibu Hilman menemui mas... pas makan siang." Ucap Gede pelan.

__ADS_1


"Lalu?" Qiya mendonggakan kepalanya. Ia menatap wajah sedih suaminya.


Gede tampak menghela napas nya pelan dan berat.


"Mas bingung dek... di satu sisi ada rasa ta tega. Di sisi lain, mas tak bisa membantu Hilman jika tak memberi tahu ibu.... Mas bingung. Menurut kamu apa yang harus mas lakukan.... mas khawatir kebawa ke mimpi kalau tidak diceritakan sama kamu." Ucap Gede sambil mengusap rambut hitam Qiya.


Qiya mendaratkan satu k3cupan di pipi sang suami. Gede yang cukup rindu pun mendaratkan satu k3cupan di bibir sang istri.


Qiya cukup lama memandang suaminya. Lalu ia beranikan dirinya untuk menyampaikan pendapatnya.


"Kalau menurut aku ya mas, sebagai seorang perempuan aku sedih dan ingin mas bisa memberikan pertolongan ke Mas Hilman demi harapan seorang ibu. Karena aku pun akan menjadi Ibu. Sedangkan jika sebagai istri mas... Ada rasa tak terima memang, ketika mas diakui justru disaat mas dibutuhkan... Tapi kita punya Rasulullah dan banyak kisah Nabi juga sahabat yang bisa kita jadikan tauladan dan ambil hikmahnya mas. Satu kisah yang mirip tapi sedikit berbeda dengan kisah Mas. Kisah Nabi Yusuf mungkin bisa mas ambil hikmahnya." Ucap Qiya sambil bergelayut mesra pada dada suaminya.


Ia memegang tangan yang terbungkus perban itu. Ia cium tangan itu lembut.


Gede mengusap lengan Qiya. Ia bisa merasakan tenang dengan memeluk dan menghirup aroma wangi dari tubuh istrinya.


"Maksudnya Dek? Nabi Yusuf yang mana? Kisahnya bersama Sayyidah Zulaikha?" Tanya Gede.


Qiya kembali menceritakan pada suami nya tentang kisah Nabi Yusuf bersama saudaranya. Itu ilmu yang ia dapatkan selama ia mondok di Kali Bening. Umi Laila, Furqon dan Siti yang menjadi Bu Nyai dan Pak Yai nya kala itu.


Qiya menceritakan bagiamana Nabi Yusuf mendapatkan kezaliman yang yang begitu demikian dari saudara nya. Namun beliau tak sedikitpun merasa dendam.


"Bahkan Nabi Yusuf itu lebih dulu sebelum di masukan ke sumur, disiksa dulu Mas... Para saudara nya tak menghiraukan kala Nabi Yusuf meminta tolong." Ucap Qiya


Qiya juga menjelaskan perjalanan kehidupan berikutnya Nabi Yusuf yang memiliki banyak cobaan yang dan itu tak mudah. Nabi Yusuf sempat menjadi budak yang diperjualbelikan, pernah di penjara karena satu tuduhan akan tindakan yang tak pernah ia lakukan.


"Dan Pada saat dimana Nabi Yusuf menjadi seorang pejabat penting di Mesir. Beliau akhirnya memiliki kekuasaan di negeri itu, Mas. Nabi Yusuf membuat banyak kebijakan publik bagi bangsanya. Dan pada saat itulah Kebesaran hati Nabi Yusuf, beliau menerima saudara nya yang mengadu tentang keperluan hidup mereka mas. Nabi Yusuf justru membantu mereka Mas. Dan kebaikan hati Nabi Yusuf membuat saudara mereka mengakui dosa-dosa mereka Mas." Jelas Qiya panjang lebar.

__ADS_1


Gede terdiam. Ia menyimak kisah Nabi yang terkenal ketampanannya dan keimanannya saat digoda Zulaikhah.


Qiya melanjutkan kisahnya, dimana saat seharusnya Nabi Yusuf yang sedang berkuasa dapat dengan mudah membalas saudara-saudara yang telah hampir membunuhnya dulu. Tapi itu tak Nabi Yusuf lakukan.


"Sungguh kemuliaan akhlak Nabi Yusuf. Beliau justru memaafkan mereka dengan menghapus semua kesalahan dari ingatan dan hati beliau. Ia tak ingin mencela, mencemooh mereka yang dulu hampir menghilangkan nyawanya. Bahkan beliau mendoakan agar saudaranya diampuni oleh Allah agar tak di siksa di hari akhir nanti." Ucap Qiya.


Gede menatap istrinya dalam.


Qiya mendaratkan satu kecupaaan yang cukup cepat dan singkat di bibir suaminya.


"Memaafkan tidak hanya sekadar mengucapkan kata maaf belaka namun jauh di dalam hati kita masih menyimpan dendam Mas. Memberi maaf harus bersamaan dengan sikap tidak akan mengingat dan mengungkit, juga tak membicarakan kesalahan mereka yang menyakiti kita, Mas. Termasuk rasa tidak suka. Dalam hal ini, Mas Hilman tak berdosa atau bersalah. Ia tak tahu apa-apa. Begitupun Bu Ratih. Bagiamana jika mas periksakan dulu kecocokan tulang sumsum mas. Tanpa sepengetahuan Bu Ratih juga Ibu. Jika sudah periksa nanti baru lihat hasilnya. Setidaknya Mas Hilman saudara kandung Mas." Ucap Qiya.


Gede terdiam. Lalu ia kembali menatap kedua netra istrinya.


"Kalau cocok?" Tanya Gede.


"Baru minta izin Ibu. Insyaallah Aku sebagai istri Mas, ikhlas dan Ridho. Di niatkan untuk membantu saudara seiman. Rasulullah saja masih mau membantu non muslim yang sedang sakit. Bahkan beliau melayani pengemis yang belum beriman padanya setiap hari dengan menyuapinya mas. Lantas. Cinta Rasulullah itu bukan hanya bershalawat di bibir. Tapi rasa dan kita bawa ke dalam kehidupan kita Mas.... Kalau bibir dan rasa sudah ada. Maka aneh jika sikap justru tak sama dengan apa yang beliau contohkan." Ucap Qiya yang tampak menutup mulutnya dengan punggung tangan sebelah kirinya untuk menahan kantuknya.


"Mas akan pikirkan. Sekarang istirahat dulu ya... Mata mu sudah merah..." ucap Gede.


Malam itu sambil memeluk istrinya. Ia merenungkan apa yang istrinya ceritakan pada dirinya. Saat Qiya sudah tertidur pulas. Ia pun masih belum bisa memejamkan mata. Ia memasang headset dan mendengarkan siraman rohani dari salah satu ulama yang direkomendasikan oleh Gus Imam padanya untuk di ikuti di media online.


Ia memilih satu video yang ia baca judulnya sesuai dengan apa yang ia hadapi sekarang.


"Pahala Bagi yang memaafkan ketika terzalimi" Gus Baha.


Malam itu Gede sampai lima kali mengulang-ulang video tersebut. Sampai akhirnya ia membuat keputusan dan ia mengecup dahi istrinya yang tertidur pulas.

__ADS_1


"Salah satu rezeki paling besar dalam hidup Mas, menjadi suami kamu Dek...." Ucap Gede yang semakin hari semakin terpesona oleh kecantikan paras dan akhlak istrinya.


Istrinya cerdas tapi tak pernah merendahkan dirinya. Cerdas tapi tak pernah menggurui suaminya. Malam itu Gede sibuk mencari informasi tentang penyakit yang di idap Hilman. Ia bahkan terlelap di sofa saat telah lelah membaca beberapa artikel tentang penyakit tersebut.


__ADS_2