
Usai shalat shubuh, Sebagian santri masih ada yang berada di masjid. Mereka mengaji Al Quran. TErdengar lirih suara seorang lelaki yang sedari tadi membaca quran dengan tartil dan suara merdunya. Dan disudut kamar seorang istri juga sedang sibuk memutar bij-biji tasbihnya. Bahkan di tangan salah satu perempuan lansia dengan posisi duduk dan kepala yang tertunduk mulutnya masih malafalkan wirid yang menjadi amalan sang suami. Shalawat Fatih diikuti ya Latif 159 x masih diamalkan anak dan ibu itu.
Ayra dan Umi Laila tampak khusyuk dengan biji tasbih di tangan mereka masing-masing. Shalawat terus saja menjadi kebiasaan mereka dalam hari-hari mereka karena berharap jika kelak bisa mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad. Satu malam Ayra sudah menginap di Kali Bening. Kabar bahwa Umi Laila terjatuh saat selesai shalat Maghrib membuat Ayra meninggalkan satu cucunya yang sedang demam tinggi. Zia, bayi mungil Ammar yang berusia dua bulan. Bayi itu sekarang sering tiba-tiba kejang. Malam tadi, Kembali seorang Ayra Khairunnisa di uji untuk memilih meredup apa menyinari pesonanya.
Flashback On.
“Kamu dirumah saja Arumi. Biar mama Bersama Ammar membawa Zia kerumah sakit” UCap Ayra pada menantunya yang memaksa ingin mengantar Zia.
Melihat Gaffi dan Arthar yang juga sedikit rewel, ia pun memilih ikuti apa yang dikatakan sang ibu mertua.
Zia pun digendong Ayra, Istri seorang Bramantyo Pradipta. Ia masih menggunakan kain Panjang motif batik untuk menggendong cucunya. Ia meminta Bu Melisa juga untuk meminta Ammar menghubugi mertuanya. Saat rasa sayang yang begitu besar pada cucu yang sedang sakit, Ayra mendapat kabar dari Kali Bening.
“Assalammualikum. Ra. Umi minta kamu ke Kali Bening. Kalau tidak sempat mala mini. Besok tidak apa-apa.” Ucap Furqon dari seberang.
Ayra menjawab salam sang kakak.
“Umi lagi sakit kang?” Tanya Ayra.
Furqon berbohong pada adiknya. Ia tahu seperti apa Ayr ajika tahu sang ibu sakit. Malam itu Ketika baru saja akan menyelesaikan shalatnya. Bibir Umi Laila Ketika membuka matanya, ia mencari Ayra. Sebenarnya bukan karena ia lebih mencintai Ayra. Tetapi lebih ke rasa cinta untuk Ayra sedari bayi dan kisah tragis Nuaima dan Munir membuat Umi Laila terlalu focus pada anak yatim piatu yaitu Ayra. Sehingga rasa itu sampai Ayra Khairunnisa itu sudah menjadi seorang nenek pun, Umi Laila masih mencari putri Munir itu. Bayi yang ia rawat, yang ia sus u I saat kedua orang tuanya meninggal.
__ADS_1
Ke empat anaknya taka da yang iri seperti kisah nabi Yusuf. Saudara beliau tega mem bu ang Nabi Yusuf kesumur karena merasa cemburu pada sang nabi. Ayah yang diangap pilih kasih,membuat saudara nabi Yusuf melukai dan menyingkiri Nabi Yusuf. Empat anak Umi Laila sadar diri, diantara mereka. Ayra adalah yang paling mengerti, menurut. Bahkan menikah pun. Ayra patuh akan pilihan ayahnya. Bukan karena suka kepada calon suaminya. Ayra yang juga tidak ke pondok pesantren manapun, maka kedekatan batin dan emosi nya begitu menyatu pada Umi Laila.
Alis Ayra tertaut, ia menyimpan ponselnya di tas kecil miliknya. Lalu ia mendekat kea rah Ammar.
“Bu Melisa sudah dihubungi Am?” Tanya Ayra,
Ammar mengatakan jika mertuanya dalam perjalanan ke rumah sakit. Ayra pun duduk di sisi tempat tidur Zia. Bayi mungil itu Kembali harus bermalam di rumah sakit karena tiba-tiba kejang. Ia usap kepala cucunya.
“Kamu tahu Am, dulu Ketika kamu atau Qiya, Ibrahim yang sakit. Mama begitu khawatir. Rasa khawatir mama saat ini lebih khawatir melihat Zia kejang-kejang seperti tadi.” Ucap Ayra.
Kontak batin antara Ayra dan Umi Laila yang cukup kuat. Membuat nenek tiga bayi kembar itu masih memikirkan telepon dari sang kakak. Saat Bu Melisa tiba. Ia berpamitan untuk ke kali Bening.
“Ada apa Ay??”
Tanya Bram dan Ammar bersamaan.
“Aku tidak tahu mas, tapi aku rasa Umi sedang tidak baik-baik saja. Kang Furqon tak pernah mau membuat aku khawatir. Ammar, mala mini Mama ke Kali Bening dulu ya.” Ucap Ayra. Ammar mengangguk.
TErlihat air mata Ayra jatuh di dahi dan ujung jari mungil Zia. Ia begitu tak tega melihat bayi mungil itu harus terlilit infus.
__ADS_1
Ia berpamitan dan pergi ke kali bening Bersama Bram. Mereka diantar sopir karena Ammar tak mengizinkan sang Ayah mengendarai sendiri mobil di waktu malam. Tiba di Kali Bening. Ayra sudah merasa lemah, karena tidak ada santri di teras rumah uminya. Karena jika sang umi sehat, akan ada santri yang setoran hapalan di sana. Ia bergegas masuk kedalam rumah seraya mengucapkan salam. Lalu seorang santri yang duduk di depan kamar menunduk sopan. Ayra masuk ke kamar dan ada Umi Siti juga Furqon.
“Assalamualaikum…”
“Walaikummsalam.”
“Ayra… “ Suara lirih Umi Laila memanggil santri sekaligus anaknya yang memiliki sejuta pesona.
Ya, Pesona Ayra tak luntur walau ia sudah tua. Disaat rasa cinta begitu besar untuk cucunya. Ayra membuat keputusan untuk pulang ke Kali Bening. Untuk menemui Umi Laila yang firasatnya mengatakan jika sang ibu tak sedang baik¬-baik saja. Ia mengalahkan rasa cinta pada sang cucu dan anak. Ayra memikirkan jika Zia adalah tanggungjawab Ammar selaku orang tuanya. Ammar sudah dewasa, besan juga ada mendampingi. Firasat tentang panggilan ibunya yang tak tersampaikan oleh Furqon membuat Ayra memilih mejalankan birul walidain. Usianya memang sudah tua, tapi ia masih harus berbakti pada orang tuanya. Maka Ayra memilih rasa cinta pada orang tua. Ia mengalahkan rasa cinta pada Cucu.
Inilah pesona Ayra, jika orang berpikir Umi Laila Bahagia memiliki anak Ayra karena ia orang kaya. Salah, Pesona Ayra yang membahagiakan orang tuanya dan juga merttuanya bukan karena harta tapi akhlaknya, cintanya, sikapnya pada orang tua.
Flashback Off.
Umi Laila pun baru meletakkan tasbihnya. Ayra dan Nur juga Siti membantu Umi Laila duduk bersandar di tempat tidur..
“Umi mau minum?” Tanya Umi Siti.
Umi Laila mengangguk pelan. Satu gelas bening di arahkan ke Umi Laila. Setelah minum, perempuan itu memejamkan kedua matanya. NApasnya cukup berat, Ayra tampak tak bisa jauh-jauh dari sang Ibu. Ia bahkan meminta izin pada Bram agar tetap di Kali Bening. Bram yang mengerti isi hati istrinya. Ia pun tak Kembali ke ibukota keesokan harinya. Ia menemani sang istri di Kali Bening.
__ADS_1
“Aku tahu yang kamu khawtirkan Ayra sayang…” Ucap Bram seraya memeluk istrinya saat mereka berada di kamar sederhana yang masih sama. Hanya catnya saja yang berganti warna. Kamar itu bahkan kamar yang selalu menjadi tempat Ayra dan Bram menginap saat berada di Kali Bening. Kamar yang dulu melihat kecanggungan sepasang suami istri itu kala Bram tahu bahwa istrinya adalah Drum Bodol. Yang pernah ia selamatkan.
“Panjangkan Umur Umi Rabb….” Ucap Ayra.