Pesona The Twins

Pesona The Twins
50 Siapa Kamu?


__ADS_3

Marvin sibuk berteriak-teriak mencoba membuka pintu. Namun tak ada jawaban dari luar. Sedangkan Ammar tubuhnya di rebahkan di sisi Ifah. Alisha memandangi wajah tampan Ammar. Ini kali pertama ia menatap wajah lelaki yang telah dua kali menyelamatkan hidupnya. Bahkan luka yang sekarang di dapat karena terakhir kali ia menolong Alisha.


Seorang lelaki yang berada di kamar sebelah tempat dikurungnya Ammar dan ketiga orang lainnya terdapat Ibrahim. Ia mendengar suara teriakan Marvin yang meminta tolong dan minta bukakan pintu. Ibrahim memasang telinganya di pintu. Ia sudah sedikit membaik walau tubuhnya masih terlihat seperti orang Albino karena luka bakar yang ia alami.


Penasaran, Insting selama ia menjadi agen. Ia memukul tembok yang menghubungkan dengan kamar sebelah. Ia memukul tembok itu dengan kuat.


"Duk! Duk! Duk!" Suara tembok yang dipukul Ammar.


Alisha yang merupakan salah satu agen bisa mendengar suara itu. Seolah ia mengerti dan mendengarkan. Telinganya begitu sensitif. Ia meminta Marvin berhenti berteriak dan mencoba membuka pintu tersebut.


"Berhenti. Diam!" Ucap Alisha.


Ia mendekati suara itu berasal. Entah kenapa ia ikut membalas memukul tembok itu.


"Duk! Duk!" Suara pukulan pada tembok yang dilakukan Alisha.


"Kenapa aku seolah paham suara ini." Batin Alisha.


"Dia baik-baik saja. Tunggu bagaimana bisa aku mengerti ketukan dari orang disebelah adalah pernyataan dia baik-baik saja. Siapa sebenarnya aku?" Tanya Ibrahim dalam hatinya.


Sebuah ketukan yang memiliki irama sendiri membuat dua agen tersebut mengerti maksud dari nada yang diberikan temannya lewat sebuah ketukan.


"Siapa aku sebenarnya?" Alisha menempelkan telinganya di dinding kamar. Ia masih menunggu dan berharap tembok itu kembali berbunyi. Namun Ibrahim yang justru merasa bingung terduduk di sisi tembok satunya. Ia memikirkan siapa dia dan kenapa dia bisa tahu apa yang dibicarakan istri pak Broto tanpa mendengar suara. Bahkan dalam jarak 4 meter ia bisa membaca gerak bibir orang dengan jelas.


Namun di saat ke tiga orang tersebut khawatir dengan kondisi Ammar. Ibrahim termenung memikirkan siapa dia dan kebapa dia ada disana. Satu lelaki justru terpaku menatap hasil penelusuran dari anak-anak buah nya. Jenazah yang di kubur olehnya dua bulan lalu adalah betul-betul putrinya. Tanpa pikir panjang ia meminta perempuan itu di bawa kehadapan nya. Ia sangat penasaran.


"Bawa perempuan itu kemari. Aku ingin melihat semirip apa dia dengan putri ku. Tidak mungkin ada orang yang memiliki wajah bisa sama persis." Titah pak Broto pada anak buahnya.


Melisa yang mengikuti sang suami masuk kedalam ruangan suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikuti aku kemari?" Ucapnya tak senang.


"Aku hanya ingin melihat lelaki yang kamu sekap. Satu hal, kamu harus tahu tim lelaki itu sedang mencari dirinya. Keberadaan kita di lau selatan Papua terlacakaj oleh mereka. Ayolah Mas.. Sampai kapan kamu akan sibuk dengan dendam Mu!" Bentak perempuan bernama Melisa itu.


Hari demi hari dilalui dirinya bersama suaminya seolah tak ada arti. Ia yang menikah dengan Pak Broto tak merasakan bahagia. Suaminya nyaris tak pernah memberikan dia cinta. Suaminya hanya terpaku pada mantan istrinya yang telah meninggal dunia.


"Diamlah! Aku sedang di permainkan oleh orang! Berani mereka mengganggu hidup ku dan mencoba bermain-main dengan menggunakan data Mayang." Ucap Broto kesal.


Melisa menaikan kedua alisnya. Ia mencerna apa yang terjadi. Dan tak lama pintu kamar itu terbuka. Seorang perempuan berambut panjang di baw ke hadapan pak Broto. Kedua mata Pak Broto seakan ingin keluar. Melisa Pun ikut membelalakkan kedua matanya.


Wajah Alisha dengan Mayang begitu mirip. Nyaris tak ada celah. Bak pinang di belah dua.


"Siapa kamu? Katakan?!" Bentak Pak Broto.


Ia yang memang menanti masa pensiun menjadi salah satu agen. Bisa memastikan jika perempuan itu jelas melakukan operasi agar dirinya terlihat mirip dengan buah hatinya. Alisha hanya diam dan menundukkan kepalanya. Seolah ia tak menghiraukan keselamatan nya. Ia justru mengkhawatirkan Ammar yang sedang tak sadarkan diri.


"Tu-Tu-an. Tolong teman saya, dia terluka dan tidak sadarkan diri sekarang di kamar. Mohon bantu kami. Saya khawatir dia kenapa-kenapa." ucap Alisha dengan tertunduk takut.


"Tak mungkin ada orang dengan wajah dsn pita suara yang sama di dunia ini!" Batin Pak Broto.


Melisa melihat wajah Alisha seolah bayangannya kembali ke masa lalu. Ia seolah-olah mengingat sesuatu. Ia pun mencoba memojokkan suaminya.


"Sejak kapan anak buah mu menyakiti warga biasa? Apakah sekarang cara mu menyelesaikan masalah sudah seperti para mafia! apa beda dirimu dengan paraa mafia jika untuk saru informasi kamu sampai menyakiti orang lain!" Ucap Melisa pada Broto.


"Katakan apa teman mu tertembak?" Tanya Melisa pada Alisha.


"Bu-Bukan. Dia beberapa waktu lalu terkena luka dan harus di jahit. Sepertinya tadi ketika berkelahi untuk menyelamatkan aku dan teman ku, lukanya terbuka kembali. Memang beberapa mereka membawa senjata." Ucap Alisha.


Broto mengernyitkan, ia tahu betul bagiamana kode mereka selama bekerja. Ia tak suka jika ada yang kasar terhadap perempuan. Ia membuka ponselnya meminta anak buahnya menyelidiki apakah ada tim lain yang mencari atau memburu Alisha.

__ADS_1


"Temannya terluka. Kita harus memeriksanya. Jangan sampai ada korban hanya karena dendam mu yang menyeret banyak orang." Ucap Melisa sambil melangkah keluar.


"Tidak ada yang boleh membantu temannya! sebelum ia mau melakukan sesuatu untuk ku! " Suara Pak Broto terdengar dingin.


"Apa Tuan. Saya mohon selamatkan teman saya. Saya akan melakukan apapun untuk anda.." Ucap Alisha menatap Broto dengan tatapan menghiba.


"Tapi Mayang tidak pernah memohon seperti itu. Namun bola matanya sama persis dengan bola mata milik Mayang. Apakah... Ah tidak mungkin..." Ucap Broto dalam hatinya.


"Kamu harus mau tes DNA." Ucap Pak Broto tegas.


Melisa seketika menoleh. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Namun ia masih mencoba tenang.


"Baiklah. Saya mau tuan. Mohon segera periksa teman saya." pinta Alisha pada Pak Broto.


"Uruslah temannya. Dan minta anak buah ku memisahkan kamarnya dengan dia." Ucap Broto.


Melisa mengangguk, ia memang mantan dokter yang bekerja di agen. Maka ia lah yang merawat Ibrahim selama Ibrahim tak sadarkan diri. Selepas kepergian Ibrahim dan Alisha.


Lelaki paruh baya itu pun menatap sebuah foto yang selalu ia simpan di dompetnya. Perempuan yang telah meninggal dunia. Saat ia sedang menjalani misi. Istrinya tak tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia saat itu ditugaskan di luar negeri. Namun ketika pulang, ia justru mendengar kabar istrinya meninggal saat melahirkan. Ia hanya memiliki anak Mayang.


Salah satu kenapa ia tak suka Mayang menjalin hubungan dengan dokter Gede adalah karena dirinya begitu tak ingin anaknya hidup susah. Dulu istrinya meninggal dunia karena tak ingin tinggal bersama keluarga Pak Broto. Padahal tanpa pak Broto sadari bahwa tak betahnya sang istri tinggal bersama ibunya Pak Broto adalah sikap dan perlakuan sang ibu pada dirinya disaat Pak Broto tak dirumah.


Orang tua dan istri yang tahu dirinya hanya pengusaha.Karena itulah isterinya hidup sendiri dan berusaha memenuhi kebutuhan nya sendiri. Uang yang dikirim Pak Broto di rekening istrinya tak pernah di terima karena buku tabungan dan ATM nya di ambil ibu mertua.


Namun ada satu rahasia yang hanya Melisa saksi kunci kisah rumaah tangga dari Pak Broto dan istrinya. Dan kehadiran Alisha yang sangat Mirip Mayang membuat Melisa yang baru saja memeriksa Ammar, memandangi wajah Alisha.


"Apakah takdir mempertemukan kamu dengan Ayahmu?" Batin Melisa.


Sedangkan takdir justru sedang ingin mempertemukan si Sulung Ayra dan Bungsunya di tempat itu.

__ADS_1


(Harap bersabar, satu-satu ya aku ungkapkan.Bab selanjutnya akaan ada penjelasan siapa sebenarnya Alisha aliasa mayang ini dan Ibrahim bakal ketemu Ammar).


__ADS_2