
Gede pun menceritakan kisah nya bersama Mayang pada Qiya. Qiya mendengarkan dengan seksama.
Gede dulu bertemu Mayang ketika ia akan menjadi distributor obat dari luar negeri. Dan itu melibatkan rumah sakit tempat Gede bekerja. Gede termasuk bagian tim untuk menentukan merk obat yang akan dipilih untuk disediakan di apotik rumah sakit tersebut. Mayang yang mendapatkan misi untuk mencari informasi atau sebagai tim pengumpul informasi dilapangkan. Tentang obat-obatan, distributor yang terlibat akan jual beli obat yang ilegal tidak melalui kementerian kesehatan.
Maka saat bertugas, Mayang menjabat sebagai CEO Di perusahaan Pak Subroto. Maka ia sering berinteraksi dengan Gede. Tiba saat Gede merasa nyaman dengan Mayang. Dimana selama berhubungan dengan Gede. Mayang mengaku jika ia hanya tim survei kerjasama antara perusahaan dengan rumah sakit.
Namun saat Gede kian intensif mendekati Mayang, gadis itu belum menyelesaikan misi. Ia pun mulai tidak nyaman karena Gede bukan tipe idam idamannya. Ia selalu mengukur waktu. Hingga tiba dimana Arumi yang terluka saat itu. Ia bertemu Mayang. Maka tanpa sengaja. Mayang memanfaatkan Arumi untuk menjadi dirinya.
Berdasarkan informasi yang ia cari. Arumi agen yang satu tim bersama Ibrahim. Sedangkan dirinya sudah lama mencintai Ibrahim dalam diam.
Arumi selama bekerja di divisi pengumpulan data untuk kasus tindakan kr!minal, ia sering berganti-ganti wajahnya dengan penyamaran. Beda divisi beda cara kerja. Begitupun divisi Ibrahim dan Arumi. Mereka satu tim terdapat 5 orang. Dan kelima orang tersebut tidak tahu jati diri mereka masing-masing bahkan wajah sebenarnya dari tim mereka.
Maka Mayang memanfaatkan Arumi yang berterima kasih telah diselamatkan dengan menjadi dirinya. Dan dalam keadaan terluka. Arumi yang kaku, introvert akhirnya luluh karena diperlakukan oleh Gede begitu lembut. Dan ketika Gede menyatakan cintanya pada Arumi. Perempuan itu pun reflek membalas cinta yang Gede berikan.
Sedangkan Mayang. Ia sudah terlanjur bahagia. Ia bahkan sudah mengantongi semua informasi tentang Arumi. Jiwa kepemimpinan dan komitmen Arumi begitu besar. Maka baginya ketika A. Ia akan sulit merubah menjadi B. Tiba di d
detik-detik menjelang hari pernikahannya. Mayang marah besar pada Arumi saat ia akan mengatakan yang sejujurnya pada Gede. Ia ingin menikah dengan Gede sebagai Arumi bukan Mayang. Tetapi Saudara kembarnya itu marah. Ia ingin agar Arumi tetap menjadi dirinya. Dan dia menjadi Arumi.
Arumi yang tepat di hari pernikahannya baru tahu kebenarannya. Selama ini ia dimanfaatkan Mayang. Belum lagi Subroto adalah ayah kandungnya. Ia ingin membalas dendamnya pada Subroto. Rasa sakit hati pada Mayang yang telah memanfaatkan kebaikannya, Pak Subroto yang telah mencampakkan ibunya juga menyia-nyiakan dirinya. Maka ia pergi tepat di hari pernikahannya. Sehingga meninggalkan rasa malu di keluarganya.
Dulu Pak Subroto tak pernah setuju pada Gede. Saat ia telah setuju. Arumi mengalahkan rasa cintanya karena dendam. Sepucuk surat ditinggalkan dengan alasan ia mencintai pria lain. Hal itu tak hanya menyakiti dan mempermalukan keluarga Pak Subroto melainkan juga keluarga Bu Ratih dan Gede.
Luka yang mendalam begitu membekas di hati Gede.
"Aku sampai hampir dua Minggu tidak makan Qiy. Dunia terlalu sempit bagi ku saat itu. Sampai pada Niang Ayu meminta Gus Imam datang dan terus mengajak ku berbicara tentang kehidupan. Terus mengajak ku ke majelis beliau. Maka aku baru bisa melihat dari sudut pandang lain tentang gagalnya aku menikah. Sekarang semua sudah berakhir. Sekarang dan Nanti cuma ada kamu di hari ku Dek." Ucap Gede sambil mengecup ujung jari istrinya.
Qiya pun memberanikan membelai rambut Gede.
"Setiap manusia punya masalalu dan juga punya Masadepan. Tetapi yang menentukan masa depan kita Gusti Allah dengan ikhtiar kita Mas. Dan Alhamdulilah. Yang menikah dengan kak Ammar adalah Kak Arumi. Saudara kembar Mayang. Yang penting kisah itu sudah selesai. Agar hanya ada aku di hati mu sekarang dan nanti." Ucap Qiya.
Gede merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya. Qiya pun merebahkan kepalanya di rambut hitam Gede.
"Satu lagi Dek... Kamu juga harus tahu satu hal...Hari ini semua masalalunya Mas. Kamu harus tahu. Aku tidak mau hari esok kembali membahas masalalu, aku hanya ingin membahas tentang kita dan kita di hari esok tidak ada yang lain." Ucap Gede.
Dokter lelaki itu mencium tangan istrinya yang beraroma wangi sekali. Bahkan berada dipangkuan Qiya pun membuat Gede merasakan aroma wangi yang belum pernah ia cium. Parfum itu Qiya sengaja gunakan kala di kamar. Ayra berpesan saat malam sebelum ijab pada anaknya. Menggunakan wewangian disaat bersama suami bisa meningkatkan rasa nyaman, cinta sang suami. Dan akan menjadikan ia rindu aroma itu disaat jauh dari kita sebagai istri. Maka Qiya telah memilih satu parfum khusus perempuan di toko parfum milik Umi Laila untuk ia gunakan khusus di kamar.
"Ceritakanlah... Jika bukan tentang aib mas. Bagi ku, mas yang sekarang dan esok lebih penting daripada mencari tahu seperti apa mas dulu." ucap Qiya pelan.
Ia merasakan ketenangan di posisinya. Jantungnya tak lagi berdegup kencang. Ia merasa bahagia karena hatinya hangat. Suaminya betul-betul mencintai dirinya karena ingin menjadi partner hidup bukan karena ingin menunt@skan n@fsu. Ia sudah khawatir sedari panggung tadi kalau-kalau suaminya akan langsung meminta haknya disaat berdua di kamar. Namun Gede justru hanya menikmati kedekatan mereka seperti orang berpacaran tanpa rasa menggebu untuk sebuah h@srat yang dimiliki kebanyakan lelaki.
"Tentang masalalu Mas. Ada sangkut pautnya dengan Hilman." ucap Gede lagi.
"Hem." Qiya masih menempelkan kepalanya di rambut Gede.
__ADS_1
"Dek, tapi cukup kamu yang tahu untuk sementara ini ya." Ucap Gede hati-hati.
"Insyaallah aku akan menjaga rahasia Mas.,"
Gede mengangkat tubuhnya dari pangkuan sang istri.
"Hilman dan Mas sepertinya satu ayah Dek." Ucap Gede sambil menatap kedua mata Qiya.
Qiya membelalakkan kedua matanya.
"Mas baru tahu ketika mas cari informasi tentang kamu dan keluarga. Ini sebenarnya yang ingin ibu bicarakan pada Mama dan Papa mu beberapa waktu lalu." Ucap Gede.
"Pak Rendra tahu?" Ucap Qiya pelan.
Gede menggelengkan kepalanya.
"Kenapa mas tidak coba bicara terus terang atau temui pak Rendra?" Ucap Qiya.
Kali pertama Qiya melihat lelaki yang terlihat kuat, ramah, baik hati itu menahan air matanya.
"Tidak Dek. Ibu dulu bahkan pontang panting memperjuangkan nama nya agar ada di akte ku. Hanya meminta dia hadir di persidangan pengadilan agama agar mau mengakui bahwa Ibu dan dia pernah menikah. Tapi Ibu malah dianggap mencemarkan nama baik. Ibu bahkan di intimidasi banyak orang suruhannya. Sejak saat itu, bagi ku cukup Ibu sebagai orang tua ku... Sakit... rasanya menjadi orang yang tak diinginkan, tak diakui."
Airmata pun baru akan keluar dari sudut mata Gede.
"Simpan air matanya Mas. Simpan semua luka, semua dendam, semua rasa sakit di Masalalu. Mulai hari ini kita hanya akan menatap masa depan dan mengingat hal-hal yang indah-indah. Tidak boleh ada airmata lagi." Ucap Qiya sambil memegangi pipi putih Gede.
Satu kecup@n Gede berikan di dahi istrinya.
"Terimakasih sudah mau mencintai aku yang biasa ini. Terimakasih untuk cintamu yang luar biasa Dek. Aku berharap bisa membahagiakan kamu dengan cinta ku ini."
"Cinta mu Luar biasa Mas. Hujani Dek Qiya mu ini dengan cinta mu. Hari ini, esok dan seterusnya." Ucap Qiya sambil tersenyum manis.
Sore hari itu dua orang pengantin itu menjadi satu dengan cinta yang luar biasa. Dengan kasih sayang yang luar biasa.
Saat mereka terlelap karena lelahnya berpetualang di negeri cinta. Qiya yang terbangun karena suara alarm di ponselnya berdering yang menandakan 30 menit lagi waktu Maghrib.
Tubuh yang terasa remuk, tubuh yang dibasahi peluh, membuat Qiya hanya mampu tersenyum menatap suami yang baru saja menanamkan benih di rahimnya. Bermaksud ingin mengelap butiran keringat di dahi suaminya. Tangan lentik Qiya terhenti dan ia menutup bibirnya rapat.
"Mayang.... Mayang...." Suara khas lelaki yang parau dan serak saat tidur.
Sakit, sakit sekali hati putri Ayra itu. Bagaimana tidak. Baru saja ia menikmati indahnya mahligai pernikahan. Baru saja ia memberikan satu kepuas@n untuk suaminya hingga lelaki itu merasa lelah dan mendengkur dengan nyenyak. Dan kini tepat di sisinya. Sambil memeluk dirinya. Suaminya menyebut satu nama. Baru saja tadi suaminya menyebut untuk membuka lembaran bersama dirinya. Tapi kini, satu nama di masalalu keluar dari mulut yang tubuhnya masih berisitirahat di alam mimpi.
Qiya menahan Isak tangisnya. Ia menutup rapat mulutnya dengan kedua bibirnya. Gede terbangun karena mendengar Isak tangis Qiya.
__ADS_1
Kembali sebuah ilmu diminta hadir ditengah-tengah sakitnya hati, ilmu diharapkan hadir untuk minta diterapkan dalam kehidupan bukan hanya dalam teori atau catatan.
"Sok nek wes nduwe bojo, Ojo sesekali nunjukin awak e Dewe iku jek seneng padahal bojo ne Dewe iku iseh sedih. Begitu juga sebaliknya. Ojo pisan-pisan nunjukin sedihnya awak e Dewe disaat bojo ne jek senang."
Nasihat yang pernah ia dengar dari Furqon, atau Umi Laila, Siti selaku pengasuh dan salah satu Bu Nyai di Kali Bening.
Qiya pun mencoba menahan Isak tangisnya.
"Dek... Kenapa?" Ucap Gede yang memang tak tahu apa yang terjadi.
"Ndak apa-apa mas. Aku mau mandi, sebentar lagi Maghrib. Aku mau mandi tapi sakit buat bergerak dan berjalan." Ucap Qiya dengan suara bindengnya.
Gede tertawa dan memeluk erat tubuh istrinya tanpa dosa. Memang dirinya tak tahu apa-apa. Ia sedang berbahagia dan berbunga-bunga karena cinta Qiya. Lelaki mana yang tak akan bahagia kala mendapatkan kepuas@n karena menjadi yang pertama dan di layani dengan baik oleh istrinya. Gede memeluk istrinya erat.
"Maafkan Mas ya... Nanti aku carikan pereda nyerinya. Maaf ya... Tapi mudah-mudahan cepat dikasih rezeki momongan ya. Terimakasih untuk semuanya." Ucap Gede sambil berkali-kali meng3cup dahi istrinya.
Qiya tersenyum dan air mata masih mengalir dari sudut matanya. Disaat Ammar tersakiti karena tak mampu menikmati malam pengantinnya. Adiknya justru tersakiti karena mendapatkan haknya sebagai seorang istri. Sepasang kembar itu sedang menangis di detik yang sama. Menangis dalam diam, menangis dalam hati. Menangis luka yang tak terlihat.
"Astaghfirullah.... Apakah ini salah satu cobaan dalam bahtera rumah tangga hamba?" Batin Qiya masih tak Mampu mengentikan air mata yang mengalir.
Gede yang sudah menggendong tubuhnya ke arah kamar mandi pun mengusap air matanya.
"Sakit sekali ya? Hhhhh... maaf ya. Mas coba cari obat pereda nyeri ya? beli online saja ya?" Tanya Gede dengan penuh cinta dan rasa bersalah.
Qiya menatap wajah suaminya. Tak ada kebohongan. Cintanya begitu tulus. Perhatiannya tulus dari hati.
"Ndak Usah. Qiya mau berendam dulu disini. Nanti juga mendingan kalau direndam air hangat." Ucap Qiya pelan. Matanya bertambah sipit karena habis menangis.
Gede pun meng3cup dahi istrinya sebelum ia pergi meninggalkan istrinya dari kamar mandi yang terdapat bathub itu.
"Nanti panggil mas ya. Biar mas Gendong lagi." Ucap Gede pelan. Ia menghilang dari balik pintu.
Qiya meminta dihidupkan shower. Beruntung suara sopir dirumahnya yang biasa membaca Yasin menjelang Maghrib pun membuat Qiya bisa menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan yang memang tidak ada toilet disana. Ia bahkan sesekali membenamkan kepalanya kedalam bathub berwarna putih itu.
"Hhhhhh.... Jika namaku yang kamu sebut dalam setiap doamu, jika kamu ingin seorang keturunan dari rahim ku. Kenapa nama perempuan lain yang kamu sebut Mas .. Kenapa.... Hiks.... Hiks...." Qiya hanya diam. Dia tak mungkin mendebat suaminya di hari pertama ia menjadi istri.
Ia tak mungkin menuduh, marah dan menyalahkan suaminya disaat mereka baru saja menikmati manisnya madu pernikahan.
"Jika kamu ingin aku jadi Masadepan mu. Kenapa bibir mu menyebut nama perempuan lain. Aku teman tidurmu, namun kenapa dalam tidur mu justru perempuan lain yang menjadi teman mimpi mu. Apakah cinta mu padamu hanya pelarian Mas... Hiks...Hiks... apakah aku hanya pengobat luka kala hati masih terus berdarah....Hiks...Hiks... " Qiya masih menangis. Ia tak mampu menunjukkan kesedihannya disaat wajah suaminya terlihat bahagia.
Air mata pengantin pun hadir di kamar pengantin Kembaran Ammar itu.
"Apakah aku hanya ada di sudut hati mu mas... Hingga disaat semuanya aku serahkan pada mu. Disaat aku digauli penuh penuh cinta oleh mu...kenapa nama perempuan lain yang hadir di tidur dan bibirmu.... Hiks...Hiks..." Lirih suara Qiya masih mencoba bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
(Jangan maraaaah ya Readers. Please ini buat Pesona The Twins. Kalau mau Hidangan lezat tentu harus menghidupkan kompor agar masakan matang sempurna. Ini ada satu tabir yang belum terungkap kanapa tuh bibir Gede Ardhana nyebut si Mayang. Tak selamanya yang kamu lihat dan kamu dengar itu benar jika tak tabayun. Sabar ... di bab-bab depan aku kupas satu satu.... yang mau kabur dan unfavorit awas nanti kayak kemarin di bab 8 dan 9 pada nyesel 😁😁😁😁 pokoknya positif thinking wae sama Sebutir Debu. Kalau ga suka tinggal di kipas biar terbang ke jalanan. Lah wong cuma sebutir Debu loh... gitu aja kok repot 😁😁😁 sabar ya Mak Mak. Ini Mak juga Brebes Mili siang-siang yang panas)