
Tiba di kediaman Pak Subroto. Arumi lebih banyak diam. Ammar mengamati perbedaan sikap sang istri. Ia bisa mendengar suara tawa dan suara manja sang istri saat bersama Mamanya. Tapi di kediaman Pak Subroto. Ia seperti bukan putri dari Pak Subroto. Bahkan ketika makan pun ia tak membuka Niqabnya. Sehingga Ammar merasa malu dan kikuk.
Ketika akan beristirahat. Arumi mengatakan sesuatu yang membuat air wajah Pak Subroto berubah.
"Aku tidak mau tidur di kamar Mayang. Aku bukan Mayang. Aku ingin istirahat di kamar Tamu saja." Ucap Arumi yang baru saja mendorong piring makannya yang telah kosong.
"Papa tidak habis pikir. Kamu bahkan menyembunyikan pada papa saat kamu pergi ke Palembang. Kamu tidak mengatakan pada Papa bahwa kamu sudah mengingat semuanya." Ucap Pak Subroto.
Arumi berdiri dari tempatnya.
"Ya, Alhamdulilah saya mengingat semuanya Pa. Semuanya bahkan hari-hari berat Ibu membesarkan aku. Hari-hari dimana aku pergi ke makam dan ternyata dia bukan ayah ku. Demi agar ibu merasa aku tak bersedih. Dan satu lagi, aku bukan Mayang. Aku Arumi." Ucap Arumi.
Dia berjalan menuju lantai dua yang terdapat kamar tamu. Ammar merasa tak enak pada ayah mertuanya.
"Arumi... " Panggil Ammar.
"Maafkan Arumi Pa, Ma. Saya akan menasehati nya." Ucap Ammar sedikit menundukkan kepalanya. Ia bergegas menyusul Arumi.
Pak Subroto melihat anaknya yang hanya satu-satunya.
"Dia mirip sekali dengan ibunya. Dia sedikit keras. Dia sama Mayang sama-sama keras. Tapi Mayang lebih keras daripada Arumi. Wajar dia marah padaku. Keputusan ku menerima lamaran Ammar benar. Ia memiliki suami yang sangat dewasa dan baik.Tidak seperti aku." Ucap Pak Subroto yang telah pensiun.
Lelaki paruh baya itu hanya menghabiskan waktunya untuk memantau bisnisnya di beberapa kota dan juga melakukan hobinya memancing. Ammar sudah berada di sebuah kamar. Ia melihat Arumi telah membuka Niqabnya. Ia menangis sambi berbaring di kasur dengan posisi miring.
Ammar berjalan mendekati istrinya. Ia Duduk setengah berjongkok. Ia usap airmata istrinya.
"Kenapa nangis?" Tanya Ammar.
"...." Arumi tak menjawab. Ia merasa kesal dan sedih. Ia mengingat masa kecilnya yang susah dan ia iri ketika tahu Mayang justru hidup lebih bahagia daripada dirinya.
"Arumi... Sakit hati itu buat kita hidup ga bahagia. Contoh sekarang. Kamu sedih kan?" Ucap Ammar.
Suami Arumi itu sudah berpindah duduk di atas kasur.
"Aku ga tahu Mas... Aku sakit dan sedih saja kalau ingat bagaimana ibu menceritakan sosok ayah yang kuanggap sudah meninggal. Tapi ternyata ia masih sehat bugar bahkan hidup bahagia dengan istri barunya juga anaknya yang lain..Bahkan Mayang membuat aku terkurung dengan permainan nya." Ucap Arumi yang sudah terisak-isak.
"Tapi kamu bilang Mama Melisa yang sering mengirimkan kamu uang ketika kamu sudah SMP." Ucap Ammar.
"Please Mas... Aku ga mau bahas ini..." Ucap Arumi pelan.
Ammar yang sudah dibekali Ayra sebagai ibunya. Bahwa jauh sebelum Arumi hamil. Ia sudah mendapatkan petuah dari sang ibu. Jika berumah tangga itu seperti main layangan atau bahkan bermain ayunan. Jika yang satu sedang ingin di mengerti maka salah satunya harus mencoba mengerti. Begitu pun saat ini. Ammar tahu watak dan karakternya yang sama. Ia tak ingin mengkritisi sang istri disaat sang istri sedang emosi atau bersedih.
Ia lebih memilih menemani sang istri. Ia berbaring di sisi sang istri. Ia peluk dan ia usap punggung serta Kapala sang istri. Hampir 15 menit Arumi menangis dalam pelukan Ammar. Putri Subroto itu sudah tertidur pulas. Ammar melepaskan pelukannya. Ia kecuup dahi sang istri. Ia tatap cukup lama wajah Arumi.
__ADS_1
"Hhh... aku tidak boleh cepat emosi. Bagaiamana pun kamu cerminan ku Ar. Kamu kerasa ya karena aku juga keras. Seperti ini mungkin yang Mama rasakan saat mendidik aku yang keras kepala, selama ini. Mudah-mudahan Mas bisa terus bersabar disaat kamu sedang keras hati begini." ucap Ammar pelan.
Ammar meninggalkan Arumi seorang diri. Ia menemui Pak Subroto. Ia betul-betul ingin memanfaatkan waktu beberpaa hari di sana untuk mendekatkan diri juga mengenal atau lebih dekat dengan ayah mertuanya. Ia melihat Pak Subroto sedang berbicara dengan Melisa.
"Kamu mau mengopi Am?" tanya Ibu Melisa padanya.
"Boleh Ma." Ucap Ammar.
Bu Melisa menghubungi asisten rumah tangganya melalui interkom. Ammar duduk di sofa yang berada di seberang Pak Subroto.
"Arumi masih marah?" tanya Bu Melisa Pada Ammar.
"Dia sedang tidur. Maafkan Arumi Pa, Ma. Dia sedang hamil. Emosinya dan juga mood ibu hamil Sepertinya mempengaruhi suasana hatinya." Ucap Ammar pada Pak Subroto.
"Aku senang Arumi Berjodoh dengan Mu Am. Kami mampu menghadapi dia sedikit sabar. Bahkan sampai hari ini dia masih belum mau memanggil ku Mama. Sedangkan kamu, kamu sudah sangat nyaman memanggil ku Mama." Ucap Melisa.
"Bagi saya, orang tua Arumi adalah orang tua saya. Dan saya mohon pada Papa dan Mama jangan diambil hari untuk sikap Arumi barusan. Karena Ridho Papa dan Mama akan berdampak pada rumah tangga kami. Sekuat apapun saya dan Arumi menciptakan rumah tangga yang bahagia. Sulit rasanya terwujud jika papa dan Mama merasa sakit pada Arumi. karena sikapnya." Ucap Ammar.
"Terimakasih nak Ammar. Terimakasih sudah begitu baik. Dan terimakasih sudah mencintai Arumi sebegitu tulusnya." ucap Pak Subroto.
Ammar berpikir mereka harus menghabiskan waktu untuk bersama agar bisa berbicara dari hati ke hati. Terutama bagi Arumi. Bu Melisa pun mengajak dia dan Arumi ke Villa dimana disana terdapat banyak foto dan kenangan bersama sang Ibu.
"Tapi Mel." Ucap Pak Subroto sambil menatap istri yang mulai ia Cintia dan ia sayangi setelah sekian tahun ia nikahi tanpa ia merasakan kehangatan cinta untuk Istrinya.
"Demi Arumi. Aku tak apa-apa Mas. Toh Ibunya Arumi adalah sahabat ku." Ucap Bu Melisa.
Pak Subroto menggenggam tangan Melisa. Ia tak ingin kembali kehilangan istrinya. Ia sungguh memanfaatkan waktu bersama Melisa. Ia juga berusaha membalas perhatian dan kasih sayang pada Melisa. Selama ini ia selalu ketus pada Melisa. Beranggapan Melisa sebagai penyebab berpisahnya dia dengan istri.
"Baiklah. Bagaimana kalau besok pagi kita berangkat." Ucap Pak Subroto.
"Ya tidak masalah. Tapi bagiamana Arumi. Khawatir dia muntah Pa." Ucap Ammar.
"Kamu belum lihat sisi lain istri mu Am. Kita akan kesana menggunakan helikopter. Aku Yakin dia masih Arumi yang dulu walau sudah jauh berubah." Ucap Bu Melisa.
Betul saja Keesokan hari saat Ammar mengatakan mereka akan pergi ke Villa berlibur. Arumi senang sekali apalagi tahu akan kesana menggunakan helikopter. Ia sudah lama tidak baik alat transportasi itu. Ia tak tahu jika Bu Melisa dan Pak Subroto sudah berangkat lebih dulu. Diatas heli, Arumi tampak tidak ketakutan atau pucat. Istri Ammar itu justru menikmati pemandangan dari atas sana. Ia betul-betul terlihat bahagia.
"Kamu bahagia sekali Ar..." Ucap Ammar sambil memeluk istrinya. Ia sedikit berbisik di telinga istrinya karena suara berisik Helikopter tersebut.
"Aku teringat masa-masa ke-" Arumi menggigit bibir bawahnya ia hampir keceplosan jika ia pernah mengikuti pendidikan di sekolah intelegen.
"Masa-masa?" Tanya Ammar.
"Masa-masa waktu masih sekolah " Ucap Arumi cepat. Ia kembali memandangi ke arah bawah.
__ADS_1
"Ini kali pertama Mas lihat kamu terlihat berbinar-binar hanya karena melihat pemandangan." Ucap Ammar.
Arumi menarik tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Ia mengeratkan pelukan suaminya. Ia tak peduli dengan pilot yang melirik ke arah mereka.
"Hidup bersama Mas lebih indah dari hidup ku yang dulu. Tapi kadang aku rindu hari-hari aku seperti dulu." Ucap Arumi pada Ammar.
"Memangnya seperti apa kehidupan istri Mas ini dahulu?" Ucap Ammar.
"Nanti akan aku tunjukkan. Kata mas disana masih sepi bukan?" tanya Arumi.
Ammar mengangguk.
"Ya. Cuma ada satu Vila. Itu pulau Papa mu katanya." Ucap Ammar.
Arumi mendelik.
"Papa ikut?" tanya nya pada Ammar.
"Iya. Papa dan Mama mu yang mengajak. Katanya disana ada kejutan untuk mu." Arumi seketika merasa kesal.
Ammar bisa tahu itu walau hanya dari kedua bola mata istrinya.
Tiba-tiba ekor helikopter yang mereka tumpangi terbakar. Ko pilot itu menyerahkan satu parasut pada Ammar dan Arumi. Ammar tampak khawatir.
"Gila! Apa tidak ada satu lagi." ucap Ammar ketika Pilot tersebut meminta Ammar turun bersama Arumi menggunakan alat itu. Pilot tersebut turun lebih dulu. Ammar yang bingung ia memasangkan parasut itu pada Arumi.
"Turunlah....." ucap Ammar pada Arumi.
Ia justru heran. Istrinya itu tidak merasa takut atau khawatir. Alih-alih menangis. Istrinya justru fokus dengan memeriksa parasut tersebut pada tubuhnya. Ia Pun memasangkan satu pengait pada tubuh Ammar. Lalu ia kaitkan di bagian dadanya. Ammar mendelik. Ia memperhatikan jika sang istri tampak piawai menggunakan benda itu.
"Kita akan hidup dan mati bersama Sayang...." Ucap Arumi sambil menarik Ammar keluar dari heli tersebut. Ammar memejamkan matanya. Dengan posisi memeluk Arumi dari posisi depan
Ia tak sadar, ia memeluk Erat Arumi. Saat Arumi menarik tali parasut tersebut. Arumi tertawa.
"Hehehe.... Hari ini Suami ku yang tampan ini ternyata takut ketinggian. Tidak ingin melihat pemandangan di bawah?" Ucap Arumi.
Ammar membuka kedua matanya. Setelah puas melihat di sekelilingnya. Ia menatap wajah istrinya.
"Arumi.... siapa kamu di masalalu? apa ada yang belum akur ketahui?" ucap Ammar.
Arumi membuka Niqabnya. Alih-alih menjawab pertanyaannya. Ia justru mendaratkan kecupan di bibir sang suami. Dengan posisi tersebut ia menitikkan air mata. Lalu Ammar yang merasa ada butiran bening di pipi sang istri. Ia membuka kedua netranya.
"Allah mewujudkan satu mimpi ku yang aku sendiri sudah melupakannya mas." Ucap Arumi.
__ADS_1
Pagi itu, sepasang suami istri itu justru menikmati pemandangan tersebut. Ammar hanya mengikuti kemana istrinya akan melabuhkan parasut milik mereka.
"Siapa kamu Ar... Apakah kamu mantan anggota kelompok teroriiiis?" Batin Ammar yang mengeratkan pelukannya. Ia juga khawatir kondisi janin sang istri. Namun istrinya justru tak merasakan apapun. Ia seperti orang yang sedang bernostalgia dengan masalalunya.