
Malam hari kedua Qiya betul-betul kelelahan. Ia satu hari ini bersama Nur dan Juga baby sitter yang merawat Ifah berkeliling kota Bali. Gede bak tour guide. Ia memandu keluarga dan istrinya ketempat yang memanjakan mata dan lidah.
Ayra dan Bram tak ikut. Setelah semalam berkunjung ke kediaman Niang Ayu, ia menemani Ammar. Ayra beralasan bahwa Ammar itu belum bisa terlalu serius. Maka malam itu hanya Bram yang istirahat di hotel. Ia menemani Ammar di rumah sakit.
"Ma... Besok aku boleh pulang belum ya?" Tanya Arumi.
"Jangan buru-buru pulang dulu. Ikuti kata dokter. Kamu sering sekali sakit. Kemarin baru menikah sudah sakit karena haid. ini sakit lagi. Biar sembuh betul Ar. Kasihan Ifah, kasihan Ammar kalau kamu sakit. Kamu ada yang dipikirkan?" Pancing Ayra pada menantunya karena Ammar sedang pergi keluar dan bisa ia pastikan putranya itu menikmati rokoknya.
Ayra baru saja menyuapi Arumi bubur. Padahal Arumi memaksa ingin makan sendiri, tetapi Ayra mengatakan ingin menyuapi. Arumi hanya tersenyum dan menggeleng.
"Perempuan itu harus kuat Ar. Diibaratkan akar, kita ini akarnya. Suami dan anak mereka bisa menjadi dahan. Lihatlah akar walau ia menghisap banyak nutrisi yang dibutuhkan pohon, daun dan buah. Ketika panen ia tak mencicipinya. Orang lain lah yang menikmati. Ketika panennya sukses yang dipuji juga pohonnya bukan akarnya. Sama seperti suami ketika sukses diluar, Begitupun kita perempuan, saat kita layu,kita tak bersemangat menyerap banyak nutrisi. Maka suami tak mungkin bisa sukses diluar, anak tak mungkin bisa cerdas." Jelas Ayra.
Ayra menepuk-nepuk punggung tangan Arumi dan meletakkannya di pipi Ayra.
"Saat ini banyak orang yang memuji Papa Ammar karena kesuksesannya. Dan mereka tidak pernah tahu airmata mama selama mendampingi Papa. Bagaimana Mama melalui semuanya agar menjadi akar yang kuat. Termasuk sekarang, tiga anak-anak Mama bahkan banyak yang mengatakan nyaris sempurna. Tapi dulu ketika mendidik mereka, Banyak hal yang Mama terapkan dan aneh bagi dunia disekitar Mama. Tapi lihatlah semua anak-anak Mama menikah dan mudah-mudahan kalian menikmati hasil jerih payah Mama dan mereka bisa membahagiakan kalian." Ayra sudah menitikkan airmata.
Pernah menggeluti dunia intelejen membuat Arumi cukup sabar mengontrol emosinya. Ia tak menitikkan air mata saat melihat Ayra menangis, namun hatinya tersentuh karena cerita ibu mertuanya.
Arumi hanya diam. Dia menghapus air mata Ayra. Dan mengulas senyum di bibirnya.
"Jika ada yang tidak baik dengan Ammar, jangan mengadu pada keluarga mu. Datanglah ke Mama. Mama akan berusaha adil tidak memihak kemanapun." Ucap Ayra lagi. Arumi mengangguk pelan.
Ammar telah kembali dan meminta Ayra untuk istirahat di sofa.
"Tidurlah Ma. Biar Ammar yang menunggu Arumi." Pinta Ammar.
Ayra pun segera bersandar pada sofa. Arumi hanya mengamati tasbih ibu mertuanya itu. Ia baru tahu jika satu tangan ibunya selalu ada di saku bajunya ternyata memutar bibir tasbih kayu itu. Dan malam ini ia bisa melihat biji tasbih itu berada di genggaman tangan sang ibu. Arumi mencoba tidur. Namun tubuhnya terasa pegal semua. Ia hanya memejamkan matanya. Ammar membenarkan posisi Ayra yang tertidur dan menyelimuti ibunya dengan selimut. Tasbih ubah terjatuh pun Ammar letakkan diatas meja.
"Dia sangat menyayangi Mama. Dia lelaki yang baik, tapi tak tahu kenapa hati ini terlalu sakit untuk mencintai Ammar." Batin Arumi.
Keesokan pagi dokter mengatakan jika Arumi boleh pulang. Dan mereka pun kembali ke hotel. Ayra pun mengatakan jika ia dan seluruh keluarga akan segera kembali . Ayra dan Bram membawa pulang Ifah beserta baby sitter nya. Maka Ammar dan Arumi masih di Bali.
"Aku ingin pulang juga, apa susahnya sih!" Ucap Arumi kesal karena masih harus menunggu di hotel.
"Tenanglah. Kamu harus sehat betul. Nanti ngedrop lagi." Ucap Ammar sambil dengan cueknya membuka kemeja dan mengganti dengan kaosnya.
Maka Arumi pun hanya menggerutu saja satu hari itu. Ammar seolah hapal betul jika istirnya itu akan menggerutu. Bahkan tak terasa pernikahan mereka telah berusia hampir 3 bulan.
Suasana masih sama, hanya ada komunikasi biasa dan beberapa pertanyaan satu dua. Tanpa ada hubungan hangat suami istri ketika berdua. Ammar masih setia dan sabar karena ia merasakan Arumi tak sedingin dulu, walau masih suka kadang-kadang ketus. Tapi Ammar bisa menyimpulkan tiga bulan hidup bersama dan satu kamar, Arumi orang yang manja. Apa-apa ia sebenarnya ingin diperhatikan.
__ADS_1
Sebenarnya hal itulah yang membuat Arumi nyaman dengan Gede saat Mayang menolak lelaki itu. Karena Gede perhatian dan selalu perasa. Ammar juga memiliki pesona baik hati juga perhatian luar biasa. Tapi luka di hati membuat Arumi tak bisa melihat dan mengakui walau bisa merasakan. Seperti pagi itu saat ada satu keluarga datang dari Riau.
Mereka mengaku Nenek, Kakek dan Ibu dari Ifah. Ibu Ifah telah kembali ke Tanah Air. Alisha. Ya, namanya Alisha. Alisha Asli. Mereka datang dengan pengacara dan lengkap dengan bukti-bukti juga bahkan hasil tes DNA. Ternyata saat di Bali,Ifah sempat bertemu Alisha namun mereka masih menunggu momen untuk melengkapi bukti bahwa Ifah betul putri kandung Alisha.
Arumi hanya diam dan tertegun menatap surat itu. Perempuan yang kemarin sangat angkuh kini mau tidak mau di hadapan banyak orang ia menangis karena tak ingin berpisah dengan Ifah. Bahkan dada Bidang Ammar menjadi tempatnya menyandarkan kepala.
Ayra hanya mengamati dari tempatnya duduk. Bram selaku kepala keluarga pun bersikeras untuk minta diberikan waktu jika mereka ingin juga mencari kebenaran apakah betul Ifah putri dari yang mengaku Alisha. Namun sayang, karena tak ingin kembali terlibat ke dunia hukum, pak Subroto yang tahu mau tidak mau memberitahukan pada Bram. Bahwa dua putrinya mantan inteljen. Dan sesaat akan menikah dengan Ammar, Pak Subroto mengurus surat pengunduran diri Arumi.
"Ya Allah... sungguh takdir tidak diketahui. Jadi aku punya dua menantu yang mantan intelejen." ucap Bram dalam hatinya sambil memegang amplop hasil DNA Ifah. Ia baru saja bertemu pak Subroto di kantornya.
Saat pulang kerumah. Arumi sudah menanti hasil apakah bisa mempertahankan Ifah lewat jalur hukum. Bram mengatakan tak bisa karena ujungnya tetap kalah. Karena Alisha punya bukti kuat dan memang Ifah putri kandungnya. Malam itu keluarga Ifah datang menjemput buah hati mereka. Arumi memohon untuk tidak membawa Ifah. Namun ayah dari Alisha malah menawarkan hal yang membuat rahang Ammar mengeras.
"Bisa jika nak Arumi ingin Hanifah tetap disini. Suami nak Arumi menikahi Ibunya Ifah atau putri saya Alisha?" Kalimat itu terlontar mulus dari mulut ayah Alisha. Perempuan itu hanya diam menunduk.
Ammar menatap sinis lelaki itu. Ayra mengingatkan sang sulung.
"Ammar...." Suara Ayra pelan dengan kode sebuah tatapan.
Ammar langsung berdiri.
"Maaf itu bukan solusi. Saya memang lelaki normal. Tapi untuk poligami. Saya bukan lelaki yang menyukai atau memilih poligami sebagai lahan dakwah atau untuk mengikuti Sunnah nabi. Masih banyak Sunnah-Sunnah lain yang bisa saya kerjakan. Saya mencintai istri saya. Tidak dengan ide anda pak. Maaf saya khawatir tidak bisa bersabar. Saya permisi dulu." Ammar segera bergegas ke kamarnya.
Saat tiba di kamarnya, Arumi telah mengikuti dari arah belakang.
"Arumi Mayang Dahayu?!" Suara Ammar menggelegar di kamar itu.
Karakter yang sering meledak-ledak itu muncul di bulan ketiga ia menikah. Arumi terdiam. Ia baru pertama di bentak dan ditatap tajam oleh lelaki yang begitu lembut dan Sabar Menghadapi dirinya beberapa bulan ini.
Ammar melangkah mendekati Arumi. Ia berdiri tepat di depan Arumi dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu pikir pernikahan ini mainan?! Aku bisa menerima kamu yang belum bisa menerima aku menjadi suami mu! Tapi tidak, tidak dengan jika harus menikahi perempuan itu! aku tidak mencintai dia. Ifah putrinya. Jika kamu ingin seorang anak. Kita bisa sama-sama membuat nya!" Bentak Ammar.
"Aku mohon, jika tidak ceraikan aku!" Ucap Arumi.
Watak yang sama-sama keras kepala. Ammar memegang dua bahu Arumi.
"Kamu betul-betul ingin berpisah dari ku?" Ucap Ammar pelan namun kedua pipinya basah oleh airmata. Kesabarannya hampir hilang.
Arumi mengangguk.
__ADS_1
"Sungguh?" suara lirih Ammar.
"Hhhhhh.... Aku.-"
"Ammar! Arumi!" Suara perempuan paruh baya yang berdiri di depan pintu kamar mereka.
Ayra yang mendengar suara Ammar membentak istrinya tadi membuat ia berlari ke arah kamar. Ia khawatir jika putranya memukul atau bertindak kasar pada menantunya.
Sepasang suami istri itu menatap Ayra. Ammar langsung memegang dagu Arumi.
"Kamu tahu, aku tahu rasa diabaikan. Maka jika aku menikah lagi. Kamu, atau dia akan merasakan sakitnya di nomor duakan dan diabaikan. Aku tak bisa sesempurna Nabi untuk membagi waktu ku, cinta ku, dalam hal yang sama!" Ammar pergi meninggalkan Arumi.
Ia pun meraih tangan Ayra.
"Ammar titip Arumi ma. Malam ini Ammar menginap di apartemen." ucap Ammar pelan.
"Nak..." Ucap Ayra.
"Ma... please. I wanna alone now." ucap Ammar lirih
[Ma... tolong aku ingin sendiri sekarang.]
Saat turun ia tak menoleh ke arah keluarga Alisha. Ia hanya mencium tangan Bram dan berpamitan. Dan hal itu menarik perhatian keluarga Alisha.
"Lelaki yang sempurna." Batin ayah Alisha.
Ayra menemani Arumi saat Ifah betul-betul dibawa pulang oleh keluarganya.
"Ar... Mama tahu semuanya nak." Ucap Ayra mengusap rambut Arumi saat ia menangisi Ifah diatas kasur.
Arumi mendongakkan kepalanya.
"Tiga bulan kalian bersandiwara, Mama tahu... Mama tidak ikut campur karena Mama tahu kalian mampu melewatinya tanpa ikut campur manusia. Mama hanya mendoakan. Tapi permintaan mu barusan tidak hanya menyakiti Ammar tapi juga Mama Nduk ..." Ucap Ayra pelan.
Arumi terdiam dan merasa malu namun airmata masih mengalir. Malam itu Ayra menemani menantunya di kamar itu. Arumi hanya menangisi Ifah.
Hampir dua jam bersama ponsel Ammar yang tertinggal di meja berdenting.
Ayra mengambil dan melihat pesan. Ia kembali menutup layar itu. Dan baru satu langkah ponsel itu kembali berbunyi.
__ADS_1
Ayra kembali berbalik. Saat akan menggapai Benda itu, Arumi spontan mengucapkan sesuatu yang membuat Ayra penasaran.
"Mama lihatlah seperti apa anak yang Mana banggakan itu. Yang tadi dia bilang dia mencintai ku. Lihat perempuan yang hampir setiap malam mengirimkan pesan padanya. Bahkan ketika perempuan itu menelpon dan mengajaknya keluar. Ammar akan cepat pergi tak hiraukan hujan atau malam." Ucap Arumi tanpa menoleh kearah Ayra.