Pesona The Twins

Pesona The Twins
131 Pesona The Twins


__ADS_3

Saat pagi hari, setelah shalat Shubuh. Masih di atas sajadah. Sepasang suami istri sengaja shalat di dalam kamar mereka. Karena Gede memang ingin menikmati waktu berdua mereka. Rasa rindu karena beberapa hari tak bertemu, tubuh Gede yang sedikit kurang sehat membuat ia memilih jama'ah di kamar mereka.


"Dek... " ucap Gede kala istrinya baru akan beranjak. Ia berniat ke dapur membuatkan kopi untuk sang suami.


Ia pun kembali duduk dan tetap membiarkan mukenahnya masih melekat di tubuhnya.


"Ada apa Mas? Semalam kenapa tidur di sofa?" Tanya Qiya.


Gede mendekati Qiya. Ia duduk tepat di hadapan sang istri. Ia meraih tangan istrinya. Ia k3cuuup ujung jari tangan sang istri.


"Kamu tahu, semalam mencari informasi tentang penyakit Hilman. Mas sebenarnya ingin menghubungi Gus Imam. Tapi katamu kurang sopan kalau seperti itu. Nanti selesai seminar Mas akan menemui Gus Imam. Tapi pagi ini mas sudah buat keputusan. Mas akan memeriksakan kondisi mas. Dan kecocokan tulang sumsum Mas untuk Hilman. Jika cocok, mas akan meminta saran Gus Imam dan mencari cara menjelaskan ke Ibu. Karena hal ini pasti kembali akan menyakiti Ibu." Ucap Gede.


Qiya memegang kedua pipi suaminya dengan telapak tangannya yang terasa dingin.


"Alhamdulillah... Mas memaafkan Pak Rendra?" Ucap Qiya yang menatap wajah suaminya dengan berbinar.


"Hhhhh... memang susah menerapkannya. Apalagi memaafkan dengan tidak mengingat apa yang dia torehkan.... Tapi semalam mas merenung sambil mendengarkan dawuh Gus Baha. Dimana ada sebuah riwayat dan dari kisah Ahmad Bin Hanbal." Ucap Gede.


Qiya merebahkan kepalanya di paha sang suami. Ia menatap wajah tampan sang suami dari arah dagu sang sang suami.


Usapan lembut Gede berikan di kepala sang istri yang terbungkus mukenah.


"Coba cerita. Qiya lupa Kisah itu." Ucap Qiya.


"Jadi Ahmad Bin Hanbal pernah mendapatkan riwayat dari Rasulullah. Dimana Allah nanti ketika di Padang Mahsyar akan membuat pengumuman Dek. Dimana pengumuman itu berisi 'Berdirilah orang yang suka memaafkan umatku!, kemudian yang berani berdiri adalah mereka yang memaafkan saudara sesama muslim. Mas ingin menjadi salah satu yang berdiri nanti kala pengumuman itu di umumkan." ucap Gede.


Kedua mata Qiya berair. Ia tak menyangka sang suami bisa menerima masukannya dan terlebih lagi hanya dengan mendengarkan ceramah vya online dari seorang ulama yang memang direkomendasikan oleh Gus Imam.


"Masyaallah... Alhamdulillah. Allah memberikan kelembutan hati mas. Sehingga mas amat mudah tersentuh dan bisa mengambil setiap hikmah di setiap apa yang mas dengar. Beruntung kita yang bisa memanfaatkan media dan kemudahan mencari informasi untuk hal-hal positif terlebih lagi untuk terus mencari ilmu." Ucap Qiya.


Gede mendaratkan satu kecuuupan di dahi istrinya.


"Bukan cuma Ulama. Tapi juga dukungan pasangan yang terus bisa diajak untuk beribadah dimuka bumi ini. Nanti sore mas akan kerumah sakit. Mas jemput kamu, sekalian kita ke Obgyn ya?" tanya Gede.


"Terus untuk mencocokkan nya?" Tanya Qiya.

__ADS_1


"Nanti mas minta dokter itu menghubungi pihak dokter yang menangani Hilman. Nanti bantu bicara sama ibu jika cocok. Jika tidak cocok. Mas akan menemui Ibu Hilman dan membawa hasil pemeriksaannya. Mas manut Gusti Allah hasilnya apa." ucap Gede.


Qiya mengarahkan tangan Gede ke perutnya yang masih datar.


"Mas tahu, setiap hari aku selalu membaca shalawat Fatih. Entah kenapa aku begitu suka dengan shalawat itu. Karena aku berharap anak keturunan kita memiliki hati yang lembut... " ucap Qiya.


Gede mengusap perut istrinya.


"Besok, jadilah umatnya Rasulullah yang berjuang dijalan Allah dengan kelembutan Nak. Karena ibu mu ini hatinya sangat lembut. Semoga anak-anak dari ibumu ini bisa berhati lembut seperti ibunya. Aamiin..." Doa Gede sambil mengusap perut istrinya.


"Aamiin." Ucap Qiya.


Hari itu sepasang suami istri itu sedang menerapkan welas, asih kepada sesama umat muslim. Sedang menerapkan apa yang harus dijaga. Gede masih berusaha menjaga hati ibunya saat ia ingin menong Hilman. Ia juga belajar dari saran sang istri. Ia sadar, mungkin Allah memberikannya cobaan untuk mengujinya. Apakah ia akan menuruti Egonya. Atau mencari apa makna dan hikmah dari kejadian sakitnya Hilman dan butuh pendonor tulang sumsum belakang.


Sore hari Gede pergi kerumah sakit. Ia lebih dulu mengantar ke dokter Obgyn. Mereka melihat dari layar USG bahwa anak yang di kandung Qiya baik-baik saja. Perkembangan janinnya sehat. Setelah mereka dari Obgyn. Sepasang suami istri itu pun pergi ke dokter spesialis penyakit dalam yang sudah Gede cari juga buat janji sore itu.


Ternyata proses pengecekan sampelnya pun tak mudah. Gede harus melakukan tes darah lengkap hingga pemeriksaan DNA.


"Baik. Nanti tunggu dua hari lagi ya Dok. Anda kemari lagi. Saya akan kabari juga sekaligus dengan cocok tidaknya dengan pasien yang ada maksud." ucap Dokter spesialis penyakit dalam itu.


"Baik. Saya akan bekerja profesional. Ditunggu kabarnya." ucap Dokter tersebut.


Gede dan Qiya pun pulang. Mereka akan kembali lagi setelah mendapatkan kabar dari dokter spesialis penyakit dalam tersebut.


Disaat Gede dan Qiya fokus untuk mencari tahu apakah ada kecocokan untuk tranplantasi tulang sumsum belakang Gede. Ammar justru sedang membujuk istrinya.


"Sayang, Papa telepon aku tadi sore. Ia mengundang kita untuk menginap di rumahnya. Kita sudah hampir satu tahun menikah Lo. Tapi kita tidak pernah berkunjung ke rumah Papa. Aku tidak mau dianggap tidak adil." ucap Ammar sambil merapikan rambut sang istri.


"......"


Ammar menyentuh hidung Istrinya dengan hidungnya.


"Dia ngelamun.... Ayolah sayang.... sampai kapan mau menjaga jarak sama Papa. Kamu anaknya loh. Surgamu memang ada pada ku, ridho ku. Tapi bukan berarti lantas kamu lupa berbakti pada Papa mu." Ucap Ammar.


"Aku tidak pernah berkata kasar pada Papa." Ucap Arumi cuek. Ia malah menelusupkan kedua tangannya ke pinggang sang suami.

__ADS_1


"Ini... ini yang repot." Ucap Ammar.


Ia menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menghadap wajah sang istri.


"Kamu tahu kenapa kita harus belajar agama lewat Ulama atau guru. Kita ga bisa cuma belajar langsung lewat Qur'an dan hadist. Butuh bimbingan Guru. Itu kenapa di pesantren-pesantren ada banyak kitab. Termasuk nih cara berpikir kamu. Di Al-Qur'an memang konteksnya tidak boleh berkata 'Ah' pada orang tua. Tapi kalau kita belajar dari Ulama. Penjabaran birul walidain itu ada banyak. Termasuk kita berkunjung kerumah mereka, memberi hadiah mereka." Ucap Ammar mengusap rambut Arumi.


"Papa sudah kaya. Dia tidak butuh hadiah." Ucap Arumi lagi.


"Dia butuh perhatian Ar.... beliau mengeluh padaku beberapa hari ini. Beliau rindu kamu. Beliau tahu kamu bukan Mayang tapi beliau ingin kita tinggal disana. Jika tidak bisa minimal kita menginap disana." Ucap Ammar.


Namun Arumi memejamkan matanya. Ia memilih pura-pura tidur. Ia paling malas jika sudah membahas masalah Pak Subroto. Rasa sakit hatinya masih sama.


"Arumi sayang... aku tahu kamu belum tidur..." ucap Ammar.


Satu tangan Ammar masuk kedalam Baju Arumi. Istrinya cepat membuka matanya.


"Kita baru saja selesai mandi Mas...." Ucap Arumi manja.


"Hehe... Besok kita menginap ke rumah papa. Mumpung ada Qiya di sini. ya?" pinta Ammar.


"Hhh baik satu malam saja."


"Tiga malam." Pinta Ammar.


"Satu malam." Tolak Arumi.


"Tiga malam, atau mas bicara sama Mama. Kamu sedang ada masalah sama Papa." Ancam Ammar yang tahu kelemahan istrinya jika sudah susah di beri nasihat.


"Mas... aib istri sendiri mau di umbar." keluh Arumi.


"Kamu itu pawangnya Mama kalau urusan kayak begini... Deal tiga malam?"


"Ya sudah deal..... deal...." ucap Arumi sambil menyentuh hidung Ammar dengan hidung mancungnya.


Seperti itulah Arumi. Ia tak mampu jika harus berhadapan dengan ibu mertua yang amat mencintai dirinya. Ada rasa segan dan malu jika sang ibu tahu bahwa ia yang begitu menyayangi Ayra dan patuh juga taat pada sang mertua justru malah abai pada sang ayah kandung.

__ADS_1


__ADS_2