Pesona The Twins

Pesona The Twins
148 Kabar Duka


__ADS_3

Sebuah rumah tampak ramai. Karangan bunga juga begitu banyak di depan rumah Pak Rendra. Mobil-mobil mewah pun terparkir tak jauh dari tenda Pak Rendra. Sebuah sirine ambulan menandakan jenazah telah tiba di rumah duka.


Semua pelayat berdiri menyambut kedatangan jenazah pemilik rumah tersebut.


Tampak Bram dan Ayra juga keluar dari dalam salah satu mobil hitam. Mereka juga datang bersama jenazah yang berangkat dari Australia. Saat jenazah itu sudah di dibawa ke dalam rumah, istri Pak Rendra itu berlari memeluk seorang perempuan. Padahal ia ingin bersimpuh di hadapan Ibu Gede Ardhana. Namun mantan istri Pak Rendra itu lebih dulu menahan pundak Ibu Hilman. Sehingga ia memeluk perempuan yang memiliki satu nama dengan dirinya.


"Hiks... Maafkan Mas Rendra Mbak Ratih... maafkan mas Rendra. Mas Rendra berencana untuk pulang ke Indonesia. Dia ingin menemui kamu dan Gede. Tapi Hiks...." Bibir istri almarhum Rendra itu tak mampu lagi berucap.


Ia begitu syok. Walau bibir berkali-kali mengucapkan kata cerai dan permohonan untuk di ceraikan, namun hati perempuan itu hancur saat dokter menyatakan bahwa sang suami sudah tiada. Rasa cinta itu hadir saat teman hidup telah tiada. Rasa cinta yang kemarin sempat hilang karena rasa marah, rasa kecewa.


"Yang sabar Bu.. Kita tidak bisa menolak takdir. Rezeki, maut sudah ada takdirnya." Ucap Mantan istri Pak Rendra tersebut.


Sakit hati pada sang mantan suami. Namun saat terdengar kabar bahwa lelaki itu meninggal dunia disaat dua orang yang ia cintai berada dalam kondisi tak sadarkan diri, tentu menimbulkan rasa empati dan simpati di hati Gede dan Ibunya.


Flashback On.


"Ratih... Sore nanti, aku akan pulang ke Indonesia. Setelah urusan di sana selesai. Aku akan segera kemari. Aku harus menemui Gede dan Ibunya. Aku ingin meminta maaf. Entah kenapa, aku hanya khawatir jikalau umur ku tak lama. Jikalau panggilan untuk ku tiba disaat urusan ku dengan sesama manusia belum selesai. Apakah mereka akan memaafkan ku atau tidak. Aku akan berusaha. Dan sebelum aku kesana. Mohon maafkan aku, selama ini aku belum menjadi suami mu yang baik. Ayah yang baik bagi Hilman." Ucap Pak Rendra pada sang istri.


Pak Rendra pun mengatakan ia ingin istirahat. Karena ia harus fit sebelum terbang ke Indonesia. Bu Ratih bergegas ke kamarnya. Ia menyiapkan baju ganti untuk di bawa kerumah sakit. Seperti biasanya ia akan menginap di rumah sakit. Hilman baru saja menjalani operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Pak Toha menjadi pendonor bagi Hilman. Ayah Pak Rendra masih koma. Ia belum sadar. Karena memang fisiknya yang tak memungkinkan. Tetapi ia tetap memaksa menjadi pendonor.


Bu Ratih hanya membisu. Ia pura-pura tak mendengar. Sang suami bahkan tak ia masakan apapun. Ia bahkan tidak tidur satu kamar semenjak ia tahu bahwa Pak Rendra pernah menikah sebelumnya. Pak Rendra pun bersiap untuk istirahat. Namun saat malam larut. Dadanya terasa sakit. Tiba-tiba ia kesulitan untuk menghirup oksigen. Ia mencoba bangun dan bersandar di head board tempat tidurnya.

__ADS_1


Satu tangannya memegang dada bagian kirinya. Bahkan keringat dingin mengalir begitu deras. Ia merintih pelan. Ia berusaha menahan rasa sakitnya. Lelaki itu mencoba mengambil segelas air di sebelah tempat tidurnya. Namun rasa sakit di dada dan uku hatinya makin menjadi. Dadanya terasa panas. Namun tubuhnya terasa dingin. Ia berjalan ke arah kamar sang istri. Ia ketuk pintu kamar sang istri.


"Tok.Tok.Tok."


"Ratih.... Ratih....Hhhhh....hah...." Ucap Pak Rendra seraya mengetuk pintu dengan satu tangannya menahan dadanya. Dahinya pun ia sandarkan pada pintu kamar sang istri. Kembali ia memanggil istrinya.


"Ratih... Rat..." Ucap Pak Rendra.


Perempuan yang di dalam kamar diam saja. Ia tak menjawab panggilan suaminya. Rasa benci, kesal telah menyeruak didalam hatinya. Ia sudah di kuasai oleh bisikan setan untuk mengabaikan panggilan suaminya. Untuk mengikuti rasa amarahnya.


"Hhhh... Menjengkelkan. Terserah kamu. Mau pergi tinggal pergi. Tidak usah pamit. Aku sudah jengkel!" Ucap Bu Ratih sambil duduk di atas tempat tidur. Ia mengurungkan niat untuk pergi kerumah sakit. Ia akan menunggu Pak Rendra lebih dulu ke bandara.


"Mas... Mas.. Kamu kenapa?" Tanya Bu Ratih.


Ia membalikkan tubuh suaminya. Namun Pak Rendra tak menjawab. Kemeja yang dikenakan pun terasa basah oleh keringat. Namun saat satu jari ditempelkan Bu Ratih di hidung sang suami. Perempuan itu terdiam, ia menatap wajah sang suami. Buku kuduk nya seketika berdiri.


"Ya Allah.... Mas... Mas... Bangun Mas...Bangun...!" Teriak Bu Ratih memanggil sang suami.


Setelah tim medis datang. Pemeriksaan dilakukan di rumah sakit. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa Pak Rendra telah tiada.


"Innalilahi wa innalilahi rojiun." Ucap Adik Pak Rendra.

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati. Bu Ratih pulang ke Indonesia. Sedangkan sang adik ipar tetap di Australia menemani Pak Toha dan juga Hilman. Ayra dan Bram yang mendengar kabar duka tak menyangka jika kabar duka itu datang dari Pak Rendra. Saat Keluarga Bram masih menanti kabar baik dari Arumi yang menunjukkan perkembangan pesat. Ammar duduk diantara Bram dan Ayra.


Ia menggenggam kedua tangan Bram dan Ayra.


"Ma, Pa. Temani Bu Ratih ke Indonesia. Arumi juga sudah melewati masa kritisnya." Ucap Ammar dengan wajah yang menunduk. Sulung Ayra itu menatap lantai marmer dirumah sakit tersebut.


Bram menautkan kedua alisnya.


"Ada apa Am? Kita bukan siapa-siapa Pak Rendra. Kalau untuk perkara itu. Papa sudah memaafkan almarhum. Karena papa pun sadar. Papa tak mungkin tak punya salah dengan orang lain." Ucap Bram pada sang anak.


Ammar menoleh ke arah Ayra dan Bram secara bergantian.


"Lalu bagaimana jika yang meninggal ayah Gede? Apakah papa tak hadir di hari duka keluarga tersebut?" Ucap Ammar.


Seketika Ayra merasa penasaran.


"Apa maksud mu Nak? Bagaiamana bisa berandai-andai tentang hal yang tak mungkin." Ucap Ayra sedikit protes dari nada bicaranya. Ia orang yang paling tidak suka berandai-andai.


"Ma..." Ucap Ammar menahan napasnya. Ia mengumpulkan semua keberaniannya.


Sehingga ia menceritakan bahwa ia mendengar sendiri bahwa Gede adalah anak kandung Pak Rendra.

__ADS_1


__ADS_2