Pesona The Twins

Pesona The Twins
166 THE END


__ADS_3

Setelah memastikan Ayra duduk nyaman di kursinya dan ditemani Arumi yang akan menemani ibunya hingga terlelah dengan shalawat-shalawat yang dibaca sang ibu hingga mengantarkannya untuk tertidur.


Ammar berdiri di luar kamar Ayra, ia menghapus air matanya.


“Nenek masih menanyakan kakek?” Tanya Zia yang dari tadi menunggu di depan pintu. Ammar duduk do kursinya dan memegang Pundak putrinya.


Ammar mengangguk dan tersenyum.


“Sampai kapan kita akan berpura-pura Pa?” Tanya Zia.


“Dulu…” Ucapan Ammar tertahan.


Dadanya sesak sekali. Ia menitikkan air matanya dihadapan sang putri. Bahkan tangan mulus Zia mengusap pipi Ammar. Pipi yang mengeluarkan air mata mengingat masa kecilnya yang ia lihat di video rekaman.


“Mama… Itu apa?”


“Itu adalah Burung perkutut.” Jawab Ayra.


“Ma… itu apa?”


“Itu burung perkutut Ammar sayang.”


Tak berapa lama, Kembali Ammar bertanya.


“Mama….mama…. itu apa?”


“Burung perkutut nak.”


Entah berapa belas kali Ammar bertanya dengan pertanyaan yang sama. Namun ibunya, Ayra Khairunnisa menjawab belasan kali pertanyaan itu dengan nada yang tak berubah. Dengan mimic wajah yang lemah lembut. Ia masih menjawab pertanyaan putranya dengan sabar. Bahkan di video itu Ammar bisa mendengar ucapan Ayra.

__ADS_1


“Ammar sayang, besok. Kalau mama sudah tua. Jawablah pertanyaan mama dengan sabar jika mama berulang kali bertanya hal yang sama ya nak….”


Dan ini itu terjadi. Hampir setiap pagi, siang malam dan sudah berjalan tiga tahu. Ayra sellau menanyakan kapan Bram pulang. Ammar dan Arumi juga seluruh anak dan cucu Ayra diminta dokter untuk tak membebani pikiran sang ibu. MEreka diminta untuk mengikuti pola pikir lansia yang masih menganggap suaminya masih hidup.


Sore itu Ammar seperti biasa akan membawa Ayra ke sebuah makam dan Kembali Kedua netra Ayra menitikkan air mata. Saat matanya memotret batu nisan yang bertuliskan nama lelaki yang tiga tahun ini selalu ia tanyakan kapan pulang.


“Mas…. Mas Bram….. Innalilahi wa Inna Ilaihi Raji'un….” Dan Ayra menangis di pemakaman itu. Ia begitu kehilangan. Tetapi ketika tiba di rumah lagi, ia Kembali bertanya kapan sang suami pulang.


“Kapan Papa pulang Am, Ar? Atau kita susul saja. Mama sudah rindu sekali…” Ucap Ayra yang menghubungi nomor ponsel Bram namun nomor tersebut tidak aktif.


Arumi tak kuat menahan air matanya. Ia peluk ibu mertuanya, ia menangis dalam pelukan sang ibu mertua.


“Hiks…Hiks… Papa masih belum bisa di ganggu ma… Nanti akan ada waktu untuk Mama dan Papa bertemu. Sekarang kita makan dulu ya.” Ucap Arumi.


Namun Ibu tiga anak itu menolak.


“Nanti saja, 15 menit lagi masuk waktu maghrib, bantu mama untuk wudhu.” Ucap Ayra pelan.


Saat malam hari, Ammar dan Arumi tampak beristirahat.


“Sungguh aku iri sama Mama… “ Ucap Arumi sudah dengan cairan yang penuh di hidungnya.


“Mama tak mengingat bahkan rasa lapar dan haus, tetapi ia akan begitu khawatir jika belum siap di atas sajadah saat waktu shalat masuk, Sungguh indahnya dunia tak membuat mama di usia senjanya melupakan tujuannya di dunia yaitu untuk beribadah kepada Allah dan menjadi istri yang sholehah… Bimbing aku agar bisa memiliki pesona seperti Mama, Mas…. Hiks….” Ucap Arumi seraya sesenggukan menangis dalam pelukan Ammar.


Pesona The Twins, sebuah kalimat yang bisa mewakili pesona Ammar dan Qiya. Karena di tempat yang lain. Putri Ayra yang Bernama Shidqia Nafisah baru pulang dari rumah sakti karena ada jadwal operasi,ditengah malamnya. Ia melihat ke kamar Bu Ratih. Gede yang sedang berada di Belanda untuk menghadiri seminar. Ia tidur dikamar ibu mertuanya yang juga lansia. Bu Ratih, yang terkena struk, maka untuk Buang air butuh bantuan orang lain. Qiya yang baru pulang, ia tak membangunkan care give yang ia kontrak untuk membantu menjaga dan merawat ibu mertua. Ia lebih memilih mengganti sendiri pampers ibunya yang telah penuh.


“Maaf ya Ma… Qiya angkat ya badannya. Satu, dua, tiga.” Ucap Qiya seraya menarik tubuh Ibu Ratih ke atas dan memasangkan pampers itu. Saat selesai, ia pun menemani sang ibu hingga Kembali tertidur.


Qiya memijat lehernya. Ia tatap ibu mertuanya.

__ADS_1


“Terimakasih ya Allah… engkau berikan aku ladang pahala lewat Ibu Mertua ku… TErimakasih karena diberikan kesempatan merawat Ibu… “ Ucap Qiya seraya menatap foto yang dikirimkan oleh Arumi foto sang ibu yang tadi sore ke makam Bram.


{Mama, seperti biasa. Baru saja sampai rumah Kembali bertanya Papa Qiy. Semoga kita bisa memiliki pesona seperti Mama. Cintanya pada sang suami dengan tetap berusaha menjaga dirinya, ibadahnya agar sang suami tak diberatkan kelak di hari akhir nanti karena istrinya.}


Qiya pun memejamkan matanya. Ia mengingat jelas nasihat Mamanya saat ia ingin merawat Ayra.


“Mama disini saja, Sama Ammar, sama Arumi. Ladang pahala kamu bukan hanya Mama. Mertua mu adalah sama dengan Mama. Jadi rawat betul Bu Ratih. Agar kelak, mama dan Papa ada kebanggaan di hari akhir nanti. Kami punya putri yang sholehah. Karena kamu menjadi istri yang sholehah bagi Gede dan tetap berbakti pada Bu Ratih dengan segala kondisinya.”


Sungguh, Ammar dan Qiya tak akan memiliki Pesona yang memancar hingga membahagiakan pasangan dan orang tua. Jika Ayra bukan perempuan terdidik, bukan perempuan yang memiliki high value, jika Ayra tak begitu bersungguh-sungguh untuk mendidik putra putrinya menjadi seperti apa yang Allah inginkan. Yang dicontohkan Nabi Muhammad lewat kisah para sahabat mau anak keturunan Beliau. Maka Pesona seorang ibu mampu memberikan pesona yang sama untuk anak-anaknya. Kamu? Aku? Kita semua bisa memiliki pesona. Bukan hanya Ayra Khairunnisa dan The Twins. Melainkan Kita, para istri, para ibu yang terus berjuang untuk menjalankan peran kita sebaik mungkin dengan selalu melibatkan Allah dalam semua kondisi. Serta jangan Lelah untuk terus belajar serta bertaubat. Jangan kan kalian, sebutir debu pun setiap hari masih berbuat maksiat dan dosa. Tapi jangan ragu, Allah maha Pengampun bagi hambanya yang bersungguh-sungguh.


THE END


Puji syukur kehadirat Allah subḥānahu wataʿālā,  Allahumma shalli wa sallim wa barik 'ala sayyidina Muhammadinil Fatihi lima ughliqa, wal khatimi lima sabaqa, wan nashiril haqqa bil haqqi, wal hadi ila shiratin mustaqim. Shallallahu 'alayhi, wa 'ala ālihi, wa ashhabihi haqqa qadrihi wa miqdarihil 'azhim.


Sungguh tanpa kelembutan hati yang Allah berikan kepada Author selama menulis novel ini, mungkin rasa yang author rasakan tak akan sampai pada para readers. Bersyukurlah kita ketika mata masih bisa menangis karena membaca sebuah kisah. Hati masih bergetar kala ingat dosa-dosa kita. Karena itu tandanya, hati kita masih diberikan kelembutan untuk menerima hidayah.


Tanpa nikmat, Kesehatan,waktu, ilmu, bimbingan guru dan ridho suami. Mungkin karya ini tak akan bisa di selesaikan ataupun di tulis. Maka dari itu Sebutir Debu mengucapkan kepada Umi dan Abi “M” yang betul-betul menjadi sosok imajinasi ulama yang mengajarkan author bagaimana menjadi umatnya Rasulullah di akhir zaman ini. Semoga beliau senantiasa diberikan Kesehatan, kemudahan dalam berdakwah untuk membimbing umat Rasulullah yang kadang begitu sering khilaf seperti sebutir Debu.


Kepada para Pembaca setia yang selalu memberikan note-note di setiap paragraf yang terdapat typo, aku ucapkan terimakasih. Sungguh kesempurnaan hanya milik Allah. Maka jika memang ada yang kurang pantas atau salah penyampaian dari novel ini. Hendaknya pembaca memberikan saran dan kritik yang membangun. Jika kita memulai sesuatu maka kita pun akan mengakhirinya.


Adapun banyak pesan yang masuk ke author bertanya apakah novel Ayra dicetak? Silahkan tanyakan kepada QnA. Atau editor. Karena Auhtor tidak boleh mencetak novel ini tanpa persetujuan Noveltoon.


Semoga yang membaca dan menulis novel ini, bisa terus berbenah sehingga mendapatkan syafaat baginda Rasullullah. Aamiin.


Peluk sayang dari Sebutir Debu untuk semua istri yang sedang merasa Lelah, merasa insecure, merasa sendiri, merasa tak ada arti… kamu tidak sendiri… Pasrahkan pada Allah tentang semua rasa di hati… Bahagiakan diri kita tanpa melanggar syariat agar pesona kita mampu membuat Bahagia anak dan suami kita.


#SebutirDebu930


SEMANGKA Semangat Karena Allah

__ADS_1


(Buat yang japri minta vibesnya Ibrahim dan Nur. Nanti aku coba pikirkan konsepnya ya. Sama buat yang kemarin minta versi sudut pandang laki-lakinya. Nanti aku coba komunikasikan sama suami dulu nih. Insyaallah apa yang kalian request dipermudah sama Allah kasih ide aku untuk menuangkan nya dalam sebuah novel dengan gaya aku cara nulisnya. Dan dengan segala kekurangan ilmu aku dalam dunia literasi. Ditunggu ya. Aku mau endingin Abi Rohim dan 2 novel lainnya yang sudah hilang kemana feelnya. Plus satu novel spesial menyambut Ramadhan. Semoga kita masih berjumpa di Bulan Ramadhan nanti. Aamiin)


__ADS_2