
Ammar tiba di kediamannya menggunakan taksi online. Saat tiba dirumah Ia mencari keberadaan perempuan yang telah melahirkannya.
"Mama dimana Mbok?" Tanya Ammar pada asisten rumah tangga.
"Ada di kamar den Ibra Mas." Ucap asisten rumah tangga itu.
Ammar pun menuju kamar adik bungsunya. Ia khawatir Mama nya akan menitikkan air mata di kamar itu. Ia setengah berlari ketika menaiki anak tangga. Kamar Ibrahim berada di sebelah kamar Ammar. Ammar langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Mendengar suara perempuan muntah di kamar mandi, Ammar cepat berlari ke arah kamar mandi.
"Ma...." Ucapan Ammar tak jadi ia lanjutkan. Sosok perempuan berambut panjang sedang muntah di temani Ayra yang memijat tengkuk perempuan itu. Ayra cepat menutup pintu kamar itu karena melihat kehadiran Putra sulungnya.
Ia mendorong Ammar, dan ikut keluar.
"Siapa perempuan itu Ma? Dan-" Belum sempat sulung Ayra itu bertanya, Ayra cepat meminta sang anak memanggil Qiya di kamarnya.
"Kamu panggil Qiya di kamar. Coba lihat kalau dia tidak istirahat cepat suruh kemari. Tapi kalau dia istirahat telpon dokter Hanifah untuk kerumah." Ucap Ayra dan kembali masuk kedalam kamar mandi itu.
Suara perempuan itu masih terdengar muntah-muntah. Ammar pun bergegas ke kamar adiknya. Masih menyimpan rasa penasaran siapa perempuan itu dan kenapa ia ada dikamar adiknya. Karena dirumah itu ada banyak kamar tamu jika ada orang yang menginap. Tiba di depan kamar adiknya ia mengetuk pintu kamar.
"Qiy.... Kakak boleh masuk?" Panggil Ammar.
"Masuk kak. Tidak di kunci." Ucap Qiya.
Perempuan itu tampak menyimpan sebuah buku yang bisa ia jadikan catatan perjalanan hidupnya dan isi hatinya. Ia simpan di bawah meja. Dimana terdapat laci kecil yang ia beli secara online dan bisa tergantung di bagian bawah meja atau lemari.
Ammar malah heran menatap wajah adiknya dan juga bibir yang terlihat sedikit kering.
"Apakah sebegitu gersang wahana tempat kamu internship sampai penampilan adik ku seperti orang sakit?" Tanya Ammar penasaran.
Qiya pun cepat menguncir rambutnya. Dan menoleh ke arah sang kakak.
__ADS_1
"Aku sedang tidak sehat Kak. Kakak baru tiba? Tak membawa oleh-oleh coklat?" Tanya Qiya karena melihat kakaknya itu tak membawa apapun ketika masuk ke kamarnya. Ia menjulurkan tangan kanannya.
Ammar pun melakukan hal yang sama. Adik perempuannya itu mencium punggung tangan sang kakak.
"Kakak tidak sempat membeli apapun. Mama mendadak meminta kakak pulang. Oya. Mama memanggil mu. Tapi tunggu, apa perempuan di kamar Ibra adalah teman mu?" Tanya Ammar menahan tangan adiknya.
Qiya menaikan kedua alisnya. Ia pun penasaran. Ia sengaja menguji kakaknya yang suka meledak emosinya ketika ada yang menyakiti keluarganya.
"Apa yang akan kakak lakukan jika perempuan itu salah satu orang yang dicintai papa selain aku dan Mama?" Tanya Qiya dengan memasang wajah sedih juga seolah-olah kecewa.
Ammar menatap lekat adiknya.
"Jangan bercanda Qiya. Aku sedang tidak dalam kondisi sehat juga." Ucap Ammar menahan gerahamnya.
"Aku tidak bercanda."
Satu kode yang diberikan oleh Qiya. Ammar yang Melihat kode itu pun menatap adiknya tak percaya. Qiya tak pernah berbohong ketika ia sudah membengkokkan jari telunjuk. Satu kode dirinya dan Ammar sedari kecil untuk tahu bohong atau tidak.
"Astaghfirullah... Mama minta kamu memanggil Qiya. Kalian malah berdebat. Qiy... Bisa cek kondisi Nur nak. Dia muntah terus dari tadi. Mama kasihan." Ucap Ayra pada Qiya.
Ammar melebarkan kedua pupil matanya.
"Nur... Siapa Nur itu Ma? Kenapa dia di kamar Ibra. Dan kalau dia hamil. Dia hamil anak siapa?" Tanya Ammar.
"Simpan pertanyaan mu nanti ya Nak. Sekarang biar Qiya bantu Mama dulu." Ucap Ayra sambil menoleh ke arah Qiya.
Qiya pun meraih Stetoskop miliknya yang ia gantungkan di atas meja kerjanya. Ia mengikuti Ayra ke kamar Ibrahim. Ammar pun mengikuti kedua perempuan itu. Tiba di depan ruangan itu. Qiya berbalik tepat di depan pintu masuk.
"Kepada kakak ku yang keren. Tunggulah dulu di luar kamar. Dia tidak boleh kamu lihat dulu. Aku akan memeriksa nya. Nanti setelah itu kami baru bisa berkenalan dengan perempuan itu " Ucap Qiya sambil tersenyum dan menghilang dari balik pintu itu.
__ADS_1
Ammar pun mengerutkan dahinya. Ia mencerna ucapan adiknya.
"Jika aku tak boleh melihat perempuan itu di periksa. Maka berarti dia bukan istri Papa. Lalu.... Apa dia istri Ibrahim... " Ucap Ammar pelan.
sedangkan didalam kamar. Nur sudah berbaring di atas tempat tidur namun masih mencoba mengolesi minya Angin ke beberapa tubuhnya.
"Aku periksa dulu ya." Ucap Qiya sambil memeriksa denyut nadi adiknya. Juga bagian dada sang adik.
Ia pun yakin jika istri adiknya tak apa-apa.
"Biasanya memang begitu sih ma untuk tri semester pertama. Atau ada pemicu yang buat Nur tak nyaman dan memancing rasa mual." Ucap Qiya.
Ayra pun kembali mengingat masa kehamilannya. Qiya seolah teringat ketika hamil bayi kembarnya. Ia tak bisa mencium aroma AC di ruangan ataupun di mobil. Maka Ayra pun mematikan pendingin diruangan itu dan membuka jendela dan gorden di kamar itu. Sehingga udara dari luar masuk.
"Bagaimana Nur?" Tanya Ayra setelah melakukan hal itu.
Terlihat Nur menarik napas dalam. Lalu ia hembuskan perlahan.
"Sepertinya lebih baik Ma." Ucap Nur pelan.
Ayra menghela napas pelan. Ia meminta Nur mengenakan jilbabnya. Ia akan memperkenalkan Ammar pada menantu nya. Setelah Nur mengenakan Jilbab. Qiya pun Keluar kamar dan memanggil Ammar. Namun saat ia keluar dari kamar. Hubungan kakak adik yang begitu hangat sedari kecil, Ammar menarik adiknya lalu ia masukan Kapala adiknya kedalam lilitan lengannya.
"Kamu.... masih belum pintar untuk urusan mengelabui orang. Sekarang mau minta maaf tidak... Atau tidak akan aku lepaskan." Ucap Ammar sambil seolah-olah menc3kik adiknya melalui lengan dan dekapannya.
"Sakit Kak...." Ucap Qiya sambil berusaha melepaskan lilitan tangan Ammar.
Bram yang mendengar anak laki-lakinya telah tiba,ia pun mencari keberadaan Ammar. Dan saat ia sedang menggangu adiknya. Bram dari arah belakang Ammar melangkah pelan-pelan sehingga ia dengan cepat menarik lengan putranya dan membuat putrinya terbebas dari kejahilan sang kakak.
"Aaaaarrrrggfhhh.... " Suara Ammar menahan rasa sakit di pinggangnya karena sang ayah menarik lengan anaknya kebelakang dan membuat urat pinggang nya terasa perih dan sakit.
__ADS_1
Kemeja putih putranya pun terlihat noda d@rah yang berasal dari luka jahit pada pinggangnya. Ayra yang baru keluar dari kamar. Ia melihat dari sisi kanan Ammar. Hati Ayra langsung merasa khawatir melihat d@rah itu dari sisi kanan putra dan suaminya.
"Maaasss... Kamu apakan Ammar hingga berd@rah begitu." Ucap Ayra sambil mempercepat langkahnya ke arah suami dan anaknya.