
"Bukan karena Mas Hilman mantan tunangan ku Mas. Tapi lebih ke karena Mas Hilman adalah saudara kandung mu." Ucap Qiya pelan.
Gede memegang dagu istrinya. Ia angkat dagu itu hingga wajah cantik Qiya bisa terlihat jelas. Ia mendaratkan sebuah k3cupan di dahi istrinya. Qiya memejamkan kedua netranya.
"Mas tidak marah. Mas tahu kamu istri Sholehah... Memangnya sakit apa Hilman?" Tanya Gede.
"Kabarnya sakit Leukemia Mas." Ucap Qiya yang membuka matanya.
Qiya melihat jika dahi suaminya sedikit berkerut.
"Hhhh... Sekarang mas tahu apa maksud Pak Rendra menghubungi Mas. Jelas Hilman butuh sesuatu dari Mas. Jika tidak mana mungkin dia mau menghubungi mas. Dia jelas baru mengakui jika Mas Anaknya." Ucap Gede terlihat sedih.
Qiya memegang kedua pipi suaminya.
"Sudah jangan dipikirkan. Jika belum bisa memaafkan minimal jangan merasa sakit hati lagi ya mas. Kasihan Mas Hilman dan Pak Rendra." Ucap Qiya.
Suami istri itu saling pandang. Gede menatap kedua bola mata istrinya.
"Jika mereka memaksa untuk bertemu. Mas ingin kamu mendampingi mas. Mas merasa Pak Rendra ingin menemui mas karena perihal Hilman. Jangan cerita sama ibu ya Dek masalah ini. Kasihan ibu kalau harus ingat lagi kisah masalalunya." Ucap Gede.
Qiya mengangguk. Sepasang suami istri itupun keluar dari kamar.
Ibu Ratih begitu bahagia. Ia bisa melihat bagaimana putri Ayra itu melayani anak satu-satunya. Padahal dari wajah sang menantu terlihat sedikit pucat. Qiya memang mengalami mual di pagi hari. Namun vitamin dari dokter obgyn cukup membuat dirinya masih bisa beraktifitas.
"Ini yang masak Ibu Mas..." Ucap Qiya sambil membubuhkan lauk ke piring Gede.
"Kamu jangan harap bisa ke dapur kalau ada Ibu." Ucap Gede.
"Kenapa tidak cari pembantu saja Ge... kasihan Qiya... " Ucap Bu Ratih yang melihat tak ada pekerja rumah.
"Ada Bu, tapi cuma setengah hari. Qiya tidak mau yang full." Ucap Gede.
Obrolan mereka pun terhenti saat mereka sarapan. Gede pun pergi menggunakan travel untuk ke bandara yang jaraknya sekitar dua jam dari tempat kediamannya. Tinggal menantu dan anak ibu mertua itu berdua.
Ibu Ratih betul-betul memanjakan menantunya. Ia bahkan membuatkan rujak untuk Qiya di siang hari. Dua perempuan beda generasi itu tampak seperti ibu dan anak bukan menantu dan ibu mertua. Ibu Ratih menceritakan masa-masa ia hamil.
"Makanya ibu kemari pas Gede bilang mau satu Minggu ke Jakarta. Ibu dulu Qiy... Pas masa hamil muda pengen makan apa-apa itu di tahan. Karena sungkan sama Niang. Kamu jangan sungkan sama ibu. Selama Gede tidak ada, kamu boleh minta makan apa saja." Ucap Bu Ratih sambil mencolek bengkoang dengan sambal khas rujak yang ia buat spesial untuk menantunya.
"Insyaallah tidak Bu... Besok ajarkan Qiya masak ayam betutu ya Bu. Qiya belum mahir masak itu. Mas Gede beberapa kali Qiya lihat. Makannya lahap sekali pakai menu itu." Ucap Qiya yang hidungnya sudah berkeringat karena menahan rasa pedas dari sambal yang dibuatkan ibu mertuanya.
Ia sebenarnya bukan pencinta pedas. Namun karena merasa tak ingin mengecewakan ibu mertuanya, ia tetap menikmati rujak buatan ibu mertuanya walau dengan sesekali terlihat menggeleng kan kepalanya karena rasa pedas dan asam yang berasal dari buah dipadu sambal kacang.
"Gula merahnya enak. Jadi sambalnya enak ya Qiy. Besok Ibu beli banyak buat oleh-oleh." Ucap Bu Ratih yang juga tampak kepedasan.
Cita yang tiba-tiba hadir karena memang dirinya menjemput Qiya. Mereka akan shift malam, namun karena mendengar akan merujuk. Maka ia datang lebih awal. Ia bisa beristirahat dulu di kediaman Qiya.
"Wah... mantep sambal nya Bu... memangnya kalau hamil pasti suka sama rujak ya Bu?" Tanya Cita yang tampak kepedasan tapi tak berhenti-henti mencolek sambal di cobek yang terdapat sambal rujak.
"Ya tergantung. Ini tadi ibu sengaja beli di pasar dekat sini. Seger, Qiya nya ga minta." Ucap Bu Ratih.
__ADS_1
"Alhamdulillah kayaknya dedeknya sama seperti Mas Gede.... Ga terlalu banyak ingin ini itu." Ucap Qiya yang sudah mencuci tangannya.
"Sudah tidak mual lagi Qiy?" Tanya Cita.
"Masih sedikit tapi Cit. Cuma pagi sama tengah malam aja." Ucap Qiya.
Bu Ratih melihat interaksi dua sahabat itu. Ia bersyukur Gede mendapatkan istri seperti Qiya. Karena ia melihat Qiya adalah orang yang mudah bergaul. Bahkan jika dibandingkan dengan Mayang dulu, nyaris tak pernah Ibu Gede itu melihat sang pacar anaknya itu punya sahabat dan juga terhitung tertutup. Bahkan ia dan Mayang tak seakrab Qiya. Padahal ia sering berjumpa dengan Mayang.
Disaat Qiya menikmati kehangatan cinta dan kasih sayang dari ibu mertuanya. Arumi juga merasakan hal yang sama. Ayra yang kurang tidur karena semalam ia menemani Nur. Ia memboyong menantunya ke kediamannya. Ia menemani Nur di malam hari. Karena bayi Ibrahim dan Nur itu tampak masih belum bisa menikmati ASI ibunya. Arumi yang tak keluar kamar dari pagi membuat Ayra mencari menantunya.
"Arumi belum keluar dari kamar Mbok?" Tanya Ayra pada asisten rumah tangganya.
"Belum Bu. Tapi tadi pagi den Ammar membawakan sarapan untuk Mbak Arumi." Ucap asisten rumah tangga.
Ayra menuju kamar Arumi. Ia mengetuk pintu kamar. Namun ia mendengar suara muntah-muntah dari Arumi. Ia pun mendorong pintu kamar Arumi. Betul saja, sang menantu sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya di toilet.
"Astaghfirullah...." Ayra bergegas ke toilet.
Ia memijat leher Arumi. Hingga Arumi merasa sudah lebih enakan. Ia kembali ke kamarnya dan berbaring diatas kasur.
"Kenapa tidak panggil Mama?" Tanya Ayra seraya membenarkan rambut Arumi.
"Ga apa-apa Ma. Nanti biasanya berhenti sendiri." Ucap Arumi terlihat menguncir rambutnya.
"Kamu belum makan siang Ar." Ucap Ayra.
"Tidak nafsu Ma." Ucap Arumi.
Arumi tampak terdiam sejenak. Sebenarnya ia sangat ingin makan beberapa makanan masa kecilnya. Namun ia kemarin sudah di belikan Ammar tapi entah kenapa baginya rasa makanan itu tak sama dengan yang ia bayangkan.
"Kemarin sudah dibelikan Mas Ammar Ma. Tapi sepertinya masih ingin makan itu karena rasanya yang dibeli Mas Ammar kemarin beda rasanya dengan yang dibayangkan." Ucap Arumi.
"Hehe... Itu namanya ngidam. Memangnya mau makan apa Nak?" Tanya Ayra. Ia tak membedakan menantunya. Seperti apa ia memperlakukan Nur dulu begitu pula ia memperlakukan Arumi.
"Burgo sama Roti Kemang Ma." Ucap Arumi.
Ayra mengernyitkan dahinya. Ia baru mendengar nama makanan yang disebut oleh Arumi.
"Makanan apa itu Ar? Mama baru dengar." Tanya Ayra.
"Makanan khasnya orang Palembang Ma. Burgo itu terbuat dari tepung beras. Terus diolah tipis-tipis, digulung dan kuahnya itu Ma dari ikan gabus dan diberi santan juga rempah-rempah." Jelas Arumi.
"Kalau Roti Ke-mang?" Tanya Ayra.
"Dia itu roti yang di dalamnya diisi oleh kelapa yang di sangrai dan diberi gula merah Ma... Sebenarnya itu masakan yang sering ibu sajikan kalau pas puasa." Ucap Arumi tampak sedih karena ingat Ibunya. Andai ia memiliki Ibu mungkin ia bisa meminta pada Ibunya untuk di masakan makanan kesukaannya itu.
"Kamu bisa memasak nya? " Tanya Ayra.
Arumi mengangguk.
__ADS_1
"Nanti mama cari resepnya di YouTube. Mama yang masak, kamu jadi kepala koki-nya." Ucap Ayra.
"Ga usah Ma... Nanti biar Mas Ammar beli lagi saja." Ucap Arumi.
"Kamu itu inginnya buatan Ibu mu Ar. Tapi mudah-mudahan sama ya. Asal kamu pandu Mama masaknya. Tapi nanti tunggu kamu sudah tidak mual. Sekarang istirahat dulu ya Nak..." Ucap Ayra.
Arumi yang memang merasa tubuhnya lemah setiap kali ia memuntahkan isi perutnya namun yang keluar hanya cairan bening.
Ayra pun Keluar dari kamar Arumi. Namun ia teringat sosok sahabatnya. Ia menelpon Yeni. Beruntung sahabat nya itu sedang berada di Jakarta di kediaman putri bungsunya. Ayra pun meminta sopir untuk menjemput Yeni. Saat Yeni tiba, ia dibuat kaget karena sahabatnya yang bukan orang Palembang atau provinsi Sumatera Selatan itu meminta di pandu masak makanan khas Provinsi Sumatera Selatan.
"Arumi, istri Ammar sepertinya lagi ngidam makanan yang aku sebutkan tadi. Bantu ya Yen.. kemarin sudah dibelikan Ammar tapi katanya rasanya berbeda." Ucap Ayra.
Yeni pun dengan senang. Ia melakukan apapun untuk sahabatnya. Karena berkat Ayra dan Bram. Keempat anaknya semua sukses. Karena perantara Ayra, anak-anaknya yang lulus kuliah langsung bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan Ayra dan Bram. Maka sekedar diminta untuk membantu memasak makanan yang juga favorit keluarganya bukan hal yang berat.
Saat dua makanan itu sudah siap. Ammar yang baru pulang mencium aroma sedap dari arah dapur. Ia yang haus menunda naik ke atas. Ia pergi ke arah dapur. Ia melihat Arumi terlihat memakan sesuatu dengan lahap dan terlihat wajah istrinya itu berkeringat.
Ayra juga ikut makan di sisi Arumi.
"Sayang... kamu makan apa? Aromanya sampai kedepan." Ucap Ammar.
"Sini deh Mas.... Coba cicip. Ini rasanya sama persis yang aku inginkan. Persis buatan Ibu." Ucap Arumi sambil menarik kursi di sampingnya. Arumi menyuapi Ammar satu sendok Burgo.
Ammar melihat sebuah bentuk benda putih seperti lontong tapi lebih seperti sagu atau gendum.
"Coba dulu... A...." Ucap Arumi.
Ayra memberikan kode pada Sulungnya untuk menuruti Arumi. Ammar tampak ragu-ragu. Dan saat ia mengunyah makanan itu. Kepalanya terlihat manggut-manggut.
"Hem. Enak Yang... Lagi.... A...." Ucap Ammar manja.
Ayra yang melihat anak dan menantunya butuh waktu berdua. Karen ia malu sendiri melihat anak dan menantunya. Ia seakan ingat masa-masa mudanya dengan sang suami.
"Ya sudah, mama mau antar ke kamar Nur. Kata teman mama tadi, ikan gabus baik untuk pasca melahirkan." Ucap Ayra sambil beranjak dari tempatnya.
"Besok-besok kalau Arumi sedang tidak sehat, jangan ditinggal dulu kenapa Am? Kamu kan pimpinannya. Bukan karyawan yang wajib masuk." ucap Ayra yang merasa anaknya terlalu sibuk kerja. Ia ingat betul Bram saat hamil Ammar dan Qiya. Sangat memanjakannya. Bahkan Bram sebulan sebelum melahirkan lebih banyak di rumah.
"Iya Ma. Arumi juga tadi pagi menyuruhku pergi."
"Mas Ammar aja ga peka. Perempuan itu kalau bilang terserah mau nya ditanya lagi.. " Ucap Arumi yang malah menghabiskan beberapa suapan terakhir Burgo di mangkuknya.
"Lah bilangnya terserah. Ya aku berangkat kerja dong. Loh? Di habiskan...." Ucap Ammar melongo melihat mangkuk di hadapan istrinya telah kosong.
"Hehe.. habis rasanya enak banget. Ya sudah, tunggu. Aku racik dulu ya... Mau dikasih sambal apa ga?" Tanya Arumi.
"Boleh, soalnya udah lama ga dapat yang pedes-pedes dari istri. Istrinya sekarang manja terus... " Ucap Ammar yang sudah tersenyum merekah.
Arumi menyipitkan kedua matanya karena digoda. Ia memang sudah lama tak sewot dan suka marah, semenjak ia tahu bahwa bagaimana seorang istri itu harusnya bersikap di hadapan suami. Ditambah masa kehamilan tri semester pertama membuat ia juga sangat mudah tersentuh juga menangis.
Tak disadari Ammar dan Arumi. Sedari Ammar pulang tadi. Ibrahim mengamati dari balik dinding pembatas ruang dapur dan ruang makan. Ia yang sempat curiga pada Arumi. Ia pun cukup lega. Ia bisa menilai jika gesture Arumi adalah Gestur alami. Dan tidak dibuat-buat.
__ADS_1
"Alhamdulillah.... Prasangka ku tak benar. Hhh... Maafkan Aku Kak Arumi. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak padamu. Setidaknya aku bisa melihat bahwa kamu betul-betul tulus mencintai Kakak dan Mama ku." ucap Ibrahim didalam hatinya.