
Malam harinya, dokter Gede masih terpaku menatap botol air mineral yang masih tersisa sedikit airnya. Ia juga menatap saputangan yang merupakan milik Qiya.
Semakin larutnya malam tak membuat mata dokter tersebut terpejam. Merasa gelisah ia meraih ponselnya. Ia membuka galeri foto dan ibu jarinya berhenti di sebuah foto perpisahan seminar. Terlihat Qiya berdiri di sisinya. Perempuan yang bagi dokter Gede cukup unik dan cantik.
Pribadi yang rendah hati, suka menolong keibuan dan juga tegas pada orang yang menurutnya melampaui batas. Ia bisa melihat itu ketika dokter iship itu menjelaskan kekecewaan nya pada Hilman ketika di hotel kemarin.
"Aku rasa Ibu betul, hati ku mulai terisi namamu. Dalam diam hati ini kembali ingin berteriak tentang rasa cinta. Semoga kali ini kamu tak salah memilih hati wahai hati ku... Aku akan berusaha kembali untuk merasakan manisnya cinta. Semoga dia pun belum menjatuhkan hatinya pada siapapun." Ucap dokter Gede tersenyum menatap foto Qiya.
Dokter Gede membuka status wa dari beberapa rekannya. Ia dibuat selalu berdebar, dibuat tak mampu terpejam karena bayangan gadis itu selalu menari-nari di pelupuk dokter itu.
Dokter Gede membuka status wa Qiya. Bagiamana hatinya bertambah tak karuan kala ia melihat status wa gadis pujaan hatinya yang berisikan kata-kata mutiara dan sebuha kue yang ia belikan sebagai oleh-oleh menjadi picture sebagai pemanis status wa nya.
..."Berhentilah menyesali, mulailah mensyukuri. Berhentilah meragukan. Mulailah melakukan sesuatu yang baru dalam hidup mu."...
Hati dokter Gede berbunga-bunga. Ia mengira ini adalah satu kode untuk dirinya. Terlebih kue yang ia berikan tadi menjadi background dari status Qiya.
"Sepertinya dia juga ingin memulai hidup baru. Mungkin hatinya juga terluka karena gagal menikah. Semoga Allah mengizinkan aku mengobati luka di hati mu. Karena hadir mu menyembuhkan luka di hati ku...." Ucap dokter Gede sambil memeluk gulingnya.
Namun di lain tempat, satu lelaki merasa insecure dengan status dokter Qiya. Ia tak menyangka jika perempuan yang ingin ia persunting justru membuat status seperti itu. Yang menandakan bahwa Qiya telah ingin membuka hatinya. Maka Hilman langsung tertuju pada dokter Gede.
"Lelaki itu... Cepat segalai ia bergerak. Dan Kamu Qiy... Belum ada dua bulan kita batal menikah kamu malah sudah berpaling pada lelaki lain. Rendah sekali kau sebagai perempuan. Ternyata penampilan mu terlihat alim tapi hati mu munafik. Kamu tak ubah dari kebanyakan perempuan lain yang justru terlihat tak menutup auratnya. Aku akan kembali melamar kamu dengan Papa mu. Aku tak boleh kalah start. setelah penghitungan suara aku akan segera menemui Om Bram." Ucap Hilman.
Lelaki itu sudah terlanjur jatuh hati pada perempuan yang lama ia kagumi. Bukan hanya kecantikannya, bibit, bobotnya tetapi banyaknya santri saat mondok dulu sering mengidam-idamkan Qiya menjadi pendamping hidup akan membuat Hilman merasa beruntung bisa mendapatkan gadis yang diidamkan banyak hati.
Dua orang laki-laki sibuk berspekulasi akan status Qiya. Padahal dokter cantik itu membuat status untuk sahabatnya yang patah hati karena mendengar jika dokter Gede betul-betul telah menikah.
"Beneran Qiy? Cantik ga istrinya dokter Gede?" Tanya Cita antusias sambil tetap mencicipi kue oleh-oleh dari dokter Gede.
__ADS_1
"Iya. Kalau cantik ga nya aku ga tahu, tapi dari suaranya kayaknya orangnya dewasa dan manja." Ucap Qiya sambil menyetrika bajunya untuk ia kenakan esok hari.
Terbiasa di pondok pesantren melakukan semuanya sendiri membuat Qiya justru tak bermanja-manja mengupah orang hanya untuk mencuci dan menyetrika pakaiannya untuk bertugas.
"Tapi aku mikirnya itu dokter Gede tipe suami ga setia Qiy." Ucap Cita.
Qiya meletakkan setrikaan nya. Ia menoleh ke arah Cita.
"Hust. Jangan sembarangan, bisa fitnah. Ga boleh berburuk sangka. Apalagi sama guru. Nanti ilmunya ga bisa ngalir ke kita." Ucap Qiya sambil kembali manarik setrika nya dan ia letakkan diatas jas putihnya.
"Ya elah. Guru mu Qiy bukan aku." Protes Cita.
Cita hanya tersenyum mendengar protes sahabat nya itu.
"Soalnya dia kalau lihat kamu suka curi-curi pandang. Sama kikuk begitu Qiy. Urusan begituan aku jagonya. Kalau urusan pelajaran iya kamu jagonya. Dulu Hilman juga aku bilang dia suka kamu. Kamu ga percaya..." Ucap Cita sewot.
"Udah, mana jas nya atau bajunya sekalian aku setrika daripada besok pagi aku harus nunggu kamu nyetrika dulu." Ucap Qiya sambil mengantungkan jasnya di hanger tepat dibelakang pintu.
Cita pun tersenyum manis dan secepat kilat ke arah lemari.
"Kamu memang sahabat baik hati dan ter bestie sedunia.. love.. love.... deh pokoknya Qiy..." Ucap Cita sambil mencubit pipi Qiya.
Qiya hanya mencebikkan bibirnya. Ia merasa belum mengantuk sehingga bingung mencari kegiatan apalagi, sehingga memilih menyetrika saja. Dua sahabat itu memang beda agama tetapi mereka saling melengkapi. Qiya yang akan terbangun tengah malam untuk shalat, akan ditemani oleh Cita ke luar untuk mengambil wudhu. Kondisi bak mandi yang kecil membuat Qiya kadang ragu untuk bersuci di bak yang kecil dan tinggal separuh.
Qiya tak berani keluar sendiri bukan khawatir makhluk goib tetapi lebih ke jika ada orang masuk kedalam rumah saat ia berwudhu di bagian belakang, karena pernah ada maling masuk saat minggu pertama mereka disana. Laptop dan ponsel Alam hilang. Kondisi rumah yang belum terpagar, belum lagi sumur yang berada diluar membuat Qiya harus keluar rumah saat akan menghidupkan mesin air.
Bahkan Alam pun tak tahu jika tidak beragama islam. Ia tahunya perempuan berambut keriting itu sama seprti Qiya hanya saja ia tak berjilbab. Padahal tengah malam ia hanya menunggu di depan pintu dapur untuk menunggu Qiya.
__ADS_1
"Cepet ya Qiy... aku ngantuk banget...." Ucap Cita saat ia terbangun karena alarm ponsel Qiya.
Ia pun hapal betul jika itu waktu temannya shalat malam.
Saat selesai wudhu, ia pun bertanya sambil mengunci pintu.
"Katanya kalian cuma 5 waktu Qiy shalatnya. Lah kenapa kamu aku lihat kadang pagi, kadang malam. Lebih dari lima waktu. Emang ada pahala tambahan?" Ucap Cita sambil menggaruk rambutnya yang keriting.
"Malam-malam begini waktu mustajabnya bagi kami Muslim untuk berdoa Qiy.. Kalau punya hajat..." Ucap Qiya.
Saat tiba di kamar tersebut Cita pun mendorong kursi di sisi tempat tidurnya. Karena untuk sahabat nya melakukan shalat, maka harus menutup pintu dan kursi di pepetkan ke arah meja kecil. Sehingga Qiya bisa shalat. Ukuran kamar mereka tak sebesar kamar-kamar di kota. Hanya cukup satu kasur 160x200 dan satu buah meja kecil.
"Qiy... Besok sarapan nasi uduk aja ya... Aku kayaknya datang bulan." Ucap Cita malas sambil memeluk gulingnya.
Cita hanya mengangguk. Ia pun melakukan munajat cintanya dengan sang pencipta. Sebagai mana Islam yang diajarkan oleh Guru dan orang tuanya. Qiya pun tak lupa mendoakan sahabat nya. Agar sang sahabatnya bisa betul-betul menjadi dokter spesialis anak yang sukses.
Begitulah anak-anak Ayra, mereka yang dididik oleh guru dan orang tua yang meneladani Rasulullah. Karena Rasulullah pun dahulu mendapatkan simpatik dari mereka yang tak mengikuti risalah Baginda Rasulullah. Ketika Rasulullah membutuhkan minum, seorang pria dari kalangan Yahudi memberinya air. Saat itu Rasulullah membalas pria tersebut dengan doa J****ammalakaLlâh (semoga Allah memperelok dirimu). Karena doa tersebut, pria Yahudi tadi tak memiliki uban satu pun hingga akhir hayatnya.
Maka karena salah satu hadist yang meriwayatkan kisah tersebut, membuat Qiya dan dua saudara kandungnya pun tak ragu untuk mendoakan teman mereka atau oramg non muslim yang membantu mereka. Namun doanya hanya sebatas kesehatan badannya, kelancaran rezekinya, sukses pekerjaannya bukan memohonkan ampunan secara ilmu yang berkaitan dengan Tuhan atau Teologi memang ada perbedaan antara Muslim dan nonmuslim.
Sayang sekali tak semua memiliki akhlak seperti Rasulullah, seperti saat ini seorang lelaki yang tak menerima qodho dan qadar bahwa Kematian setiap makhluk bukan karena manusia tetapi sudah takdir dan hanya Allah yang tahu kapan dan apa penyebabnya.
"Dia yang menyebabkan putri ku meninggal." Ucap Lelaki tua yang tegap dan masih tampan itu.
Seorang perempuan yamg tak lain istrinya pun mendekati dirinya. Ia memeluk suaminya dari belakang.
"Sampai kapan kamu akan menyimpan dendam yang justru akan menyakiti mu sendiri... Bukankah saat itu kamu mengirim anak mu untuk misi tersebut agar tak jadi menikah? Kini ketika ia meninggal dunia dalam misi itu. Kamu malah mendendam pada lelaki yang mungkin sekarang juga punya keluarga." Ucap perempuan berambut pendek itu.
__ADS_1