Pesona The Twins

Pesona The Twins
66 Habis Di Goda Ammar


__ADS_3

Dokter Gede menoleh ke arah lelaki yang berdehem tadi. Ia melihat seorang lelaki mengenakan jeans dan sebuah kaos berlengan panjang yang didepan nya bertuliskan 'Allah Mboten Sare, Kulo seng Keturon'.


Lelaki itu menautkan kedua alisnya. Ia menatap dokter Gede. Qiya melihat Ammar mulai akan usil. Segera kembarannya berdiri dan menjulurkan tangannya.


"Kak Ammar. Kenapa ga bilang kalau mau kemari." Tanya Qiya.


Ammar pun menjulurkan tangan kanannya tetapi pandangannya masih ia arahkan ke dokter Gede.


"Dia dokter Gede kak. Beliau, dokter pembimbing Qiya di wahana." Jelas Qiya.


Ammar dengan santainya merangkul Qiya. Dokter Gede menatap perempuan yang ia sukai dirangkul seenaknya tetapi ia sempat mendengar Qiya memanggil lelaki itu kakak.


Ammar berbisik di telinga kembarannya.


"Kita lahir hanya berjarak beberapa menit. Mata mu, detak jantung mu mengatakan kalau dia bukan hanya dokter pembimbing mu. Jika saling suka dan dia lelaki yang baik. Harusnya dia menemui Papa di rumah. Menarik, hadiah ulang tahun untuk ku. Calon adik ipar?" Ucap Ammar berbisik.


Qiya mencubit perut kakaknya.


"Awwwhhh... Qiy." Teriak Ammar.


"Kenapa kakak kesini mendadak?" Tanya Qiya.


"Harusnya kakak yang bertanya kenapa pesan kakak dari tadi tak dibaca-baca." Ucap Ammar duduk di kursi yang tadi di tempati Qiya. Ia mengangkat cangkir teh kearah Qiya.


"Punya mu?" Tanya Ammar.


Qiya mengangguk. Ammar bisa memastikan jika sang adik sedang nervous. Satu-satunya yang bisa mengetahui isi hati kembarannya itu cukup dengan memeluk adiknya. Maka ia tahu apakah ia baik-baik saja atau ada yang disembunyikan.


Dari detak jantung Qiya yang berdebar-debar membuat Ammar menoleh ke arah dokter Gede. Ia melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Katakan padaku, sejak kapan ada lelaki bertamu sampai jam 10 malam." Ucap Ammar menatap dokter Gede.


Dokter Gede menelan salivanya kasar. Baru bertemu kakak dari gadis pujaan hatinya, ia nervous di tatap dingin oleh Ammar.


"Maaf Kak. Saya tadi mengantar dokter Qiya karena motornya pecah ban. Dan Mobil saya sedang di pakai dokter Cita dan dokter Alam. Saya akan segera pulang jika mereka kembali." Jelas dokter Gede sambil mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Heh... Bisa ngeles juga dia. Jangan-jangan ini si keriting Cita yang membiarkan adik ku berduaan dengan dokter ini." Batin Ammar.


"Owh. Terimakasih sudah mengantar adik saya. Tapi tunggu dulu. Kenapa kamu memangil saya kakak? Kamu dokter pembimbing adik ku kan? Berani panggil aku kakak. Berarti berani menemui orang tua ku." Ucap Ammar dengan mata yang ia sipitkan.


Ia dari pertama datang bisa melihat jika dokter itu dan adiknya sedang berkomunikasi lewat ponsel sehingga sang adik terlalu fokus dan tak membaca pesan darinya. Karena Qiya adalah tipe orang yang detail. Ia tak bisa fokus dengan banyak hal dalam satu waktu, berbeda dengan Ammar.


Ia juga ingin menguji lelaki itu. Jika ia lelaki baik-baik ia akan datang menemui Bram selaku orang tua Qiya. Jika ia tak berani, berarti ia tak serius. Kali ini ia dan orang tuanya tak akan menyerahkan sepenuhnya keputusan menerima lamaran lelaki manapun. Walau perasaan Qiya juga cukup penting untuk memilih teman hidup untuk adiknya itu.


"Saya berani kak. Saya akan melamar Qiya jika memang diberikan izin." Ucap dokter Gede cepat. Ia tak ingin kehilangan kesempatan emas.


Qiya melebarkan kedua pupil matanya. Namun cepat ia tundukkan ketika dokter Gede menatap dirinya.


"Aduh. Kenapa dokter Gede kemakan pancingan kak Ammar sih. Kak Ammar.... awas ya...." Batin Qiya tertunduk malu karena ia tahu kakaknya hanya memancing dokter Gede. Dan sang dokter justru terpancing maka bisa dipastikan setelah ini kedua orang tuanya akan tahu apa yang terjadi di sini.


Qiya mendekati kakaknya.


"Kak...." ucap Qiya sambil sedikit melotot.


"Loh, loh kok gitu. Bagus dong kalau dokter pembimbing mu mau langsung ketemu Papa. Biar bisa diseleksi. Bisa jadi menantu Pak Bramantyo Pradipta." ucap Ammar.


Tiba-tiba sebuah keributan terjadi. Cita yang telah kembali dari toko atau warung untuk mencari bohlam.


"Dasar Alam Ghoib. Kalau ga bisa nyetir mobil matic bilang. Jadi lecet gini mobil dokter Gede." Gerutu Cita sambil mengusap-usap bagian depan mobil Gede.


"Elo tuh dari tadi cerewet aja. Kalau ga bisa naik mobil, ngapain minta naik mobil. Muntah-muntah aja terus. Ga bakat jadi orang kaya!" Gerutu Alam yang merasa kesal.


Ia harus sebentar-sebentar berhenti karena Cita tak tahan naik kendaraan roda empat itu. Tiga orang di teras memperhatikan mereka. Qiya pun cepat mendekati Cita. Satu cubitan mendarat di perut Cita..


"Wadidaw... Aduh... Kamu bela Alam Ghoib ini Qiy?" Tanya Cita kesal karena tiba-tiba mendapatkan capit udang dari sahabatnya.


"Sengaja ya ninggalin aku berdua sama dokter Gede." Bisik Qiya sangat pelan ditelinga Cita.


Dokter Gede mendekati ketiga orang itu. Ia pun melihat body mobil bagian depannya. Ternyata mobilnya yang dibawa oleh Alam menyerempet mobil Ammar ketika di perempatan. Karena Ammar diminta Cita langsung ke kontrakan agar bisa melihat calon adik ipar. Ia pun dan Alam juga Alan yang merupakan asisten pribadi Bram meminta bantuan masyarakat untuk membantu mendorong mobil dokter Gede yang satu bannya masuk ke dalam got.


"Hei Burung Cicit. Kamu harus siapkan baju kebaya, sepertinya sahabat mu sebentar lagi akan dilamar." Bisik Ammar di telinga Qiya dengan menutupi mulutnya dengan dua telapak tangannya.

__ADS_1


Cita melebarkan kedua matanya. Ia tersenyum ke arah Qiya.


"Akhirnya aku beneran jadi Hanoman di kisah mu Qiy..." ucap Cita keras dan didengar oleh Alam,Alan dan dokter Gede.


Qiya menundukkan kepalanya. Ia sangat malu karena ulah temannya yang ceplas-ceplos. Dokter Gede yang tak ingin pujaan hatinya di goda. Ia segera pamit. Bahkan saat sudah di dalam mobil. Ammar setengah berteriak.


"Jangan lama-lama dokter. Khawatir keduluan yang lain." Teriak Ammar sambil tertawa.


Qiya pun segera berlari ke dalam rumah. Ammar mengikuti kembarannya ke dalam.


"Wah aku ga bakal ikut-ikutan jika tak mau kena capit udang Qiya." Ucap Cita sambil duduk di teras. Ia melihat ada coklat yang di bawakan Hilman tadi. Ia pun memakan coklat itu.


Qiya masuk ke kamarnya. Ammar pun mengikuti.


"Cie,cie... Sepertinya Mama dan Papa anaknya laris manis udah kayak gula merah dimusim ramadhan." Ucap Ammar duduk diatas tempat tidur adiknya.


"Kakak apaan sih. Ga lucu tahu kak." Ucap Qiya.


Wajah adiknya sudah cemberut. Ia merasa malu karena tingkah usil kakaknya. Bisa-bisanya kakaknya dan Cita bekerjasama.


"Sudah, cepat berkemas. Katanya besok libur. Mama suruh jemput kamu. Ada kejutan di hari ulang tahun mu. Dan kakak senang dapat kejutan dari mu." Senyum Ammar terbuka lebar ketika ditatap kembarannya.


"Kejutan apa sih Kak." Tanya Qiya.


"Namanya kejutan Qiy. Maka bukan kejutan kalau diberi tahu." Ucap Ammar.


Qiya mendengar bahwa kakaknya diutus orang tuanya untuk menjemput dirinya, cepat berkemas. Ia tak berani membantah jika sudah menyangkut orang tua.


"Harus malam ini kak?" Tanya Qiya.


"Iya. Soalnya besok sudah lewat miladnya." Kata Ammar.


Qiya yang mengemasi beberapa barangnya.


Ammar yang iseng. Membuka ponsel adiknya. Ia tersenyum sangat lebar. Ia memotret dengan kameranya layar ponsel adiknya yang terdapat percakapan sang adik dengan lelaki tadi yang ia goda.

__ADS_1


"Hehehe... Gantian. Kali ini kamu yang akan di goda." Ucap Ammar dalam hatinya karena kemarin ketika video Call bersama Umi Laila dan Ibu Lukis yang merupakan nenek mereka. Ammar di goda habis oleh Qiya di hadapan nenek-nenek mereka walau hanya lewat video.


__ADS_2