
"Papa mu sudah bertemu Pakde Furqon dan Mbah Uti. Pagi tadi Papa sudah bilang pada Mama. Jika Pakde dan Mbah Uti yang juga meminta bantuan beberapa sahabat Mbah Kung mu, hasilnya Alhamdulilah sepertinya banyak positifnya. Maka Papa setuju untuk tetap melanjutkan hubungan kalian untuk tetap bersama. Tetapi, Pakde dan Mbah Uti minta kamu untuk ke Kali Bening Salamah satu Minggu setelah proses lamaran nanti." jelas Ayra panjang lebar.
Hati Ammar berdebar. Ia merasa bahagia akhirnya ia bisa Berjodoh dengan gadis yang selalu menganggu setiap tidurnya. Ia juga bahkan akan sering tersenyum sendiri karena kelebat bayangan Arumi.
"Alhamdulilah Ma. Kapan rencana akan melamar Arumi Ma?" tanya Ammar.
"Belum tahu, nanti coba obrolkan dengan Papa ya." Ucap Ayra.
Malam itu akhirnya Ammar tidur dengan Nyenyak. Sedangkan Qiya ia berulang kali membaca chat nya dengan sang dokter pembimbing. Setiap kali mata membaca. Setiap itu juga hatinya berdebar-debar.
Tak perlu alat pacu jantung supaya jantung orang yang sedang jatuh cinta bisa berdetak. Cukup membayangkan wajah yang dicintai sudah menjadi alasan jantung yang lagi dimabuk cinta terus berdetak.
~~
Pagi yang cerah, di dua tempat terjadi hal sama-sama membahagiakan namun berbeda rasa. Dikediaman Bramantyo, Pagi itu Qiya dikagetkan sesuatu yang tak ia sangka-sangka. Gadis Ayra itu mengetuk pintu kamar Nur, maksud hati ingin melepas rindu dan juga ingin tahu perkembangan calon keponakan. Tetapi ketukan pintunya di jawab suara lelaki. Jantung Qiya nerdebar-debar.Ia seperti mendengar suaraBaim.
“Masuk” Ucap Ibrahim di dalam kamar tatkala pintu kamar diketuk. Nur sedang mandi, istrinya itu sedikit kelelahan karena harus membantu melakukan pemijatan di bagian punggung suaminya. Dari hasil pemeriksaan yang diberikan Pak Broto jika fisik suaminya itu terdapat cedera pada punggung karena terbentur ketika ledakan dahsyat tersebut.
Melihat pintu tak kunjung dibuka, membuat Ibrahim beringsut dari tempat tidurnya. Ia pun membuka pintu tersebut. Saat pintu terbuka ia menatap seorang perempuan dengan hidung bangir, wajah cantik dan berkulit putih. Perempuan itu juga mengenakan kerudung. Wajah imut juga cantik, mirip Ayra, sosok perempuan yang katanya ibu dirinya.
“Siapa kamu?” Tanya Ibrahim sambil menautkan kedua alisnya. Qiya mendengar suara dan menatap tubuh yang berdiri dihadapannya seperti Ibrahim, bibirnya pun menyentuh satu nama.
“Baim, Ibrahim.”Suara Qiya seperti menahan tangis.
“Ya, kamu siapa?” Tanya Ibrahim, sepersekian detik, ia menautkan alisnya dan menyebut satu nama yang ia ingat Ketika melihat album yang sering ia buka Bersama Nur untuk mengingat Kembali masa lalunya.
“Kamu Qiya?” Tanya Ibrahim.
Hal itu membuat tubuh Qiya reflek memeluk lelaki yang ia sayangi selain kembaran dan papanya. Ia menangis dalam pelukan Ibrahim. Ammar yang beru keluar dari kamar. Ia melihat kembarannya sedang menangis.
“Surprise…. Kejutan dai hari milad mu kemarin, tetapi sayangnya. Adik ku ini sedang sibuk dengan diare c-“ Belum selesai Ammar dengan ucapannya, Ayra yang bermaksud mengajak anak dan menantunya sarapan di gazebo dikagetkan karena kata diare.
“Siapa diare? Kamu Diare Qiy? Kenapa ga bilang Mama semalam?” Tanya Ayra khawatir.
Masih dengan sisa-sisa air mata, Qiya Kembali menyebut nama Ammar dengan manja dan kesal.
“Kak Ammaaaarrrr…” Ucap qiya dengan kedua matanya telah mendelik.
__ADS_1
“Hahaha… Putri Mama satu-satunya itu lagi kena diare Cinta Ma… Kan diare sama cinta sama ma, sama-sama ga bisa ditahan, harus di tuntaskan pada tempatnya…”
“Kak Ammar…!” Teriak Qiya, ia sudah berlari mengejar kakaknya. Dan Ketika di ujung tangga, Ammar Kembali menggoda Qiya.
“Dia dokter pembimbing ku kak, dia mengantar ku karena motor ku tadi pecah ban… “ Ucap Ammar sambil menirukan gaya adiknya persis seperti kejadian semalam. Ibrahim tak sadar jika sudut bibirnya tertarik karena tingkah konyol ammar. Qiya semakin geram. Ia belum puas jika belum mendaratkan jari-jarinya di pinggang kakaknya yang usil itu.
“Ammar, kamu sudah mau menikah, masih suka menggoda adikmu.” Ucap Bram yang melihat Sulungnya turun dari tangga dengan terburu-buru karena dikejar Qiya. Ammar berlari menuju Gasebo sesuai perintah Ayra agar sarapan bersama disana.
Saat tiba di ruang tengah, Ammar berteriak membuat Bram mendelik, dan Ayra cepat melongo dari lantai atas sambil berpegang pada besi pagar lantai dua.
“Bukan hanya aku yang akan menikah Pa, tapi Putri papa ini juga sebentar lagi akan menikah. Ia sedang mengalami demensia, karena dunianya kini sedan focus pada dokter pembimbingnya.” Ucap Ammar
“Kakak….!” Qiya sudah gemas sekali.
Ayra dari atas tersenyum. Sedangkan Bram menatap istrinya dari lantai bawah sambil membenarkan kacamatanya.
“Sepertinya kamu akan cepat menua mas, karena anak-anak akan segera menikah semua.” Ucap Ayra sambil berlalu.
“Kamu mulai suka dengan seseorang, seorang dokter. Kamu sudah jatuh hati pada lelaki itu. Kenapa lelaki itu tak menemui kami? Semoga kamu melabuhkan hati mu pada lelaki yang tepat.” Batin Ayra, ia bisa pastikan jika putrinya itu jatuh cinta, sama seperti sang kakak. Karena Selma ini, Qiya
hanya akan cemberut atau tersenyum dan mengabaikan sang kakak Ketika digoda.
Tiba di Gazebo Ammar harus pasrah ketika jari-jari lentik Qiya menggelitik dirinya. Ia sampai menitikkan air mata kata ulah adiknya.
"Ampun Qiy... Ampun Bu dokter...." Sering ia ia ucapkan ini saat masih kecil. Karena Cita-cita adiknya menjadi Bu dokter dan adiknya akan berkata kalau jadi dokter ia akan menyuntik kakaknya yang usil.
Kedekatan secara emosional, fisik diantara anak-anak Ayra begitu terasa. Uniknya lagi anak kembar Ayra itu akan merasakan satu sama lain. Ayra bisa cepat mengunjungi pondok pesantren dimana Qiya menuntut ilmu jika Ammar sedang sakit. Entah memang seperti itu anak kembar atau hanya terjadi pada bungsu dan sulungnya. Qiya dapat dipastikan sakit saat putra sulungnya yang ada dirumah juga sakit.
Tetapi Qiya yang perempuan justru tak merasakan hal sebaliknya. Ia justru cenderung ke kontak batin. Sering sekali ia mengkhawatirkan Ammar dan benar saja ada saja bagian tubuh kakaknya itu terluka, entah berkelahi atau entah karena terjatuh.
Sepasang anak kembar yang telah tumbuh menjadi pria dewasa dan gadis yang sedang memancarkan pesonanya masing-masing harus berhenti bercanda karena kedua orangtuanya telah tiba di Gazebo di ikuti Nur juga Ibrahim.
Mata Qiya tak berhenti memandang Ibrahim saat duduk di Gazebo.
Pagi ini, Ayra sengaja memasak nasi kebuli untuk anak-anaknya. Satu menu dimana akan ia masak sendiri dan ia hidangkan di nampan bundar. Dan tentunya akan dinikmati bersama-sama dalam istilah Mayoran yang biasa digunakan di pondok pesantren salafiyah. Makan menggunakan tangan dan duduk melingkar di nampan tersebut.
Melihat Satu nampan yang di bawa asisten rumah tangga, Qiya bisa pastikan jika itu nasi kebuli yang dimasak dengan bumbu rempah-rempah dan daging kambing yang akan menjadi lauknya, tentu acar timun yang menjadi favorit Ayra juga ada disana. Sambal tempe yang menjadi favoritnya Ibrahim. Serta tak lupa kerupuk udang kesukaan sulung Ayra. Dan sambal kacang tanah yang harus ada untuk memanjakan lidah kepala keluarga itu.
__ADS_1
"Kenapa ga bilang Ma. Kan bisa bantu...." Ucap Qiya dan Nur bersamaan.
Begitulah Ayra, ia akan memberikan menu kesukaan anggota keluarganya ketika berkumpul dan akan makan bersama.
"Mama masih bisa membahagiakan kalian dengan masakan yang Mama masak sendiri. Sudah, ayo kita sarapan dulu." Pinta Ayra pada anak-anaknya.
Satu keluarga itu tampak menikmati menu tersebut. Masakan yang tak hanya dimasak asal matang oleh ibu tiga anak itu. Selalu terselip shalawat di kegiatan ia memasak tersebut. Berharap keberkahan agar anggota keluarga yang memakan tak hanya kenyang perutnya tetapi juga bahagia dan tentram hatinya karena shalawat yang disenandungkan.
Ibrahim terlihat canggung. Namun ia merasa begitu menyukai kering Tempe yang ada di nampan itu. Seolah ia dari tadi tak tertarik dengan lauk daging kambingnya, karena hanya mengambil sambal kering tempe. Ayra mengamati setiap anak-anaknya. Tak ada yang berubah, mereka masih menikmati masakannya.
Bahkan keharmonisan selalu hadir dirumah itu kala keluarga itu berkumpul. Ayra yang akan menerima suapan dari Bram, Ammar atau Qiya. Atau Ayra menyuapi anak-anaknya dengan tangannya. Dan tentu saja satu interaksi pasangan yang dimana cinta diperjuangkan kini berbuah manis, saat Bram menyuapi istrinya dan begitupun Ayra. Moment mesra orang tua Mereka membuat ketiga anak-anak mereka bisa mengambil contoh sosok langsung ketika nanti menikah harus seperti apa terhadap pasangan mereka kelak.
"Aku akan membahagiakan istri ku seperti Papa membahagiakan Mama." Batin Ammar sambil menyuapi nasi kebuli ke mulutnya.
"Semoga aku bisa menjadi istri yang bahagia dan membahagiakan suami seperti Mama." Batin Qiya yang juga menikmati keharmonisan dan kemesraan kedua orang tuanya.
"Mereka begitu romantis dan harmonis." Batin Ibrahim yang juga masih mengunyah sambal kering tempenya.
"Semoga Mas Ibrahim segera pulih ingatannya. Nur rindu mas Ibra yang dulu." menantu pasangan fenomenal itu pun juga ikut bermunajat. Ia yang rindu suaminya merasa kehilangan sang suami saat suaminya ada disisinya. Ia rindu sosok Ibrahim yang selalu memanjakan dirinya. Saat ini ia tak bisa bermanja-manja. Suaminya seolah orang asing. Interaksi diantara mereka pun begitu kaku.
Ibrahim yang belum pulih lebih menjaga jarak mungkin karena naluri ia pernah menjadi agen intelejen.
Saat selesai makan keluarga itu pun berbincang-bincang. Bram pun mengatakan jika akan mempercepat melamar Arumi.
"Kalau Qiya cuma libur satu Minggu. Minggu-minggu ini kita akan melamar Arumi. Papa ingin semua anggota keluarga kita berkumpul di momen ini." Ucap Bram Pada ketiga anaknya.
Saat hati Ammar berbunga karena cintanya di restui Bram dan Ayra. Seorang lelaki juga tersenyum bahagia menatap layar ponselnya. Ia membaca balasan chat dari Qiya. Ia pun membalas chat tersebut cepat. Dan hanya beberapa detik pesan tersebut masuk ke nomor yang dituju.
"Tring." Suara nada pesan masuk di ponsel Qiya.
Qiya membaca pesan itu. Seakan virus-virus cinta merasuki hatinya. Ia yang pandai menyembunyikan rasa. Pagi itu menarik sudut bibirnya dan menjadi perhatian Ayra dan Ammar.
[Insyaallah selagi tubuh ini masih bersama jiwa ini. Aku tidak akan menduakan mu dok. Semoga kita bisa sama-sama menjemput pahala sebanyak-banyaknya melalui jalinan kasih yang halal. Tunggulah saat dimana aku akan diberikan oleh wali mu dari setiap tanggungjawab yang sekarang masih berada di CEO MIKEL Group yang tak lain Papa mu. Semoga bukan harta dan kekayaan yang menjadi sumber kebahagiaan mu dok. Karena aku hanyalah rakyat jelata yang tak memiliki apa-apa, aku hanya punya cinta yang berharap bisa segera di halalkan.]
"Ehm... ehm..." Deheman Ammar dan tatapan beberapa pasang mata menatap Qiya.
Gadis itu lupa jika sosok jahil di keluarganya ada disisinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah.... Habislah aku....!" Batin Qiya karena Ayra menatap dirinya sambil tersenyum simpul.