
Semua yang berada diruang itu cepat berlari ke arah luar. Beberapa pasang mata kaget melihat pemandangan di depan. Ternyata Cita menabrak mobil Hilman yang terparkir tepat di depan rumah Bram. Ia tak menyangka jika ada mobil di sana. Biasanya tidak pernah ada mobil parkir ditempat itu. Ia biasa menjemput Qiya. Dan akan berhenti langsung berputar tanpa menghentikan laju motor maticnya.
Namun s!alnya. Kali ini ia tak menyangka ada mobil yang terparkir disana. Dan jangan kaget. Gede justru ada diatas cup mobil sedan bagian belakang milik Hilman. Ia Sedangkan Cita, tergeletak di lantai dengan motor maticnya masih dengan memikul tas ranselnya.
Ammar yang melihat siapa yang datang reflek tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... Kamu datang disaat yang tepat Cita..." Ucap Ammar sambil mengangkat motor matic yang menimpa tubuh Cita. Cita pun dengan mode tengilnya, ia menatap Hilman dengan senyum kemenangan. Ia tahu ia terlambat tapi dari kalimat Ammar. Ia pastikan ia tak terlambat datang bersama Rama alias Dokter Gede. Walau kehadiran mereka cukup membuat penghuni rumah kaget dan melongo juga tertawa.
Satpam di depan rumah bahkan tertawa terpingkal-pingkal bukannya menolong. Gede pun turun dari cup mobil Hilman. Ayra dan Bram saling pandang menatap lelaki tampan yang terlihat pucat dan sedikit acak-acakan rambutnya ketika sang dokter membuka helm yang ia kenakan.
"Apa ini dokter yang disukai putri kita Ay?" Bisik Bram sangat pelan pada telinga istrinya.
Ayra mengangkat bahunya tanda tak tahu. Ayra justru gagal fokus pada penampilan lelaki yang datang bersama Cita. Jika dibandingkan Hilman yang saat ini rapi, sopan. Dokter Gede justru tampil dengan celana jeans, baju kaos yang bertuliskan 'We never give up'.
Tapi melihat Ammar yang tertawa senang sambil melirik Hilman. Ayra bisa pastikan lelaki itu adalah Dokter yang dimaksud sulungnya. Ayra cepat membantu Cita bangkit. Cita juga membuka helmnya.
"Kamu tidak apa-apa Nak?" Tanya Ayra khawatir. Ia melihat sekujur tubuh Cita.
"Ga Tante, tenang saja. Orang baik selalu dilindungi Tuhan. Hhh..." ucap Cita sambil tersenyum ke arah Hilman. Entah kenapa Hilman merasa senyum Cita itu adalah senyum mengejek.
Ayra, Ammar melirik ke arah Hilman sesekali. Mereka melihat tatapan tak suka dari Hilman pada dokter Gede.
"Mau apa dia kemari. Kenapa Senyum Cita seolah ia senang karena datang bersama dokter itu. Apa dokter itu yang digosipkan akan melamar Qiya malam nanti?" Batin Hilman.
__ADS_1
Ayra juga bermonolog dalam hatinya sambil merangkul Cita.
"Kamu sudah benar Nak, kamu memang harus memutuskan jika sudah seperti ini. Cinta Segitiga." batin Ayra.
"Jangan harap kamu akan diterima kembali setelah mempermalukan aku dan keluarga ku juga telah melukai hati adik ku. Hayo Bli dokter, jangan sampai kamu keduluan lelaki pengecut itu." batin Ammar sambil membantu Gede turun dari mobil.
Bram melihat Ammar menyambut lelaki itu dengan bersahabat sambil memandangi Hilman.
"Oh. Pasti dia yang dimaksud Ammar. Kamu sudah mendapatkan hati sulung ku. Tapi masih ada hati ku dan istri ku. Setidaknya kamu harus menangkan hati kami berdua untuk menjadi menantu ku." Batin Bram karena ia ragu melihat penampilan dokter Gede yang terlihat kurang sopan karena datang bertamu dengan celana jeans, baju kaos. Apalagi kalau benar-benar ingin melamar.
Akhirnya semua yang ada di depan kediaman Bram itu pun masuk. Cita terlihat kesakitan berjalan. Sedangkan Gede, ia mencoba berjalan tegap walau sebenarnya bagian punggung dan p@nt@tnya sakit karena berkali-kali melewati polisi tidur dan main di lewati saja oleh Cita. Ia betul-betul Valentina Risi bagi Gede. Ia bahkan sangat malu sepanjang perjalanan. Terlebih ketika melewati satu lorong dan ternyata ada tenda pernikahan. Disaat pengantin sedang akan naik pelaminan, Cita justru masuk tenda itu karena ia menganggap akan menghemat 20 menit jika lewat gang sempit itu. Dimana setelah lewat tenda itu, mereka akan bertemu tembok pembatas antara komplek Bram dan komplek perumahan para pensiunan PAM.
Tapi dari sana ia bisa melihat jika orang tua Qiya sepertinya tak arogan. Karena ketika akan melewati tembok pembatas komplek tersebut. Cita hanya mengatakan pada para pemuda yang menghalangi mereka karena marah Cita tadi menerobos tenda hajat warga kampung mereka.
Dan spontan beberapa lelaki yang sering melihat Cita membonceng Qiya, mereka tak berani berurusan dengan Bram. Bukan karena Bram mengerikan atau sombong. Tetapi beberapa hektar jalan yang berada di balik tembok itu merupakan tanah Bram. Ia dulu membeli tanah tersebut karena ada yang berniat menggusur warga tersebut. Alhasil warga yang terhalang tembok itu sejak kejadian itu begitu hormat pada Bram dan keluarganya. Termasuk anak-anaknya. Bahkan Ammar cukup dekat dengan anak-anak komplek tersebut.
Tiba di dalam Cita ingin menemui Qiya. Sedangkan Gede duduk disisi Pak Toha. Bram pun mengusap-usap dagunya. Ia bingung, ia tak ingin jika Pak Toha lebih dulu melamar Qiya. Bagaimana Bram mengerti tujuan dan maksud Pak Toha. Ia justru bingung kenapa dokter Gede itu datang kemari dengan penampilan seperti akan jalan-jalan ke mall.
Ammar yang khawatir adiknya duluan di lamar Hilman cepat mengirim pesan pada ponsel Papanya.
"Ini dokter Gede yang chating dengan Qiya Pa. Setidaknya beri kesempatan dokter ini ngomong dulu Pa." Ammar tersenyum menatap pesan di layar ponselnya yang telah bertanda conteng biru dua.
Bram pun menunggu minuman untuk Gede tiba. Namun Pak Toha justru lebih dulu bertanya pada Gede.
__ADS_1
"Anak dari mana? Temannya Ammar?" Tanya Pak Toha.
Gede pun mengangguk sopan.
"Saya dari bandara Pak. Saya temannya dokter Qiya."Ucap Gede sopan.
"Oh... " ucap Pak Toha.
"Dan ada tujuan apa kemari?" tanya Bram cepat.
Ayra cepat menoleh kearah suaminya. Gede membenarkan posisi duduknya. Ia menarik napas dalam.
"Sebelumnya perkenalkan, saya Gede Ardhana. Saya dokter Pembimbing Dokter Qiya di Wahana Internship. Tujuan saya datang kemari adalah untuk me-" Belum selesai Gede berbicara.
"Uhuk.... Uhuk...Uhuk...." Hilman justru sengaja minum dan batuk. Ia tak ingin Gede lebih dulu melamar Qiya.
Semua mata menatap Hilman.
"Ada apa toh Hil... pelan-pelan..." ucap Pak Toha.
"Kamu kemari mau melamar Adik saya Qiya?" Ammar merasa kesal cepat menyelesaikan ucapan dokter Gede.
Ayra justru mendelik kara Sulungnya. Ia menganggap sikap Ammar tak sopan. Namun Bram tersenyum kearah Ammar. Ayah dan anak itu sepertinya lebih berharap Gede lebih dulu melamar Qiya. Walau Bram sendiri masih ragu dengan Gede.
__ADS_1
"Memangnya anda tidak sadar diri. Bukankah anda tahu jika Qiya Muslim." Cepat Hilman memprovokasi agar setidaknya rival nya itu tak dipilih menjadi menantu Bramantyo.