Pesona The Twins

Pesona The Twins
86 Calon Kakak Ipar


__ADS_3

Hampir dua Minggu, Qiya sudah kembali ke wahana internship. Ia bersyukur karena tak banyak yang tahu kabar dirinya telah bertunangan dengan dokter Pembimbingnya. Cita betul-betul jadi Hanoman bagi kisah cinta Qiya dan Gede.


Ia selalu menjadi racun nyamuk ditengah dua orang dokter itu. Saat Gede duduk di hadapan Qiya. Ia menunjukkan beberapa baju, perhiasan yang akan diberikan untuk hantaran pada saat hari pernikahan mereka. Qiya pun hanya menyerahkan semuanya pada Bu Ratih. Ia akan menerima semua yang dibawa dengan senang hati.


"Ya ampun, Tuhan berikan satu Arjuna untuk menemani diriku besok." Doa Cita sambil menatap layar ponselnya.


Dan seperti biasa, layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Dokter Gede bahkan mengikuti motor Qiya dan Cita sampai ke kontrakan mereka ketika mereka pulang saat shift malam. Selama perjalanan pulang, Cita seperti biasa akan mengomel.


"Kan udah mau halal Qiy. Ribet amat. Tinggal duduk di kursi belakang napa sih." gerutu Cita yang fokus menyetir motor karena sahabatnya itu tak mau berdua saja dengan dokter Gede. Sedangkan Cita tak juga mau naik mobil karena takut muntah.


"Baru mau belum halal." Ucap Qiya sambil melingkarkan satu tangannya di pinggang Cita.


"Ahai.... jangan kamu bayangkan aku dokter Gede ya Cit.... Aduuuhhh...aduh...." ucap Cita meringis karena setengah di cubit pelan oleh Qiya karena terus saja menggoda dirinya jika hanya berdua.


Walau Cita ceplas-ceplos. Ia cukup bisa di percaya. Ia bahkan tidak menceritakan di wahana tentang dirinya yang telah di lamar oleh dokter Gede. Sehingga Qiya pun tak terlalu pusing berinteraksi dengan banyak perawat atau dokter yang mengagumi ketampanan calon suaminya.


Di dalam mobil Gede dengan sabar mengikuti motor Cita yang membonceng calon istrinya.


"Hhhh... Sungguh beruntung aku Dek, bisa menjadi pendamping hidup mu. Ah, semakin mengenal kamu, aku semakin malu mengingat masalalu ku." ucap dokter Gede.


Ia mengingat bagaimana dia dulu selama tiga tahun berpacaran dengan gadis yang ia tahu calon penerus salah satu perusahaan. Ia tak tahu jatidiri dari sang kekasih. Ia sering menghabiskan waktu bersama sang kekasih atau tunangannya bersama walau hanya untuk makan malam bersama berdua, atau menonton film di bioskop berdua. Sedangkan dengan Qiya. Rasanya baru satu kali mereka mengobrol berdua. Itu pun di teras kontrakan dokter muda itu.

__ADS_1


Disaat Gede merasa kan cintanya yang begitu tak sabar menanti hari pernikahan. Ammar pun begitu, disaat yang sama, Kakak Qiya itu sedang berada di kediaman Pak Subroto.


"Seminggu lagi Qiya pulang. Kita akan fitting baju bersama. Karena nanti setelah proses ijab kita. Acara ngunduh mantu akan dilaksanakan acara ijab Qiya. Juga resepsi untuk Ibrahim." Ucap Ammar pada Arumi.


Terlihat Ifah baru saja diantar salah seorang baby sitter ke Arumi. Bocah itu menangis mencari keberadaan Arumi. Ammar tampak memainkan kedua matanya ke arah balita tersebut. Ia bahkan melebarkan kedua matanya juga setengah menjulurkan lidahnya. Ifah pun tersenyum lalu lama-lama tertawa. Saat Ammar menjulurkan kedua tangannya ke arah Ifah. Balita mungil itu tampak juga menjulurkan tangannya tanda ingin digendong oleh Ammar.


"Anak pintar... Sini... " Ammar pun berdiri dan memeluk Ifah. Kepala balita itu ia sandarkan di pundak Ammar. Matanya setengah terbuka seperti orang ngantuk berat.


"Papa sudah mengurus semua administrasinya, beberapa hari lagi akte dan surat adobsi Ifah keluar. Terimakasih sudah mau menerima Ifah. Dan kabar yang Papa dapatkan, Orang tuanya Alex meninggal dunia karena ov3r d0sis." Ucap Arumi.


"Dengan meninggalnya ayahnya maka dia masuk kategori anak yatim. Aku orang yang beruntung jika dia bisa bersama kita. Lalu bagaiamana dengan ibunya?" Tanya Ammar penasaran.


"Belum di ketahui." Ucap Arumi sendu.


"Jangan risaukan hal yang belum terjadi." Ucap Ammar mencoba menenangkannya.


Marvin yang dari tadi duduk di sofa hanya menunduk. Ia tak berani berkomentar. Walau di dalam hatinya sibuk menilai bosnya yang mau menikah dengan perempuan yang seperti janda karena hadirnya Ifah.


Melisa dan Subroto sedang keluar kota untuk persiapan pernikahan anaknya juga mengurus administrasi terkait Putrinya yang Arumi Mayang Dahayu bukan Kalila Mayang Dahayu.


Ia pun telah mengurus surat pengunduran diri dari Arumi yang ia putuskan sepihak. Ia tak ingin anaknya terjun ke dunia itu. Cukup sudah kehilangan Mayang. Ia tak ingin kembali kehilangan Arumi.

__ADS_1


Ammar yang baru saja menyerahkan Ifah ke gendongan Arumi, ia pun menerima pesan dari Gede.


[Insyaallah saya akan datang ketika fitting baju nanti Kak.]


Balas Gede yang tadi mendapatkan pesan dari Ammar.


"Siapa?" Tanya Arumi saat melihat Ammar tersenyum membaca pesan calon adik iparnya.


"Calon adik Ipar ku. Tubuhnya tak terlalu besar. Tapi di dipanggil Gede." Ucap Ammar.


"Maksudnya namanya Gede? Orang Bali?" Tanya Arumi.


Ammar menganggukkan kepalanya. Ia pun berpamitan karena hari mulai larut. Ia diminta Ayra tadi untuk sang calon istri memilih warna dan model gaun untuk acara di rumah Ayra nanti. Saat di mobil Ammar pun segera mengirimkan alamat butik tersebut ke ponsel Gede.


[Awas jangan nyasar lagi. Aku harap bisa bersamaan biar nanti ku kenalkan dengan calon kakak ipar mu.]


Setelah mengirim pesan tersebut Ammar pun menyandarkan kepalanya di kursi. Marvin pun mengendarai mobil dengan pelan.


"Tidak sabar rasanya ingin segera menikah...." batin Ammar dengan memejamkan kedua matanya.


Hari pernikahan tinggal menghitung hari. Undangan bahkan telah disebarkan oleh keluarga Arumi. Tinggal persiapan di kediamannya untuk ijab Qiya dan ngunduh mantu yang baru 60 % persiapan nya. Qiya menyerahkan semuanya pada Ammar dan Kedua orang Tuanya.

__ADS_1


Tinggal fitting baju lalu menuju hari H. Maka sepasang anak manusia akan merasakan indahnya menjadi pengantin baru.


(Hai readers, sudih kiranya bantu author, besok Senin, Votenya buat The Twin ya. Otw Halal Ammar hari Senin. Qiya Selasa atau Rabu ya)


__ADS_2