
Dua orang dokter itu masih duduk di lantai. Dokter Gede mencoba menenangkan debaran jantungnya. Oiya berusaha menetralkan wajah yang terasa panas karena malu. Sambil mendorong botol mineral ke arah Qiya. Dokter Gede hanya melirik perempuan yang mampu membuatnya kembali bergetar setelah sempat patah hati.
"Sreeet... "
"Minumlah dok. Saya nanti saja. Ladies First..." Ucap dokter Gede.
Qiya pun mengangguk pelan. Ia mengambil botol itu. Ia membuka tutup botol itu. Ia menoleh ke arah kanannya. Karena malu ketika harus mendongakkan kepalanya untuk minum. Ia tak mau langsung minum dari bibir botol tersebut karena dokter Gede pun butuh air untuk minum. Kondisi tak ada gelas membuat putri Ayra itu mendongakkan kepalanya. Ia menuangkan air tersebut kedalam mulutnya.
Dokter Gede melirik ke arah Qiya. Tak tampak wajah gadis itu. Hanya kerudungnya yang tampak karena dokter iship itu memalingkan wajahnya saat minum.
Beberapa teguk putri Ayra itu meminum air tersebut. Setelah itu ia kembali menutupnya dan menyerahkan kepada dokter Gede.
"Terimakasih dok. Maaf jadi dokter harus minum bekas saya." Ucap Qiya pelan dan masih menunduk.
"Sama-sama. Siapa bilang bekas. Bukankah kamu meminumnya tidak langsung dari bibir mulut botol itu." Jawab dokter Gede.
Dokter Gede pun melakukan hal yang sama. Ia menoleh ke arah kirinya. Ia juga minum tanpa lewat bibir botol tersebut. Qiya yang cerdas malah salah tingkah dengan kalimat dokter Gede barusan.
"Dokter Gede memperhatikan aku?" Batin Qiya.
Sesaat lampu di dalam lift menyala. Dua orang itu pun berdiri. Dokter Gede cepat melangkah ke arah tombol lift namun masih belum berfungsi. Ia pun mencoba membuka pintu lift itu namun usahanya sia-sia. Ia kembali ke tempat semula. Ia bediri bersandar pada dinding lift. Qiya yang sudah berdiri memandang pantulan lift yang terdapat gambar mereka.
"Ehm..." Ucap Dinter Gede berusaha mencairkan suasana yang kikuk diantara mereka.
"Kamu besok pagi langsung ke Wahana atau pulang ke rumah dulu?" Tanya dokter Gede pada Qiya.
"Langsung ke Wahana dok. Tidak enak saya kemarin sudah lama libur, terus langsung kemari. Tak enak dengan teman-teman." Ucap Qiya.
__ADS_1
Seketika mengingat nama teman, Qiya teringat pesan sahabatnya jika ia minta oleh-oleh makanan khas bali. Bahkan sore tadi ketika mereka telponan, Cita kembali mengingatkan. Ia yang mencoba mengetik sesuatu di ponselnya berakhir dengan beristighfar karena lupa jika sedang tak ada sinyal di ponselnya.
"Astaghfirullah... Lupa ga ada sinyal." Ucap Qiya.
Dokter Gede pun menoleh.
"Ada apa?" Tanya dokter Gede.
"Tidak dok. Saya lupan kalau sinyalnya lagi tidak ada. Oya dok, makanan khas Bali apa ya dok kalau buat oleh-oleh?" Tanya Qiya karena ia memang tak tahu makanan khas Bali. yang bisa dijadikan oleh-oleh.
"Ada banyak sih. Tapi saya bisa pesankan ke toko langganan saya. Begini saja besok pagi saya akan suruh... maksud saya, pesan dan kirim ke hotel ini. Jadi dokter tidak perlu repot-repot dan bisa langsung ke bandara." Ucap dokter Gede.
"Wah jadi ngerepotin. Tidak usah dok. Saya minta alamatnya saja. Nanti biar coba saya beli sendiri." Ucap Qiya.
"Ya tidak apa-apa sekalian saya titip buat perawat juga teman-teman satu shift sama saya di rumah sakit. Sekalian saya titip sama dokter. Atau dokter keberatan" Ucap Gede.
Ia yakin jika alasan seperti itu, Qiya tak akan menolak. Qiya pun akhirnya mengiyakan permintaan Gede. Gede dan Qiya menatap pintu lift yang tak kunjung terbuka.
Hampir 30 menit mereka berada di lift tersebut. Akhirnya pintu yang dinanti terbuka, terbuka juga. Dua orang dokter itu pun berpisah karena dokter Gede tak ingin makan malam di rooftop. Ia lebih memilih pulang. Tiba di kediamannya,dokter Gede sudah disambut Niang Ayu.
Perempuan yang duduk di kursi roda itu menanti Lelaki itu bersama Ibu nya. Ia mengucapkan salam. Tanpa disadari dokter Gede saat makan malam, Niang Ayu dan Ibunya yang bernama Ratih memperhatikan perubahan dokter Gede.
Saat selesai makan dokter itu ingin pulang ke rumahnya. Namuj di minta Niang Ayu menginaplah di kamarnya yang ada dirumah itu. Ya, dokter Gede dan Ibu Ratih tinggal di rumah yang ada di sebelah kediaman Niang Ayu. Walau masih dalam satu pagar tetapi di dalam itu ada dua rumah. Cukup sederhana rumah mereka. Walau rumah dokter Gede tertutup tempat beribadah Niang Ayu.
"Tidurlah disini Ge. Besok Pagi Niang ingin kamu berkenalan dengan sahabat Niang. Dia seniman juga dari Kota Surabaya." Ucap Niang Ayu.
Dokter Gede menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Jangan bilang sahabat Niang punya anak gadis." Ucap Gede karena sudah dua kali Niang Ayu mencarikan calon pengganti Mayang.
"Ya sambi menyelam kenapa tidak minum air. Atau kamu sudah bertemu seseorang? Ibu lihat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri." Ucap Ibu Ratih yang sedang memeriksa catatan uang keluar masuk yang diserahakan karyawan tokoh Kue miliknya.
"Ibu selalu saja curiga. Saya cuma lucu saja tadi di jalan ada yang membuat saya ingin senyum atau tertawa." Ucap dokter Gede.
Ia pun berlalu daro ruangan itu manuju kamarnya yang berada dirumah tersebut. Tiba di Kamar tersebut, Gede pun mengeluarkan sapu tangan bekas d@rah tadi. Ia melihat sapu tangan itu. Dan sebotol air mineral yang hanya tersisa sedikit.
"Rasanya seperti dulu pertama aku menyukai Mayang. Tapi wajahnya makin hari malah makin tidak mirip Mayang. Apakah aku betul-betul menyukai dokter Qiya..." Ucap dokter Gede.
Malam itu dokter yang hampir satu tahun setengah merasa hampa, merasa bersedih setiap ingat kisah cintanya yang berujung sedih dan malu, malam itu ia seolah ABG yang sedang jatuh cinta. Semakin ia mencoba memejamkan matanya. Ia semakin dibuat seolah-olah Qiya ada di depan matanya dengan wajah merona tersipu malu di lift tadi.
Sebenarnya tekhnik mengenakan jilbab yang berbeda akan membuat bentuk wajah seseorang juga berubah. Dan saat pertemuan pertama dokter Gede dengan Qiya. Dokter iship itu mengenakan jilbab langung yang membuat wajahnya sedikit oval. Sehingga mata dokter Gede melihat jika Qiya mirip Mayang.
Namun saat keseharian selama bertugas di Wahana, Qiya lebih sering mengenakan jilbab segi empat yang biasa dikenakan kebanyakan anak-anak santri di pondok pesantren salaf.
"Kayaknya mataku sakit, soalnya kalau terpejam yang terlihat hanya dokter Qiya." Ucap dokter Gede dan tanpa ia sadari Ibu Ratih yang ada di belakangnya tersenyum.
"Oh... Jadi dokter Kia namanya... Yang katanya lucu, Alhamdulillah Ibu senang kamu sudah bisa berpindah ke lain hati. Katakan seperti apa orangnya." Ucap Bu Ratih pada Gede yang kaget melihat ibunya ada di kamarnya.
"Ibu kenapa tidak ketuk pintu?" Protes dokter Gede.
" Yang melamun siapa sampai ketukan pintu Ibu tidak ada respon. Mungkin karena bayangan dokter Kia..."
"Q I YA Bu, bukan Kia." Ucap Gede sambil mengeja nama Qiya dan memberikan qolqolah pada huruf Q.
"O... Q.... Qiya... Niang pasti ikut bahagia jika bisa berkenalan dengan dokter Qiya." Goda Bur Ratih sambil ikut menekan kata Q seperti orang belajar tajwid di huruf ق.
__ADS_1
"Ingat kata Gus Mus, lelaki yang hebat itu bukan yang menyatakan cintanya pada sang Gadis tapi yang langsung melamar dia kepada orang tuanya." Ucap Bu Ratih yang memang mengidolakan ulama tersebut.
Mendengar kata lamar dokter Gede pun hanya tersenyum tipis.