
Saat Ammar akan pergi Arumi sibuk mencatat sesuatu di buku miliknya.
"Ayolah Arumi, sebelum bertambah dingin cuaca di luar." ucap Ammar. Arumi baru saja mencatat hari waktu ia haid. Ia khawatir jika hitungan nya salah. Ia masih belajar tentang ini.
Maka ia mencatat waktu dan tanggalnya.
"Sebentar." Ucap Arumi saat menyimpan buku yang diberikan Ayra untuknya.
"Buku Apa itu?" tanya Ammar.
"Buku cinta." Jawab Arumi singkat sambil sibuk memasang Niqabnya.
"Owh... sudah bisa bucin sekarang."
"Cepat katakan, apakah karena buku itu kamu membuka hatimu?" Ucap Ammar sambil menarik-narik hijab Arumi.
Perempuan yang moodnya suka naik turun itu mendelik dari cermin di hadapannya.
"Ammar... aku sedang ingin cepat. Tadi kamu minta aku cepat."
"Kamu ini, cepat sekali meledak. Tadi melow, sekarang meledak." Ucap Ammar sambil duduk dan tersenyum.
"Aku lagi PMS. premenstrual syndrome ."Ucap Arumi sambil memasang tali Niqabnya.
"Lalu harus meledak-ledak begitu kalau moodnya jelek?" Tanya Ammar masih menarik ujung Niqab Arumi.
"Ammar...." Arumi kembali bersungut-sungut karena jilbabnya di tarik-tarik.
Ammar tertawa senang karena bisa melihat tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
"Ar..."
"Hem"
"Kita disini sampai haidnya selesai ya?"
Arumi sudah berbalik dan mendelik.
"Ckckck... Memangnya ada apa setelah Haid?"
"Ada Cinta yang begitu besar untuk istriku ini. Dan aku ingin menghujaninya dengan sejuta cinta." Ucap Ammar.
"Gombal. Ayo. Miss Allyne sudah ada di bawah." Ucap Arumi.
Ammar pun menuruti istrinya itu. Saat mereka berjalan beriringan. Tiba di lantai bawah. Arumi mengikuti Miss Allyne dan Marvin..Sedangkan Ammar menuju Aula yang telah ditunggu banyak mahasiswa yang akan bergabung dengan job mereka.
[Sayang, nanti siang aku jemput ya.]
Entah kenapa pagi ini ia merasa sangat bahagia. Ia merasakan kehangatan sama seperti dulu saat ia bersama Gede. Bahkan ia tak lagi sakit kala memory nya mengingat masalalu nya bersama Gede.
"Hhhh... Semoga kamu tidak berubah. Semoga kamu yang terakhir." Ucap Arumi dalam hatinya.
Satu hari itu Arumi melihat tempat-tempat bersejarah dalam Islam di negeri kangguru itu. Saat akan kembali hotel Ammar mengatakan tak bisa menjemput karena ada banyak yang belum selesai untuk persiapan besok membuka sebuah tempat di mall yang ada di Australia tentang kafe dengan nuansa islami.
"Ar, nanti minta Antar Miss Allyne ya." Ucap Ammar dalam teleponnya.
Arumi pun berdehem. Saat akan kembali ke hotel, betapa Arumi dibuat kembali meleleh. Ia melihat di depan hotel itu terdapat tulisan berwarna merah.
..." I love U Arumi."...
__ADS_1
Setiap orang yang lewat depan hotel itu melihat ke arah atas gedung hotel tersebut.
Dan saat ia masuk kedalam hotel. Setiap orang yang bertemu dengan dirinya memberikan sekuntum bunga mawar merah. Terus, hinggap tangannya kesulitan memeluk bunga-bunga itu. Hingga ia berada dalam lift dan tiba di depan kamar ada Ammar yang juga memegangi setangkai bunga mawar.
"Seperti inilah aku akan mengisi hati mu Ar. Sedikit tapi sering, selalu bahkan setiap menit hidup mu." Ucap Ammar menyerahkan setangkai mawar untuk istrinya.
Arumi hanya diam melangkah mendekati Ammar. Saat sudah di dalam kamar. Arumi kaget karena banyaknya boneka pinguin yang ada di atas tempat tidur. Arumi melirik kearah suaminya. Ia pun memeluk salah satu boneka pinguin yang berkalung kain kuning dan ia lihat hampir setiap boneka itu tertulis kalimat 'I Love U, Arumi'.
"Katakan darimana kamu tahu ini." ucap Arumi
"Katakan Mas, dimana kamu tahu ini?" Ucap Ammar.
"Katakan dimana kamu tahu kesukaan ku ini?"
"Mas Ammar katakan dimana kamu tahu kalau pinguin ini kesukaan ku." Ucap Ammar lagi.
Arumi tersenyum. Ia melangkah ke arah Ammar. Ia tatap suaminya. Ia pun memeluk Ammar sambil satu tangan tetap memeluk boneka Pinguin.
"Katakan Mas Ammar, darimana tahu bahwa ini kesukaan ku."
Ammar mengangkat tangan Arumi yang memeluk pinguin.
Ia berbicara pada pinguin tersebut.
"Katakan pada teman mu. Aku tidak mendengar dia bilang apa?"
Arumi menghela napas pelan.
"Mas Ammar kalau masih tidak dengar malam ini tidur disofa lagi saja."
__ADS_1
"Oh No.... Tidak.Tidak. Mas Ammar dengar. Jangan, jangan pisah ranjang lagi. Cukup sudah training tiga bulan di sofa dan karpet bludru. Ampun istriku sayaaaanggg." Ucap Ammar sambil memeluk Arumi erat dan mereka tertawa bersama di dinginnya cuaca sore itu.