Pesona The Twins

Pesona The Twins
120 Kebenaran Masalalu Pak Rendra


__ADS_3

Malam itu Pak Rendra tak bisa tertidur. Ia begitu gelisah. Ia berkali-kali terjaga dari tidurnya. Malam itu ia dan istrinya menemani Hilman di rumah sakit. Putranya masih harus menjalani perawatan karena baru di operasi. Ibu Ratih tampak bersandar di sofa rumah sakit. Ia cukup lelah karena sudah hampir setengah bulan ia menginap di rumah sakit itu untuk menemani Hilman.


Malam itu adalah malam yang cukup panjang bagi Pak Rendra. Ia teringat akan pesan dokter yang mengatakan jika waktu mereka tak banyak. Khawatir kondisi Hilman semakin lemah. Sedangkan pendonor tulang sumsum belakang dari orang lain belum juga ada yang cocok. Mereka sudah dua Minggu di Australia.


"Apakah aku harus menemui Ratih, tapi bagaimana jika anak itu bukan anak ku. Tidak aku akan menunggu informasi dari anak buah ku.," Ucap Pak Rendra.


Akhirnya malam itu ia tak tertidur sama sekali. Hingga saat pagi tiba, ia justru tertidur di sofa disebelah istrinya. Saat ponselnya berdering, Pak Rendra yang begitu lelap tak mendengar. Bu Ratih yang baru saja menyuapi Hilman. Ia mengangkat panggilan di ponsel suaminya. Dan ternyata dari anak buah Pak Rendra.


"Halo Bos. Kamu sudah mendapatkan semuanya. Dan bisa kami pastikan jika dokter Gede Ardhana betul anak kandung bos dengan Bu Ratih Purnama. Filenya sudah kami kirim ke email bos." Ucap anak buah Rendra tanpa menunggu jawaban saat sambungan telepon itu berlangsung.


Bu Ratih menutup mulutnya dengan ujung jarinya. Jantungnya seakan copot. Ia bisa mendengar jelas nama dua orang dan status lelaki bernama Gede Ardhana. Lelaki yang ia tahu sebagai menantu Ayra. Yang tak lain suami Qiya. Perempuan yang sempat ia lamar untuk menjadi istri putra satu-satunya.


"Astaghfirullah.... " Ucap Bu Ratih.


Tubuhnya lemah, ia duduk di kursi stainless dan menggenggam erat ponsel suaminya. Lalu ia buka email suaminya. Semakin sakit hati Bu Ratih. Ia sudah berpuluh tahun hidup bersama Pak Rendra. Di usia yang tak lagi muda, ia justru menerima kenyataan bahwa suaminya punya anak dari perempuan lain. Ia berpikir jika sang suami pernah berselingkuh dari dirinya. Disaat ia harus terlihat kuat karena putranya sedang terbaring lemah. Ia justru harus merasa lemah karena kenyataan.


Ia kembalikan ponsel Pak Rendra. Ia pergi dari ruangan itu. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobilnya. Ia merasa sakit, merasa kecewa. Ingin meminta penjelasan pada sang suami, namun ia sudah bisa menebak akan berakhir dengan suaminya yang naik pitam dan akhirnya ia juga yang harus mengalah. Ia ingat dulu bagaimana sang ayah banyak memberikan modal pada sang suami untuk memiliki bisnis sendiri dan Bu Ratih bahkan menjual asetnya saat sang suami butuh asupan dana untuk membuat partai baru disaat ia kecewa karena kalah suara dari Ayra yang saat itu semua anggota partai mencalonkan dirinya untuk maju sebagai kader partai menjadi salah satu calon wakil walikota. Hingga Pak Rendra memiliki partai sendiri.


Pengorbanan demi pengorbanan selalu ia lakukan saat suaminya butuh dirinya. Namun semuanya terlihat sia-sia saat usia tak lagi muda. Bu Ratih masih meluapkan rasa sakit, sedihnya seorang diri. Ia pun selama satu Minggu begitu dingin dengan sang suami. Ia berharap sang suami mau menemui Ratih Purnama alias ibu Gede. Agar. Namun Pak Rendra masih besar gengsi daripada meminta maaf apalagi memohon agar Gede bisa memeriksa kondisinya untuk jadi pendonor tulang sumsum belakang untuk Hilman.


"Aku yang akan menemui Ibu Gede. Demi kamu Nak. Mama akan melakukan apapun." Ucap Bu Ratih dalam hatinya.

__ADS_1


Pagi itu Hilman bahkan terlihat tak dapat menggerakkan kakinya.


"Mas, aku mau pulang dulu sebentar." Ucap Bu Ratih saat ia mengatakan jika ia akan terbang ke Indonesia.


Pak Rendra pun hanya mengangguk.


"Terbuat dari apa hati mu... Tega sekali kamu." Batin Bu Ratih.


Saat malam harinya, Ibu Gede itu sedang mengemasi bajunya untuk pulang ke Indonesia. Namun Pak Rendra datang ke apartemen dengan penuh amarah.


"Katakan Ratih. Apakah kamu sudah tahu semuanya?!" Tanya Pak Rendra dengan emosi karena anak buahnya mengatakan jika saat itu Pak Rendra sudah menerima laporannya melalui sambungan telepon.


"Harusnya aku yang marah! Bertahun-tahun aku hidup dengan mu. Jiwa raga aku berikan untuk mu! Ini yang aku dapatkan! Kamu menduakan aku! Katakan kenapa kamu tak meminta Gede untuk menjadi donor bagi Hilman! Katakan Mas. Cepat Katakan.!" Ucap Bu Ratih sambil memukul dada Pak Rendra.


Lelaki paruh baya itu mencoba memeluk Bu Ratih agar istrinya itu tenang. Tapi yang ia dapatkan justru penolakan. Ia di dorong kasar oleh Bh Ratih.


"Aku tidak butuh perhatian mu. Aku cukup sudah merindukannya bertahun-tahun. Katakan kapan kamu berselingkuh dari ku!" Ucap Bu Ratih dengan suara yang nyaring.


Pak Rendra terdiam. Ia mengusap mukanya berkali-kali.


"Aku tidak pernah mengkhianati mu. Aku justru lebih dulu menikahi Ratih saat aku belum mengenalmu. Aku menceraikan dirinya saat aku belum bertemu dengan mu." Ucap Pak Rendra yang duduk di susut kasur kamar apartemen itu.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tak pernah menceritakannya pada ku?" Kembali Bu Ratih berteriak diiringi Isak tangis.


"Ratih.... Aku tak ingin membahas yang sudah lalu. Bagiku itu tidak penting." Ucap Pak Rendra.


"Jika tidak penting bagimu. Tapi bagi aku dan anak ku itu menjadi penting kini. Kamu tahu kan mas. Jika dokter mengatakan bahwa saudara kandung punya harapan untuk menolong Hilman. Setidaknya kenyataan menyakitkan ini bisa aku terima dengan harapan Hilman bisa sembuh. Kupikir kamu akan menemui Gede atau ibunya setelah kamu tahu bahwa dia darah daging mu. Tapi kamu masih saja egois. Hilman butuh Gede Mas. Dia butuh masalalumu. Tolong jangan ambil Masadepan ku. Tolong.... jangan biarkan Hilman pergi karena penyakitnya." Kini Bu Ratih terduduk di lantai.


Pak Rendra mendekati istrinya tapi Bu Ratih kembali berteriak.


"Jangan sentuh aku! Aku akan memaafkan rasa sakit ini mas. Dengan syarat temui Gede atau ibunya untuk menjadi pendonor buat Hilman." Ucap Ratih lagi.


"Aku tak mungkin melakukan itu Ratih... Luka yang ku torehkan pada mereka begitu besar.... Aku tak mungkin melakukan itu. Aku malu Ratih... " Kini suara tangis Pak Rendra terdengar.


Ratih melihat lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya menangis. Baru kali ini seumur hidup Ratih melihat suaminya menangis dengan tersedu-sedu. Pak Rendra menangis karena menyesali perbuatannya. Ia juga tak berani menemui mantan istrinya.


"Baik. temani aku. Aku yang akan memohon pada mereka. Kamu cukup mendampingi aku... " Ucap Bu Ratih pada sang suami.


Kini sepasang suami istri yang tak lagi muda itu sama-sama saling menatap dengan wajah yang berlinang air mata.


Ditempat yang lain, Istri dari Gede Ardhana justru merasa bahagia. Ia sedang menanti suaminya pulang dari rumah sakit.


"Kado terindah untuk mu Mas...." Ucap Qiya memandang sebuah kado yang ia siapkan untuk sang suami.

__ADS_1


__ADS_2