Pesona The Twins

Pesona The Twins
153 Mantan


__ADS_3

Gede baru saja mengantarkan Qiya ke kediaman Cita. Ia berpamitan pada Ayah Cita yang tampak sedang merawat bonsai nya. Ia akan kembali menjemput istrinya setelah bertemu dengan Bu Ratih. Ia menuju sebuah rumah sakit swasta. Sebelum itu ia sudah meminta izin pada Bram. Jika ia berniat memindahkan Hilman untuk proses pemulihan saudara satu ayahnya itu.


Bram pun setuju. Baginya, keputusan Gede adalah hal yang baik. Ia tak keberatan. Walau dulu Bram sempat kesal dengan Hilman. Namun setelah tahu perkara sebenarnya antara Pak Rendra dengan Gede. Menantunya lebih pantas sakit hati. Tetapi Gede mampu berjiwa besar. Mampu memaafkan. Kenapa ia yang lebih tua usianya harus mengingat kisah lalu.


Tiba di rumah sakit. Gede mengetuk pintu kamar Hilman. Suara Bu Ratih mempersilahkan masuk. Tampak Hilman bersandar di tempat tidur pesakitan nya. Ia tampak mengenakan topi rajut. Karena kepalanya yang botak. Wajah kurus, mata yang cekung. Ketampanan Hilman nyaris hilang dengan proses sebelum transplantasi sumsum tulang belakang kemarin dan pemulihannya.


Dua lelaki itu saling pandang. Ini kali ke tiga Gede mengunjungi Hilman. Masih tanpa Qiya. Gede sengaja tak pernah mengajak istrinya. Ia tak ingin menyakiti hati Hilman. Ia bisa tepa selera, jika ia jadi Hilman. Tentu rasa sedih akan kian menyeruak di hati lelaki yang hampir menikahi gadis yang ia sukai.


"Ini ada oleh-oleh dari Qiya Bu. Maaf tadi Qiya belum bisa ikut. tadi kebetulan pas mau kemari. Temannya sepertinya ada urusan penting." Ucap Gede.


Bu Ratih mempersilahkan Gede duduk di kursi stainless.


"Bagaimana kondisi mu Man?" Tanya Gede.


"Alhamdulillah, lebih baik dari kemarin-kemarin." Ucap Hilman.


Gede masih menimbang-nimbang apakah ia harus berbicara perihal bantuan nya pada Hilman dan ibunya. Tetapi ia akhirnya hanya menceritakan jika ia bermaksud agar Gede di pindahkan ke rumah sakit yang tak jauh dari kediamannya. Padahal Gede beralasan agar ia bisa menggratiskan semua biaya Hilman.


"Begini Man. Aku kasihan sama ibu. Bagaimana kalau besok kamu pindah ke rumah sakit Sejahtera. Lebih dekat dari rumah ibu. Kasihan Ibu harus bolak balik." Ucap Gede hati-hati.


Hilman menoleh ke arah sang ibu. Namun kedua bibir Bu Ratih terasa kelu. Ia sudah tak memiliki rumah di kawasan tersebut. Tetapi ia tak mungkin menceritakan pada Hilman.


"Terserah Ibu. Aku manut." Ucap Hilman pelan. Ia sadar diri. Sudah berbulan-bulan ia menyusahkan sang ibu.

__ADS_1


Bu Ratih pun berkilah.


"Disini saja, sudah terlanjur." Ucap Bu Ratih.


"Bisa kita berbicara sebentar Bu?" Tanya Gede.


Bu Ratih pun mengangguk. Gede menepuk pundak Hilman. Dan satu anggukan.


"Aku tinggal sebentar ya Man." Ucap Gede.


Ia dan Bu Ratih berbicara di koridor rumah sakit.


"Bu, saya tahu apa yang terjadi. Tolong... izinkan saya tetap menjaga hubungan baik dengan ibu juga Hilman." Ucap Gede.


"Sungguh mulia hati mu Gede ..." ucap Bu Ratih seraya mengusap pundak Gede.


Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Ibu Ratih menerima permohonan Gede. Hilman akan dipindahkan ke rumah sakit baru. Dan ia akan tinggal di apartemen yang tak jauh dari rumah sakit.


"Tolong Bu, jangan sungkan. Ibu tidak boleh lupa. Saya dan Hilman satu Ayah." Ucap Gede.


Ibu Ratih semakin menangis haru. Ia sempat merasa sakit hati pada Gede. Kala suami Qiya itu tak ingin mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Gede sudah mengurus administrasi untuk Hilman. Saat ia akan menjemput Qiya. Tiba di sebuah jalan, Gede melihat mobil yang biasa di kendarai Arumi berhenti di pinggir jalan. Gede pun menepikan mobilnya. Ia turun dan bertanya pada sopir yang biasa mengantarkan keluarga Bram yang akan keluar.

__ADS_1


"Ada apa Kak?" Tanya Gede pada Arumi.


Istri Ammar itu seketika menoleh. Ia diam terpaku. Ia tak mampu menjawab. Gede kembali bertanya.


"Ada apa Kak? Mobilnya?" Tanya Gede lagi. Arumi baru ingin menjawab. Namun satu tarikan pada tas yang ada di pinggangnya ditarik oleh seseorang.


"Sreeeetttt."


"Aaarggfh.... " Ucap Arumi kesakitan. Daraaah segar mengalir dari tangannya yang terkena goresan pisau lelaki yang coba membawa lari tas selempang Arumi.


Arumi menarik satu lengan lelaki itu dengan sigap. Namun lelaki yang mencoba berlari tersebut menarik Niqab Arumi.


Arumi reflek menutup wajahnya. Ia menunduk ke arah kedua lututnya. Gede yang mengejar lelaki itu justru mendapatkan satu sabetan pada dadanya. Namun satu tangan yang masih menarik tas tersebut membuat ia kembali menerima sabetan pada lengannya.


"Aaawwwhhh..." rintih Gede.


"Astaghfirullah.... Gege....!" Teriak Arumi.


Gede menoleh ke arah perempuan yang menjadi kakak iparnya. ',Gege'. Panggilan sayang dari Mayang untuknya.


Tanpa mereka sadar. Mereka sedang saling pandang. Gede cepat membuang pandangannya. Arumi pun menutup wajahnya dengan lengan bajunya.


"Mayang.... Dia Mayang..."

__ADS_1


"Astaghfirullah....." Ucap Arumi khawatir.


__ADS_2