Pesona The Twins

Pesona The Twins
62 Ternyata dia Muslim


__ADS_3

Bu Ratih dan dokter Gede saling memandang. Bu Ratih melepaskan tangan putranya yang menutupi mulutnya.


"Ge... " Ucap Bu Ratih merasa kesal.


Gede tersenyum. Ganti kali ini Cita yang mendapatkan cubitan mesra dari Qiya. Putri Ayra itu mencubit paha temannya setelah ia duduk dan tersenyum tanpa dosa mengomentari dokter pembimbing Qiya.


"Aduh... Sakit Qiy. Kamu kenapa sih?" Ucap Cita sambil menoleh ke arah Qiya dan mengusap pahanya.


Qiya sedikit berbisik ke telinga Cita.


"Beliau ibunya dokter Gede." Ucap Qiya pelan sambil setengah berbisik dan menunduk malu karena ulah Cita.


"Wah beneran dok? Kirain istrinya. Berarti dokter masih single?" Tanya Cita ceplas ceplos.


Sempat makan satu meja bersama dokter Gede, membuat Cita tak merasa sungkan seperti Qiya. Ia justru kemarin ketika makan bersama dokter Gede terkesan santai. Karena sosok dokter Gede tak seseram yang sering perawat gosipkan. Bahkan dokter Gede sesekali tertawa karena ucapan dan tingkah Cita.


"Lah memang yang bilang anak saya sudah menikah siapa?" Tanya Bu Ratih.


Gede pun menatap Cita, lelaki itu menautkan alisnya sambil menatap Cita. Ia meminta pertanggungjawaban dari Cita.


"Sabar dok. Sabar Bu. Semua perawat disini bilangnya dokter pengantin baru." Ucap Cita usai menyeruput teh hangatnya.


Bu Ratih melirik dokter Gede. Gede menoleh ke arah ibunya.


"Saya ga tahu Bu. Kan dokter Cita bilang gosip." Ucap Gede sambil menarik menu sarapannya mendekat ke arahnya.


"Kamu kenapa Qiy kayak kepiting rebus gitu? Owh.... Apa jangan-jangan dokter Gede dan Ibu mau bicara 6 mata sama Qiya? Kalau begitu saya pergi dulu deh. Saya cari meja lain." Ucap Cita sambil tersenyum dan baru akan membawa makanannya. Ia harus terduduk lagi ketika di cubit oleh Qiya.


"Aduuuhh... Kamu kenapa sih Qiy? Sakit Qiy." Gerutu Cita sambil meringis.


Bu Ratih tersenyum. Ia bisa melihat jelas wajah merah Qiya.


"Wah jodoh Ge. Sama-sama suka nyubit kalau lagi gemes dan jengkel." Ucap Bu Ratih. Dan membuat dokter Gede menoleh ke arah perempuan itu dengan wajah memelas.


"Ibu.... Please..." Ucap dokter Gede sambil memasang wajah memelas.


Bu Ratih terkekeh melihat dua orang yang merasa salah tingkah karena di goda.


"Tidak dok. Duduk saja disini. Tidak menggangu kok. Ibu saya kebetulan duduk disini." Ucap dokter Gede cepat pada Cita.

__ADS_1


Bu Ratih merasa sepertinya perempuan bernama Qiya itu menaruh hati pada putranya. Dengan cepat tak ingin menyia-nyiakan kesempatan hari itu.


"Kenalkan, Saya adalah ibunya Gede." Ucap Bu Ratih.


Uluran tangan Buk Ratih di sambut oleh Qiya. Qiya memperkenalkan dirinya begitupun dengan Cita. Sarapan itu pun berlangsung dengan obrolan mereka. Terkesan santai namun Bu Ratih justru bertambah semangat melihat kepribadian Dokter Qiya. Belum lagi mereka akan sesekali tertawa karena celetukan Cita. Gadis itu betul-betul bisa membuat suasana tegang diantara Gede dan Qiya bisa mencari karena candaannya.


Dan yang membuat Gede dan Qiya tersedak bersama kala Cita dan Buk Ratih seolah telah lama bertemu dan memiliki misi menggoda dua dokter yang pernah gagal menikah.


"Bu Ratih tahu ga Bu. Kenapa dewa asmara bawa panah?" tanya Cita sambil berhenti memasukan makanannya kedalam mulut.


Bahu yang diangkat membuat Cita Menjawab.


"Karena dewa tersebut mencelupkan dulu anak panahnya ke oksitosin sebelum memanahnya ke hati seseorang. Dan Hati yang terpanah biasanya bisa memberikan perintah pada otak agar bikin wajah merah merona disaat berada di dekat orang yang dicinta." Ucap Cita sambil melirik dua orang yang sedari tadi tak banyak berbicara.


"Uhuk.... Uhuk... Uhuk...." Suara dokter Qiya dan Gede yang tersedak bersamaan.


"Nah loh bisa bareng gini. Tanda-tanda si Cupid sudah melesatkan anak panahnya ke hati anak manusia Bu. Aduuuhhhh" Ucap Cita masih menatap Bu Ratih namun satu tangannya mengusap punggung Qiya.


Namun sahabatnya cepat membuatnya dia dengan satu cubitan di dengkul sahabatnya itu. Bu Ratih hanya tertawa senang. Ia sudah lama tidak melihat raut wajah anaknya terlihat merona begitu. Ia tak sabar ingin segera meminta putranya untuk memastikan rasa di hati Dokter Qiya.


~~


Namun putri Ayra itu cepat menyembunyikan keterkejutannya. Saat selesai, ia kembali terkejut ketika lelaki yang tadi menjadi imam adalah dokter Gede.


"Untung tahu dokter Qiya udah shalat. Kalau tahunya sebelum shalat bisa gemetar aku." Ucap dokter Gede dalam hatinya.


Sedangkan Qiya merasa hatinya dalam keadaan tak baik-baik saja. Namun ia cepat menyimpan rasa keterkejutannya.


"Astaghfirullah... Tenanglah wahai hati. Biarkan Allah yang mengurus dan memutuskan jodoh mu. Saat ini kita pantaskan diri untuk jodoh ku dulu." Ucap Qiya mencoba menenangkan hatinya yang berdebar.


"Masyaallah, dokter Gede ternyata Muslim. Tetapi kenapa selama ini aku tak pernah melihat dokter Gede shalat di mushola." Batin Qiya.


Qiya seolah menjadi tulalit. Ia harusnya tahu alasan dokter Gede tak shalat di mushola. Karena kadang jadwal shalat tiba ketika ada pasien yang kritis belum lagi di mushola tersebut jarang ada yang berjamaah maka dokter Gede lebih memilih shalat diruangannya. Belum lagi trauma pernah di minta menjadi Imam saat shalat dan ia tak terlalu lancar membaca doa setelah shalat atau tak PD dengan bacaan Al-fatihah nya. Membuat ia kadang merasa takut untuk hadir berjamaah disaat Mushola tersebut tak ada Imam tetap seperti di masjid-masjid.


Saat hujan telah reda. Dua dokter Iship itu pulang mengendarai sepeda motor. Sedangkan Gede dan Bu Ratih menggunakan mobil. Tiba di kediaman dokter Gede, Bu Ratih cepat memburu dokter Gede. Ia bisa melihat sebagai perempuan. Qiya ada rasa pada putranya.


"Tunggu apalagi De."


"Bu... Saya ga tahu dia suka tidak. Lagian dia sangat menjaga jarak dengan saya. Saya sampai bingung cara mendekati nya." ucap Gede pada sang ibu.

__ADS_1


"Lah ya dinyatakan, perempuan mana tahu kalau kamu suka dia kalau ga diungkapkan." Ucap Bu Ratih.


"Hhhhh... ya tunggulah Bu. Tunggu timing yang pas." ucap dokter Gede.


"Keburu disamber orang." Protes Bu Ratih pada sang anak.


Mulai dari saat itu ia pun mulai mendekati Qiya. Namun hasilnya sia-sia. Empat hari berlalu untuk mendekati Qiya. Dari mulai chat yang di balas seadanya. Mulai dari keinginannya mengantar pulang dokter Qiya di tolak. Hingga pada sore hari saat Cita tak bisa pulang dan Qiya menunggu temannya itu di parkiran.


Qiya tampak asyik sedang mengamati layar ponselnya. Gede maju mundur untuk menemui gadis itu. Ia berpikiran jika ia harus memastikan dulu apa perasaan Qiya padanya. Ia tak ingin mengikuti saran sang ibu untuk langsung melamar ke orang tuanya. Ia khawatir di tolak karena dokter Qiya sendiri tak menyukai dirinya.


Saat ia baru akan melangkah namun tampak seorang lelaki yang tak lain adalah Hilman. Lelaki itu muncul dihadapan Qiya.


"Qiy." Ucap Hilman yang baru saja turun dari mobil.


Lelaki itu pun turun dari mobil membawakan sebuket bunga dan satu buah hadiah. Dokter Gede akhirnya bersembunyi di balik pos security. Namun ia mengamati pembicaraan Hilman dan Qiya yang bisa di dengar jelas olehnya.


"Happy Milad Qiy. Semoga Panjang Umur. Aku tadi ada kunjungan di desa A dan aku sengaja mampir kemari. Aku ingat ini hari milad Mu." Ucap Hilman menyerahkan bunga dan hadiahnya pada Qiya.


Hilman membelikan dokter Iship itu sekotak coklat kesukaannya. Qiya pun melihat ada beberapa orang di dekat pos satpam. Ia tak ingin berdua-duaan dengan Hilman. Ia berjalan ke arah beberapa orang yang tampak sedang menunggu jemputan.


"Terimakasih Mas. Tak usah repot-repot. Toh kita tak punya hubungan apa-apa lagi." Ucap Qiya sambil menerima hadiah yang diberikan.


"Tapi aku sudah bilang akan melamar mu lagi Qiy. Tak bisakah kamu berikan kesempatan kedua? Allah saja maha pemaaf." Ucap Hilman.


Qiya duduk di trotoar yang juga didekatnya ada beberapa perawat yang duduk. Dokter Gede Justru bisa melihat dan mendengar jelas dua orang itu mengobrol.


Qiya sedikit tertawa. Ia tak menyangka Hilman bisa menggunakan dalil tentang memaafkan.


"Memaafkan bukan berarti harus menyusun kepingan kaca yang sudah menjadi serpihan Mas. Aku memaafkan tapi tidak untuk melupakan. Dalam hal, jika kita berjodoh maka biarkan Allah mempertemukan kita dengan caranya bukan memaksakan kehendak kita. Saya bukan orang baik, tak pantas bersanding dengan Mas Hilman yang sekarang sudah menjadi wakil rakyat." ucap Qiya. Ia terlihat membersihkan sedikit debu pada buket bunga yang di bawakan Hilman.


"Tapi Qiy. Bagaimana dengan rasa dihati saya yang telanjur berlabuh pada kamu." Ucap Hilman.


Qiya pun menghela napasnya pelan. Saat ia melihat Cita menuju arah parkir. Hilman yang menyangka Qiya ingin meninggalkan dirinya karena untuk menghindar.


"Qiy.. "


"Lepaskan Mas! Mas Hilman sudah keterlaluan!" Ucap Qiya meninggikan nada Suaranya. Ia merasa kesal karena tangannya dipegang oleh Hilman.


"Anda tidak dengar apa yang diucapkan Dokter Qiya? Anda tidak malu sekali ternyata." Ucap Dokter Gede yang berjalan ke arah Qiya dan Hilman.

__ADS_1


__ADS_2