
Pagi itu dokter Gede menelpon karywan toko roti milik ibunya. Toko yang menjual kue khusus oleh-oleh khas Bali. Ia meminta salah satu karyawan toko tersebut mengirim beberpaa kue ke hotel dimana Qiya menginap. Dan ternyata salah satu karyawan yang biasa mengantar tak masuk. Gede pun akhirnya berinisiatif mengambil kur tersebut di toko dan mengantar ke hotel.
Setelah memesan dengan karyawan ibunya. Ia pun menelpon Qiya.
"Maaf dok, bisa minta tologn tunggu dulu. Saya akan antar pesanan dokter juga titipan saya." Ucap dokter Gede melalui sambungan telepon.
"Baik dok. Saya juga kemungkinan pulang dengan travel. Kemarin kehabisan tiket pesawat." Ucap Qiya.
Ketika sambungan telepon masih tersambung, dokter Gede tak menyadari jika Ibu nya yang berada tak jauh dari dirinya mendengarkan apa yang sedang dibicarakan anaknya. Ia pun memanggil Gede dengan panggilan biasanya.
"Sayang... Sarapan nya sudah siap. Buruan nanti dingin supnya." Ucap Ibu Gede.
Suara ibu Gede terdengar oleh Qiya. Gadis itu tersenyum mendengar suara perempuan yang ia sangka istri dokter pembimbingnya. Gede pun menyudahi panggilan tersebut.
"Pantas dokter Gede ambil izin, secara pengantin baru. Istrinya sepertinya sangat manja... Ah semoga aku pun bisa segera bermanja-manja pada kekasih yang halal menjadi tempat aku bermanja-manja." Batin Qiya yang merona karena mendengar suara Ibu Gede.
Sedangkan Gede yang baru saja menelpon segera menoleh ke arah Ibunya.
"Ge, Ibu ikut ke toko ya." Ucap Ibu Ratih.
"Ibu menguping aku?" Gede menyipitkan kedua matanya.
__ADS_1
"Tidak menguping tapi mendengar." Kilah Bu Ratih pada sang anak.
Mereka pun sarapan bersama. Ketika selesai sarapan Bu Ratih betul-betul ikut ke toko kue miliknya, ia melihat sang anak memesan cukup banyak kue. Hingga ia menggoda anaknya.
"Wah enak sekali punya dokter pembimbing yang baik seperti anak Ibu ini.Pulang seminar di bawakan oleh-oleh. Apa adik-adiknya banyak lantas oleh-olehnya sebanyak ini?" Goda Bu Ratih.
"Bu... Ini milik dokter Qiya. Ini milik ku untuk perawat dan dokter yang menjadi rekan kerja ku. Berhentilah menggoda putra mu ini." Ucap dokter Gede sambil mengangkat tentengannya.
Di tangannya telah terdapat Paper bag yang berisi oleh-oleh. Namun saat dokter Gede akan keluar dari tokoh roti itu. Bu Ratih yang merasa senang dan penasaran segera kembali menahan langkah sang anak.
"Ge... Ibu ikut ya, mau mampir ke mall. Temani Ibu belanja. Barang-barang di dapur sudah mulai menipis." Ucap Bu Ratih.
Gede menoleh dan tersenyum, ia tahu maksud dan tujuan ibunya. Iya pun membukakan pintu untuk sang ibu. Selama di dalam mobil Bu Ratih mengamati wajah anaknya. Biasa saja memang wajah sang anak. Tapi melihat mimik wajah lelaki tadi ketika mengobrol dengan Qiya vya telpon membuat Bu Ratih penasaran perempuan bermana Qiya itu.
"Ibu tidak mau turun dan kenalan dengan yang buat ibu penasaran?" Tanya dokter Gede setengah tersenyum.
"Tidak usah, ibu di mobil saja." Ucap Bu Ratih. Ia melihat ada beberapa orang dokter perempuan berdiri di depan hotel tersebut.
Ia melihat anaknya menghampiri seorang perempuan berjilbab coklat motif bunga terlihat sekali keanggunan dan kecantikan dokter itu.
"Perempuan berjlibab. Sungguh ada kemajuan dari masa lalu. Setidaknya pertemuan pertama ini, ibu bisa langsung klik. Mudah-mudahan kalian berjodoh. Sepertinya dia perempuan baik-baik. Dan ibu harap dia bisa membahagiakan kamu." Ucap Bu Ratih yang duduk di dalam mobil seorang diri sambil memgamati putranya dari tempat duduk dengan kaca mobil sedikit terbuka.
__ADS_1
"Maaf jadi merepotkan dokter." Ucap Gede setelah menyerahkan paper bag nya ke sopir travel.
"Tidak merepotkan dok. Saya malah jadi merepotkan dokter. Oya berapa total belanjaan saya?" Tanya Qiya seraya membuka tas kecilnya.
"Tidak, tidak perlu dok. Kebetulan itu di toko roti Ibu saya." Ucap dokter Gede.
Qiya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Bu Ratih melihat sosok Qiya adalah gadis yang menjaga dirinya. Bahkan tak ada sentuhan untuk sekedar bersalaman ketika Gede meninggalkan dirinya.
Qiya yang baru berani mengangkat wajahnya menatap ke arah dokter Gede. Terlihat di dalam mobil seorang perempuan yang memandang ke arah dirinya. Ia pun yang hanya bisa melihat bagian mata hingga dahi perempuan itu, dan memastikan jika perempuan yang berada di dalam mobim adalah istri dokter Gede.
"Ya Allah, semoga aku tidak menyakiti perasaan istri dokter Gede. Semoga pernikahan dokter Gede bahagia selalu, semoga istrinya tak berpikiran negatif tentang aku. Kenapa pula kamu jadi merepotkan suami orang Qiya... Istrinya pasti memandang ku perempuan tidak baik-baik... Astagfirullah... pandai sekali kamu berpikiran negatif kepada orang Qiya...." Ucap Qiya dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya sambil tersenyum menatap ke arah Bu Ratih.
"Gadis yang cantik, sopan. Kalau kalian berjodoh ibarat Wara Subadra dan Arjuna. Ibu lihat dia gadis yang manja dan akan menyayangi pasangannya. Kalian bisa romantis sekali seperti pasangan Arjuna itu. .Ah jadi tidak sabar kapan anak Ibu ini akan melamar nya." Ucap Bu Ratih sambil menatap spion mobil yang terdapat sosok Qiya masih memandang ke arah mobil mereka yang berangsur-angsur meninggalkan halaman hotel tersebut.
"Ibu ini. Dia itu bukan gadis yang manja. Dia bahkan nyaris tidak pernah mengeluh selama di rumah sakit atau merengek pada sesama temannya. Bahkan saat kakinya terluka pun dia tidak seperti kebanyakan perempuan yang akan merintih dang bermanja-manja." Ucap Gede tanpa sadar ia menoleh ke arah Ibunya.
"Cinta itu timbul dari pandangan. Jika kamu tidak jatuh cinta pada nya. Maka tak mungkin dokter pembimbing bisa tahu karakter peserta didiknya detail begitu." Ucap Bu Ratih meyakinkan putranya.
"Semoga dia bukan putri Prabu Basudewa ya Bu... Karena aku betul-betul trauma untuk kembali menjalin hubungan dengan gadis yang memiliki istana megah dan di gandrungi banyak pangeran." Ucap Dokter Gede pada Ibunya yang sangat menyukai kisah pewayangan.
"Jika kisah kita bisa menjadi seperti Sayidina Ali dan Sayyidah Fatimah,aku pasti akan merasakan manisnya hidup dari sekian banyak luka yang aku alami selama di dunia ini...." Namun ketika hati dokter Gede hangat akan rasa cinta yang memang ia pastikan ada untuk Qiya.
__ADS_1
Ia teringat ucapan Hilman tentang ia menyukai Qiya karena orang tuanya.
"Memangnya siapa orang tua dokter Qiya." Ucap Dokter Gede dalam hati masih sambil menyetir mobilnya.