Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
103. Talk


__ADS_3

Kami pulang kerumah masing-masing dan aku langsung menceritakan semua ke bapak secara detail dan selengkap-lengkapnya, bapak juga berharap semua segera selesai dan berlalu dan kami semua hidup seperti sedia kala yang normal tanpa campur tangan iblis maupun setan, kuatkan iman dan tetap percaya pada kuasa Tuhan maka apapun yang akan menghancurkan kami tidak akan pernah terjadi.


Malam ini aku tidur dengan sangat nyenyak dan sangat dalam karna aku ingat apa yang aku mimpikan, katanya kalau ingat kita mimpi apa berarti tidurnya nyenyak, bekerja dengan giat dan menjadwalkan pekerjaan yang harus dikerjakan, entah kenapa hari ini berlalu begitu cepat dan damai, walaupun kami ketawa-ketawa dan banyak bercandanya tetapi dalam hati dan isi pikiran kami bergemuruh dan memikirkan jalan keluar seperti tugas yang sudah kami sepakati bersama, aku ditugaskan untuk mencari anggota keluarganya yang jauh itu dan jika ada waktu senggang aku juga mencari di sosial media barang kali ketemu, aku juga tidak terlalu menggebu karna takut jatuh sakit karna tak sesuai ekspektasi jadi aku mencarinya dengan santai aja.


“Malam ini beli ice cream yuk!” ajak Kris.


“Boleh, ajak anak-anak intern juga.” Jawabku.


Akhirnya Kris mengumumkan kalau setelah bekerja semuanya akan diundang untuk makan ice cream di cafe yang terkenal dan ice creamnya enak banget, muka Ambar udah kaget karna dia yang pegang uang kantor dan Kris main ajak-ajak aja tanpa ngobrol ke dia, dan aku bilang kalau ini aku yang traktir semuanya.


“Loh ca, biar aku aja yang traktir.” Ujar Toby.


“Ngapain? Kan aku yang mau traktir,” jawabku.


“Aku kan calon imam mu,” jawabnya.


“Gak ada urusan juga bi kek gitu itu, aku yang pengen berbagi kok,” jawabku kesal.


“Dahlah, aku yang traktir karna aku bosnya, mau apa kalian semua hah?” jawab Roy yang kesal dengan tingkah Toby dan aku.

__ADS_1


Sedangkan Kris hanya ketawa aja padahal yang ngajak pertama dia, akhirnya Roy yang harus bayarin. Karna aku harus ke studio partner jadinya aku akan menyusul ke cafe nya karna aku ada urusan masalah approve desain dengan mereka, aku pun pergi dan Toby melihatku dengan tajam seakan tidak suka aku ke studio itu karna dia tau kalau ada orang di studio itu yang menyukaiku, tapi aku cuek aja karna dia juga tau kalau aku bukan cewek yang ganjen dan murahan sama kek temennya yang membuat kesalahpahaman yang aku juga males mengeluarkan energi.


Akhirnya aku datang di studio itu disambut dengan hangat dan sebelum itu juga diajak makan dulu karna mereka makan siangnya telat, aku pun ikut aja lalu membahas masalah desain yang tak kunjung selesai karna banyak yang harus direvisi jadi gagal approve hari ini, jadi aku langsung buka laptop dan mengerjakan di studio itu, karna aku benar-benar pengen ini kelar jadi aku gak bolak-balik kesini lagi. Sedangkan aku tau mereka sudah ada di cafe dan mencariku, telepon tapi gak kuangkat karna aku benar-benar konsentrasi, sampai akhirnya aku sepertinya gak bisa ikut ke cafe dan mengabari Kris kalau aku gak bisa nyusul, jadi gak perlu nungguin aku. Kata Kris Toby sangat marah dan mukanya gak enak sama sekali, aku hanya bisa membalas dengan tawa karna gak mau kepikiran yang mengganggu konsentrasiku.


Tanpa sadar sudah jam delapan malam, aku dan teman-teman disini akhirnya memutuskan untuk lembur karna memang kurang sedikit lagi, sampai akhirnya kelar jam 12 malam baru di approve dan rasanya seneng sekali akhirnya aku pamit pulang dan salah satu dari mereka menawari untuk diantar pulang tetapi aku menolak, saat aku keluar dari studio itu aku sudah melihat Toby lagi nongkrong didepan sama abang-abang jualan nasi goreng. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat kesal.


“Kenapa malam banget pulangnya?” Tanya Toby.


“Iya tadi ada revisi dan langsung revisi di tempat sampe approve,” jawabku.


“Udah makan malam belum?” tanya nya lagi.


“Yauda kamu pesen nasi goreng ini aja, makan disini.” Jawabnya yang menahan amarah.


“Iya.” Jawabku singkat.


Aku makan nasi goreng dengan tenang dan Toby yang masih melihatku dengan tajam dan tanpa obrolan apapun, aku tau dia marah karna aku gak balas pesan dia dan gak angkat telepon dia juga. Lalu Toby menyuruhku naik mobil dan dia akan naik motorku dan ngikut di belakangku, Toby juga tanya apa ini tadi udah pamit sama bapak dan aku bilang gak pamit dan bapak mungkin ngira aku nginap kantor, disitu Toby makin marah dengan mukanya yang sangat menyeramkan.


Perjalanan menuju rumah aku masih mampir ke store beli minuman dingin dan jajan yang banyak karna buat ngemil dirumah.

__ADS_1


“Masih sempat mampir-mampir lagi?” tanya Toby.


“Iya, isi kulkasku kosong tauk ga ada makanan ringan dan minuman.” Jawabku kesal karna Toby nih ngapain sih.


Lalu aku membeli dan Toby yang bayar padahal aku sudah menolak tapi Toby bersikeras, akhirnya aku biarkan saja.


Sesampainya dirumah ternyata bapak sudah tidur dan Toby pun juga pamit pulang.


“Makasih ya bi,” ujarku.


“Aku gak suka ya kamu gak ada kabar, jangan begini lagi.” Jawabnya kesal.


“Iya, kamu hati-hati dijalan ya.” Jawabku tanpa ada kata maaf karna ku gak merasa salah atau emang aku yang gak tau diri ya.


Karna aku cukup lelah dan aku ngemil minum susu dingin sambil nonton film karna memang belum terasa ngantuk dan besok juga hari libur, jadi aku bisa bersantai, padahal aku sengaja kelarin hari itu juga karna besoknya biar bisa bermalas-malas ria dan santai dirumah.


Karna ketiduran aku memimpikan sesuatu yang aku seakan sadar kalau aku sedang mimpi, jadi aku bermimpi aku ada dibawah pohon mangga dan sedang mengupas mangga, lalu ada ibu-ibu yang menyuruhku berbicara, memaksaku berbicara dan anehnya disitu aku tak bisa bicara jadi memang benar-benar gak bersuara, bahkan untuk membuka mulut saja tak bisa, tapi anehnya aku bisa membuka mulut saat aku memakan mangga. Ibu-ibu itu masih menyuruhku untuk berbicara dengan paksa, dipukul-pukulnya aku sampai aku berbicara nyatanya memang susah sekali.


Anehnya aku malah lahap memakan buah mangga yang sangat menyegarkan itu dan akhirnya aku malah diam saja tak menjawab ibu-ibu itu meski aku sudah berusaha dengan keras tapi memang aku seperti orang bisu disini, aku seakan hanya bisa makan tapi tak bisa menyuarakan apa yang aku rasakan.

__ADS_1


__ADS_2