
Entah mengapa dengan tubuh Amini ini aku kesulitan dalam berpikir, seakan Amini tak mengizinkan ku mencari jalan keluar, atau apakah aku bisa berkomunikasi dengan Amini?
Padahal aku juga belum bisa mengerti apakah aku pingsan di alam ku, atau kah aku menghilang begitu saja, atau bisa saja aku mati.
Bisa jadi aku bisa berkomunikasi dengan Amini, tapi bagaimana bisa aku menemukan Amini sedangkan jiwa ku ada di tubuh Amini. Aku mencoba berpikir dan berpikir tapi yang kutemui hanyalah jalan buntu. Sampai aku harus membaca ulang diary Amini mungkin saja aku menemukan clue baru, aku membongkar kamar Amini dan tak kudapati apapun. Sampai aku sadar aku berkaca dan melamun, muka ini tiba-tiba tersenyum. Apakah aku bisa berkomunikasi dengan Amini dengan kaca ini?.
"Non, mau ikut mbok ke pasar? ". Kata mbok Darmi mengajak ku.
"Boleh kah sama ibu?". Tanya ku memastikan.
"Boleh non, karna den Batara juga ingin ikut mau beli jajanan". Jawab mbok sambil mengambilkan ku sepatu dan memakaikanya.
Kami bertiga berjalan menuju pasar tradisional, karna memang tidak terlalu jauh dan ini kesempatanku untuk mengamati sekitar, Batara senang sekali dan berkesempatan untuk bermain dengan teman-teman nya, sedangkan aku membeli bandana berwarna merah yang cantik, mirip sekali dengan yang dipakai Amini saat aku berada di dunia lain rumah pak Broto.
"Mbok, aku membeli ini boleh? ". Tanyaku
__ADS_1
"Boleh non, mau apa lagi? ". Tanya mbok Darmi.
"Aku ingin mbok Darmi membeli jepit rambut baru untuk mbok, karna yang itu sudah kusam sekali". Jawab ku sambil memilihkan jepitan baru.
Sampai Batara datang dan minta membelikan manisan untuk teman-teman nya lalu kami pulang ke rumah, bu Asmirah sudah duduk di teras rumah dan melihat kami datang dengan senyum yang teduh tapi menurutku sangat menyeramkan, seperti rubah yang pandai memanipulasi.
"Sudah pulang anak-anak ku? " Tanya nya menyambut kami.
"Sudah bu, aku membeli makanan manis yang enak". Jawab Batara sambil memakan makanan itu.
"Iya buu, aku ingin bermain di belakang". Ucap Batara sambil berjalan ke halaman belakang.
"Anak gadis ibu, membeli apa kamu sayang? " Tanya bu Asmirah.
"Bandana ini bu, sangat cantik bukan? " Tanyaku sembari menunjuk kan bandana itu.
__ADS_1
"Cantik sekali, merah merekah seperti kecantikkan mu nak" Ucap nya sambil memasangkan bandana itu di kepalaku.
"Apakah aku cantik, ibu? " Tanya ku.
"Sangat cantik, mirip sekali dengan ibu". Jawabnya dengan senyum tulus.
"Nyonya, ini dimasak nanti atau besok? " Tanya mbok Darmi kepada bu Asmirah.
"Untuk nanti malam ya mbok, karna ada teman-teman bapak ingin berkunjung". Jawab bu Asmirah dan mbok Darmi langsung kebelakang.
Aku juga langsung bermain di bawah pohon semangka dengan Batara, karna dia suka sekali memanjat dan bermain tanah. Sedangkan aku akan mencoba mermain masak-masakan dengan daun yang jatuh ini.
"Batara... aku ingin memanjat juga, bagaimana caranya". Tanya ku karna aku memakai rok jadi agak kesusahan.
Lalu Batara mengajariku dan berhasil naik keatas pohon, rasanya menyenangkan bisa sambil tiduran dan ngobrol bercanda di atas pohon mangga. Batara turun ingin mengambil minum tapi tak kunjung kembali, dan aku kesusahan untuk turun dan takut bagaimana cara turun nya.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku terjatuh...