Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
64. Hempas


__ADS_3

Dalam gelap aku bertemu bu Diajeng, dapur terasa berbeda tone nya, dari yang tadinya gelap berubah menjadi warna sephia. Ku lihat diriku yang menutup mata dan aku lihat Toby yang melindungiku. Apakah jiwaku keluar dari tubuhku? aku pun juga tak mengerti, tetapi dihadapanku ada bu Diajeng yang duduk anggun melihatku dalam kepedihan.


"Kita bertemu lagi nak, " ucapnya seraya menyambutku dikediaman nya.


"Iya bu, " jawabku singkat karna masih shock dan bingung.


"Selamat datang di rumah ibu, terima kasih sudah selalu peduli kepada keluarga kami. " Ujarnya dengan tatapan yang sangat tulus.


"Terima kasih bu, rasanya saya pun terasa dipaksa untuk peduli, melihat tingkah prilaku mantu ibu itu, " jawabku berusaha berani.


"Ibu pun tak akan meminta maaf untuk nya, biarkan dia sendiri yang meminta maaf. Entah apa saja yang dia usik untuk kesenangan nya. " Jawab bu Diajeng dengan tatapan mata tajam.


"Apakah ibu memaafkan nya? " tanyaku mencoba mengetahui isi hatinya.


"Tentu tidak, dia gila! dia memperalat anakku dan cucuku menjadi sedih. " Jawab bu Diajeng marah.


"Saat ini cucu dan anak ibu sedang merasakan kepahitan yang amat dalam, apakah bu Diajeng tak ingin melihat mereka pergi dalam damai, termasuk ibu juga? " tanyaku mencoba mendekati bu Diajeng.


"Iya, semua ini gara-gara ulah Asmirah, wanita ular yang keji! dasar biadab! " ujarnya menakutkan karna saat kata biadab itu terucap, bentuk bu Diajeng berubah menjadi menyeramkan.


"Apakah ibu punya cara agar lingkaran setan ini berakhir? " tanyaku yang takut salah ucap.


"Bawa Asmirah ke nerakaaa!! " ujar bu Diajeng dengan tatapan tajam lalu aku langsung terhempas kembali ke tubuhku.


Rasanya sangat nyata, seakan aku tertarik dengan kecepan tinggi kembali ketubuhku. Saat membuka mata aku melihat dapur dengan normal dan melihat Toby yang tertidur. Saat aku bangunkan ternyata Toby tak kunjung bangun. Ada suara ketukan sebagai tanda kalau Toby juga sedang berkomunikasi.


Bisa jadi aku ditarik oleh Toby dan sekarang saatnya Toby yang berkomunikasi. Aku juga tak tahu dan tak mengerti. Aku hanya bisa menunggu Toby kembali bangun dan memikirkan cara bagaimana caranya lingkaran ini berakhir.


Kata bu Diajeng disuruh membawa Asmirah ke neraka, tapi bagaimana caranya pun tidak tahu. Hawa semakin dingin membuatku kedinginan dan memeluk Toby sampai tertidur.


Tanpa sadar ternyata sudah pagi, aku bangun dan melihat Ana sudah bersiap untuk memasak, Toby juga membantunya menyalakan api. Karna dapur kuno yang memasak memakai kayu dan tungku.


"Aku ketiduran semalem, " ucapku sambil mengucek mata.


"Iya, kamu, aku, Toby tidur di dapur, " ujar Ana.


"Terus yang lain diruang tamu, gaada yang tidur dikamar. Bahkan anak tetangga juga ketiduran disini. " Tambah Toby.

__ADS_1


"Dicariin mereka semalem itu, tapi karna ketiduran semua dan pintu pun kebuka lebar jadinya ya dibiarin sama bapaknya, " tambah Ana.


"Buset gak kedinginan mereka? " tanyaku.


"Tauk tuh, aku aja uda ngantuk langsung kebelakang sini tidur sebelahmu. " Jawab Ana.


"Kalian masak apa? " tanyaku.


"Masak sop sama goreng ikan bikin sambel, tadi beli ada pedagang sayur keliling gitu, " jawab Ana.


"Anak-anak kemana? " tanyaku lagi karna gaada suara mereka.


"Tadi mereka jalan-jalan mau keliling daerah sini, " jawab Toby.


"Hmm.. aku juga akan jalan pagi deh, " jawabku.


"Oh.. tentu tidak, kamu harus membantu memasak dan menceritakan kejadian semalam, " jawab Ana sambil tersenyum.


"Yaa yaa baiklah. " Jawabku males-malesan.


Karna energi semalam rasanya capek dan pegel semua, malah Ana memintaku membantunya. Toby bertugas bersihin ikan dan memotongnya, Ana membuat sopnya dan aku bikin nasi dan berlanjut ke Ana semua untuk finishingnya.


Toby pun menceritakan kalau tubuhnya seakan-akan ada yang memanggil, namun bukan bu Diajeng, melaikan Sri yang memanggilnya, Sri meminta untuk membantu membeberkan segala fakta, agar Asmirah benar-benar hancur lebur. Namun Toby melihat memang banyak sekali yang dendam kepada Asmirah, mungkin sangat banyak lagi manusia yang kena imbas atas segala tingkahnya.


Mungkin rekan-rekannya juga tidak suka dengan Asmirah dan Asmirah membuat pertahanan yang kokoh melalui keluarganya dan jika pertahanan tersebut runtuh, maka Asmirah benar-benar hancur. Jika keluarganya sudah gonjang-ganjing macam sekarng, hanya tinggal menunggu waktu maka semua akan selesai.


Hanya saja Sri berpesan agar pak Broto jangan sampai terkena tipu daya dari Asmirah lagi, pak Broto harus benar-benar berpikiran terbuka, maka kerajaan keluarga akan runtuh dan bisa kembali ketempat masing-masing.


Kami pun sambil memasak sambil berpikir, langkah apa selanjutnya yang harus kami lakukan. Karna kepalaku pusing aku mencari kopi tapi tak ada, akhirnya aku ingin mencari warung untuk membeli kopi.


Saat berjalan untuk mencari warung, aku bertanya pada ibu-ibu yang sedang menyapu di pelataran rumahnya.


"Permisi bu, warung dekat sini dimana ya? " tanyaku ramah.


"Jalan aja lurus nanti dipertigaan itu belok kiri nak, dibelakang rumah kedua. " Jawab ibu itu.


"Makasih ya buu, " ucapku dan berlalu.

__ADS_1


Aku tau ibu itu ingin bertanya lebih lanjut karna kepo aku dari mana sampai tidak tau warung disini, aku berjalan mengikuti arah dari ibu itu dan akhirnya menemukan warung kecil dibelakang rumah kedua.


"Permisi mbah, mau beli kopi. " Ujarku.


"Kopi apa nduk? item atau sachetan itu, " tanya si mbah.


"Sachetan mbah, yang rasa cappuccino, " jawabku.


"Berapa nduk? " tanya si mbah.


"1 renteng mbah, " jawabku.


Si mbah tersenyum karna katanya belum ada yang beli 1 renteng, orang-orang sini suka beli menyicil satu-satu nanti kalau lupa balik lagi, begitu ceritanya. Beliau pun mengambilkan kopi tersebut dengan tanggan yang gemetar, si mbah memang sudah cukup sepuh.


"Mbah jaga warung terus? " tanyaku.


"Iya nduk, anak mbah kerjanya agak jauh, malam pulangnya, harus ada kegiatan biar gak bosen, " jawabnya sambil tersenyum.


"Mbah, goreng apa itu mbah? " tanyaku lagi.


"Gorengan nduk, " jawabnya.


"Aku juga mau gorengan mbah, enak panas-panas, " jawabku.


"Sabar ya nduk, masih baru soalnya, gorengan nya cuma goreng pagi aja, kalau sore gak goreng mbah. " Jawabnya senyum.


"Iya mbah, aku tunggu mbah goreng. " jawabku balas senyum.


"Mbah kok gak pernah tau kamu nduk, apa mbah sudah pikun yaa, " ujarnya.


"Saya sedang bertamu mbah disini, jadi mbah gak pikun. " Jawabku tertawa.


"Oo.. iya-iya, takut sudah pikun mbah, karna umur mbah ini sudah 80 tahun lo nduk. " Jawabnya.


"Iya mbah? mbah cantik dan seger gini 80 tahun? gak percaya saya, " jawabku kaget.


"Kamu itu loo, bisa aja nduk. " Jawab si mbah tersipu malu.

__ADS_1


Karna si mbah yang sudah cukup umur bisa saja aku bertanya tentang masa lalu dikampung ini, barang kali ketemu jawaban nya.


__ADS_2