Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
152. I Let Go


__ADS_3

Hari sudah berganti, malam ini bapak akan menemui keluarga Toby kerumahnya, dan aku hanya bisa diam dan berpikir memakai hati dan logika harus berjalan dengan seirama, bapak berulang kali memintaku untuk berpikir lagi dan lagi dan yang paling penting harus mengingat apa saja yang Toby lakukan padaku, semua perilaku baiknya serta bangunan rumah dan kantor yang sudah lama dia tabung dan membangunnya untukku. Aku sangat berterimakasih atas itu semua, bagaimana dia berusaha dengan keras dan membuatku luluh karna ada lelaki se-effort itu untuk bersamaku, tetapi lelaki yang aku kenal dulu sangat berbeda dengan yang sekarang, perubahan memang akan selalu terjadi, dan ini salahku karna tidak menerima perubahan yang terjadi dalam cerita hidupku. Aku sudah cukup stress dengan keluarga pak Broto dan sekarang cukup stress juga dengan keluarga yang akan aku bangun ternyata sudah runtuh duluan karna menggampangkan kepercayaan, aku mungkin egois dan egoku cukup tinggi, tapi melihat bagaimana respon dia menanggapi segala keresahanku hanya bisa meminta maaf tanpa ada perubahan dan malah memintaku untuk mengerti.


Aku sudah memberikan waktu, sudah diam dan memberikan kesempatan untuk bisa menjadi diri sendiri ditempat baru bukan badut yang ketiadaanya selalu dicari hanya untuk dipermainkan. Aku kasihan terhadapnya tapi aku juga kasihan terhadap diriku sendiri, bagaimana bisa calon kepala keluarga begitu saja tidak bisa mempertahankan prinsip jalinan hubungan yang kami bangun tapi malah dengan mudahnya runtuh, bergaji tinggi tapi begini atau cukup tapi aman? Aku tau pembelaan dia pasti untuk masa depan kami bersama, aku tau pasti itu, dia melakukan segalanya demi aku, sedangkan aku tidak nyaman dan resah dengan segala yang dia lakukan, apakah perasaan yang pedih ini adalah bayaran dari rasa nyaman dengan banyaknya uang? Memang dari dulu aku gak suka kerja ikut orang dan berusaha bikin kerjaan sendiri karna cara berpikir ku yang egois semacam ini, begitu tidak cocok jika harus ikut orang, semoga saja bapak bisa menjelaskan tanpa harus melukai keluarganya, kebiasaannya yang baru membuatku sakit dan juga melukai segala janji yang dia buat sendiri, jangan bersembunyi hanya karna cerita papanya tapi bisa jadi kenyamanan ditempat baru merubah segala pikirannya. Aku tidak akan menyalahkan karna itu sudah pilihan dia, kalau dia punya akal dia bisa untuk tidak memilih jalan yang itu.


Aku duduk diteras rumah sambil ngopi dan mengamati bidak catur yang aku mainkan sendiri, apakah aku akan menang atau aku kalah, dengan segala upaya dia yang mau berkeluarga denganku, aku sangat menghormati itu, tetapi memang ini semua salahku karna aku tidak mau hal-hal negatif yang ada di otak karna krisis kepercayaan ini membuat badan dan jiwaku juga sakit. Harusnya dia memberikan kepercayaan dan rasa aman jika aku memang merasakan sebegitu tidak percayanya terhadapnya, tetapi dia santai aja, dan menganggap aku tak akan melakukan hal yang aneh-aneh karna dia sudah mengikatku dalam pertunangan, dia berpikir aku tak akan memutuskannya dan sabar menghadapi segala perbedaan, karna kedua orang tua kami sudah terlibat, tetapi dia salah, dia lupa sosok Aca yang begitu keras kepala dan tak goyah dengan pilihannya. Aku bermain catur dengan Sunny yang tertidur di kursi teras, sampai akhirnya lupa waktu dan HP ku berbunyi, ternyata itu dari Toby.


“Halo sayang,” ujarnya dengan nada sedikit bergetar.


“Apa?” tanyaku cuek.


“Kamus serius bakal ninggalin aku? Kenapa kamu berbuat sejauh ini sih?” tanyanya.

__ADS_1


“Kenapa? Gak nyangka?” tanyaku balik.


“Kenapa sampai bapak harus datang kerumah? Kenapa kita tidak menyelesaikan masalah sendiri? Sangat tidak dewasa yang kamu lakuin itu? Aku kan sudah minta maaf tapi kamu yang tetep kekanakan jadinya mama sangat marah besar dan malu karna bapak datang kerumah!” jawab Toby marah.


“Hah? Tidak dewasa? Gak inget? Aku udah kasih waktu kamu sendirian dan berpikir bagaimana harus memilih dijalan yang sudah ada dalam perjanjian kita, tapi kau malah tetep aja.” jawabku berusaha untuk tidak balik emosi.


“Ca, aku ini kerja ya, bukan main-main!!” jawabnya sedikit dengan nada tinggi.


“Ya itu cara bersosial disini, aku juga harus mengikuti budaya mereka kalau gak mau tersisih atau diacuhkan, inikan juga demi kamu! Banyak juga orang sudah berkeluarga kok, ngajak keluarganya, nanti kamu juga bakal tau.” jawabnya membela diri.


“Toby ku sayang, maaf yaaa… kalau memang begitu caranya aku mundur, maaf aku gak bisa menemani dalam hal-hal sosial macam itu, sungguh teramat membuang waktu. Kalau memang itu budaya dan kamu takut terkucilkan yasudah, jalani saja sendirian tapi tidak bersamaku.” jawabku dengan tenang dan tenang berusaha sebaik mungkin untuk tidak terpancing, aku harus tetap chill di situasi panas ini.

__ADS_1


“Ca, aku sayang sama kamu, kamu tau aku sudah melakukan apa saja hanya untukmu, untuk kita bersama, maaf aku seperti ini karna memang meetingnya di tempat-tempat seperti itu, aku minta maaf sayang, aku mohon maafin.” jawabnya dengan nada yang sedih.


“Iya aku maafin, tapi kita tetap berpisah, aku gak bisa lagi untuk bersama dengan pria yang gaya hidup dan lingkunganya tidak cocok denganku, karna itu hanya akan menyakitiku saja, kamu carilah wanita yang sama dengan gaya hidupmu disana dan itu juga bisa menjadi jalan kalau memang kita tidak ditakdirkan bersama.” jawabku dengan tenang.


“Tapi aku maunya sama kamu ca!” jawabnya.


“Kalau kamu maunya sama aku kamu gak bakal seperti ini, gak bakal membuatku terluka dan paham dengan yang aku maksud.” jawabku.


“Terus kamu maunya apa? Aku keluar dari kerjaan ini? Kamu ganggu pekerjaanku kalau kaya gitu.” jawabnya.


“Siapa yang mau ganggu kerjaan mu? Ada aku suruh kamu keluar? Aku dukung dan terima dengan baik tapi malah banyak bohongnya, jadi gimana dong… jalan terakhir hanya ada perpisahan. Sudah cukup ya bi, aku melepaskanmu dengan damai dan ikhlas, kita tetep temenan ya tapi hubungan serius kita cukup sampai disini, karna kamu juga gak serius, kalau serius kamu pasti akan ada selalu jawaban dan pilihan yang tepat. Lalu aku mematikan teleponnya.

__ADS_1


Dia telepon berulang kali tapi gak ku angkat karna sudah cukup dan terimakasih. Tak lama bapak datang dan membawakan martabak dan disuruhnya aku makan, bapak hanya menatapku dalam diam saat aku makan, aku juga gak bertanya bagaimana tadi ketemu mama dan mbah putri, aku hanya makan dan makan, sampai selesai makan bapak baru bercerita bagaimana kagetnya keluarganya mendengar ini dan langsung marah ke Toby, keluarganya tidak mau kami berpisah dan tetap mengupayakan jalan terbaik untuk damai, dan meminta Toby untuk pulang di weekend ini, tapi Toby tak bisa karna ada acara kantor dan tak bisa ditinggal, dengan jawaban itu aku sudah tau dan benar bahwa dia gak ada upaya yang serius untuk tetap mempererat hubungan, dan bapak hanya memintaku tenang dan jangan ada dendam, perbaiki diri dan sibukkan diri saja, terutama menyelesaikan dan memutuskan hubungan dengan alam gaib juga. Aku melepaskan Toby dan berharap berhasil dengan tenang tanpa amarah, aku juga harus bisa melepaskan keterikatan dengan keluarga pak Broto dengan damai.


__ADS_2