Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
132. Roy [17]


__ADS_3

Hari-hari dijalani dengan kesibukan yang tak kunjung berkurang, semuanya dengan dunianya masing-masing, hanya aku yang mencampuri dunia mereka dan membantunya, karna Kris mau nikah, bagian distributor agak terganggu jadi aku yang backup, aku hanya tukang backup saja sebenarnya, tetapi terasa hampa dan melelahkan karna memang pekerjaanku sangat pakai tenaga dan pikiran, jadi kepikiran gimana nanti kalau aku kerja di kantornya papa, makin pusing mungkin kepalaku. Ambar belum juga menurunkan mandat kapan berpestanya karna dia sibuk sendiri sama seperti orang-orang lain.


Aku hanya hampa entah mengapa aku hampa seperti tak ada yang bisa aku peluk dan menuangkan segala kehampaanku ini, rasanya menyedihkan namun juga senang, apa aku merasa bersalah karna Toby aku pindahkan secara curang atau memang, ah entahlah, aku memilih untuk tidur di ruang istirahat kantor, tidur dengan nyenyak sampai dibangunkan Kris, katanya calon suaminya mau bertemu denganku, dan aku malas karna dia gak ada bikin janji temu atau apapun bahkan tiba-tiba datang, aku langsung menyuruh Toby sebagai wakil untuk membantuku yang terakhir kalinya sebelum dia pindah, karna kepalaku sakit sekali entah karna apa sebabnya. Langsung Aca menyuruhku untuk pulang saja sebelum itu mampir ke dokter, dan aku baru ingat kalau tetanggaku itu dokter jadi mending nanti ke beliau aja kalau ada dirumah, aku pun gak tau jadwalnya, atau aku coba hubungi Febri, dan ternyata bapaknya lagi ada dinas ke desa-desa pelosok, jadinya gak ada dirumah, ya sudah aku memutuskan untuk pulang dan minum obat sakit kepala biasa aja.


Sampai di rumah ternyata Toby telepon menanyakan apakah disetujui masalah sponsori Kris, Dipta juga sebenarnya gak pengen ada sponsor karna pihak keluarga mereka maunya intimate cuma keluarga dan teman dekat saja, tetapi di keluarga Kris maunya mengundang banyak orang terutama teman-teman ayah dan bundanya, mengingat keluarga Kris adalah pensiunan tentara jadi pasti banyak sekali teman-teman orangtuanya, jadi mau bikin pesta besar-besaran. Toby dan Ambar sudah hitung-hitungan budget buat Kris dan memang lumayan sekali yang diminta Kris, dan setelah rundingan dengan Aca juga sepertinya akan membantu untuk makeup dan gaun-gaun senilai dua puluh juta, aku mendengarnya cuma melongo aja, dari pada dia minta katering yang bisa lebih dari itu angkanya maka aku setuju saja kalau Aca juga ikut perundingan. Karna kantor ini juga banyak sekali tanggungan tapi okelah biaya nikah memang mahal apalagi yang mewah, dekornya saja mewah dan dia minta diskon langsung ke tukang dekor.


Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, akupun langsung turun ternyata ada Febri yang memberikan obat pusing karna dia tanya bapaknya, aku suruh mampir dan ternyata ada Ana didepan, aku pun mengenalkan mereka berdua dan bingung kenapa Ana kesini padahal masih di jam kerja, ternyata dia pusing juga dan kami minum obat dari bapaknya Febri dan makan kacang ijo di kasih ibunya Febri.


“Lagi libur kamu feb?” tanyaku.


“Gak juga sih, istirahat aja,” jawabnya.


“Emang kerja dimana?” tanya Ana.


“Kerja di leasing MOO,” jawabnya.


“Oh tempat yang buat orang ngajuin kredit itu ya?” tanya Ana.


“Iya, kebetulan aku marketingnya, kalau kamu butuh pembiayaan untuk usaha hubungi aku ya, atau mau kredit motor,” jawab Febri.


“Hehehe… iya,” jawab Ana canggung karna Ana bukan orang yang doyan kredit, dia terbilang cewek penabung.


“Terus kok bisa istirahat bebas aja itu masuknya?” tanyaku karna ini sudah lewat jam makan siang.


“Iya, jadi biasanya di kantor cuma sampai jam 11 siang terus kaya pergi survey atau nemuin client gitu,” jawabnya.


“Jadi gitu ya model kerjanya, aku baru tau,” jawabku.


“Iya, tapi waktunya fleksibel, libur pun bisa kerja ya pokoknya seperti itu,” jawabnya.

__ADS_1


“Pasti pusing banget ya, cari client belum lagi kalau survey jauh-jauh,” ujar Ana.


“Iya lumayan, kalau kamu juga kerja sama Roy?” tanya nya.


“Iya sama aku juga bagian marketing,” jawab Ana.


“Model kerjanya gimana? Apa sama?” tanya Febri yang sudah mulai terlihat akrab dengan Ana, lagian siapa yang gak suka Ana yang tinggi bak model dan cantik ini, temanku memang bikin bangga.


“Ya aku ngurus client, promosi ngembangin pemasaran, meneliti menganalisis dan riset pasar, mengelola brand dan lain-lain.” jawabnya dengan santai.


“Ada survey gitu juga ya?” tanyanya.


“Mungkin beda surveynya tapi ada dan ditemenin sama anak distribusi, kerja sama sama anak desain buat kembangin mengelola sosmed dan banyak lagi, kalau datengin rumah client untuk ngeliat rumahnya atau ngeliat data-data itu gak sih,” jawab Ana.


“Dah lah kalian sama-sama anak marketing cocok pinter ngomong juga,” sautku.


“Kok bisa gitu?” Tanya Febri.


“Ya kamu juga gak perlu pura-pura gak tau, you know what i mean,” jawab Ana sambil senyum jahat.


“Oh iya aku paham,” jawab Febri.


“Kenapa? Aku gak paham,” tanyaku.


“Dahlah lupain aja, Roy aku mau numpang tidur ya habis minum obat ngantuk, aku tidur dikamar mamamu, ku kunci dari dalam.” jawabnya dan berlalu pergi.


Lalu Febri pun bertanya apakah Ana ini yang dimaksud adiknya itu, dan aku jawab iya Ana ini yang adiknya ngefans banget sampai masuk club basket, dan Febri pun juga tercengang melihat Ana yang cantik dan nampak sekali baiknya, aku pun cuma bilang kalau Ana tidak berencana punya pacar ataupun menikah jadi gak usah macam-macam sama dia dari pada sakit hati. Febri pun tertawa dan pamit mau kembali ke kantornya, lalu aku pun tidur diatas sedangkan Ana ada dibawah, entah mengapa dia kesini apa yang dia pusingkan, sampai ternyata sudah maghrib aku baru bangun dan belum nyalakan lampu-lampu keluar kamar dalam keadaan gelap dan aku juga mengetuk pintu kamar Ana agar dia bangun karna sudah maghrib yang katanya gak boleh tidur maghrib-maghrib.


Ana keluar kamar dengan kondisi masih setengah ngantuk dia gak sadar kalau sudah gelap, lalu dia duduk di ruang makan dan meminta makan padaku padahal aku gak ada masakan sama sekali, lalu aku keluar dan mencari makan sekaligus bingung ngapain si Ana ini, akhirnya aku beli nasi goreng dan kembali kerumah sudah ada Aca di rumahku dan Toby, aku yang cuma beli nasi goreng dua ini jadi bingung apakah harus beli lagi, ternyata Aca suruh aku beli lagi, akhirnya aku kembali dan mengantri lagi.

__ADS_1


Kembali kerumah dan akhirnya kami makan bersama.


“Kalian ngapain sih?” tanya Roy.


“Kenapa Roy? Emang gak boleh main kesini lagi?” tanya Toby.


“Ya gak gitu, kalian nih dah tau kawannya sakit malah ngerepotin,” jawabku kesal.


“Ih ngambek bener sih gitu doang, ya karna kami tau kamu lagi sakit jadinya harus di rusuhin,” jawab Aca dengan santai.


“Padahal lagi mode introvert juga,” jawabku.


“Ha paan sih Roy, introvert apanya,” jawab Ana.


“Kalian nih kenapa?” tanyaku.


“Bingung aja aku Roy, Toby mau pindah, Kris mau nikah, sedangkan beberapa bulan lagi adalah bulan dimana kita harus beraksi, apakah bisa kita beraksi dengan tenang dan berhasil,” jawab Aca yang galau.


“Tanya sama Ana,” jawabku bete sambil melahap nasi goreng ku.


“Ya aku juga gak tau kalau mencar-mencar gitu,” jawab Ana.


“Ya aku usahain bulan itu aku bisa kembali kesini,” jawab Toby.


“Kalau gak bisa kek apa cobak?” Tanya Aca.


“Mudahan aja bisa, apakah perubahan ini ngaruh atau aku masih diikuti pas pindah kan belum tau,” jawab Toby.


Kami berempat pun memperdebatkan hal yang sebenarnya harusnya mengalir saja tanpa diperdebatkan, jadinya malah amburadul dan tidak jelas baiknya bagaimana, akhirnya Ana mau pulang dan tanya sama ibunya langsung, selain itu juga bahas nikahan Kris yang secepat kilat itu, sebenarnya kata Aca si Ambar itu marah tapi dia tahan dan kembali lagi ke yang punya kantor dan aku pun juga gak tau kenapa bisa pusing dan kadang memang pusing yang entahlah gak bisa dijelaskan semenjak diikuti begituan pas lembur di kantor. Sudah malam dan mereka pulang ke rumah masing-masing dan menyisakan aku sendirian dengan kehampaan dan sakit kepala yang obatnya hanya dengan tidur jadi lupa dan tenang dengan banyaknya pikiran ini.

__ADS_1


__ADS_2