Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
122. Roy [7]


__ADS_3

Setelah selesai untuk meeting dan sudah deal, Aca terlihat bahagia namun juga kelelahan, dalam jangka 1 minggu ini aku ingin Aca lebih dekat denganku dan menyadarkannya juga kalau kita ini sebenarnya sudah saling menyayangi dan mengasihi dari dulu, hanya saja tak sadar, aku ingin Aca merasakan apa yang aku rasa, tapi jelas saja Ana pasti tidak menyetujuinya tapi entah mengapa aku hanya mau 1 minggu ini antara aku dan Aca, setidaknya aku sudah berusaha, masalah hati dan nantinya biar dia yang memutuskan antara memilihku atau Toby.


Kalau masalah lebih kaya jelas lebih kaya aku, walaupun COO yang notabene wakil ku tapi aku merasa bisa bersaing lebih sehat dengan cara menyadarkan Aca, bukan bermaksud menikung ya tapi lebih membuat dia tau perasaanku dan hanya sekedar itu aja, tapi banyak pengharapan kalau akhirnya Aca akan bersanding denganku.


“Roy, makan dulu yuk, laper tauk cuma minum kopi aja tadikan,” ujar Aca yang merengek minta makan.


“Badan kecil doyan makan,” jawabku seperti biasa.


“Ya gimana lagi sih, orang laper,” jawabnya sambil melihatku dengan matanya yang indah itu.


“Mau makan apa?” tanyaku.


“Lagi pengen makan yang pedes-pedes, ke geprek an yuk!” jawabnya dengan cepat, padahal mantan-mantan gak pernah jawab seperti itu, selalu jawabnya terserah akhirnya bingung mau makan apa.


“Ke biasanya aja ya?” tanyaku.


“Jangan, coba ada tempat baru nih aku keknya udah save di IG deh,” jawabnya sambil mencari restorannya.


Akhirnya kita makan ditempat baru yang Aca tunjukin, dia memang doyan sekali mencoba hal baru dan tempat baru, sedangkan teman-teman lain kebanyakan makan ditempat yang sudah jelas enak, karna kalau gak enak jadinya nyesel, tetapi ini adalah Aca jadi dia tanpa menyesal hanya tak balik lagi aja ke tempat itu. Suasana restoran cukup enak dan nyaman, ada ruang terbuka dan tertutup, kami memilih di ruang terbuka karna kalau di dalam ramai sekali. Makanan pun datang Aca menyantap dengan sangat bahagia, padahal ini cuma makan tapi dia bisa sehappy itu, aku senang liatnya.


“Hmm… ternyata enak Roy, kita harus ajak anak-anak buat makan disini kapan-kapan.” ujarnya bersemangat.


“Iya,” jawabku singkat.


“Coba sambelmu ya,” ujarnya langsung mengambil sambalku.


“Enak juga kan?” tanyaku.


“Iya enak, kamu coba deh sambelku ini juga sedap banget, aku harus foto dan kirim grup.” jawabnya.


“Gak usah, nanti Toby cemburu lagi, kemaren aja dia telepon aku berasa mau ngajak berantem,” kataku kesal.


“Dia kenapa?” tanya Aca.


“Ya dia tanya kek apa perasaanku sama kamu tuh,” jawabku sambil manyun.


“Ya udah jelas gak ada perasaan apa-apa lah, sorry ya, Toby lagi mode cewek jadi sensi abis.” jawabnya minta maaf.


“Ngapain kamu yang minta maaf?” tanyaku.


“Ya mewakili dia dong, kan ga enak hubungan dua orang bisa jadi kemana-kemana, gak asik tauk,” jawabnya.


“Terus kamu masih suka sama Toby yang ngambekan gitu?” tanyaku.


“Udah biasa sih, hahaha, bahkan lucu, kalian kan sama aja pimpinan sama wakil sama aja, sama-sama lawak dan gak ada serius-seriusnya, tapi keren dan beres sih masalah kerjaan.” jawabnya sambil tertawa.


“Kalau disuruh milih, pilih aku atau Toby?” tanyaku.


“Dalam rangka apa kok suruh milih segala?” tanyanya.


“Ya misal ya, kami berdua tenggelam siapa yang kamu tolong duluan?” tanyaku.


“Ya aku suruh anak-anak yang tolongin langsung kalian berdua dong, kan aku gak bisa renang, yang ada kalau aku ikut nolongin kita jadi mati bertiga.” jawabnya tenang.


“Husst… kamu tuh kalau ngomong bahaya,” jawabku kesal.


“Habis ngapain suruh milih-milih tuh, kamu tetep temenku ter best banget dah, dan Toby juga calon laki ku jadi ya kalian ini spesial.” jawabnya enteng.


“Bisa gitu ya, bukanya spesial itu hanya dimiliki satu orang saja?” tanyaku.


Sebelum Aca menjawab tiba-tiba Hp ku berbunyi, rupanya Ana telepon, merusak suasana perbincangan yang mulai dalam saja nih Ana.


“Kenapa na?” tanyaku.


“Kalian dimana? Udah jamnya pulang ini,” tanya Ana.


“Masih makan,” jawabku.


“Buruan dah, aku kan tadi nebeng berangkatnya,” jawabnya.

__ADS_1


“Pulang sama Ambar atau Kris aja kalau buru-buru,” jawabku.


“Kalian baru makan? Yaudah deh,” jawabnya lalu menutup telepon.


“Ih aku lupa Roy kalau udah sore, Ana pasti marah,” ujarnya.


“Udah gapapa, ya mau gimana lagi,” jawabku santai.


Lalu kami lanjut makan sampai habis sampai kenyang lalu menuju kantor, selama perjalanan Aca tidur karna ngantuk banget katanya, melihat Aca tidur rasanya aku pengen cium banget, tapi gak boleh, karna takutnya dia salah paham dan menganggapku benar-benar buaya darat. Kantor sudah sepi hanya kita berdua membuatku semakin merasa harus lebih dekat dengan Aca.


“Tumben Toby gak telepon?” tanyaku.


“Sibuk dia,” jawabnya.


“Bukannya cewek yang suka Toby itu juga ikut ya?” tanyaku.


“Iya, tapi profesional ajalah ya, masa iya dia jadikan momen ini benar-benar intens gitu sama Toby,” jawabnya yang sedikit kepikiran.


“Bisa jadi, apalagi dia sangat berupaya dengan keras mendapatkan Toby,” jawabku.


“Ya tapi Toby sukanya ke aku jadi aku percaya aja deh,” jawabnya.


“Ya kalau iya, hati bisa terbolak-balik tau,” jawabku.


“Dahlah Roy, jangan bikin pusing, pulang aja kita, aku pakai motorku ini ya.” jawabnya kesal.


“Gak mau bareng aku aja?” tanyaku.


“Gak deh, nanti bapak marah kalau motor ditinggal lama,” jawabnya dan pamit pulang.


Aku juga pulang kerumah dengan suasana bahagia karna seharian ini aku bersama Aca, biasanya seharian itu bisa sama Kris karna aku juga backup kerjaan Kris, semenjak dia ada partner lain jadinya aku kerjaanku bisa sedikit berkurang walaupun gak banyak, sesampainya dirumah papa dan mama sudah menungguku dan hal ini bukan seperti biasanya, jadinya aku merasa agak aneh dan sangat aneh, aku biasanya pulang rumah sepi, ini pagi dan malam ada mereka.


“Papa mama gak kerja? Gak balik ?” tanyaku datar.


“Papa dan mama memutuskan untuk kerja dirumah nak, jadi kami sudah bisa meninggalkan kantor dan cukup menerima hasil saja, kalau ada sesuatu ya kami pergi misal seminggu sekali balik kesana,” jawab papa.


“Sudah bisa hybrid gitu ya, wfo dan wfh?” tanyaku dengan nada bercanda.


“Sudah kok,” jawabku sambil naik keatas.


“Setelah kamu mandi, turun ya, mama dan papa ada yang mau dibicarakan,” ujar mama.


“Kenapa lagi?” tanyaku.


“Sudah mandi aja sana.” jawab mama.


Aku jadi kesal dan sedikit penasaran, apakah pertemuan keluarga itu harus janjian seperti itu ya, aku kalau lihat keluarganya Aca mau ngobrol ya langsung gitu gak ada kek gini, aku ngeliat keluarga Ana juga kek gitu, mana ada ibunya Ana tiba-tiba bilang dengan sopan kek gitu, ya tapi itu keluarga orang lain bukan keluargaku. Setelah mandi aku langsung turun ke bawah dan menemui kedua orangtua ku yang sedikit kaku ini.


“Papa merasa kamu harus bekerja di perusahaan papa, nak.” ujar papa tiba-tiba yang langsung bikin aku kaget.


“Kenapa pa? Kan aku sudah bilang pengen bikin usaha sendiri dan akhirnya bisa,” jawabku.


“Mama dan papa ingin pensiun dengan urusan kerjaan, jadi harus diwariskan ke kamu anak papa satu-satunya, jadi biarkan kami berdua menikmati hari tua tanpa perlu sibuk dengan pekerjaan.” jawab papa.


“Lalu kerjaanku sendiri gimana?” tanyaku.


“Ya kamu bisa menyuruh Aca untuk menggantikanmu, kamu pun masih bisa bekerja diperusahaan mu hanya saja tak setiap hari ada di kantor,” jawab papa.


“Bisanya papa ngomong segampang itu,” jawabku kesal.


“Nak, kamu kan anak satu-satunya jadi kamu punya kewajiban untuk meneruskan, biarkan MMA dipegang Aca, toh kamu juga menyukainya kan, kamu juga menginginkan Aca menikah denganmu kan?” ujar mama dengan tenang.


“Kamu sudah sadar kan dengan perasaanmu?” tanya papa.


“Iya, kalian memang benar aku gak sadar kalau aku menyukai Aca, tapi percuma aja kalau aku jauh dari radarnya, percuma menjalin hubungan kalau jauh, dan belum tentu juga Aca mau denganku,” jawabku putus asa.


“Tenang, mama akan bantu sebisa mama, papa juga bantu, tapi ini masalah serius tentang meneruskan usaha papa dan mama ini nak,” jawab mama.


“Mama papa bisa bantu aku dapetin Aca gak? Kalau bisa aku bisa mengikuti apa yang papa mau, tapi kalau gak bisa aku gak mau,” jawabku.

__ADS_1


“Bukanya kalau gak bisa kamu berada disana akan makin sakit nak? Melihat wanitamu menikah dengan sahabatmu ?” tanya mama.


“Ya harus bagaimana? Ini jalan buntu sangat buntu!” jawabku kesal.


“Biar mama dan papa pikirkan ini secara baik-baik, kamu istirahat aja,” jawab mama dan aku berlalu pergi ke kamar dengan perasaan yang bergemuruh.


Lalu Ana telepon.


“Halo Roy, kau gak gila kan?” tanyanya.


“Gak tuh, masih normal kok, gila mencintai Aca iya,” jawabku sambil tertawa.


“Gak usah bercanda ya, laki nya lagi di luar kota aku wajib jagain dia.” jawabnya kesal.


“Kenapa sensi amat sih na?” tanyaku.


“Takut lah gilak, kau kan gila!” jawabnya ngegas.


“Na, aku disuruh lanjutin usaha papa nih, jadi wakil direktur secara resmi, gimana ya?” tanyaku.


“Bukanya direktur dan wakil nya papa dan mamamu ya, mamamu mau pensiun atau gimana?” tanyanya.


“Dia mau kerja hybrid jadi gak melulu di kantor yang sibuk ngurus sana-sini, jadi kek digantikan aku karna kelak aku juga satu-satunya pewaris.” jawabku.


“Nah lo, nyuruh mamamu ada waktu buat keluarga, sekarang kau sendiri yang kena kan,” jawabnya.


“Iya juga ya, jadi gimana nih?” tanyaku.


“Ya gak papa sih, nanti biar kantor diurus sama Toby,” jawabnya santai.


“Gila aja, yang bangun dari nol siapa yang urus malah orang lain yang punya pekerjaan utama di tempat lain.” jawabku gak terima.


“Ya terus ke siapa? Aca ? ya kalau dia mau.” jawabnya.


“Iya Aca dong, founder asli, kenapa harus Toby yang nyabang sana sini,” jawabku kesal.


“Terus kamu keluar kota, Aca ngurus kantor mu, Aca nikah sama Toby bahagia, kantor dan rumah berdekatan, selalu bersama selamanya dan kamu di luar kota dengan hiruk pikuk yang sangat sibuk itu, keren sih, jadi gak papa deh aku dukung.” jawabnya dengan senang.


“Gak gitu juga na, duh makin galau aku,” jawabku kesal.


“Ya gimana kan jauh tuh kantornya papamu, butuh sejam naik pesawat, kalau naik kereta bisa berjam-jam banget.” jawabnya seperti meledek.


“Menurutmu aku harus gimana?” tanyaku.


“Ya karna itu kewajibanmu yang jadi anak tunggal jadi ya wajib dilaksanakan, kali aja kelak nemu jodohnya disana yakan, Aca mah sudah berjodoh sama Toby jadi ya jangan diganggu.” jawabnya dengan santai.


“Kenapa gak dukung aku sih na? Aku kan temanmu loh,” tanyaku.


“Mendukungmu untuk menghancurkan hati teman lainnya mana mau aku, lagian masih muda jalanin aja segala prosesnya, mungkin jodohmu ada di luar lingkup kita, jadi ya jalanin aja tanpa penyesalan.” jawabnya.


“Kalau gitu aku minta saran Aca aja, yaudah bye!” jawabku dan mematikan telepon karna kesal.


Lalu Ana ngechat aku dengan emosi dan menyuruhku untuk tak bikin ulah, padahal aku hanya mau jujur dengan perasaanku aja, bukan mau bikin ulah. Lalu aku mencoba telepon Aca dan dia sedang dalam panggilan lain dan membuatku sedih, mungkin dia sedang telepon Toby, aku jadi banyak berpikir yang membuatku kalut tidak jelas, harus bagaimana dan harus seperti apa dalam bertindak.


Satu minggu aku lewati dengan suasana yang hectic jadinya aku gagal untuk semakin dekat dengan Aca dan Toby juga sudah kembali, aku sibuk dengan banyak hal yang membuatku menjadi kacau, karna Aca pun dan teman-teman yang lain kacau, karna musim menikah juga dan tanggalnya bersamaan membuat kami terbagi-bagi dalam tugas, apalagi kami juga diminta untuk membuat iklan layanan masyarakat untuk kota ini, jadinya memang kalang kabut tetapi berhasil dilakukan dengan baik meski terasa membelah diri harus kesini dan kesana.


Toby pun juga datang dengan baik tanpa bersangka buruk terhadapku dan membuatku tertegun, apakah aku harus melupakan perasaanku dan aku pergi ke kota lain untuk melupakan semuanya, melupakan perasaanku yang cukup telat ini atau aku jujur aja dulu sebelum pergi, karna ketika lelaki berpikir ini adalah wanitaku tapi nyatanya wanitaku sudah dimiliki orang lain, apakah aku harus sadar diri gak boleh egois dan menyerah saja walaupun belum bertarung.


Sampai dirumah karna besok hari minggu aku ingin bersantai saja dirumah, tapi minggu mama ngajakin makan diluar sama mama karna papa harus ngurus kerjanya, mama gak mau shoping sendirian dan makan sendirian, ini mamaku ternyata ada sisi manjanya padahal anaknya ini mau dirumah aja, jadinya terpaksa menuruti mama dan belanja yang gak penting dan lama, belum lagi warnain kuku yang berjam-jam itu aku tunggu dengan nonton film di bioskop sendirian, sampai akhirnya makan.


“Jadinya gimana keputusanmu Roy?” tanya mama.


“Belum tau ma,” jawabku lesu.


“Aca udah tau belum perasaanmu?” tanya mama.


“Belum,” jawabku singkat.


“Kamu harus jujur dengan perasaanmu nak, kalau kamu menyembunyikan gini gimana dia bisa tau, kalau kamu sudah jujur mama bakal bantu, kalau kamu gak jujur percuma mama ngomong ke Aca karna dia gak bakal gubris mama.” jawab mama sambil makan.

__ADS_1


“Iya aku berencana jujur, lihat respon Aca dulu, kalau udah aku bisa mutusin harus gimana.” jawabku sambil makan dengan lesu.


“Mama dulu pernah dipinang lelaki lain karna papamu lama untuk memutuskan mau menikah dengan mama, ada lelaki kaya yang mau memperistri mama dan mama terima, karna percuma menunggu lelaki yang gak mau punya masa depan dengan mama,” jawab mama memulai cerita masa lalunya.


__ADS_2