Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
66. Kode


__ADS_3

Aku tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan secara berlahan, lalu aku siap menceritakan segalanya karna merasa percaya dan pernah bertemu dengan leluhurnya. Ana pun hubungi teman-teman yang lain agar kerumah Dipta tanpa kami berdua, karna harus ada yang diurus.


Aku menceritakan berlahan penuh kekagetan dan ekspresi yang pedih dari kakek tersebut, beliau mendengarkan dengan seksama sembari menyuruhku untuk meminum teh hangatnya, beliau pun meneguk kopinya. Bahkan beliau juga mengekspresikan rasa iba dan penuh kesedihan sepanjang aku bercerita tentang pengalaman kami, pengalamanku menjadi Amini dan semuanya.


Sangat panjang ceritaku, kakek sama sekali tidak memotong, hanya menunduk sambil berpikir. Aku karna lelah bercerita semuanya aku menghabiskan teh ku dan minta air putih. Ternyata Ana melihat makhluk lain selain manusia dirumah ini terlihat sekali dari gelagatnya.


Kakek tersebut merasa iba dan kasihan sekali dengan keluarga pak Broto, beliau dikenal baik dan dermawan, tidak tau kalau sudah berakhir kehidupannya masih saja ada hal-hal yang tidak terselesaikan seperti ini. Kakek tersebut melihat Ana dan bertanya.


"Nak, kamu lihat anak wanitaku? " tanya kakek tersebut.


"Hmm .. iya kek, itu anak kakek? " tanya Ana.


"Bukan, tapi sudah aku anggap anak sendiri. Kamu lihat kunti yaa sosoknya? " jawab dan tanya kakek.


"Iya kek, " jawab Ana disertai anggukan.


Aku kaget dan juga merasa takut kalau ada sosok kuntilanak disini.

__ADS_1


"Tidak perlu takut, dia sosok yang pemalu dan menjaga pohon disebelah rumah ini. " Jawab kakek.


"Kakek memeliharanya? " tanya Ana.


"Bukan memelihara, kakek sama sekali gaperna kasih dia makan, cuma dia nongkrongnya kesini, itu cicit kakek yang sering menangis ketakutan. " Jawab kakek.


"Iya kek, tapi dia tidak terlalu seram, hanya kunti pada umumnya yang berbaju putih dan berambut panjang dengan tatapan yang selalu menunduk, " jawab Ana.


Dalam hatiku hanya berpikir mana ada kunti yang tidak menyeramkan sih Ana ini bagaimana, karna aku tak bisa melihat atau punya kekuatan semacam itu, kecuali pihak makhluknya yang menginginkanku melihatnya.


Lalu respon kakek mengenai keluarga pak Broto, beliau ingin bertemu dengan keturunannya saat ini, karna beliau ini juga termasuk saudaranya, leluhurnya berteman lalu menjodohkan kedua anaknya, dan tidak disangka kalau menantu dari keluarga ini tak bisa berpulang dengan damai. Sedangkan anaknya sudah berpulang duluan dengan baik, makamnya pun ada di kampung ini. Sontak aku dan Ana kaget, bagaimana bisa makamnya ada di kampung ini sedangkan bukankah peraturannya harus tetap bersama di rumah punden itu.


Padahal saat itu Amini baru saja hamil, karna beberapa tahun belum juga memiliki momongan, ada pun anak itu adalah anak asuh yang tidak tinggal dengan keluarga pak Broto, Amini hanya memberikan santunan dan apapun yang anak itu butuhkan, karna anak itu mengingatkan pada Amini saat kecil dari tingkahnya dan perawakannya. Saat itu Amini ingin mengangkatnya menjadi anak, tetapi dilarang oleh ibunya. Sedangkan eyang kami yaitu Djaya suami Amini sangat ingin memiliki rumah sendiri agar terpisah dari keluarga besar Amini mangkanya beliau bekerja dengan keras agar dapat membawa Amini pergi.


Namun sayang Tuhan berkata lain, Dara harus kehilangan ayahnya saat kecil. Bahkan saat dia menangis dan membuka mata pertama kali pun ayahnya tak ada di sampingnya. Lalu kakek mengambil album foto dan memberi tau bahwa inilah Dara sewaktu kecil. Karna Amini takut Dara terkekang dirumahnya dan Amini tau kalau dia sendiri pun disetir oleh sang ibu, maka Dara lebih sering dititipkan dirumah ini bersama kakek neneknya yaitu pak Yadi dan bu Minah.


Dara di rumah ini sangat penuh kasih sayang yang tak terbatas, Amini bekerja dengan giat agar mendapatkan banyak tabungan untuk masa depan Amini, walaupun pasti pak Broto tak akan membiarkan anak cucunya kesusahan, pasti ada warisan atau pemberian, tetapi Amini tetap bersikokoh akan mendapatkan uang dari hasil jerih payah dia sendiri. Karna dia melihat keseriusan suaminya yang dengan sabar meladeni keluarganya tapi berujung ketiadaan.

__ADS_1


Dara sangat cantik, mirip sekali dengan ayahnya, mata hitam dan rambut lurus yang hitam pula. Nama panjang Dara pun di permasalahkan harusnya ada Seno diujung nama, tetapi Amini mengikuti nama dari suaminya yaitu Dara Djendra sesuati nama ayahnya Djaya Djendra. Amini waktu itu bertengkar hebat dan tetap dengan prinsipnya, hal itu membuat mertuanya terharu dan semakin sayang dengan Amini.


Bahkan mereka meminta Amini untuk tinggal dengan mereka saja, atau membuat rumah di tanah mereka. Tetapi Amini sekali lagi tak bisa keluar dari rumah itu karna aturan-aturan yang dibuat tidak jelas oleh keluarganya. Amini tak bisa memutuskan kehidupannya sendiri, bahkan sang ibu ingin Amini untuk hidup dengan bersemangat mencari calon suami yang baru, langsung ditolak mentang-mentah oleh Amini.


Sang ibu tak habis akal, dia bilang kasian sekali Dara harus hidup tanpa sosok ayah dan bilang kalau Amini sangat egois. Apapun perkataan ibunya, Amini selalu curhat ke mertuanya, tetapi sang mertua juga merasa kasian dengan Amini yang seperti itu, mereka memutuskan untuk ikut apapun kemauan Amini, jika ingin menikah lagi silahkan dan tidak pun tak apa.


Amini semakin sedih, karna dikeluarganya sendiri dia tak di dukung bahkan cenderung dikurung, sedangkan dikeluarga suaminya dia bagaikan anak kandung. Makanya Dara pun juga lebih suka dirumah ini dari pada dirumah yang serba ada tapi tak ada kasih sayang. Disini memang banyak kurang tetapi kasih sayang harus lebih.


Aku tak merasa asing dengan logat dan pembawaan kakek, karna sangat mirip dengan pak Yadi, keluarga ini dari dulu memang sangat sederhana dan penyayang. Aku pun membicarakan kebaikan-kebaikan yang ada dirumah ini. Kami pun juga bertanya bagaimana kehidupan Dara apakah dia menikah atau bagaimana.


Dara bersekolah diluar kota, dia sangat pintar dan membuat Amini sangat bangga dan membuatnya bersekolah ditempat yang terbaik. Karna Dara sangat cerdas dia tak ingin menikah muda, di dalam otaknya hanya belajar dan belajar, bahkan dia juga bersekolah diluar negeri, pak Broto sangat senang dan segala cara diupayakan untuk sang cucu. Amini ingin mengikuti Dara menemaninnya selama bersekolah tetapi tak bisa karna ibunya memberikan tanggung jawab pekerjaan yang besar dengan segala ancaman pemberhentian dana untuk Dara.


Dara pun keluar negeri sendiri dengan berani nya, Dara juga menyuruh ibunya untuk menikah lagi, tetapi Amini tak mau. Karna kehidupan diluar sangat luar biasa berbeda dengan adat di sini, hal tak senonoh akhirnya terjadi, Dara hamil dan akhirnya harus pulang dan tak bisa menikah dengan yang menghamili tersebut.


Amini sangat murka dan marah dengan Dara, anak satu-satunya yang di banggakan bisa pulang dengan perut yang membesar. Dara memohon ampun dan dimarahi habis-habisan oleh neneknya yaitu Asmirah. Dara mempermalukan keluarga sampai pak Yadi dan bu Minah menjemput dan bilang akan merawat Dara beserta calon cicitnya itu.


Amini tak bisa melepas dara begitu saja, karna Amini merasa sangat bersalah dan tak becus menjadi orangtua tunggal. Tetapi Dara malah menguatkan ibunya dan menyuruh ibunya agar tetap kuat, akhirnya Amini menyetujui Dara sampai melahirkan tinggal dirumah kakek neneknya. Sedangkan Amini mencari uang untuk calon cucunya tersebut. Hidup Amini bahkan tak pernah bahagia padahal keluarganya serba kecukupan. Tetapi Amini wanita yang kuat menghadapi segala cobaan yang begitu berat.

__ADS_1


Hanya saja Amini lupa, kalau dia cukup berarti dan kurang menyayangi dirinya sendiri. Banyak kode yang harus dipecahkan dan aku sudah menemukan setitik garis terang.


__ADS_2