Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
177. Ana [19]


__ADS_3

Hari pun berganti kali ini cuaca mendung saat keluar kamar taunya ibuku sehabis belanja dari pasar, beliau hari ini cukup bahagia karna pamer habis beli kalung emas karna pendapatan bulan ini lumayan banyak jadi bisa nabung emas, aku pun juga dibelikan gelang yang cantik dan langsung memakainnya, ibuku bilang kalau gelang ini hanya tabungan darurat jadi tidak boleh dijual karna ini milik ibuku, aku pun tertawa dalam hati melihat ibuku senang seperti ini. Kepalaku juga sudah tak lagi pusing, ibuku juga selalu mengingatkan agar cepat dekat dengan Andreas jangan terlalu lama dan aku pun hanya iya-iya saja, mau bagaimana lagi responku kalau gak iya.


Berangkat ke kantor sampai jam 9 pas sedangkan ternyata semua orang sudah sibuk dengan dunianya masing-masing padahal ini masih pagi. Baru juga duduk aku sudah teringat kalau hari ini aku ada janjian sama orang mau ngelihatin baju pengantin yang mau dia pilih untuk disewa, aku pun langsung menelepon dan menanyakan kejelasannya dan ternyata beliau ini sudah dijalan menuju tempat sewa baju yang sudah bekerja sama dengan MMA, berawal dari Aca yang menemukan kang jahit dengan jahitan yang bagus dan cukup sabar dalam menanggapi komplenan Aca saat pesan jahitan dan menjadi teman, akhirnya Aca mendanai kang jahit itu buat bisa menjadi lumayan besar sampai bisa sewa ruko padahal dulu cuma rumahan saja. Aku pun langsung pergi lagi buat menemani client memilih bajunya sekalian fitting biar bisa di paskan dengan ukurannya. Sebenarnya bisa sih tidak perlu menemani tapi MMA kalau bagian servis harus sepenuh hati jadinya gini deh.


Sesampainnya di lokasi untungnya aku sampai duluan dan bertemu kang jahitnya yang sedang menyiapkan beberapa gaun pengantin, beliau ini berkisar umur 40 tahunan tapi sangat gesit dan penyabar orangnya, apalagi memiliki kreatifitas yang luas dan mau belajar mengikuti perkembangan jaman, sampailah client ku dan langsung memilih gaun dan di coba-coba, aku pun dimintain pendapat juga selalu jawab jujur dan berusaha merekomendasikan yang baik. Sudah selesai dan aku kembali ke kantor dan ternyata Roy minta aku untuk buat iklan di website terkenal tempat orang cari serba-serbi pernikahan dan aku langsung mengerjakannya.


Tiba-tiba aku mendengar suara lirih seakan memanggilku entah suara siapa ini, sangat lembut dan seakan butuh banget tapi aku melihat sekitar sini aman-aman saja. Sampai akhirnya ibuku menelpon kalau ada Amini tiba-tiba dipikiran ibuku dan aku diminta untuk waspada, aku gak paham maksudnya tetapi sepertinya peperangan semakin dekat, lansung aku kepikiran Andreas dan ngajakin dia ketemu disuatu cafe nanti setelah pulang kerja. Kris menanyaiku kenapa wajahku tegang banget dan seperti capek banget, aku cuma jawab gapapa aja daripada ribet. Aku kerjain semua kerjaan hari ini dan pulang sangat-sangat tepat waktu dan langsung jalan ke tempat yang sudah ditetapkan.


Sesampainya disana ternyata dia sudah datang lebih dulu dan aku langsung pesan minum dan ngobrol biasa tentang ide-ide dia yang dia utarain dan juga konsepnya Roy dijadikan satu dan aku ngerasa itu keren juga, tinggal si Aca nanti gimana teknis dan bikinnya. Ngobrol lama sampai aku nampak siapakah yang seneng sama si Andreas ini, wujudnya samar-samar dan selalu mengikuti, aku hanya ingin dia nampakin diri dan aku bisa ngobrol sama dia. Aku juga masih belum tahu kenapa auranya si Andreas ini cukup memikat para makhluk lain, tampan juga normal-normal aja karna itukan relatif.


"Kamu udah jarang ke sekolah na? " tanyanya.


"Jarang sih itu, tergantung waktunya aja, tapi aku tetep dateng dan selalu kenal anak basket dari waktu ke waktu, kadang juga bantuin mereka kalau ada tanding, " jawabku.


"Dulu berarti kamu terkenal banget dong waktu sekolah? " tanyanya.


"Wah iya lagi hahaha... tapi biasa aja kok, " jawabku.


"Biasa gimana? orang guru-guru juga masih sering ngobrolin kamu, kadang bandingin anak jaman dulu dan sekarang beda banget, sepertinya kamu murid favorit mereka. " jawabnya sambil tersenyum.


"Hmm... mungkin ya, beda generasi jadi makin sulit buat ngajar ya? " tanyaku.

__ADS_1


"Iya sulit, jaman kita mana ada yang lawan guru, " jawabnya.


"Anak sekarang lebih berani-berani ya, tapi mau gak mau cara ngajar juga jadi ikut berkembangkan, apa makin sulit? " tanyaku.


"Iya makin sulit juga, agak bingung sih awal-awal tapi sekarang udah ngerasa oke karna harus ngikut jiwa muda. " jawabnya tersenyum, nah di momen tersenyum ini si setan nih nongol seakan menggagumi, rasanya aku pengen ngakak ini sih lucu banget, apa coba panas-panasin setan kali ya.


"Kamu kan masih muda yas, yang wajar ngomong gitu tuh guruku yang udah jadi eyang-eyang, hahahah... " tawaku riang dan dibalas tawa juga sama Andreas, rupanya tuh setan belum kegocek seakan masih speeches sama senyum tawanya Andreas.


"Rupanya kita cocoknih ngobrol, bisa sefrekuensi gak ya? " tanyaku sambil tebar pesona padahal malu banget aslinya, ini cuma kepepet gegara setan aja, astaga.


"Katanya si Roy sih kita bisa sefrekuensi karna pikiran kita visi dan misi hampir sama, " jawabnya senyum.


"Kalian ngomongin apa dibelakangku? " tanyaku penasaran.


"Ah bo'ong nih, " jawabku memaksa.


"Iyaa gimana ya, Roy malah berharap kita bisa menjalin hubungan lebih kedepannya. " jawabnya malu karna pipinya merah.


"Terus kamu jawab apa yas? " tanyaku penasaran dan berharapa dia jawab yang positif agar nih setan cemburu.


"Ya aku jawab gak mungkinlah, selera Ana mungkin ga seperti aku, bisa sefrekuensi belum tentu bisa sehati. " jawabnya dan aku kecewa dengan jawaban ini, si setan seakan mengejekku, huf sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Jadi gak mungkin ya menurutmu? yah aku kecewa nih kupikir kamu bisa berpikir positif gitu tentang aku. " jawabku dengan wajah sok kecewa.


"Bukan gitu maksudku, kamu kan cantik jelas seleranya bukan saya, " jawabnya bingung.


"Seleraku siapa harusnya? " tanyanya.


"Mungki Roy, " jawabnya dan aku langsung ngakak.


"Kenapa Roy sih? " tanyaku.


"Karna kalian dulu seperti raja dan ratu rumornya. " jawabnya.


"Hahaha... Roy itu sahabatku banget loh, dan Roy suka sama Aca, kamu gak tau? " tanyaku.


"Oh ya? aku gatau tentang itu, " jawabnya.


"Iyalah kamu nih ada-ada aja, masa iya aku sama Roy, dari jaman SMA aja gak pernah aku sama Roy, dia tuh buaya banyak kali ceweknya, " jawabku.


"Terus sama Aca ini gimana kalau Roy buaya? " tanyanya.


"Dah tobat dia, nikahnya mau sama Aca aja titik, gitu katanya hahaha... " jawabku.

__ADS_1


Dan kami pun tertawa bersama sambil aku pepet terus sampai nih setan merasa cemburu.


__ADS_2