Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
98. Distraction


__ADS_3

Entah mengapa seperti ada lem dalam mataku yang membuatku ingin menutup mata, sedangkan kalau aku menutup mata penglihatanku malah lebih terang dalam melihat bayangan-bayangan itu, ini membuatku bingung sekaligus merasakan ketidaknyamanan yang sangat nyata, saat aku melihat Ambar dan Kris yang tetap ada di samping kanan kiriku, mereka berusaha untuk tetap tenang dalam diam dan mengamati sekitar, mereka juga merasakan ketidaknyamanan dan ketakutan yang tak terelakkan karna ketiga teman kami belum kembali, sedangkan kalau dilihat kakaknya Ana sudah mengernyit entah kenapa, apakah salah masuk pintu atau menemukan sesuatu, aku tak tau dan penasaran, terlebih penasaran kemana Ana, Toby, Roy yang tak kunjung kembali.


Proses ini memakan waktu yang lama, tapi saat aku melihat jam di dinding seakan berputarnya sangat pelan, apakah waktu berubah menjadi pelan. Lalu karna mataku yang sangat berat ini tapi aku tak merasakan kantuk, hanya saja terasa ada lem yang menempel pada mataku ini jadinya aku sangat-sangat mengantuk dan tak tahu harus bagaimana, apakah aku harus mencuci muka, aku meminum kopiku sampai habis sampai-sampai dua orang di sebelahku heran dengan tingkahku yang nampak kebingungan ini.


“Kenapa ca?” Tanya Kris.


“Gapapa, aku merasa mataku berat seperti ada lemnya,” jawabku.


“Kamu keknya harus cuci muka, dari pada kamu ketiduran terus ada apa-apa.” Jawab Kris.


“Iya keknya, mereka berusaha untuk mengusikmu dan jika udah merem bisa aja mereka menampakkan sesuatu.” Saut Ambar.


“Iya aku juga merasa mereka seperti mencari akses untuk menggangguku dan melakukan sesuatu terhadapku.” Jawabku yang sadar dan belajar dari pengalaman, dan kali ini aku harus kuat.


“Kamu cuci muka aja, eh tapi gak boleh kemana-kemana sama Ana tadikan,” jawab Kris.


“Aku keknya bawa tisu basah,” ujar Ambar yang mencari tisu basah di tasnya.


“Iya coba mana,” jawabku.


“Ini, kita semua juga harus merefreshkan muka kita.” Jawab Ambar.


Lalu kami semua membasuh muka dengan tisu tapi entah mengapa tisu itu berubah menjadi merah seperti darah saat Ambar membasuh mukanya, langsung teriak kaget dan membuat kegaduhan karna darah memang seperti jatuh dari atap. Lalu tiba-tiba Ana kembali dari belakang dan mengecek Ambar, Ana langsung membawa Ambar ke belakang untuk membersihkan diri, Toby dan Roy juga kembali duduk, lalu aku nyamperin Toby karna penasaran.


“Kamu dari mana kok lama banget?” tanyaku.

__ADS_1


“Roy lumpuh tiba-tiba jadi dia gak bisa bersuara maupun jalan, dia diam aja dikamar mandi tadi karna kita gak denger suaranya dan butuh waktu lama Ana untuk membuatnya bisa bangun lagi.” Jawab Toby dengan muka yang kelelahan.


“Astaga, apakah yang kita lakukan ini berbahaya ?” tanyaku.


“Lebih ke akan banyak rintangan dan gangguan yang terjadi, karna mereka benar-benar mengunci areanya dan berusaha menjerumuskan kita.” Jawab Toby dengan nada yang sedikit emosi.


“Ulah Asmirah ?” tanyaku.


“Tadi kata Ana, Ambar dirasuki kembarannya ya?” tanya Toby balik.


“Iya, Asminah tapi darah apa yang menetes dari atap ini?” tanyaku.


“Itulah tipu daya setan, kamu gak kenapa-kenapa kan?” tanya Toby.


“Aku merasa mataku seperti ada lemnya, perekat yang membuat kantuk gitu tapi posisi gak ngantuk,” jawabku.


“Iya, makanya aku tadi basuh pakai tisu basah, lalu muka Ambar jadi merah gitu tiba-tiba.” Jawabku dengan sedikit bergetar karna memang suasananya cukup membuat pusing.


“Kamu pusing gak?” tanya Toby


“Iya, pusing dan mual.” Jawabku.


“Kamu bisa ngeliat ekspresi keluarga Ana gak?” tanya Toby lagi.


“Iya, serasa sangat lelah dan mengernyit, kadang ekspresi marah dan kalut.” Jawabku.

__ADS_1


“Kamu bisa amati mereka saja, dan tetap fokus jangan ilang kemana-mana, karna dengan itu mereka merasa kalian bersama mereka dan membuat mereka bisa menemukan jalan utama.” Jawab Toby.


Akhirnya aku memberi tau Ana dan kami berdua memang harus fokus, lalu Ana dan Ambar kembali, kami disuruh berpegangan tangan agar pondasi kami tetap kuat, kami membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan tanpa menutup mata, yang menutup mata hanya keluarga Ana dan Toby saja. Karna mereka takut kita kebawa dan malah tersesat jadinya kami disuruh buka mata saja dengan doa masing-masing dan mendukung mereka yang sedang mencari jalan, tanpa sadar ini sudah 3 jam berlalu dan makin lama suasana semakin tegang dan terasa dingin yang sangat dingin, masih tetap sesak dan bisikan-bisikan aneh yang mengitari kami semua, tatapan penuh keikhlasan adalah yang kami tunjukkan agar dilancarkannya proses ini karna maksud kami baik. 


Tanpa sadar sudah jam 3 pagi saja, entah bagaimana aku seperti ketiduran atau gimana ya, seperti ilang sebentar tapi keluarga Ana sudah bangun dan menyuruh kami untuk makan karna memang kita tanpa sadar prosesnya semalaman, jadi kami semua seakan sedang makan besar dan rasa lapar yang tak terelakkan. Kami makan dengan semangat dan memang benar rasanya sangat lelah dan capek padahal tidak ikut dalam peperangan didalamnya.


“Kalian makan yang banyak, agar energi kembali pulih, karna semua energi kita terhisap oleh mereka,” ujar ibunya Ana.


“Iya kalian harus makan dan minum, gapapa ya makan subuh-subuh gini, makasih udah nemenin kami tanpa ketiduran.” Ujar tantenya Ana.


“Iya, emang mata rasanya berat banget,” jawabku.


“Andaikan kalian merem tuh ketiduran, kalian bisa masuk dan bisa jadi akan susah untuk membangunkan kalian.” Ujar kakaknya Ana.


“Kenapa bisa gitu kak?” tanya Ambar.


“Karna memang kita seperti masuk ke dalam labirin, dan susah sekali menemukan pintu yang sebenarnya. Jadi si Asmirah ini seperti menyembunyikan pak Broto di sebuah ruangan dan itu banyak sekali ruangan dan pintu-pintu.” Jawab kakaknya Ana.


“Lalu gimana, apakah bertemu dengan pak Broto atau ibu Diajeng?” tanya Kris.


“Kalian gak akan menyangka siapa yang berhasil kami temui,” jawab tantenya Ana.


“Siapa?” sontak kami semua penasaran.


“Tunggu saat matahari terbit saja ceritanya, saat ini kalian makan dulu lalu istirahat, kalau ada yang mau nunggu buat subuhan juga silahkan, kami juga akan istirahat.” jawab ibunya Ana.

__ADS_1


Lalu kami melanjutkan makan dan istirahat, sedangkan dalam otakku apakah akan ada jalan keluar, sedangkan dari ekspresi keluarga Ana seperti tidak memberikan spoiler, memang melelahkan dan mereka juga butuh beristirahat untuk mengembalikan energi dan stamina mereka, akhirnya aku tertidur dan bangun-bangun sudah jam 11 siang, aku juga lupa bagaimana nasib anak-anak intern, ternyata Roy sudah memberitahu mereka kalau hari ini mereka WFH dan sudah diberi tugas masing-masing oleh ketua mereka masing-masing.


__ADS_2