Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
63. Tanda Tanya


__ADS_3

Apa? apa yang harus aku lakukan? memangnya dia tau apa yang harus aku lakukan? mengapa seolah-olah tau aku harus ngapain? padahal aku saja tak tau harus ngapain.


"Ca.. dah gilak ya kau, ngapain kita nginep disini? " ucap Roy emosi.


"Aku takut, sudah hampir gelap, mending kita pulang aja. " Ungkap Kris.


"Kalian pulang aja, biar aku sendiri disini. " Jawabku.


"Gilak ya! gak! emang kamu mau ngapain? " ucap Toby yang ikut emosi.


Sedangkan aku hanya diam saja tak tau harus bagaimana, Ana pun sama, jadi kita semua sama-sama hanya diam. Tiba-tiba Kris menelepon seseorang, dan orang itu adalah Dipta kekasihnya, Kris bilang dia lagi ada di daerah tempat rumahnya dan mengabari Dipta semisal dia ada di sekitar sini, bolehkah Kris mampir kerumahnya. Besok Kris akan melihat rumah Dipta dan aku juga ingat kalau leluhur Dipta adalah orang sini asli, aku bisa ikut melihat renovasi rumahnya sambil bertanya ke ibunya atau siapapun itu.


"Apa yang kamu rencanain ca? " tanya Ana.


"Besok kita akan mengunjungi rumah Dipta, barangkali ada yang bisa kita galih. " Jawabku.


"Lalu tadi apa maksudnya Laras? kalo kamu tau apa yang harus kamu lakukan? " tanya Toby.


"Aku juga gak tau kenapa Laras ngomong gitu, tetapi ini rumah bu Diajeng, mungkin kita bisa berkomunikasi dengan beliu. " Ujar ku.


"Tapi aku gak punya kekuatan yang bisa tiba-tiba berkomunikasi ca, " jawab Ana.


"Biarkan alir mengalir, bila saatnya tiba badaipun tak akan bisa menghalangi. " Jawabku sambil melamun.

__ADS_1


"Sudah, kita masuk rumah aja dulu. " Ucap Toby.


"Aku takut, inikan rumah bekas pembunuhan, " ucap Kris.


"Woi, jangan ngomong gitu, kita positive thingking aja. " Potong Ambar.


Akhirnya kami memikirkan cara agar bisa berkomunikasi secara langsung tanpa ada intruksi dari roh lain, karna di daerah sini kan ada leluhur penjaga yang pernah kutemuin di kamar mandi saat menjadi Amini. Laras pun chat memberi tahu kalau ada makanan di dapur yang bisa kami santap untuk makan malam dan memberi tahu agar menjaga rumah dengan baik, sedangkan mas Teguh juga sudah di periksa dan baik-baik saja.


"Kita lebih baik pulang aja dah, " ucap Roy.


"Kalo pulang ga kelar-kelar nih masalah. " Jawab Ana kesal.


"Coba tuh tanya si cowomu, suruh dia disini kalo, " ucap Roy kesal.


"Apasih, besok kan bisa orang dia lagi sibuk, gak pengertian banget, " jawab Kris.


"Roy, udah lebih baik kita makan, didapur kan ada makanan, " ucapku berusaha membuat suasana baik.


"Takut aku ca, " ucap Ambar.


"Biar diterawang sama Toby dan Ana dulu, sana na. " Ucapku menyuruh mereka berdua.


"Hmm... " respon Ana.

__ADS_1


Ana dan Toby kedapur, sedangkan yang lain duduk di ruang tamu dan diam seribu bahasa, aku tau semuanya kesal karna aku yang sok ngide untuk tetap tinggal disini. Aku pun chat Laras apakah mereka akan kembali kerumah ini atau tetap di rumah sakit, dan jawabnya mas Teguh harus opname di rumah sakit. Aku juga bertanya apa yang harus aku lakukan, jawab Laras adalah aku harus konsentrasi mencoba masuk kedalam energi dari rumah ini dan mencari leluhurnya alias bu Diajeng ibu dari pak Broto. Laras dan Sekar menyuruhku untuk bisa membujuk bu Diajeng agar mau menasehati pak Broto dan tidak membuat pak Broto semakin membenci istrinya.


Mereka memintaku menggunakan tipuan atau trik agar membuat Asmirah menjadi tenang dan dapat melepaskan anak-anaknya untuk kembali ke alamnya. Minta saja agar ak Broto pura-pura memaafkan atau apalah itu agar keadaan tidak semakin buruk dan dapat teratasi. Karna dengan amarah pak Broto ini membuat Asmirah semakin jahat dan dengki yang sangat ekstrim. Aku pun juga bertanya bagaimana cara agar bisa berkomunikasi dengan bu Diajeng, katanya cukup konsentrasi dan tau apa tujuanmu berusaha berkomunikasi dengannya dan juga peganglah suatu penghubung yaitu bunga anggrek yang tertanam di belakang rumah dan berdiam diri didapur tempat kematiannya.


Hal itu membuatku bergidik takut, entah mengapa jantungku rasanya deg-degan dan takut begitu saja. Padahal aku sudah pernah bertemu dengan beliau tapi entah mengapa aku takut dan hawa disini sangat dingin membuat semakin takut.


"Aman kok, yuk makan dibelakang. " Ucap Ana.


"Gabisa kita makan disini aja? " tanya Ambar.


"Repot tauk, bawa-bawa makanan kedepan nih meski rumah ini kecil. " Jawab Ana.


"Yauda yok makan. " Ucapku sambil berdiri dan menyuruh yang lain agar ikut juga.


Lalu kami kebelakang dan ada amben bambu dan kami duduk makan disana. Anak-anak lain melihat atap rumah ini yang seakan tak direnovasi membuat imajinasi mereka bermain dan malah ketakutan. Lalu Toby pun berusaha mengalihkan ketakutan mereka dengan bercerita hal-hal yang lucu dan membuat kami sedikit lupa kami ada dimana.


Setelah makan kami gotong royong mencuci piring dibelakang dapur ada tempat mencuci piring, aku pun melihat anggrek yang dimaksud Laras. Aku juga memberikan hpku pada Toby agar dia membaca pesan antara aku dan Laras. Toby pun akan menemaniku untuk berkomunikasi dan menjaga tubuhku agar tetap baik-baik saja tanpa ada gangguan dari yang lain. Sedangkan tugas Ana menemani teman-teman yang lain agar tidak ketakutan.


Kami pun berencana berkomunikasi pada saat jam 9 malam, untuk sementara kami berkumpul didepan sambil ngobrol-ngobrol santai dan membuat kopi agar menenangkan semuanya. Membuat rileks dan betah ada dirumah ini. Kami pun bercanda dan bercerita macam-macam, tertawa asik sampai ada yang menyapa kita dari luar, kamipun kaget dan ternyata itu hanya tetangga yang sedang lewat dan menyapa, tetangga tersebut juga kaget mengapa kami semua terkaget.


Toby pun keluar untuk berkenalan dengan mereka dan bertanya tinggal dimana, ternyata mereka tetangga sebelah rumah pulang dari masjid. Mereka juga bertanya ke Toby sedang ada acara apa dirumah mas Teguh dan Toby pun menjawab ingin berkunjung saja tetapi mas Teguhnya tiba-tiba harus dirawat dirumah sakit. Mereka pun kaget seakan kenal sekali dengan mas Teguh. Ternyata mereka pemuda yang sering kerumah ini untuk menemani mas Teguh dan belajar, karna mas Teguh sangat pintar bisa membantu mereka mengerjakan pr dan yang lainnya. Sedangkan ibu mereka juga dimintain tolong sama adiknya mas Teguh untuk memasak.


Lalu Toby pun mengundang mereka untuk berkumpul bersama kami, karna kami juga membawa beberapa kudapan ringgan. Mereka pun setuju tapi harus pulang sebentar dan berganti pakaian. Rumah mereka pun memang disebelah rumah ini. Karna mereka datang dan membuat teman yang lain semakin tidak takut, karna ada orang asli sini yang menemani mereka. Sedangkan aku dan Toby kedapur dan membawa bunga anggreknya untuk segera berkomunikasi dengan bu Diajeng.

__ADS_1


Aku berusaha menutup mata tapi sangat susah untuk konsentrasi, terapi Toby membantuku untuk tenang dan berkonsentrasi dengan baik.


Dan akhirnya aku berjumpa dengan bu Diajeng.....


__ADS_2