Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
109. Hope


__ADS_3

Aku merasa yakin akan ada harapan dan memang harapan itu ada, akan ada waktunya jalan kami terbuka dan keluar dari kegelapan yang menyesakkan ini. Aku langsung kirim ke grup dan teman-teman juga heboh membahasnya dan jadi bersemangat lagi karna ada secercah cahaya dan berharap kalau ini menjadi kunci dari gembok yang susah dibuka.


Karna hari ini aku ada bertemu dengan client karna harus membahas desain secara langsung dan tatap muka, aku bilang ke Toby kalau aku ingin ditemani bertemu client ini, karna setiap aku bertemu client ini susah sekali untuk approve dan bahasannya bisa kemana-mana, mungkin kalau ada laki-laki bisa lebih cepat dan tidak berbelit-belit, padahal dia sudah punya keluarga kecil tapi masih saja bahasannya menjurus ke hal-hal yang tidak seharusnya dibahas dengan orang luar, karna aku emosian tiap menghadapinya jadi kali ini aku percaya kalau Toby bisa menemaniku. Aku memang merasa apa-apa bisa sendiri, tapi kali ini aku harus berpikir berbeda.


“Aku senang kamu ngajak aku ca, aku merasa aku dibutuhkan.” Ujar Toby sambil merapikan barang bawaan di meja kerjanya.


Aku hanya tersenyum dan merasa bahagia karna bikin Toby bahagia padahal harusnya ini hal biasa saja, tetapi bagi Toby ini luar biasa. Seperjalanan ke kafe tempat kami bertemu, seperti biasa ternyata dia sendirian padahal dia bilang dia akan bersama asistennya, dia juga kaget ternyata aku membawa rekan sekaligus calon suami yang membuatnya tidak nyaman dan meeting ini berlalu dengan cepat dan lancar begitu saja, sangat sesuai dengan prediksiku.


“Thanks ya bi,” ujarku sambil menggandeng lengannya.


“Iya sayang, karna kita cuma ngopi aja, gimana kalau kita makan siang di resto nya temenku.” Jawab Toby.


“Okaii…” jawabku bersemangat.


Lalu kami lanjut makan siang dan ternyata resto yang dimaksud adalah warung sederhana pinggir jalan milik adik ibu tirinya. Aku tak menyangka Toby membawaku kemari hanya untuk biar bibi ini membicarakan kebahagiaan Toby dengan calon istrinya, Toby ternyata berpura-pura tidak tahu kalau bibi ini adalah adik ibu tirinya. Toby sengaja membuat keluarga itu terbakar dan iri, aku hanya bisa kaget dan senyum melihat ulah Toby, bibi ini berjualan nasi pecel dan rasanya memang biasa saja, bahkan aku tak bisa menghabiskannya.


Nampak sekali raut wajah kebencian yang terpancar dari bibi itu, dan nampak juga jiwa kebebasan Toby yang merasa puas. Toby bilang kalau dia akan membuat karma itu berjalan lebih cepat, melihat papanya yang sampai saat ini tidak bekerja dan ibu tirinya bekerja dipasar, hanya kebetulan saja se kota dengan adiknya itu, papa Toby tidak tinggal di kota ini.


“Apa barusan itu?” tanyaku.


“Sorry ca, melibatkan mu, aku hanya ingin menyampaikan kabar kalau aku hidup dengan baik.” Jawabnya tersenyum puas.


“it's okay, seru juga tapi aku tak ingin kamu hidup dalam kebencian ini bi, bahaya.” Jawabku berusaha memberikan pendapat.

__ADS_1


“Iya ca, aku tahu, hanya saja rasa ikhlas itu susah sekali.” Jawabnya.


“Aku ingin kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri bi, aku akan temani.” Jawabku sambil memeluk Toby yang sedang nyetir.


Lalu dia mencium keningku dan berbisik berterimakasih, aku bahagia karna aku merasa aku dicintai ternyata hatiku yang suram kini berwarna dan membahagiakan. Kami kembali ke kantor dengan kesibukan masing-masing, anak-anak pun bertanya-tanya kapan aku ke Balinya dan mereka juga ingin ikut sayangnya tidak bisa, mereka yang excited dan merasa bahagia.


“Ca, nanti oleh-olehnya jangan lupa ya,” ujar Roy sambil ekspresi senang.


“Iya,” jawabku sambil makan mie goreng, padahal tadi sudah makan siang tapi karna sore kembali hujan jadinya lapar lagi.


“Aku juga lah ca……” tambah Ambar yang juga bersemangat.


“Iya kalian semua akan dapat oleh-oleh, cuma nih ya aku aja belum dikabarin kapan bisa ke Balinya, jadi jangan bersemangat dulu.” Jawabku mengembalikan fakta yang mereka lupakan.


“Huh, nyebelin banget sih,” jawab Kris kesal dengan jawabanku yang diluar dugaanya.


“Masih hujan, males banget.” Jawab Kris.


“Loh, bukannya kamu dijemput Dipta?” Tanya Ambar.


“Oh iya, aku hari ini diantar, aku lupa, okey aku siap-siap dulu rapikan meja yakan, keknya dia udah di jalan.” Jawabnya bersemangat.


“Anak-anak intern juga pulang gih,” ujarku dan langsung di iyakan oleh mereka.

__ADS_1


Satu persatu mereka semua pulang hanya tinggal aku, Toby dan Ana yang masih dikantor. Ana masih ada kerjaan yang mengharuskannya memilah kata sebelum kirim email, dan aku masih ingin bersantai, sedangkan Toby ikuti aku aja karna kan memang aku tadi di jemput, padahal aku bisa pulang sendiri tapi dia bersikeras ikut aku. Padahal aku mau nemenin Ana dan aja yang sedang berkutat dengan pekerjaanya yang rumit itu.


“Ca, kapan sih ke Balinya, kalau dalam waktu dekat, budget yang kamu kirimkan ke aku tuh masih kurang.” Ujar Ana.


“Aku juga gak tau kan belum diberi kabar, lagian santai aja sih kitanya ini jangan terlalu heboh,” jawabku kesal ditanya masalah ke Bali mulu.


“Yauda kalau belum cukup, pinjem aku aja gak papa.” Balas Toby.


“Boleh gitu ya? Emang boleh ca?” tanya Ana.


“Bebas aja, itu kan uang Toby jadi tanya aja dia.” Jawabku yang heran dengan pertanyaan Ana.


“Kan biasanya uang suami uang istri.” Jawab Ana.


“Ya masalahnya aku nikah aja belum, nanti kalau dah nikah nih baru pantes kamu tanya gitu.” Jawabku dengan nada tinggi karna kesal dan dibalas tawa dengan mereka berdua.


“Dah buruan dah kelarin tuh kirim email, jangan ngomong mulu.” Ujarku yang ngomel karna beneran kesal.


“Ya maaf ca, karna biasanya pacar juga ikutan ikut campur, kok kamu beda ya.” Jawab Ana yang semakin bikin darah tinggi.


“Astaga terserah mu dah na, males nanggepin, jatah makan siangku tadi mana?” tanyaku.


“Udah dikasih sama satpam sini, kupikir tadi gak bakal kemakan, karna tadi bapaknya lewat.” Jawab Ana.

__ADS_1


“Oke.” Jawabku singkat, padahal aku pengen makan lagi, gak tau kenapa merasa lapar mulu gara-gara hujan dingin jadi mulut kek pengen makan aja.


Setelah Ana selesai, barulah kami pulang kerumah masing-masing, tetapi Ana mampir ke rumahku karna pengen makan ikan terakhir hasil tangkapan bapak, karna sudah habis tinggal ini ikan terakhir. Bapak sangat senang dan merasa happy ikannya disukai, kami makan malam bersama dan Ana penasaran dengan cermin yang aku bicarakan, kapan-kapan aku akan mengajak Ana untuk main kerumahnya.


__ADS_2