
Bisikan-bisikan ghaib yang entah dari mana, ini sangat menggangu ku. Lantas siapa yang ada di belakangku ini, apakah Laksmi sudah kembali dan tidur dengan pulas sampai napas nya saja terasa sampai leherku, dan suara yang bergema lirih ini memintaku untuk tak membuka mata dan tidur saja, apakah aku lebih baik tidur dirumah lama dari pada dirumah ini atau aku tidur di rumah bu Minah yang lebih aman. Aku tak tenang hingga jantungku berdegup dengan kencang.
Karna posisi tidurku sudah membuat kesemutan aku berusaha mengubahnya sedikit menjauh dari Laksmi, saat aku mengubah posisi itu menjadi tengkurap dan kepalaku tetap menghadap ke kanan, tiba-tiba yang di belakangku juga ikut mendekat padaku meski tak menempel tapi tetap terasa, ini membuatku tak tenang dan semakin deg-degan. Aku berusaha tidur memikirkan yang indah-indah, kalau aku akan segera kembali, merenovasi rumah dan menikah, sampai akhirnya aku tertidur.
Tanpa sadar dalam tidurku aku merubah posisi menjadi menghadap Laksmi, entah seperti ada firasat aneh seperti ada yang menatap ku, tanpa sadar juga aku membuka mata. Saat ku buka mata kudapati pandangan yang blur, seperti ada wanita tapi karna ngantuk dan sedikit tak sadar aku beranggapan itu Laksmi, sampai jantungku langsung deg.... itu bukan Laksmi, aku membuka mata lagi dan ternyata yang sedang berbaring bersamaku adalah wanita tua di kamar mandi itu, sontak aku kaget dan berteriak, kali ini teriakanku sangat lantang sehingga membuat Batara dan Djaya menghampiriku.
"Kakak kenapa? " Tanya Batara.
Aku masih ngos-ngosan dengan napas ku yang tak beraturan, kulihat di kanan dan kiri ku dia tak ada lagi, dan aku heran, kemana Laksmi.
"Dimana Laksmi? " Tanyaku.
"Laksmi sedang sembahyang, tiap tengah malam. " Jawab Djaya.
"Hah? " aku kaget dan bingung.
"Kakak, kenapa berteriak? " tanya Batara lagi.
"Aku melihat sesosok wanita tua tidur di sampingku. " Jawabku lantang dan ketakutan.
"Lagi-lagi kakak melihat hal-hal itu yaaa.. " Ucap Batara yang seakan biasa dengan ulahku.
"Lupakan saja, mungkin itu halusinasi, " kata Djaya seakan meremehkanku.
"Tapi aku benar-benar melihatnya, di kamar mandipun dia yang aku lihat. " Ucap ku berusaha meyakinkan mereka.
"Tidur saja lagi... " Ucap Djaya dengan tenang.
__ADS_1
Tiba-tiba Laksmi datang dan heran mengapa semua berkumpul di kamarnya.
"Ada apa? " Tanya nya dengan wajah yang bingung.
"Kakak melihat wanita tua, " jawab Batara.
"Oh... tak mengapa Amini, beliau penjaga rumah ini, " jawabnya sambil tersenyum yang malah membuatku bergidik ngeri.
"Apa itu mbah mun? " tanya Djaya.
"Iya... hanya orang tertentu saja yang bisa melihat, bahkan aku saja tak tahu. Suami ku yang bisa melihat. " Jawab Laksmi enteng.
"Apa maksudnya dia menampakkan diri padaku? " tanyaku sambil memeluk Batara yang aku lihat dia juga ketakutan.
"Berarti kamu bisa merasakan makhluk lain Amini, kalau suamiku kepekaan nya terhadap makhluk lain memang tinggi, tapi mbah mun itu baik, sudah menjaga rumah ini sejak lama, bukan cuma rumah ini tetapi kampung ini dulu ada karna mbah mun, " jawab Laksmi.
"Mungkin seperti itu, sudah lama meninggal tapi tetap menjaga perkampungan ini, beliau tak jahat. " Jawab Laksmi menenangkan ku sembari mengambilkan minum.
"Kakak... Batara takut, " ucap Batara dengan suhu tubuh yang dingin.
"Sudah.. aku tak apa, kamu tidur saja lagi yaaa" ucapku padanya.
Lalu Batara dan Djaya keluar dari kamar dan mungkin kembali tidur, sedangkan aku ingin mengintrogasi Laksmi.
"Laksmi, bolehkah aku bertanya? " ucapku dengan nada yang pelan bahkan hampir berbisik.
"Iya.. kenapa Amini? " jawabnya lembut.
__ADS_1
"Kamu disini sudah berapa lama? " tanyaku.
"Aku menikah baru saja, mungkin belum genap satu tahun aku disini, " jawabnya sambil berusaha menghitung berapa lama dia tinggal.
"Apakah kamu pernah merasakan yang aneh-aneh? " tanyaku lagi.
"Aku tak pernah, hanya suami ku yang kadang bercerita. " jawabnya.
"Boleh kah aku juga mendengarkan apa yang diceritakan suamimu? " tanyaku semakin berbisik sampai dia mendekatkan telinga nya kepadaku.
"Tapi mengapa kamu berbisik? " tanya nya heran.
"Hmm.. entahlah, hanya terbawa suasana. " Suaraku yang berusaha kembali normal.
"Kamu lucu sekali, " Jawabnya sambil teryawa.
"Ceritakan.... " Ucap ku memintanya bercerita.
"Jadi ... saat kecil suamiku pernah bermimpi kalau dia diculik oleh penjajah dan dijadikan budak, tapi orangtuanya meyakinkan diri bahwa daerah sini itu aman dari sarang penjajah, setelah mimpi itu, suamiku sakit keras, seperti demam yang tak kunjung turun, di sembunyikan nya penyakit itu takut warga tahu dan dianggap sebagai wabah yang menular. Karna menggigil yang tak kunjung berhenti serta batuk dan juga flu. Setiap hari orang tuanya meramu jamu-jamu agar dapat sembuh dan akhirnya sembuh, tetapi ternyata demam itu seperti pertanda dibuka nya pintu dia bisa melihat mahluk lain. Orangtua suami bingung apakah ini suatu yang baik atau buruk, sampai akhirnya suami bisa melihat mbah mun dengan jelas dan seperti diberikan kekuatan untuk sembuh dan yang memilih aku menjadi istrinya adalah mbah mun. Hmm suami tiba-tiba bermimpi sosok gadis sepertiku dan berada di desa yang dia mendapat gambaran. Langsung dicari dan langsung melamarku. " Cerita dari Laksmi yang sungguh mencengangkan.
Aku bingung siapa yang mereka sembah, Tuhan kah, atau batu atau tumbuhan atau apa. Sepertinya saat matahari sudah terbit aku harus mencarinya. Laksmi menceritakan lagi bahwa kampung ini sangat gotong royong dan damai, orang yang berhasil dikampung ini katanya adalah pak Broto yang mampu pindah rumah dan tinggal dikawasan bagus dengan lingkungan yang kaya juga. Tetapi pak Broto tak lupa dimana beliau berasal, cukup sering datang kerumah lama hanya untuk membersihkan rumah, padahal dia bisa saja menyuruh orang untuk bersih-bersih. Tapi beliau juga tetap menjaga silaturahmi dengan teman-teman kecilnya dan semua orang di kampung ini.
Beberapa kali Laksmi bertemu pak Broto yang dianggap sangat gagah dan keren, terkadang membawa beberapa pakaian untuk dibagikan oleh orang sini, katanya pakaian itu hasil karna istrinya, beliau sangat menyayangi istrinya dan bercerita hal baik. Tentang anak-anaknya pun di ceritakan, bagaimana dia memiliki anak yang berparas cantik sampai takut disukai lelaki tak baik, memiliki anak lelaki yang tampan juga, semua merasa karna gen dari ibunya sangat kental dengan turunan campuran. Tetapi Laksmi melihat ku sangat cantik wanita Indonesia, hampir tak ada campuran nya, tetapi jika Batara memang sedikit nampak.
Laksmi sangat menyukai keteduhan dan kedamaian lingkungan ini, tetapi dalam satu minggu, selalu saja ada hari yang membuatnya tak tenang, yaitu saat suaminya pulang. Suaminya selalu berperasan agar selalu mengirim doa kepadanya, agar dia di jaga dalam bekerja dan juga doa untuk kesejahteraan bersama, tapi saat suami Laksmi pulang, seakan sesak dan selalu membuat tak bisa tidur. Lalu Laksmi menyanyikan tembang pengantar tidur yang suaminya nyanyikan padanya setiap malam saat berjumpa, aku tak mengerti bahasanya tapi nadanya sangat indah dan membuat ketenangan hati.
Tembang tidur yang di nyanyikan Laksmi, berhasil membuatku tidur dengan pulas, sangat pulas sampai tak merasakan kepedihan hati apapun.
__ADS_1