Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
65. Kampung Asri


__ADS_3

Dahulu kala perkampungan ini sangatlah teduh dan dingin, banyak ladang, banyak sumber air dan kehidupan yang tenang. Bahkan ada sesepuh penjaga kampung ini agar tetap asri yaitu mbah Mun. Aku pun pernah bertemu mbah Mun saat beliau nembang pengantar tidur. Mbah Mun sendiri jika dilihat dari garis keturunan masih bersaudara dengan si mbah penjaga warung, beliau bernama mbah Nursinah, berumur 80 tahun yang masih sehat bugar dan cantik.


Mbah Nursinah selama hidupnya tidak pernah kemana-kemana, beliau menetap di tanah kelahiran nya, anaknya sudah meminta untuk pindah ke kota sebelah namun si mbah tak ingin meninggalkan rumahnya, karna kebanyakan orang tua dikampung ini menjaga tanah leluhurnya dengan baik, meskipun banyak sekali orang ingin membeli tanahnya tetapi si mbah tidak mau berapapun harganya.


Untuk jaman sekarang, kampung ini sangat maju menjadi kampung pariwisata sumber air pemandian. Bahkan hutan-hutan serta kebunnya juga menjadi daya tarik wisatawan dan masih banyak rumah bangunan lama yang menjadi ciri khas, ada juga rumah modern tetapi tak begitu banyak.


Si mbah tak disangka kampung ini begitu dikenal dengan baik dan sangat menyukainya, bahkan teman-teman semasa kecil sampai tua pun banyak sekali yang tak pindah dan menetap dirumahnya, mereka lahir disini dan mati pun juga disini.


Makan pun tidak begitu sulit karna semua hasil panen bisa dimakan, kalau tak punya lauk pun selalu ada saja yang bisa dipetik, dan kebanyakan warga sini suka jalan kaki, mungkin itu yang menyebabkan si Mbah diumur yang cukup masih sangat sehat dan kuat.


Akupun bertanya, siapakah orang paling kaya dikampung ini, lalu si mbah menjawab jaman dulu ada lelaki yang mampu memberi semangat kepada warga jika bisa bangkit dari kemiskinan, membantu warga menjadi pintar membaca, menulis, berdagang, berkebun dan sangat disukai masyarakat sini. Cukup disegani karna sangat baik dan sering berbagi meskipun istrinya terlihat tidak menyukai jiwa sosial suaminya.

__ADS_1


Tetapi sosok tersebut pindah ke daerah perkotaan, kalau kampung asri kan termasuk daerah pinggir. Tetapi selama pindahpun dia tetap membantu warganya dan cukup sering berkunjung untuk melihat perkembangan tanah kelahirannya. Dulu si mbah masih kecil dan cerita seperti ini selalu diceritakan turun menurun karna hal baik harus diceritakan.


Saat si mbah bercerita seperti itu dalam otakku langsung berpikir itu pak Broto, sangat disayangkan beliau sangat disegani tetapi tak pulang ke tempatnya dengan damai. Pak Broto harus tau kalau beliau sangat dicintai oleh masyarakat di tanah lahirnya. Karna jika pak Broto berkutat pada hal itu terus tanpa melihat keluar maka hasilnya akan tetap sama.


Si mbah juga bertanya, siapakah yang aku kunjungi, dan aku menjawab aku berkunjung kerumahnya mas Teguh. Si mbah kaget, ternyata beliau mengenalnya karna setiap lewat selalu di sapa oleh mas Teguh. Si mbah bilang kalau rumah itu adalah rumah dari jaman dulu yang tidak diubah, hanya saja renovasi untuk memperkokoh rumah dan rumah tersebut adalah rumah dari tokoh yang disegani. Si mbah mengira kalau aku adalah saudara dari mas Teguh maka termasuk orang yang harus disegani karna turunan dari pak Broto.


Aku pun menjawab kalau aku bukan saudara nya, tetapi hanya sebagai kenalan atau teman karna pernah kontrak dirumah ibunya. Si mbah juga bertanya bagaimana rumahnya apakah besar, dan aku menjawab rumahnya besar dan kokoh untuk masa dahulu, yang punya adalah seorang pelukis, si mbah pun kaget dan memberi tahu kalau mbahnya pernah membantu pak Broto dalam hal mencari kebutuhan untuk melukisnya. Si mbah sangat senang karna bisa tau kondisi saat ini, jaman dahulu gotong royong saling menolong itu penting, tetapi sekarang si mbah tak begitu mengenal penerusnya dan sekarang senang karna tau kabarnya.


Lalu aku bertanya, adakah kejadian buruk dimasa lalu di kampung ini, beliau pun tertegun dan cukup lama menjawab. Tetapi beliau memilih untuk tidak memberitahu, beliau hanya tersenyum dan menutupi hal buruk dikampung ini, pasti seluruh warga tau cerita lama tentang bunuh diri, tapi aku salut sama si mbah yang tetap memilih untuk tak bercerita hal buruk.


Gorenganku pun sudah jadi dan aku pamit untuk pergi dan berterima kasih banyak dengan si mbah yang mau nemenin ngobrol, saat balik pulang aku bertemu temen-temen yang asik berfoto ria dijalanan sini, mereka dari sumber dan terlihat happy banget dan menunjukkan foto-foto mereka, dan akupun sedih karna tak ikut bersama mereka.

__ADS_1


Sesampainnya dirumah, akupun membuat kopi dan makan gorengan, Toby pun bertanya apakah aku nyasar kok lama sekali, terus aku bercerita kalau aku bertemu mbah Nursinah dan menceritakan tentang masa lalu kampung ini, karna aku pikir kita bisa menyusun puzzle.


Temen-temen pun suka dengan gorengannya karna rasanya gurih. Setelah makanan kecil kami semua langsung menyantap masakan Ana, kami menggelar kelasa di belakang rumah dan makan seakan makan dikebun. Rasanya sangat segar dan rindang, bahkan ada tetangga yang memberi salak hasil panen nya karna melihat kami yang ramai dan bahagia.


Tak lupa kami mengabadikan foto dan di upload ke sosial media, walaupun muka semuanya belum mandi tetapi terlihat sekali kalau pemandangan dan makanan yang kami santap pasti membuat orang lain ngiler. Lalu kami berencana setelah makan dan mandi kami harus mengunjungi rumahnya Dipta yang katanya ada dikampung Asri. Selagi antri mandi aku jalan-jalan kebelakang kerumah pak Yadi dan bu Minah apakah sudah berubah atau masih sama.


Aku jalan-jalan ditemani Ana, saat sampai didepan rumahnya terasa tak begitu asing dan nampak seorang ibu lagi mengendong anak bayinya sedang menjemur pakaian. Lalu aku menyapa dan bertanya apakah ini rumah pak Yadi, beliau pun kaget karna aku tau buyutnya. Ternyata memang dikampung ini mengenal para pendahulunya adalah hal yang wajib sedangkan aku buyut dari buyut aja tak begitu tau.


Ana pun kaget dan khawatir jika aku ditanya aneh-aneh, tak lama ada sosok kakek-kakek datang menyapa dan disuruh duduk biar cucunya membuatkan teh hangat, kenapa warga sini sangat baik-baik dan ramah. Kakeh tersebut mendengar kalau aku tau pak Yadi dan bertanya kok bisa tau.


Aku pun bingung menjawab apa, dan aku menjawab kalau susah untuk dijelaskan, kakek itu pun siap mendengarkan setidak masuk akal pun ceritaku.

__ADS_1


Lalu aku menatap Ana dan memberi kode kalau sepertinya kakek ini tau sesuatu....


__ADS_2