
Semakin lama aku dimasa lalu, semakin sakit kepala dan keresahan melanda. Aku tak kunjung menemukan jalan terang untuk kembali ke masa depan dimana ada aku dan teman-temanku. Bagaimana keadaan mereka saat ini, apakah mereka tahu kalau aku tak berada bersama mereka, atau memang waktu sedang berhenti dimasa depan.
Aku menghampiri pak Broto dan ingin melukis bersamanya. Sedangkan bu Asmirah sedang pergi ke pasar. Ini adalah kesempatanku untuk mencari petunjuk.
"Bapak.. bapak bisa melukis ini belajar dari mana? " Tanyaku kepada pak Broto sambil melukis asal-asalan.
"Entahlah nak, bapak juga tidak tahu. Tetapi apapun yang bapak pelajari selalu didukung oleh nenekmu" Jawab pak Broto dengan tatapan penuh kerinduan.
"Bagaimana rupa nenek pak? " Tanya ku kembali.
"Nanti akan bapak lukiskan ya, kalau pesanan ini sudah selesai" Ucapnya sambil mengelus kepalaku.
__ADS_1
"Nenek, orang yang baik kah pak? " Tanyaku lagi ingin memancing agar pembicaraan semakin dalam.
"Sangat baik, bahkan nenekmu yang tak bisa baca itu berteman dengan wanita yang pandai dan menjadikanya guru bapak. Nenekmu orang yang tekun dan sangat penyayang" Jawab pak Broto sambil menyeka air mata yang berlinang di pipi.
"Bapak, kenapa sedih? apakah karna nenek meninggalkan bapak lebih dulu?" Tanya ku yang semakin masuk kedalam.
"Iya nak, bapak tak menyangka nenekmu berpulang lebih dulu. Padahal bapak belum bisa menbahagiakan nya. Itu yang bapak sesali. Tapi semoga nenekmu tenang di sana. " Jawab pak Broto sedih.
"Makanlah anakku sayang" Ucap bu Asmirah sambil mengambilkanku roti.
"Terimakasih bu" Jawab ku.
__ADS_1
"Kemana Batara, adekmu? " Tanya bu Asmirah sambil mengelus perutnya.
"Entah, mungkin dia bermain di luar" Jawabku sambil makan roti.
"Jangan-jangan dia bermain lagi dengan anak jalanan itu" Ucapnya sambil berlalu pergi dan ngomel-ngomel.
Kenapa bu Asmirah selalu saja seperti itu, memang kenapa bermain dengan manusia lainnya, haruskah ada dinding pemisah toh sama-sama manusia. Sangat menyebalkan, dan seketika bu Diajeng nampak dipojokan berdiam dengan suasana yang angker. Aku kembali makan roti dan berdiam diri, sampai pak Broto datang dan menyuruhku menyelesaikan lukisan abstrakku.
Aku kembali melukis sendirian, karna pak Broto sedang ada tamu, aku juga mencoba mengamati lukisan-lukisan nya, tanpa kusadari aku tak pernah melihat lukisan yang menandakan kecintaanya terhadap istrinya. Aku harus menanyakan lukisan tentang cinta kepada pak Broto.
Malampun tiba, aku tidur dikamarku dengan suasana hati yang bergemuruh dan over thinking. Banyak hal yang harus diselesaikan dan aku tak mengerti harus dari mana. Tak lama aku tertidur dan aku memimpikan Toby menikah denganku tapi bukan denganku. Aku ada di pernikahan itu tapi tubuhku ada yang mengendalikan dan aku melihat diriku sendiri sedang tertawa berbahagia.
__ADS_1
Apa ini, kenapa aku seperti arwah yang melihat diriku sendiri menikah, sedangkan aku tak dilihat oranglain. Apakah aku mati? atau ada orang lain yang mengambil alih tubuhku? ada apa ini? ini kenyataan atau hanya mimpi saja? mengapa begitu jelas dan gamblang ada dalam mimpiku. Lalu aku terbangun dan mendapati aku sudah dikelilingi oleh banyak manusia lain yang tak kasat mata.