Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
120. Roy [5]


__ADS_3

Saat aku sudah selesai berbicara dan aku lihat Ana pandangan dia hanya diam kosong dan seakan tertegun dan tak percaya dan bingung harus berekspresi apa yang membuatku menjadi malu dan canggung ditatap seperti itu, aku hanya takut dia salah paham menganggapku predator atau apapun itu tapi dia hanya masih sangat shock dan tertegun.


“Na, gimana na?” tanyaku karna dia sama sekali kubiarkan selama satu menit dan dia masih diam.


“Bentar Roy, aku butuh waktu untuk mengerti segalanya ini terlalu mendadak bagiku dan membuatku shock,” jawab Ana sambil mengusap mukanya dan minum.


“Aku takut na, tapi please kau percaya sama aku.” jawabku sambil membiarkan Ana mengerti dan menelaah segala maksudku ini.


Karna Ana butuh waktu dia minta aku untuk menghabiskan kopinya dia juga menghabiskan kopinya yang tinggal dikit itu, dan dia mau kebelakang untuk mencuci muka dan membuat kopi baru, dan aku pun menurutinya, langsung dia keluar dari ruanganku dan aku jadi bingung dia akan memberikan pesan apa dan bagaimana reaksinya selanjutnya karna memang ini sangat mendadak tapi aku juga gak bisa menyembunyikan segalanya ini sendirian.


Akhirnya Ana kembali dengan membawa kopi dan juga cireng yang baru saja dia goreng bersama anak-anak intern lainnya ternyata dia membebaskan anak-anak untuk makan apapun yang ada di kulkas, Ana pun langsung minum dan memakan beberapa buah cireng dan menyuruhku menyantapnya juga, membuat suasananya jadi sedikit lebih nyaman dan jauh dari canggung karna mungkin dia merasakan aku yang sedikit tidak terkontrol dan takut aku ribut sama Toby.


“Oke, kamu yakin dengan perasaanmu itu Roy? Yakin beneran? Kau kan buaya darat yaaa, bisa aja ini hanya perasaanmu yang takut dan gak terima sahabatmu udah ada yang punya, jadi waktu buat kita kumpul bakal tak seintens dulu.” ujarnya sambil menatap dengan seksama.


“Yakin na, kalau gak yakin ya bakal aku lupain aja ini, tapi masalahnya aku jadi kepikiran dan juga mamaku sudah menduga ini dari dulu cuma akunya yang gak sadar.” jawabku dengan penuh keyakinan.


“Tapi keknya kau happy-happy aja dengan hubungan Aca dan Toby bahkan gak ada cemburu-cemburunya.” jawab Ana yang berusaha menggali perasaanku yang sebenarnya.


“Iya aku gak begitu mendalami, karna memang aku kan gak sadar, hanya saja perasaan gak suka kadang muncul, kek nganggep Toby terlalu berlebihan dalam mengejar Aca dan aku jadi risih sendiri, kek kesel tapi ya aku gak terlalu mikirin, karna waktu itu kan aku sama Kris.” jawabku dengan tenang.


“Hmm… ini aneh sih, emang aku gak terlalu mengamatimu karna kan kau sibuk sendiri dan aku udah males dengerin buaya darat yang mantannya banyak gonta-ganti, tiba-tiba mendeklarasikan suka dengan sahabatnya yaitu sahabatku juga, jadi aku nih agak kaget dan gak terima.” jawab Ana dengan berani dan sedikit mendiskriminatif.


“Ya makanya aku harus gimana? Semakin lama semakin diinget-inget aku semakin gak mau Aca jatuh ketangan Toby.” jawabku.


“Lah, kenapa? Harusnya bersyukur, Toby udah beri banyak buat Aca, ada effort nya sebagai lelaki, lah situ apa? Ngerepotin Aca mulu perasaan, tapi ya wajarnya karna berteman beda jenis gini emang bisa jadi kalau ada salah satu yang jatuh cinta, dan kebetulan itu Royyyyyyyy, hahahaha” jawab Ana dengan tertawa terbahak-bahak seakan seperti berkata syukurin lu Roy.


“Ya,ya,ya aku banyak salah dan terkesan hanya memanfaatkan Aca karna dulu aku selalu lari ke dia kalau ada apa-apa dan dia selalu dengan tangan terbuka menerimaku, sampai akhirnya pelukan itu yang bikin aku sadar dan selama ini aku kemana aja, jangan-jangan Aca dari dulu juga menyukaiku, karna dia tau aku buaya jadinya dia mengurungkan diri.” jawabku.


“Dih! PD banget sih Roy Roy, astaga Aca tuh sekarang udah sayang banget sama Toby, kau kemana aja sih gak lihat temanmu itu hubunganya semakin dekat gak kek dulu waktu Aca cuekin Toby tapi si Toby nya pantang menyerah dan tetap semangat mendapatkan hati Aca dan itu berhasil, bisanya mikir Aca dulu suka sama si Roy hahahahaha.” jawab Ana dengan tawa terbahak-bahak lagi.


“Ya bisa jadi dong na, hanya saja itu dia simpan sendiri, sampai akhirnya dia menyerah dan dia lebih membuka hati kepada Toby,” jawabku yang masih ngeyel.


“Tau dari mana coba itu?” tanya Ana.


“Dari dia selalu ada buat aku,” jawabku dengan percaya diri.


“Dia juga selalu ada buat aku tuh, jangan-jangan dia juga ada perasaan sama aku.” jawab Ana yang seakan menyindir.


“Ya tapi kan beda kalau laki sama cewek tuh,” jawabku tetap dengan pendirianku.


“Ya kamu jangan sok gitulah, ini masalahnya kau yang suka Aca bukan sebaliknya, kok malah ngayal gini, hahaha.” jawab Ana sambil makan cireng.

__ADS_1


“Bisa bantuin aku gak, biar tau gimana perasaan Aca sebenarnya, biar aku bisa yakin dengan keputusanku untuk memberitahu Aca tentang perasaanku atau aku harus diam aja,” jawabku sambil makan cireng juga.


“Gausa bilang deh menurutku, apaan sih kan mereka berdua dah mau nikah, Toby udah bangun kantormu ini dan rumah mereka, tega betul bikin suasana jadi canggung dan ga enak Roy,” jawab Ana.


“Iya Sih, aku sadar itu semuanya, cuma gimana ya, aku pengen Aca itu tau, masa sekolah sampai masa bangun perusahaan bareng dan sampai saat ini, aku ingin dia tau dan yakin aja,” jawabku.


“Oke, aku bantu buat tanyain Aca, tapi janji jangan bikin ulah yaa, karna masalah kita ini banyak ya tentang kerjaan, tentang setan, dan sekarang ditambah perasaan lagi, semakin rumit aja kehidupan kita nih!” jawab Ana yang kesal dengan masalah yang terus berdatangan.


Tak sadar kami berbincang cukup lama dan sudah jam 5 lebih, aku keluar dan menyuruh teman-teman intern untuk pulang, aku dan Ana juga mau bersiap pulang dan merapikan kantor karna mereka pergi tanpa mematikan komputer masing-masing. Sampai tak lama ternyata Aca tiba-tiba kembali ke kantor dengan baju yang sudah basah, ternyata di daerah lain sedang hujan deras dan disini mendung, sepertinya hujan yang sedang berjalan, karna dia datang aku sedikit kaget dan agak canggung.


“Kenapa balik kesini ca?” tanya Ana.


“Ada yang harus aku kirim email dan datanya ada di PC, nyalain lagi PC ku Roy, eh ada yang bawa baju ganti gak ya, buset dah deres banget tauk ujan nya, aku udah pake mantel bisa tembus nih.” jawab Aca yang heboh dengan derasnya hujan.


“Aku ada tuh baju di mobil, ambil aja, ini kuncinya,” jawabku dan memberikan kunci mobil.


Sementara aku dan Ana hanya saling pandang dan Ana seakan memberikan kode untuk tetap diam dan bersikap biasa saja, Ana juga membuatkan kopi hangat buat Aca sementara dia ganti, dan muka Ana terlihat sangat pusing harus bagaimana karna dia ada di tengah-tengah.


“Cuma tinggal kirim data aja ca?” tanya Ana.


“Iya, makasih ya kopinya na,” jawabnya.


“Hmm… iya kamu harus jaga kesehatan ca, jangan ujan-ujan, udah tau deras ngapain masih jalan cobak,” jawabku yang berusaha untuk biasa aja.


Aca langsung membalikkan kursinya dan menatapku dengan dalam lalu tangan mungilnya itu menyentuh dahiku dan seakan mengecek suhu tubuhku dan tubuhnya.


“Tumben Roy baik, ada apa nih? Sakit ?” tanya nya.


“Hah! Emm… enggak kok hahaha.” jawabku terbata-bata sambil senyum, sedangkan tatapan Ana sudah horor dan baru saja menyuruhku untuk bersikap biasa aja, memang aku biasanya kek gimana sih apakah gak pernah perhatian.


“Kalian kalau mau pulang, pulang aja,” ujar Aca.


“Gak lah, kita tunggu,” jawab Ana dengan santai.


“Kenapa na? Adakah sesuatu?” tanya Aca parno.


“Gak ada kok, eh kemana Toby?” tanya Ana.


“Dia kan keluar kota ada urusan sama kantor utamanya, kalian kan juga baca grupkan ?” jawab Aca.


“Oh ya? Gak baca sih hahaha.” jawab Ana yang seakan jadi awkward.

__ADS_1


“Iya tadi dia ketemu orang terus lanjut ke kota sebelah dan menginap disana.” jawab Aca sambil sibuk dengan PC nya.


“Gak takut dia aneh-aneh atau selingkuh sama tuh cewek?” tanya Ana.


“Gak deh, aku percaya aja, males juga over thinking, bikin sakit kepala.” jawab Aca dengan tegas.


“Sama ca, aku juga capek banget over thinking,” jawabku nimbrung ucapan dia.


“Kenapa lagi kamu tuh Roy, jangan ribet dah, kalau OVT obrolin biar tenang hidup itu,” jawab Aca.


“Kamu yakin aku harus ngomong?” tanyaku.


“Hahaha… ngapain Roy, kamu tuh galau gak jelas aja,” jawab Ana sambil menatapku tajam.


“Masih galau? Mamamu belum melunak?” tanya Aca.


“Hah bukan gitu, ada hal lain lagi,” jawabku.


“Apaan? Obrolin aja, ngapain pake rahasia-rahasiaan, dah kelar nih aku, makan yuk.” ajak Aca.


“Makan dimana?” tanya Ana.


“Makan mie aceh aja yuk, motorku biar aku tinggal sini, besok jemput ya Roy,” jawab Aca.


“Hah, biar aku aja yang jemput ca,” jawab Ana tiba-tiba.


“Kamu hari ini gak bawa motor juga kan na? Besok biar Roy aja yang jemput kita.” jawab Aca sambil membersihkan mejanya.


Lalu kita pulang bersama dan lebih tepatnya mau makan malam mie aceh di warung abah kesayangan kita semua karna sangat enak, aku jadi panik dan sedikit kaku dalam nyetir karna memang hujan dan hatiku juga hujan. Ana yang ada di sebelahku juga bingung sendiri harus gimana, padahal kemana-kemana selalu Aca yang ada di kursi depan kali ini Ana yang tumben banget nyuruh Aca ada di kursi belakang sendiri. Setelah tiba kami langsung pesan dan makan tanpa ada bahas apapun, karna Aca juga sibuk dengan anak baru dan membaca konsep-konsep mereka yang dikerjakan hari ini. Sedangkan Ana mewanti-wanti aku untuk tidak bilang apapun sama Aca jadi biarkan ini menjadi rahasia, karna dengan tidak tahu itu lebih baik daripada tau dan menjadi asing. Aku hanya bisa nurut sama Ana dan setelah makan aku langsung mengantarkan Aca dulu karna dekat dengan rumahnya lalu Ana.


“Ingat ya Roy pesanku, awas aja kalau sampe bocor.” ujar Ana mengancam.


“Siap bos.” jawabku sambil tersenyum bercanda.


“Jangan banyak bercanda ya sama aku, awas ya kau,” jawab Ana dengan serius, dan aku hanya membalas dengan senyuman.


Aku langsung pulang dan ternyata mama dan papa belum pulang, aku langsung mandi dan ingin tidur lebih cepat karna ngantuk dan suasana yang hujan mendukung untuk tidur nyenyak, tiba-tiba Aca masuk ke kamarku dan menatapku begitu tajam, entah apa yang ada di pikirannya tetapi malam ini dia sangat cantik dengan kaos tipis dan celana pendeknya, membuat pikiranku kemana-kemana tapi aku tetap mengaguminya dan memaki diriku sendiri, kemana saja aku buta melihat Aca yang secantik ini. Dia naik ke kasur ku dan membelai rambutku sambil mengecek suhu tubuhku dengan memegang dahiku dan dahinya, dia berbisik lirih tapi aku tak bisa mendengarnya, lalu entah bagaimana suhu tubuhku menjadi panas dan membuat suasana menjadi tak nyaman, aku menyalakan AC dan menyuruh Aca untuk duduk dan bertanya ada apa dia datang malam-malam dan tiba-tiba, apakah dia memang suka sekali dengan tiba-tiba dan membuat orang lain shock dengan kedatangannya.


Dia hanya tersenyum lembut dan bercerita tentang client kami yang sedikit manja dan merepotkan, dia cerita tentang harinya yang sangat berisik dan tak ada waktu untuk dirinya sendiri, dan dia memintaku untuk kelak menjadi ibu rumah tangga saja, dia ingin bekerja tapi tak terlalu sibuk, misal bekerja yang santai dan ringan saja, dan memintaku lebih bekerja keras agar dia bisa mewujudkan hal yang dia inginkan itu. Aku hanya memandangnya dengan cita-cita dan pengharapannya seperti biasa, tapi seakan harapan dan keinginannya itu ditujukan padaku, jika aku menjadi suaminya aku tak akan membuatnya bekerja dengan keras, aku akan meratukan dia seratu-ratunya, apapun yang dia inginkan aku akan membuatnya menjadi nyata, aku bisa mengupayakan segalanya untuknya apapun itu, karna kita membangun perusahaan ini bersama kita juga sudah berteman cukup lama dan aku lebih mengerti dia dari pada Toby yang baru dikenalnya tak selama aku, yang paham dia hanya aku seorang dan Toby bukan apa-apa.


Aku akan lebih berupaya dan lebih berkeras kalau memang dia menginginkan lelaki yang effort aku bisa melakukanya, aku ingin dia memberikan kesempatan itu padaku, belum terlambat dan belum terlambat untuk menjadikan dia milikku. Aku terbawa suasana dan tanpa sadar menciumnya, sampai aku sadari kalau itu semua hanyalah mimpi semata, aku bermimpi dengan indah dan tak ingin terbangun tapi karna nyenyaknya tidurku aku tak sadar kalau ini semua hanya mimpi yang begitu indah.

__ADS_1


__ADS_2